Visi dan Misi Universitas Bangka Belitung :: University of Bangka Belitung :: Indonesia

 
Menu utama website Universitas Bangka Belitung
 

 

Explorasi Terumbu Karang
Universitas Bangka Belitung


DOWNLOAD LAPORAN TAHUNAN TEAM TERUMBU KARANG UBB

Explorasi Terumbu Karang | Coral Reef Exploration | Universitas Negeri Bangka Belitung
 
Sebagai provinsi kepulauan, Kepulauan Bangka Belitung seharusnya memiliki potensi yang sangat besar disektor ekosistem pesisir khususnya ekosistem terumbu karang. Sayangnya, informasi yang konkrit dan lengkap tentang kondisi terumbu karang di Kepulauan Bangka Belitung. Inilah yang membuat kami melakukan riset ini meski dengan sumberdaya yang sangat terbatas.

Selama musim tenggara, yaitu sekitar bulan maret hingga juni. Perairan laut di Kepulauan Bangka Belitung relatif tenang, teduh dan jernih. Pada musim inilah waktu yang tepat untuk mengetahui kondisi terumbu karang (coral reef) di Kepulauan Bangka Belitung yang sebenarnya.

Kesempatan yang terbatas ini di manfaatkan oleh Laboratorium Perikanan Fakultas Pertanian Perikanan Dan Biologi Universitas Bangka Belitung untuk melakukan perjalanan mencari terumbu karang (coral reef) yang ada di Kepulauan Bangka Belitung. Mencari lokasi yang memiliki ekosistem terumbu karang (coral reef) dan mengambil data dan foto underwater mengenai kondisi terumbu karang (coral reef) di daerah tersebut. Baik kondisinya sangat bagus (tutupan karang > 75% hingga sangat buruk (tutupan karang < 25%).

Penelitian terumbu karang (coral reef) termasuk penelitian yang beresiko dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ancaman biota berbahaya di laut serta kondisi perairan yang dapat berubah drastis merupakan tantangan tersendiri saat kita melakukan pengamatan terumbu karang (coral reef). Selain itu, biaya yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian terumbu karang (coral reef) ini pun tidak sedikit.

Terkadang harus menyewa perahu khusus karena terumbu karang (coral reef) berada jauh di tengah laut. Namun, rasa ingin tahu mengenai kondisi terumbu karang (coral reef) di Kepulauan Bangka Belitung yang sebenarnya menjadi motivasi terbesar mengapa kegiatan ini tetap dilaksanakan meskipun dengan sumberdaya yang sangat terbatas. Kemauan yang kuat mengalahkan segala keterbatasan.

Kami akui, sebenarnya masih banyak lokasi yang terdapat potensi ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Bangka dan Belitung, seperti di terumbu karang (coral reef) Pulau Lepar (Tanjung Labu), terumbu karang (coral reef) Pulau Tinggi, terumbu karang (coral reef) Pulau Pongok yang terdapat Di Kabupaten Bangka Selatan. terumbu karang (coral reef) Pulau Pebuar yang terdapat di Kabupaten Bangka Tengah. Pulau Lampu, terumbu karang (coral reef) Pantai Penyusuk yang terdapat di Belinyu Kabupaten Bangka dan banyak lagi lokasi terumbu karang (coral reef) lainnya. Namun karena keterbatasan sumberdaya yang kami miliki, musim tenggara tahun ini hanya dapat kami lakukan di enam lokasi padang terumbu karang (coral reef).

Kondisi terumbu karang (coral reef) di kepulauan Bangka Belitung terancam kerusakan. Hal ini karena semakin maraknya kegiatan penambangan timah di perairan pesisir seperti aktivitas TI Apung, kapal hisap, dan kapal keruk setelah lokasi penmbangan timah di darat semakin sulit. Hal ini akan membuat kerusakan parah di ekosistem terumbu karang (coral reef) seperti yang terjadi di kawasan terumbu karang (coral reef) Pantai Tanjung Kerasak Bangka Selatan.

Degradasi terumbu karang (coral reef) yang parah ini berdampak pada turunnya produksi perikanan tangkap, semakin kecilnya ukuran ikan yang tertangkap, semakin jauhnya daerah penangkapan (fishing ground). Hal ini mendorong meningkatnya biaya produksi sehingga mengurangi rente sumberdaya (resource rent) yang menyebabkan rendahnya pendapatan nelayan khususnya nelayan skala kecil. Jika hal ini terus terjadi maka kesejahteraan masyarakat nelayan akan terancam. Padahal, terumbu karang (coral reef) mampu mendukung kehidupan ribuan penduduk Pulau Bangka, khususnya dalam sektor perikanan dan pariwisata. Dari 1 km2 terumbu karang yang sehat, dapat diperoleh 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan 1.200 orang di wilayah pesisir setiap tahun (Burke et al., 2002). Seharusnya nilai tidak langsung (undirect use value) yang terdapat pada ekosistem terumbu karang (coral reef) harus lebih dipikirkan ketimbang nilai langsung (direct use value) yang sebenarnya sangat sedikit. Semoga kita lebih memperhatikan terhadap kondisi ekosistem terumbu karang (coral reef) di Kepulauan Bangka Belitung.

Adapun lokasi pengamatan terumbu karang (coral reef) yang dilakukan adalah di Pantai Teluk Limau Sungailiat, Batu Putih, Karang Kering Sungailiat, Pulau Semujur, Pulau Ketawai Kabupaten Bangka Tengah, Kampung Tungau Simpanggong Kabupaten Bangka Barat, dan daerah-daerah sebaran terumbu karang (coral reef) lainnya khusunya terumbu karang (coral reef) di wilayah provinsi kepulauan Bangka Belitung ini. Tetapi tidak menutup kemungkinan jika nanti penelitian terumbu karang (coral reef) dilakukan di luar area perairan provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Misalnya jika ada ajakan kerjasama penelitian dari lembaga atau institusi lainnya untuk melakukan penelitian bersama terumbu karang (coral reef) disuatu wilayah perairan di bumi ini, melakukan kegiatan wisata photography dalam air (underwater Photography) bersama, training snorkling dan diving, atau wisata under water bersama tim dari FPPB UBB, Silahkan kontak kami jika berminat

By : Indra Ambalika, S.Pi
Kepala Laboratorium Perikanan FPPB UBB dan Ketua Tim Ekspedisi Terumbu Karang (coral reef) UBB

Email : indra-ambalika@ubb.ac.id
Catagory : Artikel dan Foto
Lokasi : Tuing Kabupaten Bangka
Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka
Berdasar undangan dariseorang teman, tim eksplorasi terumbu karang UBB ahirnya mengunjungi dan mengeksplorasi perairan Tuing pada Tanggal 9 September 2011 dan 20 April 2012. Tuing adalah dusun terpencil dan jarang dikenal oleh masyarakat Bangka. Dusun ini terletak di kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka. Sebenarnya Tanjung Tuing terlihat dari Pantai Matras Sungailiat sebelah utara. Tampak bukit terjauh yang terlihat berbatasan langsung dengan pantai itulah sebenarnya tanjung Tuing. Perairan Tuing menurut penulis merupakan benteng terakhir dari sumberdaya perikanan laut di Kabupaten Bangka. Bagaimana tidak, hampir semua laut dari 0 – 4 mil laut sebagian besar telah diberikan izin usaha pertambangan (IUP) laut oleh kepala daerah kabupaten ini untuk operasi kapal isap produksi. Tak heran karena memang kabupaten Bangka salahsatu kabupaten dengan IUP terbanyak setelah Kabupaten Bangka Barat.

Akses menuju Dusun Tuing dari Kota Pangkalpinang sekitar 2,5 jam. Sebenarnya jarak dusun ini dari Kota Sungailiat hanya sekitar 70 km, namun karena medan jalan menuju daerah ini kurang baik karena aspal banyak yang rusak akibat beban dari truk sawit yang melewati jalan menuju dusun ini setiap harinya. Jalan aspal berlobang-lobang ini pun hanya setengah dari perjalanan saja karena setelah itu jalan merah tanah puru. Karenanya, jika musim kemarau maka jalan akan sangat berdebu sebaliknya pada musim hujan jalan akan menjadi becek. Sepanjang jalan kita dapat melihat sisa-sisa pertambangan timah skala besar yang pernah dan sedang dilakukan. Ada pula perumahan-perumahan baru pekerja TI yang sebagian besar berasal dari tanah jawa. Selain itu terdapat sisa-sisa penambangan pasir kuarsa bahkan pabrik yang terdapat dipinggir pantai masih teronggok manjadi bukti sejarah kejayaan penambangan pasir kuarsa kala itu.

Memasuki Dusun Tuing kita akan disambut dengan pemandangan bukit yang menghijau. Bukit ini memang merupakan bagian dari kawasan hutan lindung. Sayangnya, dibagian pantai tampak bukit yang sebagian botak ditanami oleh kelapa sawit oleh masyarakat. Meskipun cukup terpencil, tak masuk listrik dan jarang mendapat perhatian, sebenarnya dusun ini telah memiliki sekolah dasar dan ada sekitar 50 kk di dusun ini. Sebagian besar mata pencaharian penduduk Tuing adalah nelayan.

Nelayan Tuing adalah nelayan tradisional dengan perahu kecil dan penangkapan tak lebih dari sehari (one day fishing). Pasokan utama cumi Bangka di Kabupaten Bangka sebagian besar berasal dari hasil tangkapan di perairan derah ini. Saat malam tiba, tampak perahu-perahu nelayan berjejer menangkap cumi dan ikan. Tampak ternyata banyak pula perahu-perahu berukuran besar yang tentunya bukan milik nelayan Tuing melainkan dari daerah Desa Nelayan Sungailiat yang sebagian besar adalah nelayan bugis dan buton. Menurut pengakuan nelayan Tuing, banyak nelayan dari Desa Nelayan Sungailiat yang menangkap ikan dan cumi di daerah mereka. Diduga hal ini karena daerah tangkapan disekitar Desa Nelayan sudah banyak yang rusak akibat penambangan timah lepas pantai oleh kapal isap dan TI Apung yang banyak beroperasi disekitar desa tersebut. Masyarakat Bangka pasti sudah tak heran karena memang dikawasan perairan Air Kantung dan sekitarnya hingga Pantai Rebo banyak beroperasi kapal isap dan TI Apung. Karena kerusakan akibat sedimentasi penambangan ini tentu saja ikan menjadi menjauh sehingga nelayan yang masih tersisa di Desa Nelayan Sungailiat (karena sebagian besar telah beralih mejadi penambang timah laut) menangkap ikan ke daerah lain yang dipandang lebih potensial seperti perairan Tuing. Sayangnya, kompensasi dari penambangan timah laut yang selama ini sering digembor-gemborkan tentu saja tak sampai kepada nelayan dusun Tuing. Namun, nelayan dusun ini merasakan langsung dampak dari banyaknya armada tangkap dari Desa Nelayan Sungailiat yang menangkap ikan di perairan mereka. Sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan oleh pengusaha kapal isap apalagi jika orientasinya adalah keuntungan semata.

Potensi dan Ancaman


Penangkapan cumi di perairan Tuing dilakukan sepanjang tahun namun tangkapan biasanya banyak di saat bulan gelap. Selain cumi, hasil tangkapan lain yang cukup terkenal adalah udang putih (Banana sp), kepiting rajungan (Portunus sp) dan berbagai jenis ikan terutama ikan kerisi. Udang putih biasanya ditangkap dua kali setiap tahun yaitu antara musim barat hingga awal tenggara dan setelah musim utara. Kepiting rajungan pada musim tenggara. Untuk ikan kerisi ditangkap sepanjang tahun sama seperti cumi.

Kayanya sumberdaya perikanan di perairan Tuing karena kondisi ekosistem laut di kawasan ini yang masih alami. Kondisi ekosistem terumbu karang dan mangrove masih sangat alami jauh dari pencemaran sedimentasi pertambangan seperti daerah lain di Pulau Bangka. Tak heran jika akhirnya banyak nelayan-nelayan dari berbagai daerah yang menagkap ikan ke perairan Tuing. Selain memiliki kondisi ekosistem pesisir yang alami, Dusun Tuing pun memiliki pantai yang sangat indah dengan pasir putih dan bebatuan granit muda. Pemandangan hutan lindung yang masih alami dan berbukit menjadikan pantai pelabuh dalem sangat indah. Adanya terumbu karang tepi yang dapat dicapai dengan snorkeling dari tepi pantai membuat pantai ini sangat layak unutk dijadikan tujuan baru destinasi wisata bahari karena menawarkan keindahan bawah laut yang kaya dengan karang yang beraneka warna dan kaya dengan berbagai jenis ikan karang.

Berlimpahnya potensi perikanan juga diikuti oleh semakin banyaknya jumlah armada tangkap yang menangkap ikan di perairan Tuing. Tak hanya nelayan dari dusun ini yang tergolong sebagai nelayan kecil dengan alat tangkap yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan nelayan bugis dan buton dari Desa Nelayan Sungailiat. Selain itu, banyak pula nelayan dari daerah lain yang menangkap dengan alat tangkap dan muatan kapal yang jauh lebih besar. Kabar terakhir yang penulis dapat dari nelayan Tuing menyatakan bahwa nelayan dari Jakarta dengan perahu yang sangat besar dengan menggunakan lampu yang sangat terang dan alat tangkap yang jauh lebih maju telah menangkap cumi di malam hari di perairan Tuing hingga sembilan perahu besar. Laut yang merupakan milik bersama (common community) dan bersifat terbuka (open acces) tentu akhirnya tanpa pengaturan dan pengawasan yang baik akan terjadi kecenderungan eksploitasi berlebihan tanpa memperdulikan keberlanjutan dan nasib nelayan Tuing yang masih tradisional.

Izin pertambangan laut yang begitu marak terjadi di Kabupaten Bangka pun menjadi kekhawatiran nelayan Tuing sebagaimana yang menimpa nelayan-nelayan daerah lain yang telah merasakan langsung kerugian dari kebijakan itu. Mulai dari konflik horizontal antara nelayan hingga rusaknya ekosistem laut sehingga nelayan harus menangkap ikan ke lokasi yang lebih jauh dengan hasil tangkapan pun yang semakin menurun dan jenis ikan tangkapan yang semakin sedikit. Dampak turunannya sudah dapat diprediksi dengan mahalnya harga ikan di pasaran sehingga masyarakat banyaklah yang akhirnya dirugikan karena meningkatnya harga tersebut.

Rekomendasi Sebagai Kawasan Lindung Laut Daerah


Melihat potensi yang besar dari perairan Tuing sebenarnya sudah menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi pemerintah daerah yang telah diamanahkan untuk mengelola sumberdaya alam di daerah ini dengan sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya untuk melindungi dan menjaga agar kawasan Tuing tetap lestari dan dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat sebagai penghasil bahan pangan laut bergizi tinggi dengan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan lindung laut daerah (KKLD). Penulis yakin dengan model pengembangan KKLD berbasis masyarakat dimana pemda hanya menjadi penggerak dan pengawas dalam kegiatan KKLD tak akan banyak menghabiskan anggaran pemda Kabupaten Bangka. Dengan mempercayakan nelayan untuk melindungi sendiri lingkungan mereka dan sedikit pembekalan dan pelatihan, penulis yakin nelayan akan lebih peduli dengan lingkungan laut dikawasan mereka dan mendapatkan apresiasi yang sangat berharga dari pemerintahnya. Pertanyaannya sekarang, siapa yang mau peduli dan memulai ini? Kita nantikan saja kinerja yang sebaik-baiknya dari rekan-rekan di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) dan DPRD Kabupaten Bangka. Semoga ada itikad baik untuk menajaga dan melestarikan potensi sumberdaya di perairan ini.




Ketua tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Khoirul Muslih, S.Pi dan Robani Juhar, S.Pi, M.Si






Catagory : Artikel dan Foto
Lokasi : Kepulauan Buku Limau Kabupaten Belitung Timur
Terumbu Karang Kepulauan Buku Limau Kabupaten Belitung Timur
Maret 2010, Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB telah melakukan ekspedisi ke Belitung Timur untuk melakukan penelitian dan pengamatan kondisi yang sebenarnya ekosistem terumbu karang di kabupaten ini. Sebenarnya ini adalah kali kedua tim melakukan ekspedisi ke Bellitung Timur. Pada oktober 2008 tim pernah melakukan ekspedisi ke kabupaten yang dikenal dengan "Bumi Laskar Pelangi" ini. Tim pernah menyusuri hutan di Kecamatan Gantong hingga menemukan pantai yang cukup indah dan sangat alami. Pantai yang banyak ditumbuhi lamun dan mangrove. Pantai yang landai ini diyakini terdapat ekosistem terumbu karang di bagian slope (tubir). Namun tim tidak berani melakukan pengamatan mengingat tidak terdapat nelayan yang menyewakan perahu dan mengutamakan keselamatan karena khawatir ada buaya mengingat lokasi berdekatan dengan muara Sungai Lenggang dengan mangrove yang sangat lebat dan alami. Mengingat pertimbangan tersebut akhirnya ekspedisi dipindahkan ke Kabupaten Belitung.

Karenanya, di kali yang kedua ini, tim berusaha semaksimal mungkin agar ekspedisi ini membuahkan hasil yang memuaskan sehingga data ekosistem terumbu karang di Kabupaten Belitung Timur dapat diperoleh dan kemudian dapat dipublikasikan. Informasi mengenai kondisi gelombang dan cuaca telah didapat dari mahasiswa perikanan Universitas Bangka Belitung dari Belitung yang sedang liburan. target utama adalah ekspedisi terumbu karang di kawasan wisata bahari yang memiliki pantai yang cantik. pantai yang cantik dan memiliki sebaran ekosistem terumbu karang di sekitarnya akan menjadi nilai lebih untuk pengembangan wisata bahari di masa yang akan datang. Target kedua adalah pulau-pulau kecil yang memiliki ekosistem terumbu karang yang indah dan pulaunya yang eksotis.

Tim melakukan pengamatan ke Pantai Burung Mandi Kecamatan Sungai Kampit. Sayangnya, kondisi air agak keruh dan bergelombang karena baru beberapa hari sebelumnya terjadi hujan dan angin kencang menyebabkan gelombang. Padahal tak lama sebelumnya kondisi air laut sangat tenang dan teduh. Sayangnya lagi, spot karang tepat berada didepan pantai yang dapat dicirikan dari pecahan ombak ditengah laut. Menurut nelayan yang terdapat di pantai itu, unutk mencapai spot karang hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit menggunakan perahu nelayan Pantai Burung Mandi yang khas dibandingkan perahu jenis lainnya di Pulau Bangka Belitung yang disebut “kater”. Karena kondisi air yang bergelombang cukup kuat dan air laut yang keruh akhirnya pengamatan di spot karang pantai ini pun dipindahkan ke kepulauan bukulimau.

Pulau Buku Limau, Pulau Nanas dan Pulau Siadong


Pulau Buku Limau dapat ditempuh dengan mudah dari pelabuhan yang berada dibelakang Pasar Manggar. Di pelabuhan ini biasanya terdapat perahu yang membawa masyarakat dari Pulau Buku Limau yang berbelanja dan keperluan lainnya di Pulau Belitong. Biasanya masyarakat membeli berbagai jenis bahan makanan hingga perlengkapan rumah tangga yang sengaja didatangkan untuk keperluan di Pulau Buku Limau. Ini adalah kendala kehidupan masyarakat pulau kecil yang sebagian besar kebutuhannya harus dipasok dari pulau induk.

Tim menuju ke Pulau Buku Limau bersama dengan perahu yang mengangkut penumpang beserta barang-barang yang dibawa dari Pulau Belitong seperti bumbu-bumbu masakan, produk pangan hingga lemari. Perjalanan ke Pulau Buku Limau diiringi dengan gerai tawa para penumpang yang menggunakan bahasa bugis dengan waktu sekitar satu jam. Selama satu jam perjalanan itu tak satupun dari tim yang mengerti bahasa bugis. Hal ini karena memang penduduk mayoritas di pulau Buku Limau adalah suku bugis seperti di pulau celagen yang berdekatan dengan pulau pongok. Pembicaraan penumpang yang seru dengan diiringi gerai tawa sama sekali tak dimengerti oleh Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB yang memang dalam tim kali ini asli melayu Bangka Belitung. Inilah indahnya bumi Bangka Belitung yang kaya akan berbagai jenis suku bangsa bahkan terkenal dengan masyarakat tionghoa yang banyak didatangkan oleh pemerintah belanda untuk menambang timah di Bangka Belitung kala itu. berbeda dengan masyarakat bugis yang banyak datang merantau dari daerahnya di Sulawesi karena berdasarkan sejarah akibat pemberontakan DI/TII Kahar Muzakkar pada tahun 1950-an hingga banyak suku bugis yang merantau ke berbagai daerah termasuk ke Bangka Belitung.

Pulau Buku Limau adalah pulau indah yang dikelilingi dengan ekosistem terumbu karang dengan ketebalan yang beragam mulai 20 – 400 meter. Di pulau ini terdapat sekitar 120 KK dan sudah terdapat dermaga beton yang cukup panjang. Sayangnya, saat air surut, kapal tetap tidak bisa masuk hingga ke darmaga karena ketinggian air masih terlalu rendah untuk dapat dilalui oleh perahu. Perahu yang tim tumpangi datang sekitar pukul 14.00 WIB dimana air sedang surut. Akhirnya, penumpang harus diangkut satu per satu menuju Pulau Buku Limau dengan menggunakan perahu dayung yang lebih kecil.

Sampai di Pulau Buku Limau tim langsung menuju rumah seorang guru matematika yang bertugas mengajar di sekolah dasar di pulau kecil ini, Pak Bakrie. Selama di pulau, guru inilah yang menjadi guide kami dan menyediakan tempat tinggal sekaligus menyiapkan konsumsi bagi tim dengan gratis tanpa meminta biaya sedikitpun. Inilah keindahan hidup di pulau kecil yang masih asri yang masih jauh dari sifat materialistis seperti di kota-kota besar. Bahkan perjalanan perahu menuju Pulau Buku Limau yang baru saja kami lalui tanpa bayaran sepeserpun. Dengan luasan yang tidak terlalu besar (sekitar 2 Ha), Pulau Buku Limau terkesan padat oleh rumah penduduk.

Sesampainya di Pulau Buku Limau, tim istirahat sejenak kemudian langsung menuju spot ekosistem terumbu karang yang terletak di bagian barat pulau. Karang yang bagus terdapat pada bagian slope (tubir). Karang di perairan pulalu ini cukup baik dengan berbagai jenis karang dan banyak terdapat berbagai jenis ikan. Sayangnya, dibeberapa titik tampak karang tertutup sediment atau ditumbuhi alga yang kemungkinan berasal dari sampah organick dari limbah rumah tangga atau pengaruh dari sungai maggar. Sedimentasi memang dapat menyebabkan karang mati tertutup atau dalam skala ringan, dapat menyebabkan terjadinya eutrofikasi yang dapat membuat laju pertumbuhan alga menjadi cepat karena sediment membawa nutrient yang akan mempercepat laju pertumbuhan alga.

Secara umum karang di lokasi ini didominasi oleh jenis karang Acropora dan karang massive (CM). selain karang yang indah, terumbu karang di daerah ini pun dipercantik dengan berbagai jenis ikan karang yang cukup banyak. Masyarakat Nelayan Buku Limau memang menangkap ikan jauh hingga ke perairan sekitar Kalimantan. Bahkan di pulau ini banyak terdapat bagan perahu seperti di Pulau Pongok Kabupaten Bangka Selatan. Pengambilan data sore itu terasa lebih ramai daripada biasanya. Maklum, pak Bakrie mengajak beberapa siswanya untuk ikut serta. Senang rasanya bisa berbagi pengalaman bersama sekaligus mengajarkan mengenai terumbu karang kepada anak-anak Pulau Buku Limau. Sayangnya waktu yang menjelang magrib sehingga kami tidak bisa berlama-lama bersama anak-anak tersebut di laut.

Esok paginya tim menuju Pulau Penanas. Pulau kecil ini berjarak sekitar 2,5 km dari Pulau Buku Limau. Pulau kecil tidak berpenghuni ini berbeda dengan pulau bukuliamu. Pulaunya dikelilingi oleh pasir putih sehingga sering menjadi daerah bertelur penyu. Sayangnya, hampir setiap pagi penduduk Pulau Buku Limau memeriksa jika ada penyu yang bertelur dan mengambil telur tersebut untuk dikonsumsi atau dijual. Ironis memang tapi inilah yang terjadi dengan nasib penyu di pulau-pulau kecil perairaan Bangka Belitung. Menurut Pak Bakrie, pasir putih di pulau penanas ini digunakan oleh penduduk Buku Limau untuk membuat rumah. Maklum saja, karena dipulau bukuliamu tak banyak terdapat pasir dan penduduk di pulau itu semakin padat.

Terumbu karang di perairan pulau penanas lebih luas dibandingkan dengan di Pulau Buku Limau. Terumbu karang tumbuh secara merata dengan kedalaman yang relative dangkal. Karang di lokasi ini didominasi oleh karang branching dan karang foliose. Selain itu dijumpai juga jenis karang massive dan karang lainnya, namun jumlahnya tak terlalu banyak. Sayangnya, ada beberapa spot di karang pulau ini kami jumpai yang rusak akibat aktivitas penangkapan ikan tidak ramah (pengeboman). Tampak karang yang patah dan terdapat cekungan akibat energi getaran oleh bom. Namun aktivitas itu sepertinya sudah cukup lama dilakukan dan bukan bekas yang baru. Semoga saja kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem terumbu karang semakin baik demi keberlangsungan hidup biota laut dan hidup manusia yang membutuhkan pangan laut yang bergizi tinggi.

Pulau Siadong berada sekitar 2 km sebelah timur dari Pulau Buku Limau. Sayangnya kami tak sempat menjelajahi pulau ini karena keterbatasan waktu. Maklum, kegiatan ekplorasi seperti ini dikerjakan saat waktu libur yang tentu saja sangat dibatasi oleh waktu. Namun tampak jelas jika pulau ini sebenarnya lebih luas daripada Pulau Buku Limau. Sayangnya pulau ini relative rendah sehingga tak layak didiami karena kesulitan sumber air tawar. Pulau Siadong terdapat sebaran mangrove dan dikelilingi pula oleh ekosistem terumbu karang. Ketiga pulau ini sangat layak untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata masa depan jika memang pemerintah daerah dapat mengembangkannya sesuai dengan perencanaan yang baik bukan hanya berbasis proyek semata. Letaknya yang tak jauh dari manggar dan ada banyak spot pulau dan spot karang yang dapat dijelajahi. Bahkan sebenarnya ada lagi beberapa pulau kecil yang lebih jauh seperti kepualuan memperak yang juga memiliki ekosistem terumbu karang yang memukau.

Pulau Buku Limau terkenal pula sebagai penghasil ikan asin. Ikan asin dari pulau ini dijual hingga ke Jakarta hingga ke kota-kota di Pulau Jawa. Pengepul dari Jakarta datang langsung ke pulau ini untuk membeli ikan asin. Selain itu, ikan-ikan segar pun dijual langsung ke Jakarta dan sebagian dijual di Pasar Manggar. Tak heran, jika melihat banyaknya bagan perahu dan armada tangkap yang cukup besar yang dimiliki oleh masyarakat pulau ini. Karenya, sebelum pulang Tim pun membeli ikan asin sebagai oleh-oleh khas Pulau Buku Limau untuk dibawa pulang ke Bangka.

Ancaman dibalik keindahan


Dibalik keindahan ekosistem terumbu karang dan pulau-pulau kecil di Perairan Manggar dan Gantong khususnya. Kini ancaman mendera potensi perikanan dan wisata bahari masa depan daerah ini. PT Timah Tbk sedang dan telah melakukan proses AMDAL untuk melakukan penambangan di Laut Oliver dengan luas sekitar 30 ribu hektar yang meliputi laut di Kecamatan Manggar dan Gantong dengan mengoperasikan sekitar 12 kapal isap produksi yang bekerjasama dengan mitra. Alasan utamanya karena ada potensi besar dari timah di laut oliver yang mencakup perairan manggar dan gantong.

Kita semua tahu, pengalaman dan realita yang terjadi adalah penambangan timah pada akhirnya akan menguuntungkan para penambang dan mafia tambang. Masyarakat pada akhirnya hanya merasakan pahit dari ampas potensi besar timah. Tak sedikit terjadi konflik horizontal antara masyarakat selain kerusakan ekosistem yang tak tergantikan. Sedangkan keuntungan yang paling banyak dirasakan oleh para cukong, perusahaan dan pejabat yang bermain mata dengan kegiatan pertimahan ini. Semoga saja pemerintah daerah Belitung Timur lebih arif dalam mengembangkan Belitung Timur menjadi lebih berwawasan lingkungan dan berkelanjutan bagi kesejahteraan rakyatnya. Dengan segudang potensi dan semangat “Laskar Pelangi” masyarakat daerah ini, kami yakin selama tidak ada intervensi politik dan korupsi aparat pemda yang hanya mementingkan kepentingan tertentu, Belitung Timur mampu menjadi Brunei Darussalam kedua seperti yang pernah disampaikan oleh kepala daerahnya.

Keindahan ketiga pulau di perairan manggar ini sebenarnya sedah pernah didata oleh Dinas Pariwisata Kebupaten Belitung Timur. Sayangnya, hasil kegiatan tersebut belum ditindaklanjuti dengan membuat peraturan daerah (Perda) yang menjadikan kawasan ini sebagai kawasan konservasi laut daerah. Semoga ada inisiative yang baik dari instansi terkait seperti dinas kelautan perikanan, pariwisata dan lingkungan hidup ditambah dengan sinergi yang baik pula dari DPRD. Amin..

Ucapan Terima Kasih


Melalui tulisan ini, dengan rasa hormat tim mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Bakrie, guru matematika dari Pulau Buku Limau yang telah banyak membantu tim selama di Pulau Buku Limau dan sekaligus menjadi guide selama berpetualang tanpa meminta biaya sepeserpun. Selain itu, tim mengucapkan pula terima kasih kepada Alm. Yuslim Ihza Mahendra (kakak sulung Yusril Ihza Mahendra) yang telah memberikan tempat berteduh yang sangat nyaman dirumahnya selama Tim di Manggar (saat kegiatan ini, Pak Yuslim Ihza Mahendra belum meninggal dunia).

Perjalanan ke Belitung Timur adalah perjalanan penuh dengan keterbatasan bagi tim terutama dana. Tim hanya terdiri dari dua orang (satu dari Bangka dan satu dari Belitung) untuk mengurangi pembengkakan biaya. Alhamdulillah selama kegiatan eksplorasi ini tim banyak mendapat bantuan dari tangan-tangan tulus ikhlas bapak-bapak yang telah tim sebutkan diatas. Berbekal uang beberapa ratus ribu rupiah, peralatan 2 set alat selam dasar, roll meter untuk mengukur tutupan karang dan kamera underwater ditambah semangat untuk mengenalkan keindahan kampung halaman agar para stakeholder dapat mengembangkannya lebih bijaksana, kegiatan ini berjalan dengan lancer. Pengalaman selama di Belitung begitu banyak memberikan pelajaran berharga bagi tim. “Dana” bukanlah menjadi kendala utama untuk melakukan kegiatan eksplorasi selama kita masih punya semangat.

Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Dwi Septiawan, S.Pi




Penulis : Indra Ambalika Syari, S.Pi




Catagory : Artikel dan Foto
Lokasi : Selat Nasik Kabupaten Belitung
Ekspedisi Pulau Salma & Kueel, Kecamatan Selat Nasik Kabupaten Belitung
Pulau Salma atau sering disebut dengan Pulau Selemar oleh masyarakat belitong merupakan pulau indah yang tak berpenghuni dengan pasir putih bersih melingkarinya laksana cincin titanium. Pulau ini sempat menjadi perebutan antara Kabupaten Bangka Selatan dengan Kabupaten Belitung. Namun, berdasarkan hasil kesepakatan, akhirnya pulau ini masuk dalam kawasan Kabupaten Belitung. Menurut cerita masyarakat Pulau Pongok, Pulau Salma dulunya masuk kedalam wilayah Pulau Pongok jadi secara otomatis seharusnya masuk ke dalam Kabupaten Bangka Selatan. Namun karena hasil keputusan bersama akhirnya pulau ini masuk ke Kabupaten Belitung dengan alasan pulau ini lebih dekat dengan Pulau Kueel (kuil_red) yang masuk dalam kawasan Kabupaten Belitung.

Dengan luas hanya sekitar 2 ha, pulau ini terkesan mungil namun dengan sebaran terumbu karang yang terhampar luas disekeliling pulaunya. Mungkin inilah yang menjadi daya tarik keindahan pulau ini. Pulau Salma berada di antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Dapat dibayangkan perjalanan menuju pulau ini cukup menyita banyak waktu dan tenaga.

Jika ditempuh dari Kota Pangkalpinang, maka perjalanan menuju Pelabuhan Sadai Kabupaten Bangka Selatan. Selanjutnya naik kapal angkutan masyarakat ke Pulau Pongok yang perahunya hanya sekali dalam sehari, berangkat setiap jam 11.00 WIB dari Pelabuhan Sadai. Karenanya, anda jangan sampai terlambat ke pelabuha ini jika tak ingin ketinggalan. Total waktu yang dihabiskan mulai dari pangkalpinang sampai ke Pulau Pongok sekitar 8 jam. Setelah sampai di Pulau Pongok, kita dapat menggunakan jasa rental perahu nelayan Pulau Pongok atau Pulau Celagen sekitar 1 jam perjalanan dari Pulau Pongok menuju Pulau Salma . Jika dari belitung, maka perjalanan dapat dtempuh dari pelabuhan masyarakat di Tanjung Pandan menuju Selat Nasik Pulau Mendanau. Dari Selat Nasik kemudian dilanjutkan dengan menyewa perahu nelayan menuju Pulau Salma. Waktu total yang dihabiskan sekitar 5 jam. Perjalanan menuju pulau ini memang cukup melelahkan.

Tim Ekplorasi Terumbu Karang UBB menuju Pulau Salma dari Pulau Bangka. Berangkat dari Kota Sungailiat sampai ke Pulau Pongok menghabiskan waktu sekitar 9 jam. Perjalanan yang cukup melelahkan itu terobati dengan pengalaman baru dengan menemukan tempat baru dan sahabat-sahabat baru lagi di Pulau Pongok. Tim menginap di Pulau Pongok dengan bantuan dari seorang kepala sekolah di Pulau Celagen yang tepat berhadapan dengan pelabuan Pulau Pongok. Selama melakukan ekspedisi dibeberapa lokasi terpencil, Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB memang banyak dibantu oleh guru-guru yang berada di lokasi tersebut. Hal ini seperti saat ekplorasi ke Tanjung Labu dan Tanjung Sangkar Pulau Lepar Kabuaten Bangka Selatan serta di Pulau Buku Limau Kabupaten Belitung Timur. Melalui tulisan ini, dengan ketulusan hati kami dari tim eksplorasi terumbu karang UBB mengucapakan terima kasih yang setinggi-tingginya atas bantuan ikhlas para guru-guru di pulau-pulau terpencil yang telah banyak membantu tim selama berada di lokasi-lokasi terpencil tersebut.

Mengingat perjalanan yang cukup melelahkan dari sungailiat, tim telah merencanakan untuk ke Pulau Salma esok harinya. Jika mengadakan trip ke Pulau Salma, jangan lupa membawa persediaan air tawar yang cukup karena di pulau ini tidak terdapat sumber air tawar. Keesokan harinya, dengan bantuan pemandu dari Pulau Pongok perjalanan menuju Pulau Salma yang menempuh jarak sekitar 16 km atau 1 jam perjalanan menjadi detik-detik yang dinantikan.

Pulau Salma terkenal sebagai lokasi bertelur penyu. Sangat banyak penyu yang mendarat di pulau ini untuk bertelur. Karenanya tak heran di pulau ini banyak terdapat burung-burung laut yang kemungkinan banyak makanan termasuk tukik penyu yang baru menetas. Menurut masyarakat pongok, penyu yang bertelur di pulau ini adalah jenis penyu sisik dan penyu hijau.

Sayangnya, telur ini pun hampir tiap hari diambil oleh masyarakat Pulau Kueel yang berjarak hanya sekitar 2,5 km dari Pulau Salma untuk dijual di belitung atau ke pulau bangka. Saat mengelilingi pulau ini dari atas perahu, tim menemukan dua ekor penyu sisik yang berenang menjauh dari perahu karenan mungkin merasa terganggu suara mesin perahu.

Sampai di Pulau Salma , tim langsung disajikan dari atas perahu hamparan karang berwarna-warni yang terlihat jelas dari atas perahu karena airnya yang jernih seperti kaca. Terumbu karang di pulau ini masih alami meski tampak tanda-tanda kerusakan akibat pengeboman namun kondsi karang secara umum masih sangat baik. tim lagsung melakukan penjelajahan ke dalam pulau. Pepohonan di pulau ini tak terlalu tinggi. Hanya seerti semak-semak dengan pohon-pohon kecil. Bahkan ditemkan barisan pohon kelapa yang ditanam oleh masyarakat. Tampak ada bangunan beton tua seperti rumah namun yang terssa tinggal dindingnya. Bangunan itu sudah lama ditinggalkan dan sudah ditumbuhi pepohonon.

Sebagian dari tim langsung mengambil data tutupan karang dengan metode line intecept transect sepanjang 100 meter dengan interval 20 meter. pengambilan data dilakukan pada bagian barat pulau. Dari data LIT diperoleh tutupan 67,52% dengan kategori baik (50 – 74,9%) menurut Gomez et al, 1988. karang di perairan ini didominasi oleh karang jenis Acrpora branching (ACB). Selain itu ditemukan pula banyak karang foliose (CF). Tampak karang berwarna warni mengindikasikan perairannya yang sesuai untuk kehidupan karang. Berdasar penelitian LIPI pada Juni 2005 di perairan Pulau Salma , tutupan karang yang didapat adalah 84,08% (Siringoringo et al, 2006) yang berarti karang dalam status sangat baik/sehat. Ekosistem karang yang sehat berbanding lurus dengan keanekaragaman biota laut yang juga tinggi. Terdapat berbaga jenis ikan dengan ukuran yang cukup besar berenang menghampiri kami saat berenang mengkin asing melihat pendatang baru di perairannya. Tampak juga ada ikan Napoleon wrases yang termasuk ikan Ependik II menurut CITES. Sayangnya, saat pengambilan foto ikan ini, ternyata ikan tersebut cukup pemalu dan langsung menjauh dari tim.

Pulau Salma merupakan pulau yang sangat cantik dan memoesona. Tim eksplorasi terumbu karang berkesempatan mengunjungi pulau ini sebanyak dua kali. Keaslian ekosistem terumbu karang di pulau ini pun telah memikat hati anggota tim yang terdiri dari tiga orang mahasiswa kelautan UBB unutk menginventaris potensi kerang raksasa (Tridacnidae) oleh Jumroh Aqobah, S.Pi, sebaran tutuapn karang oleh Hanafi Ishariyanto, S.Pi dan sebaran makroalga oleh Iskandar, S.Pi.

Pulau Kueel (kuil_red)


Pulau ini bersebelahan dengan Pulau Salma . Pulau yang dihuni sekitar 20 KK ini merupakan pulau kecil yang dikelilingi oleh ekosistem terumbu karang seperti Pulau Salma. Satu hal yang menarik bagi tim saat ke pulau ini adalah cerita dari pemandu yang berasal dari pulau pongok. Pemandu tersebut bercerita bahwa penduduk Kueel melarang nelayan dari pongok dan dari daerah lain menangkap ikan disekitar terumbu karang pulau mereka (kueel). Cerita ini mengindikasikan bahwa ada kesadaran dari masyarakat desa ini untuk menjaga keaslian ekosistem terumbu karang di pulau mereka. Sayangnya, mungkin pulau ini belum tersentuh dengan pembinaan atau program pemberdayaan masyarakat oleh pemerintah daerah yang berdomisili di tengah kota. Inilah realita menyakitkan di derah kita terutama unutk pemberdayaan nelayan lokal.

Tim akhirnya melakukan reef check di Pulau Kueel. Hasilnya, ternyata ekosistem terumbu karang di daerah ini dulunya sempat rusak parah akibat pengeboman. Tampak patahan karang, bongkahan karang dan cekungan sisa pengeboman dengan patahan karang yang berserakan. Namun tampak bahwa peristiwa itu telah lama terjadi dan karang yang mati tersebut telah mulai banyak ditumbuhi oleh organisme karang baru. Tim menyimpulkan, inilah mungkin yang mendasari kesadaran masyarakat pulau ini. Pengalaman penangkapan secara destruktif telah merugikan penduduk Pulau Kueel. Karang yang rusak membuat ikan menjadi sepi dan akhirnya penduduk lokallah yang dirugikan. Inilah dilema program pelestarian terumbu karang. Di daerah yang jauh dan sulit di akses, kendala utama adalah penangkapan yang destruktif karena jauh dari pengawasan, sedangkan unutk daerah yang dekat dengan pemukiman, permasalahan yang timbul adalah offer fishing dan pencemaran.

Pengalaman berkunjung ke Pulau Salma dan Kueel yang melelahkan namun telah menyemangati kami untuk menemukan spot-spot karang baru yang sehat dan indah yang kaya dengan biota lautnya. Spot cantik yang semakin sulit ditemukan ditengah belantara bongkahan timah yang semakin menggoda.

Ekspedisi 1 : Februari 2010
Ekspedisi 2 : Mei 2010


Penulis : Indra Ambalika Syari, S.Pi




Catagory : Artikel dan Foto
Lokasi : Pulau Pemain
Pulau Pemain Permis Kabupaten Bangka Selatan
2 januari 2011. Tim eksplorasi terumbu karang melakukan ekspedisi terumbu karang di perairan Permis tepatnya di pulau pemain. Desa Permis Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan merupakan desa yang cukup besar di pesisir bagian selatan tepatnya bagian barat daya pulau Bangka. Desa ini berada pada perairan selat Bangka yang berbatasan dengan pulau Sumatera.

Dulu, desa Permis terkenal di Bangka sebagai daerah penghasil sarang burung walet. Selain itu, daerah ini pun terkenal dengan hasil perkebunan lada, durian dan tentu saja hasil tangkapan ikan nelayannya. Kini, desa ini lebih dikenal sebagai desa penghasil timah di daerah selatan pulau Bangka. Selain itu, desa ini pun mulai dikenal sebagai lokasi yang akan dijadikan sebagai daerah yang akan dibangun untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang akan mensuplai listrik untuk Pulau Bangka dan Pulau Sumatera di masa yang akan datang. Selain di desa Permis, PLTN juga rencananya akan di bangun di daerah Tanjung Ular Kabupaten Bangka Barat.

Saat mengunjungi dermaga desa yang aktif digunakan sebagai dermaga untuk berlabuhnya perahu-perahu antar jemput pekerja timah terlihat jelas beroperasi empat unit kapal keruk (KK) dan terdapat enam unit kapal isap produksi (KIP) serta ratusan unit Tambang Inkonvensional Apung (TI Apung_red). Perairan Permis memang perairan yang termasuk dalam wilayah izin usaha penambangan PT. Timah Tbk. dan PT. Bangka Prima Tin (BPT). Banyaknya aktivitas penambangan disekitar pulau Pemain membuat tingkat sedimentasi semakin tinggi dan kecerahan perairan semakin rendah.

Desa Permis disebut-sebut sebagai desa yang penduduknya memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi dari hasil timahnya. Tak heran, hampir semua pemudanya bekerja sebagai penambang timah atau minimal berusaha terkait dengan timah. Sesuai dengan hasil wawancara dengan penduduk saat kami mendatangi desa ini, tak ada lagi nelayan utama di desa ini. Semua nelayan telah beralih profesi menjadi penambang TI Apung karena dianggap lebih menguntungkan dibandingkan menjadi nelayan yang pendapatannya tidak menentu. Apalagi kondisi laut yang susah ditebak ditambah daerah ekosistem laut yang terdegradasi semakin bertambah membuat hasil tangkapan semakin langka. Tak heran, akhirnya ikan didatangkan dari daerah lain ke desa ini seperti Toboali, Sungaiselan bahkan Pangkalpinang. Inilah fakta yang ada. Nelayan yang masih tersisa hanya di desa sebagian yang terletak tidak jauh dari desa Permis, itupun jumlahnya sangat sedikit yang masih tersisa.

Perairan selat bangka terkenal sebagai perairan dengan kondisi perairan yang lebih subur karena banyak mendapat masukan bahan organik dari sungai-sungai di pulau sumatera dan pulau Bangka yang saling berhadapan di daerah ini. Kondisinya yang semi tertutup membuat substrat di perairan lebih halus jika dibandingkan dengan di daerah bagian timur pulau bangka yang berbatasan langsung dengan laut terbuka Laut Cina Selatan.

Kondisi Terumbu Karang di Pulau Pemain


Berdasarkan hasil survey di lokasi izin usaha penambangan dan sekitarnya, daerah terumbu karang hanya ditemukan di perairan sekitar pulau Pemain. Pulau Pemain merupakan salah satu pulau yang terdapat di perairan selat Bangka. Terdapat dibagian barat daya pulau Bangka. Selain pulau Pemain, terdapat pulau Pelepas, pulau Tikus dan pulau Nangka yang termasuk dalam kawasan kabupaten Bangka Tengah yang terdapat di perairan selat Bangka.

Dilihat dari kondisinya, pulau Pemain merupakan pulau yang terdiri dari batu besar yang ditumbuhi oleh perdu dan beberapa pohon saja. Besar kemungkinan pohon dan perdu-perdu ini berasal dari kotoran burung laut yang mencari makan disekitar terumbu karang pulau ini. Sebagaimana karakteristik pulau-pulau yang terdapat dikawasan selat Bangka tersebut, kondisi terumbu karang di pulau Pemain tidak terlalu luas. Terumbu karang mengelilingi pulau dengan ketebalan bervariasi antara 10-200 meter.
Berdasarkan hasil pengambilan langsung data terumbu karang menggunakan lapangan yang dilakukan pada 2 Januari 2011, pulau Pemain terletak pada 02o 33’ 40,0” LS dan 105o 52’ 26,4” BT. Pulau ini hanya berjarak sekitar 5,25 km dari dermaga desa Permis. Kondisi perairan sangat keruh. Kecerahan perairan hanya sekitar 2 meter. Padahal untuk standar terumbu karang, kecerahan perairan minimal adalah 6 meter. Rendahnya kecerahan perairan karena sedimentasi dari aktivitas penambangan timah lepas pantai di lokasi sekitar pulau Pemain yang cukup banyak.

Berdasarkan hasil penelitian tutupan terumbu karang menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT) sepanjang 40 meter dengan ketelitian centimeter mendapatkan nilai persen tutupan karang hidup sebesar 23,70 %. LIT dilakukan sepanjang 40 meter mengingat kondisi luasan karang yang relatif rendah dan perairan yang cukup keruh sehingga dilakukan pengambilan data hanya sepanjang 40 meter sesuai dengan kondisi lingkungan. Sesuai dengan kategori Gomez dan Yap, 1998. Nilai tutupan tersebut tergolong kategori rusak (0%-24,9%).

Hasil indeks mortalitas karang mendapatkan hasil 0,7056. Nilai ini menunjukkan bahwa tingkat kematian terumbu karang sangat tinggi dan kondisi ekologi terumbu karang di sekitar kawasan pulau Pemain sangat rentan terancam kerusakan yang lebih parah. Tingginya nilai indeks mortalitas ini dikarenakan tingginya angka kematian karang yang tertutup lumpur (slim) sebesar 56,8%. Karang yang mati tertutup lumpur sebagian besar adalah jenis karang massive (CM). Lumpur ini dihasilkan dari pembuangan tailing aktivitas penambangan timah lepas pantai yang terbawa arus hingga ke daerah terumbu karang di sekitar pulau Pemain. Selain itu, banyak terdapat bulu babi (Diadema sp.) yang terdapat di ekosistem terumbu karang yang rusak ini.

Dari jumlah koloni dan persen tutupan jenis dapat dilihat bahwa karang jenis Turbinaria peltata dan Goniopora sp. merupakan jenis karang yang paling banyak dijumpai di lokasi pulau Pemain yang terumbu karangnya telah banyak rusak akibat sedimentasi penambangan timah lepas pantai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa spesies yang cukup kuat (resisten) terhadap sedimentasi di perairan Permis adalah spesies Turbinaria peltata dari family Dendrophylliidae dan Goniopora sp. dari family Poritidae. Oleh karena itu, kedua spesies ini direkomendasikan sebagai spesies yang akan dijadikan sebagai jenis perintis dalam pemulihan ekosistem terumbu karang pasca penambangan di lokasi sekitar perairan Permis dalam merestorasi ekosistem terumbu karang yang rusak akibat aktivitas penambangan timah lepas pantai.
Pesan untuk kita…

Daerah Permis memang dikenal sebagai penghasil timahnya saat ini. Tapi bukan berarti kehidupan hanya tergantung dari hasil timah saja. Apalagi jika pemanfaatannya tidak dilakukan dengan bijak sehingga menghancurkan potensi lain yang sebenarnya dapat dikembangkan seperti perikanan, pariwisata bahari, dan sektor kelautan. pemanfaatan timah saat ini terbukti secara perlahan namun pasti telah merubah tataran sosial budaya masyarakat desa Permis dan sekitarnya. Banyak pendatang dari daerah luar pun yang berdatangan ke desa ini untuk ikut menambang timah.

Kita pasti tidak berharap, jika suatu saat kegiatan penambangan timah di daerah ini berhenti maka kehidupan masyarakat pun berhenti di daerah ini. Karenanya, cara-cara bijak harus dipersiapkan agar sumber daya yang dianugerahkan ini memberi kebaikan untuk generasi saat ini dan nanti. Yang juga akan membangun sektor lainnya bukan malah merusaknya. Terbukti, saat ini dengan kerusakan ekosistem laut yang semakin tinggi, harga ikan sudah semakin mahal karena semakin sulit di dapat. Jangankan untuk mewariskan untuk anak cucu kita nanti, untuk generasi saat ini saja kita sudah dapat merasakan dampaknya dari kerusakan ini.

Langkah penting yang dapat dilakukan adalah membuat zonasi penambangan di laut pulau Bangka, menyiapkan regulasi untuk jaminan reklamasi laut akibat penambangan dan membaut manajemen yang terencana untuk operasi penambangan di laut sperti badan pengawas yang baik, badan penindakan yang tegas dan sebagainya. Tentu saja hal ini tidak mudah dilakukan, tapi sebenarnya ini tidak terlalu sulit untuk dilakukan. tergantung dengan komitmen pemerintah daerah di lokasi ini untuk berbuat lebih baik daripada sekedar membiarkan yang terjadi ya terjadilah...


Tim :
Ketua : Indra Ambalika Syari, S.Pi
Anggota : FIrdaus, S.Pi, Jemmi, S.Pi, Dwi Septiawan, S.Pi, Bahar






Pulau Pemain



penambangan timah laut di perairan permis saat tim menuju pulau pemain



pulau pemain yang dikelilingi penambangan timah laut (tampak ada 3 kapal keruk, ti apung dan kapal isap di perairan pulau pemain



terumbu karang tertutup sediment di pulau pemain



dampak sedimentasi terhadap ekosistem terumbu karang di perairan pulau pemain



karang jenis Goniopora yang cukup banyak ditemui di perairan pulau pemain



pengambilan data LIT (tampak karang Turbinaria peltata dan bulu babi hitam




Catagory : Terumbu Karang
Lokasi : Pemuja
Terumbu Karang Pulau Pemuja Perairan Penganak, Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat
Selasa, 11 Mei 2010 Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung berkesempatan untuk mengunjungi Pulau Pemuja Penganak Jebus Kabupaten Bangka Barat. Perairan penganak terkenal sebagai kawasan penambangan timah laut yang dilakukan dengan total mining. Bagaimana tidak, di perairan ini beroperasi sekitar 25 kapal isap yang tim hitung dengan mata telanjang. Selain itu beroperasi ratusan Tambang Inkonvensional Apung (TI Apung_red). Kawasan perairan ini memang terdapat wilayah usaha penambangan (WUP) PT Timah Tbk dan sejak AMDAL terpadu tahun 2009, banyak kapal isap milik mitra PT Timah Tbk datang berbondong-bondong dari Thailand.

Pulau Pemuja terlihat jelas dari Pelabuhan Penganak Jebus sebelah barat berjarak sekitar 3,5 km dari pangkalan perahu dari Pantai Ketapang yang merupakan pangkalan TI Apung milik masyarakat. Di pantai yang berpasir putih dan bebatuan granit ini banyak berdiri pemukiman semi permanen, warung-warung yang menjajakan makanan untuk pekerja TI Apung, tempat billiard, dll. Tim menyewa perahu milik nelayan yang perahunya digunakan untuk mengantar para pekerja TI Apung. Nelayan yang membawa kami berasal dari Palembang, perahu yang digunakan pun adalah perahu “ketek” yang biasa digunakan di sungai musi untuk jasa transportasi. Nelayan ini rela berpisah dengan keluarga di Palembang karena manisnya bisnis timah di Pulau Bangka.

Menurut informasi yang kami dapat dari penduduk, Pulau Pemuja termasuk pulau "angker". Pengunjung yang masuk ke pulau itu tidak boleh merusak tanaman dan membunuh hewan atau mengambilnya untuk dibawa pulang. Tim sangat kagum dengan cerita ini, ini adalah salahsatu bentuk kearifan lokal (local wisdom) masyarakat dalam menjaga keaslian ekosistem yang terdapat di pulau ini.

Pulau Pemuja sangat eksotis. Pulau ini dikelilingi batu-batu granit yang putih dan menjulang tinggi dan besar. Disela-sela batu terdapat pantai berpasir yang tidak terlalu panjang namun sangat indah dengan hutan yang masih alami. Pulau ini tidak terlalu luas, kami tidak mengukur luasannya namun diperkirakan hanya sekitar 4–6 hektar. Kanopi tanaman masih rindang sehingga pada bagian bawah hutan ditumbuhi lumut. Jika menyeberang dari daratan Pulau Bangka, pulau ini sebenarnya sangat dekat. Hanya sekitar 350 meter dari daratan Pulau Bangka. Namun tidak terdapat akses jalan untuk menuju daratan terdekat menuju Pulau Pemuja kecuali melewati pasir pantai. Jarak antar pulau yang sempit menyebabkan arus antara Pulau Pemuja dan Pulau Bangka cukup kuat.

Selain memiliki ekosistem daratan yang indah, Pulau Pemuja pun dikelilingi oleh ekosistem terumbu karang. Karangnya termasuk jenis karang tepi dengan ketebalan lebar karang yang bervariasi. Karang yang cukup luas berada disebelah selatan, timur dan utara pulau. Tim eksplorasi terumbu karang melakukan pengecekan terumbu karang (reef check) di sebelah selatan dan barat pulau ini. Pengecekan tutupan terumbu karang menggunakn metode line intercept transect (LIT) sepanjang 70 meter. Pengambilan data dilakukan pada jarak sekitar satu meter dari tubir karang. Ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang paling baik dan stabil dari kondisi terumbu karang karena berada pada kolom air yang selalu terendam oleh air laut. Hasil pengecekan sungguh sangat mengecewakan, tutupan karang hidup di sebelah selatan pulau hanya 14,54 % dengan tutupan karang mati akibat ditutupi sediment 72,39 %. Sisanya adalah tutupan alga yang didominasi oleh jenis Padina, Coralit Alga, bulu babi (Diadema sp) dan karang bleaching akibat pengaruh kenaikan suhu beberapa hari terakhir saat ekspedisi. Kondisi di sekelilingnya tak jauh berbeda.

Sebenarnya terumbu karang di seputaran pulau sangat indah dengan keanekaragaman jenis karang yang cukup tinggi. Bahkan kami menemui Tridacna squamosa yang merupakan jenis kerang raksasa dilindungi karena keberadaannya yang semakin sedikit.

Selain dikelilingi oleh ekosistem terumbu karang yang cukup luas, Pulau Pemuja juga dikelilingi oleh kapal isap dan tambang inkonvensional (TI) apung. Disekitar pulau yang eksotis dengan kearifan lokal masyarakatnya ternyata hanya mampu menjaga ekosistem darat pulau ini. Ekosistem terumbu karang yang terdapat disekitarnya tak mampu diselamatkan karena di Pulau Bangka tren penambangan timah laut sedang naik daun. Tak kurang dari dua puluh lima kapal isap terdapat di seputaran Pulau Pemuja.

Semuanya berpacu mengaduk pasir di laut untuk mengumpulkan bijih timah sebanyak-banyaknya. Dampaknya, terumbu karang yang sebenarnya sangat cantik dan alami ini tertutup oleh sediment kemudian ditumbuhi alga. Bahkan ada karang terlihat tertimbun tanah akibat sedimentasi yang sangat parah.

Disekitar Pulau Pemuja pun banyak tedapat hamparan karang yang nasibnya lebih tragis. Terumbu karang telah ditutupi sediment dengan parah dan telah ditumbuhi oleh makroalga dan corallite alga (CA). Masa pemulihan terumbu karang yang rusak oleh sedimentasi tak dapat diprediksi. Berbeda dengan kerusakan karang oleh bom, karang dapat pulih antara 10–50 tahun tergantung kualitas kerusakan. Kerusakan akibat sedimentasi telah mengubah tipe substrat yang sebelumnya pasir dan batuan karang menjadi lumpur berdebu yang halus dan gampang melayang oleh arus. Substrat ini menutup karang yang akhirnya mati dan ditumbuhi makroalga. Pemulihan karang akan sulit terjadi karena laju pertumbuhan alga jauh lebih cepat daripada laju pertumbuhan karang.

Ekspedisi kedua pulau pemuja dilakukan pada 16 September 2010. Sayangnya, kondisi perairan tidak memungkinkan untuk melakukan pengambilan data. Apalagi kapal isap telah beroperasi hanya sekitar 200 meter saja dari pulau ini. Padahal, pada ekspedisi pertama, kapal isap masih beroperasi cukup jauh dari pulau pemuja. Buangan tailing kapal isap menghasilkan sedimentasi yang sangat tinggi dengan kapasitas rata-rata sekitar 500 m3/jam. Karenanya, air laut akan menjadi keruh dan lumpur terbawa arus hingga jauh ke perairan lain disekitarnya. Visibility yang sangat rendah menyebabkan pengambilan data tidak dilakukan. pengambilan data dilakukan pada perairan di Perairan Ketap sebagai tambahan data bagi tim eksplorasi terumbu karang. Spot pengambilan data berjarak sekitar 3 km dari pulau pemuja sebelah barat. Kondisi terumbu karangnya tak jauh berbeda dengan di Pulau Pemuja.

Pulau Pemuja adalah salah satu contoh nyata bahwa timah is number one di Pulau Bangka. Kesalahannya adalah mengapa terumbu karang tersebut hidup di kawasan yang juga terkandung timah didalamnya. Di sini, kepentingan timah adalah di atas segala-galanya. Meskipun disuatu daerah terdapat ekosistem terumbu karang yang indah dan luas, namun ternyata terkandung timah juga di kawasan tersebut, maka penambangan timah akan tetap dilakukan. Acuannya adalah ada tidaknya timah, bukan ada tidaknya ekosistem terumbu karang.

Ironis, dengan penambangan laut seperti ini sebenarnya penambangan timah di laut Pulau Bangka diprediksi potensial dilakukan hingga tahun 2025. Harusnya kita belajar dari kesalahan manajemen penambangan timah di darat. Sejak tahun 1999 penambangan timah rakyat dilegalkan, pada tahun 2008/2009 penambangan darat dirasakan mulai tidak potensial lagi dilakukan karena kesulitan lokasi baru, hasil yang didapat yang semakin sedikit dan biaya operasional yang semakin tinggi. Dampaknya, ekosistem di daratan rendah dan daerah aliran sungai di Pulau Bangka terkelupas berganti kulit menjadi lapisan pasir yang menganga dan sungai-sungai yang tercemar sedimentasi dan pendangkalan super tinggi.

Kini, ekosistem di laut pulau ini pun sedang menyusul menuju kerusakan yang tidak jauh berbeda. Jumlah kapal isap dan TI Apung terus bertambah dan hampir tak terkendali. Penambangan laut tak mengenal daerah karang yang kondisinya masih bagus ataupun kawasan wisata bahari seperti yang terjadi di Pantai Penyusuk, Pantai Tanjung Pesona dan Pantai Rebo Kabupaten Bangka Induk.

Anehnya, dua dari empat sektor unggulan pasca timah yang akan dikembangkan di daerah ini untuk menghidupi masyarakatnya jika penambangan timah tidak potensial lagi adalah perikanan dan pariwisata (wisata bahari). Tulang punggung kedua sektor ini sebenarnya satu, ”ekosistem terumbu karang”. Berdasarkan penelitian burke et al, 2002, dari 1 km2 terumbu karang yang sehat, dapat diperoleh 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan 1.200 orang di wilayah pesisir setiap tahun. Karena terumbu karang yang indah dan sehat pula yang menjadi daya tarik utama turis lokal dan mancanegara datang dari jauh ke Bunaken dan Bali. Ekosistem terumbu karang yang indah dan memiliki keanekaragaman yang jauh lebih tinggi dibandingkan di daerah subtropis menjadi magnet para turis mancanegara mengunjungi spot-spot karang di Indonesia.

Melihat kenyataan yang terjadi saat ini, dengan kerusakan ekosistem terumbu karang yang nyata-nyata terjadi di depan mata kita setiap harinya, timbul pertanyaan "sektor apakah yang sebenarnya ingin kita siapkan untuk generasi masa depan Pulau Bangka ini pasca timah nanti?". Kita tunggu skenario dari program pemerintah daerah dalam menyelamatkan ekosistem berharga ini. Menunggu dan terus menunggu kebijakan pemerintah daerah yang lebih bijak untuk sumber daya alam yang masih dianaktirikan ini.

Tim :
  • ekspedisi Pertama : 11 Mei 2010 : Indra Ambalika, S.Pi, Robani Juhar, S.Pi, M.Si, Hanafi Ishariyanto, S.Pi, dan Hadi Sodikin, S.Pi

  • ekspedisi kedua : 16 September 2010 : Indra Ambalika S.Pi, Farid Firdaus, S.Pi, Sasa Jurana, dan Novri






Foto Kapal Isap 1

Foto Kapal Isap 2

Karang dipesisir pulau Pemuja

FOto Pulau Pemuja Babel

Foto Saat Pengambilan data LIT

Sediment akibat penambangan timah di laut pulau pemuja 1

Sediment akibat penambangan timah di laut pulau pemuja 2

Sediment akibat penambangan timah di laut pulau pemuja 3




Catagory : Artikel & Foto Terumbu Karang
Lokasi : Pantai Rebo Kabupaten Bangka BABEL
Mimpi Kami untuk Rebo
Pantai Rebo adalah salah satu pantai di Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka. Pantai yang menjorok dari daratan ini dulu sempat menjadi serpihan syurga bagi penulis secara pribadi. Awal tahun 2008, sedih melihat kondisi pantai ini yang diluluhlantakkan oleh penambangan timah di daerah pantai dan TI Apung yang bertebaran disekitar pantai tersebut. Bangunan-bangunan yang dulu dibangun oleh pemerintah daerah sebagai penunjang untuk meningkatkan nilai estetika pantai ini beralih fungsi menjadi tempat tinggal para pekerja TI. Pemerintah daerah sepertinya putus asa tak mampu menjaga asset milik mereka sendiri yang dibangun dengan uang yang tidak sedikit.

Pentingnya Sektor Pariwisata Bagi Bangka Belitung


Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB lahir dari niat yang sama; pertama, mencari informasi yang sebenarnya tentang kondisi dan sebaran terumbu karang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kedua, memberikan informasi kepada pemerintah dan pengusaha mengenai daerah potensial wisata bahari - wisata bahari baru selain yang sudah dikenal oleh masyarakat seperti parai beach hotel, tanjung pesona beach dan pasir padi beach.

Mengapa harus pariwisata? Meskipun tim ini terlahir hanya dari beberapa gelintir pemuda-pemuda yang peduli dengan masa depan Bangka Belitung, tapi secara pribadi saya merasa bangga untuk mengatakan bahwa tim ini dibangun dengan berlandaskan orientasi dan visi pembangunan masa depan Bangka Belitung yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Sesuai dengan kata-kata bijak, "Geography Is Destiny" issard, 1972. Dilihat dari sisi posisi (geografis), pulau Bangka khususnya dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada umumnya sangat strategis untuk dikembangkan sebagai destinasi pariwisata masa depan. Jarak dengan Jakarta hanya 50 menit, dengan Palembang hanya 35 menit dan Bangka dengan Belitung sekitar 3 jam dengan kapal cepat melalui jalur laut.

Tapi kami sadar, provinsi ini tak akan maksimal menjadi destinasi pariwisata masa depan seperti harapan jika hanya didukung oleh keindahan pantainya. Keindahan tampak luar itu harus dikombinasikan lagi dengan keindahan dunia underwater. Air yang jernih dengan terumbu karang dan biota laut yang beraneka jenis, rupa dan warna. Karenanya Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB terus mencari dan mencari lokasi-lokasi yang potensial di enam kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dibangunnya Novotel dan ASTON hotel di Pulau Bangka dan beberapa hotel di Belitung sebenanrnya menjadi indikator besarnya potensi pariwisata bahari di daerah kita. Baru-baru ini, Salah satu lembaga perwalian dana pensiun dari Jepang menjajaki investasi penyediaan air minum di Kepulauan Bangka Belitung. Penyediaan itu salah satu dari persiapan menjadikan Bangka Belitung sebagai tujuan wisata kedua setelah Bali di Indonesia bagi wisatawan Jepang (KOMPAS, 3 Maret 2011).

Hingga saat ini, Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB telah melakukan eksplorasi di 42 lokasi terumbu karang. Masing-masing 31 lokasi di perairan Pulau Bangka dan 11 lokasi di Pulau Belitung. Dari 31 lokasi yang terdapat di Pulau Bangka, ada satu lokasi yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata bahari masa depan. Pantai Rebo. Mengapa Pantai Rebo? Pantai yang telah luluh lantak oleh penambangan timah inkonvensional dan infrastruktur yang "acak kadut" karena telah berganti fungsi menjadi tempat tinggal penambang TI.

Mimpi seperti Kute Bali dan Losari Makassar


Kami menyimpulkan Pantai Rebo mempunyai potensi wisata bahari ketika melakukan ekspedisi pertama pada awal tahun 2008 ke Karang Melantut Pantai Rebo. Luas spot karang ini sekitar 27 ha. Sekitar 1,1 km dari karang melantut terdapat lagi karang kering dengan luas lebih dari 6 ha setelah dikalkulasikan dengan menggunakan GPS Garmin Colorado 400i. Lokasi ini berjarak sekitar 5 km dari Pantai Rebo. Membutuhkan waktu hanya sekitar 20 menit dari Pantai Rebo dengan menggunakan perahu nelayan. Selain itu, akses ke Pantai Rebo sangat mudah dengan kondisi jalan yang relative baik. hanya berjarak sekitar 30 km dari Pangkalpinang pusat ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan 5 km dari Kota Sungailiat.

Kondisi terumbu karangnya masih dalam kondisi baik hingga bulan Juni 2010 kami melakukan reefcheck di lokasi ini. Tutupan karang hidup sebesar 68,3% yang menunjukkan dalam kategori baik. Selain itu, di perairan sekitar karang banyak ditemui berbagai jenis ikan. Tak heran jika terdapat sekitar 300an nelayan di Pantai Rebo mulai dari nelayan utama hingga nelayan sambilan. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan Perikanan Kabupaten Bangka, 2010, jumlah bagan tancap saja sebanyak 52 unit. Nelayan di lokasi ini terdiri dari nelayan jaring, nelayan pancing, nelayan bagan dan nelayan bubu. Banyaknya jenis alat tangkap yang digunakan nelayan menunjukkan besarnya potensi perikanan sekitar perairan Pantai Rebo. Hasil perkiraan nilai tangkapan perikanan nelayan Pantai Rebo (ikan, cumi, udang dan kepiting) pada tahun 2010, di dapat nilai Rp 18,25 milliar per tahun. Tak heran pengumpul ikan pun berdatangan hingga dari Batu Belubang Kabupaten Bangka Tengah dan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat. Selain itu, nelayan-nelayan sekitar Pantai Rebo pun banyak yang menangkap ikan di perairan Pantai ini seperti nelayan Teluk Uber hingga nelayan Kuala Sungailiat.

Pada akhir tahun 2010, penulis kebetulan mendapat kesempatan berkunjung ke Pantai Kute Bali dan LOSARI Makassar. Tak mustahil sebenarnya Pantai Rebo dimasa depan akan seperti Pantai Kute Bali atau Pantai LOSARI. Kedua pantai yang telah dikembangkan menjadi tempat berkumpul wisatawan. Nanti, di Pantai Rebo para wisatawan lokal, wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman) menikmati keindahan Pantai Rebo yang berlatar bukit rebo menghijau, berpasir putih dan berhias bebatuan granit yang eksotis. Selain itu, bagi mereka yang ingin menikmati keindahan underwater dapat dengan mudah menuju lokasi spot terumbu karang. Para pengunjung pun akan dimanja dengan hidangan seafood yang masih segar hasil tangkapan nelayan.

Kenyataan Pahit


Minggu pagi (28/2/2011), penulis menyempatkan diri ke Pantai Rebo. Tampak 3 kapal isap dan puluhan ponton TI apung di depan pantai ini. Senyum nelayan tampak semakin meredup. "Saat siang hari, hampir seratusan TI apung baik ponton maupun perahu beroperasi di sekitar kapal isap di perairan rebo. Padahal sebelum datang kapal isap, jumlah TI Apung tak lebih dari 20 ponton dan tak ada perahu TI" kata nelayan menjelaskan. Beginilah kondisi real di pulau ini. Salah urus anugerah timah sehingga hanya menjadi kenikmatan bagi segelintir orang tapi merugikan banyak orang lain.

Mimpi melihat Pantai Rebo seperti pantai Kute Bali atau Pantai LOSARI Makassar sepertinya semakin jauh. Semoga PT Timah Tbk bersama mitra menepati janjinya, bahwa penambangan dilakukan berjarak minimal 2 mil dari spot terumbu karang dan memperhatikan arah arus (KOMPAS, 24 Mei 2010) sehingga Karang Melantut dan Karang Kering masih dapat terselamatkan. Dan semoga, kepala daerah yang diberi amanah mengeluarkan izin untuk penambangan timah di laut lebih bijaksana agar tidak "mengobral" izin penambangan timah lepas pantai hanya untuk keuntungan segelintir orang dan dirinya sendiri. Menjadi pemimpin yang sibuk memikirkan nasib generasi berikutnya bukan posisi berikutnya. Agar tak bertambah lagi pantai rebo – pantai rebo baru di masa yang akan datang. Amin.











13 november 2010



karang bagian dangkal



melantut 2 september 2008



karang pada bagian tubir



karang kering rebo - 14 nov 2010



karang rebo - 3 juni 2010



Ikan hasil tangkapan nelayan



Ikan hasil tangkapan nelayan



Ikan hasil tangkapan nelayan



hasil tangkapan melimpah nelayan



KIP berkah alam samudera yg beroperasi di perairan antara pantai rebo dan karang melantut - 14 nov 2010



Kapal Hisap yang beroperasi di sekitar laut karang Rebo



Kapal Hisap yang beroperasi di sekitar laut karang Rebo



TI Apung yang beroperasi di sekitar laut karang Rebo



TI Apung yang beroperasi di sekitar laut karang Rebo


Written And Photographed By : Indra Ambalika Syari, S.Pi
Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB
Email : indra-ambalika[at]ubb.ac.id


Catagory : Artikel dan Foto Terumbu Karang
Lokasi : Teluk Limau Jebus Bangka Barat BABEL
Terumbu Karang Desa Teluk Limau Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat
Sekali lagi eksplorasi terumbu karang dilaksanakan di daerah Kabupaten Bangka Barat. Hal ini dikarenakan belum puasnya akan hasil yang selama ini diperoleh dari kegiatan di kabupaten ini untuk menemukan kondisi terumbu karang yang kondisinya masih baik lengkap dengan pantainya yang indah sehingga dapat direkomendasikan sebagai kawasan wisata bahari yang potensial untuk di masa yang akan datang.

Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung telah melakukan pengecekan terumbu karang di Pantai Tungau Simpang Gong Kecamtan Simpang Teritip, Pantai Tanjung Ular Kecamatan Mentok dan Pantai Bembang di Desa Pebuar Kecamatan Jebus namun hasilnya kurang memuaskan. Karang yang ditemukan kondisinya kurang bagus meskipun pantainya cukup indah dan alami. Namun, tuntutan sektor pariwisata bahari dan perikanan di masa yang akan datang adalah menghendaki adanya ekosistem terumbu karang yang kondisinya baik dan sehat. Jika Kabupaten Bangka Selatan memiliki Pulau Lepar dan Pulau Pongok yang kondisi karangnya masih cukup baik. Kabupaten Bangka Tengah dengan Pulau Semujur Dan Pulau Pebuar, dan Kabupaten Bangka Induk dengan Karang Kering di Desa Bedukang, maka di Kabupaten Bangka Barat tim belum menemukan lokasi karang yang cukup dapat membangggakan untuk dijadikan sebagai lokasi yang potensial sebagai kawasan pengembangan lokasi wisata bahari dan sentra perikanan karang dan budidaya laut (mariculture).

Informasi terus diperbaharui untuk mencari lokasi-lokasi yang layak untuk diteliti. Akhirnya tim memutuskan untuk melakukan kegiatan eksplorasi ke Desa Teluk Limau Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat. Di Pulau Bangka, Kecamatan Jebus terkenal dengan kegiatan penambangan timahnya. Mulai dari masyarakat hingga perusahaan besar yang memiliki eksavator, kapal hisap hingga kapal keruk untuk menambang timah. Saat masa-masa penambangan timah inkonvensional (TI) darat, banyak dataran rendah di kawasan ini yang berubah menjadi hamparan pasir bekas penambangan timah yang kebablasan. Daerah aliran sungai menjadi keruh dengan tingkat sedimentasi yang sangat tinggi sehingga menyebabkan sungai menjadi dangkal karena tertutup pasir dan sedimen bekas aktivitas penambangan timah. Saat ini, penambangan timah di darat sudah mulai berkurang karena lahan untuk penambangan sudah mulai habis. Orientasi penambangan sudah mulai bergeser ke daerah baru, pesisir!!!. Hal ini sangat disadari terutama oleh perusahaan-perusahaan besar yang mulai mendatangkan kapal hisap dan kapal keruk untuk melakukan aktivitas penambangan di daerah pesisir dan perairan laut yang dangkal. Selain itu, ribuan Tambang Inkonvensional jenis apung (TI apung_red) milik masyarakat pun jumlahnya terus bertambah. Kabarnya, awal mulainya TI Apung oleh masyarakat dalam menambang timah di Pulau Bangka dimulai dari Kecamatan Jebus.

Tak heran jika saat merencanakan kegiatan eksplorasi terumbu karang ini, tim kurang yakin akan menemukan kawasan pesisir yang memiliki kondisi ekosistem terumbu karang yang baik dan sehat. Namun dengan semangat untuk mengetahui keberadaan ekosistem terumbu karang yang masih tersisa di Pulau Bangka sebagai warisan generasi saat ini untuk generasi di masa yang akan datang jika timah tak potensial lagi ditambang, kegiatan eksplorasi ini tetap dilakukan dengan penuh semangat dan harapan.

Desa Teluk Limau merupakan desa yang cukup unik. Di desa ini terdiri dari tiga suku utama, yaitu bugis, melayu dan Tionghoa. Mata pencaharian utama masyarakatnya adalah nelayan, petani dan tentu saja penambang timah. Desa ini terdiri dari 2.708 jiwa atau 885 kepala keluarga dengan luasan wilayahnya 3.486 ha (Kecamatan Jebus dalam Angka, 2007). Desa ini terdiri dua dusun utama yaitu Dusun Pala yang didominasi oleh suku Tionghoa (sekitar 515 jiwa) dan Dusun Mentigi yang didominasi oleh suku bugis. Seperti kegiatan eksplorasi di daerah-daerah sebelumnya, kegiatan kali ini, tim dipandu oleh nelayan setempat. Dalam artikel kali ini, tulisan tentang terumbu karang di Dusun Mentigi akan ditbuat daram artikel yang berbeda.

Terumbu Karang di Desa Teluk Limau


Saat perairan surut, pantai di Desa Teluk Limau sangat luas. Ini mengindasikan bahwa topografi pantainya sangat landai. Pandangan mata hingga jauh terhampar pasir pantai dan bebatuan granit khas di pantai Pulau Bangka. Ekosistem terumbu karang tepat berada di depan Desa Teluk Limau. Terumbu karang dapat ditemukan disepanjang pantai desa ini namun dengan ketebalan karang yang berbeda-beda. Tim dibawa oleh nelayan setempat menuju lokasi ekosistem terumbu karang. Tak kurang 700 meter tim berjalan kaki dari pinggir pantai menuju garis pantai yang tergenang air laut saat surut.

Tampak TI-TI apung disandarkan oleh nelayan dan dikejauhan tengah pantai berdiri kokoh dan tampak gagah sebuah kapal keruk dengan bunyinya yang bergema mengeruk timah dari bumi Pulau Bangka. Disekelilingnya tampak beberapa TI-TI apung yang beraktivitas mengeluarkan asap hitam pembakaran solar. Terlihat seperti semut-semut yang mengelilingi seekor gajah. Pantai di Desa Teluk Limau sangat panjang dengan bentuk pantai berliuk-liuk karena banyak batu granit yang tersebar dan sangat eksotis.

Pasir dipantai ini putih dan tak lama kita berenang, akan terhampar makroalga dengan kepadatan yang cukup tinggi dan keanekaragaman yang tinggi. Ditemukan juga asosiasi lamun (seagrass) namun dari jenis tanaman yang kecil (Halodule sp. dan Cymadocea sp.). Tak beberapa lama menuju ke perairan yang lebih dalam kita mulai disajikan terumbu karang yang sebagian besar mati dan kurang sehat. Namun semakin ke perairan yang lebih dalam, terumbu karang yang ditemukan semakin sehat dan emmiliki keanekaragaman jenis karang yang cukup tinggi. Selain itu, ikan-ikan yang ditemukan pun semakin banyak dengan jenis-jenis yang beraneka ragam.

Kondisi karang ini cukup mengejutkan dan membuat suprise tim eksplorasi. Meskipun kecerahan perairan sekitar 90% namun kondisi terumbu karang masih relatif baik dan bagus. Memang ditemukan juga beberapa spot bleacing coral namun kondisinya masih wajar. Selain itu tampak pula karang yang patah dan terbalik karena aktivitas manusia. Namun luasan karang hidup dan kenaekaragaman jenisnya yang tergolong tinggi lengkap dengan ikan karangnya yang cukup banyak membuat tim cukup berbahagia karena ternyata di daerah ini, akhirnya kami menemukan terumbu karang yang kondisinya masih cukup baik dan layak dijadikan lokasi wisata bahari di masa yang akan datang jika kondisi ini dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan.

Saat melihat kondisi karang lengkap dengan latar pantainya yang indah, tim jadi teringat dengan kondisi pantai di Desa Tanjung Bingak Kecamatan Sijuk Kabupaten Belitung (artikel terumbu karang desa tanjung bingak akan ditulis dalam artikel yang lain). Rataan karangnya yang luas dan pemandangan pantainya yang luas dan indah. Bedanya, jika di Desa Tanjung Bingak banyak terdapat perahu-perahu nelayan, maka di Desa Teluk Limau hanya terdapat sedikit perahu nelayan.

Pantai Desa Teluk Limau sangat bagus untuk dijadikan sebagai lokasi penelitian ekosistem pesisir. Vegetasi makroalga dan terumbu karang dengan keanekaragaman jenis yang tinggi dan terdapat pula vegetasi lamun lengkap dengan biota-biota khasnya yang masih alami merupakan kawasan yang sangat baik dijadikan sebagai daerah penelitian pesisir untuk kawasan Kabupaten Bangka Barat.

Diantara rataan karang, terdapat pondok nelayan mirip bagan yang menampung ikan hasil tangkapan nelayan. Ikan yang ditampung adalah ikan untuk dikirim yang biasanya diambil secara berkala oleh tengkulak yang kemudan dibawa ke Riau. Ikan yang ditampung dalam keadaan hidup terdapat dibawah pondok bagan. Jenis ikan yang dikumpul adalah ikan Kerapu Sunuk Super yang memiliki harga yang tinggi. Melihat luasan karang dan pantai dari atas pondok ternyata memberikan gambaran utuh keindahan pantai di desa ini jika benar-benar di pelihara dan dikembangkan dengan lebih baik di masa yang akan datang.

Rapuhnya ekosistem ini...


Itulah hasil pengamatan ekosistem terumbu karang yang dilakukan oleh Tim Eksplorasi terumbu karang universitas bangka belitung pada bulan Juni 2009 di Pantai Desa Teluk Limau Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat. Hasil menggembirakan tim eksplorasi tersebut rencananya akan disumbangkan kepada Dinas Kelautan Dan Perikanan (DKP) dan Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka Barat agar direkomendasikan menjadi daerah pengembangan wisata bahari daerah ini di masa yang akan datang. Pada bulan Desember 2009, tim eksplorasi terumbu karang melakukan pengecekan lebih mendalam terhadap kondisi terumbu karang di lokasi ini. Maksudnya agar data yang diperoleh dari lapangan dapat dijadikan sebagai dasar bagi pemerintah daerah untuk serius dalam memperhatikan ekosistem terumbu karang di daerah ini.

Tim mulai mengecek kondisi ekosistem terumbu karang yang terdapat di depan lokasi desa. Alangkah terkejutnya tim ketika melakukan pengamatan, ekosistem terumbu karang yang indah dan dipenuhi oleh ikan-ikan yang beaneka warna dan rupa telah rata tertutup oleh pasir. Tim sebelumnya sempat meragukan kenyataan yang tim dapatkan dilapangan. Khawatir tim salah dalam melakukan pengecekan lokasi. Namun bagan tempat menampung ikan-ikan hasil bubu nelayan sekitar jelas-jelas menjadi patokan.

Bagan itu kini telah tidak beroperasi lagi. Tidak ditemukan lagi coral massif yang besarnya seperti rumah warga desa yang mungkin usianya ratusan tahun. Tidak ditemui lagi terumbu karang di daerah tubir dengan bentuk dan topografinya yang khas.

Karang dilokasi pengamatan rata tertutup pasir dan telah ditumbuhi oleh makroalga yang didominasi jenis Sargassum ciliatum yang tinggi dan rimbun hingga ke permukaan air laut. Masih tampak segerombolan kecil ikan Carsio cuning dan glassfish yang berenang kebingungan mencari tempat bermain dan berlindung. Ikan-ikan karang ini telah berubah rumahnya menjadi habitat alga yang tak seindah rumah mereka sebelumnya.

Begitu rapuhnya ekosistem terumbu karang terhadap kerusakan. Dalam hitungan sekitar enam bulan ekosistem terumbu karang yang sebelumnya begitu sehat dan cantik dalam sekejap berubah menjadi hamparan alga dan karang tertimbun pasir dan lumpur akibat sisa buangan penambangan timah di laut. Sungguh menyedihkan. Di provinsi kepulauan ini, perhatian terhadap ekosistem terumbu karang yang begitu vital terhadap keberlangsungan hidup masyarakat saat ini dan generasi nanti masih dianaktirikan. Timah saat ini memang menjadi tulang punggung utama pembangunan kita. Tapi kerusakan yang telah ditimbulkannya harus dibayar mahal oleh generasi nanti setelah dan pasti timah tak lagi potensial untuk ditambang. Apakah kita tega jika anak cucu kita nanti bertanya "mengapa kehancuran ini yang diwariskan kepada kami?"... teringat kata pepatah, masa depan bukan "terjadi" tetapi "dijadikan". Saatnya kita lebih peduli terhadap ekosistem terumbu karang di provinsi ini, karena peduli ekosistem terumbu karang berarti peduli masa depan kita. Masa depan Provinsi Kepualaun Bangka Belitung.




Foto - Foto terumbu karang Teluk Limau Jebus, pengambilan bulan Maret 2009





Pantai Desa Teluk Limau, tampak rataan karang dilihat dari atas bagan



Pantai Desa Teluk Limau, tampak rataan karang dilihat dari atas bagan



Keindahan salah satu pantai yang terdapat di desa teluk limau



Keindahan salah satu pantai yang terdapat di desa teluk limau



schooling glassfish di ekosistem terumbu karang pantai desa teluk limau



Keindahan Ekosistem terumbu karang Pantai Teluk Limau yang kaya akan berbagai jenis ikan



Keindahan Ekosistem terumbu karang Pantai Teluk Limau yang kaya akan berbagai jenis ikan



Keindahan Ekosistem terumbu karang Pantai Teluk Limau yang kaya akan berbagai jenis ikan



Keindahan Ekosistem terumbu karang Pantai Teluk Limau yang kaya akan berbagai jenis ikan



Keindahan Ekosistem terumbu karang Pantai Teluk Limau yang kaya akan berbagai jenis ikan




Foto - Foto terumbu karang Teluk Limau Jebus, pengambilan bulan Desember 2009



Terumbu karang telah berubah menjadi hamparan makroalga yang didominasi oleh jenis Sargassum ciliatum



Terumbu karang telah berubah menjadi hamparan makroalga yang didominasi oleh jenis Sargassum ciliatum



Terumbu karang telah berubah menjadi hamparan makroalga yang didominasi oleh jenis Sargassum ciliatum



Ekosistem Terumbu Karang ditutupi oleh pasir



sekelompok glassfish yang kebingungan mencari rumah mereka yang dulu indah



sekelompok ikan Carsio cuning yang kebingungan mencari rumah mereka yang dulu indah



Amphiprion melanopus dan Ocellaris magnifica yang terdapat di kawasan terumbu karang Pantai di Desa Teluk Limau



TI apung yang terdapat disekitar pantai di Desa Teluk Limau





Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung.
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Sasa Jurana, Syahrul sidik dan Jundi saputra
Email : indra-ambalika@ubb.ac.id
Pengambilan foto di Pantai Desa Teluk Limau dilakukan pada Juni 2009. dan Desember 2009
Menggunakan kamera Canon Powershot A710 IS 7,1 MP dan Olympus µTough-8000 12 MP.


Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Pulau Pongok Bangka Selatan
Terumbu Karang di Pulau Pongok Kabupaten Bangka Selatan

"Menemukan tempat baru yang belum pernah ditemui sebelumnya dan melakukan penelitian baru dilokasi tersebut". Itulah yang menjadi motivasi tim eksplorasi terumbu karang untuk terus melakukan kegiatan eksplorasi terumbu karang, mencari spot-spot baru ekosistem yang tersebar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Meskipun dari sebagian spot karang yang telah kami lakukan sebagian besar kondisi terumbu karangnya kurang baik atau sehat, namun semangat untuk mencari spot karang yang kondisinya masih bagus, alami dan sehat terus menjadi rasa penasaran yang akhirnya terus memompa semangat kami. Yang menyedihkan, dari beberapa spot karang yang semula kondisinya bagus, namun ketika dilakukan pengamatan ulang hasilnya jauh menurun akibat penambangan di laut yang semakin marak dan tak terkendali (seperti di tanjung kerasak dan Teluk Limau Jebus). Eksosistem terumbu karang mati dan berganti menjadi habitat makroalga.

Perjalanan kali ini dilakukan ke lokasi yang cukup jauh dari Kota Sungailiat dan Kota Pangkalpinang. Sebuah pulau yag terletak antara Pulau Bangka dengan Pulau Belitung. Pulau yang sedang merintis eksistensi dirinya menjadi kecamatan sendiri. Pulau Pongok, Kecamatan Lepar Pongok Kabupaten Bangka Selatan. Kecamatan Lepar Pongok merupakan kecamatan yang sebenarnya terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Leper dan Pulau Pongok. Ibukota kecamatan ini di Desa Tanjung Labu yang berada di Pulau Lepar. Ekplorasi terumbu karang di Pulau Lepar (Desa Tanjung Labu dan Desa Tanjung Kerasak) telah dimuat dalam artikel lain di website ini.

Perjalanan ke Pulau Pongok dimulai dari titik awal perjalanan kami, kota sungailiat. Sekitar tiga jam menuju pelabuhan sadai. Dari pelabuhan sadai selanjutnya menggunakan kapal jalur sadai – pulau pongok. Kapal yang ukurannya tidak terlalu besar namun cukup untuk membawa sekitar 20 orang penumpang beserta beberapa bahan makanan dan kebutuhan lainnya yang disuplai dari pulau bangka. Kapal ini berangkat hanya sekali dalam sehari sekitar pukul 11.00 WIB. Namun keberangkatan kadang agak telat tergantung waktu bongkar muat bahan-bahan kebutuhan ke kapal. Perjalanan ke Pulau Pongok menempuh jarak sekitar tiga jam.

Selama perjalanan menyusuri selatan Pulau Lepar kita akan ditemani oleh pemandangan alam yang indah, hutan dan pantai yang sangat asri. setelah itu akan nampak Pulau Pongok yang topografinya berbukit-bukit dan cukup besar. Setelah mendekati pulau, kita akan melewati celah dua pulau utama. Pulau Celagen dan pulau pongok. Jarak kedua pulau ini hanya sekitar 200 meter.

Pulau celagen didominasi oleh suku buton sedangkan Pulau Pongok didominasi oleh suku melayu. Pulau celagen luasnya jauh lebih keil dari Pulau Pongok. Karenaya, Pulau Celagen ini termasuk bagian yang tidak terpisahkan dari Pulau Pongok. Menyusuri pelabuhan Pulau Pongok kita akan melihat jejeran perahu-perahu nelayan. Ada yang berukuran standar seperti yang biasa kita jumpai dipangkalan nelayan-nelayan pulau bangka. Ada pula yang ukurannya besar seperti perahu bagan yang ada di Belitung.
Perahu yang berangkat dari Pulau Pongok ke pelabuhan Sadai Toboali sekitar pukul 08.00 WIB. Keberangkatan hanya sekali dalam sehari. Selain itu, terdapat pula jalur keberangkatan dari Pulau Pongok ke pelabuhan Tanjung Pandan Belitung. Jalur ini pun hanya sekali dalam sehari. Perjalanan ke Belitung menempuh waktu sekitar lima jam. Tak heran jika selain ke Toboali, warga Pongok banyak juga yang menyekolahkan anaknya ke Belitung setelah lulus sekolah dasar.

Kondisi terumbu karang


Pulau Pongok adalah pulau yang dikelilingi oleh terumbu karang. Terdapat banyak spot karang yang terdapat di sekitar pulau, diantaranya : Karang Ninek, Karang Salma, Karang Panjang, Karang Unus, Karang Magdalena, Karang Batu Tambun, Karang Temingkar, Karang Kuil, Karang Berengkem Laut, Karang Berengkem Darat, Karang Lapan dan banyak lagi. Banyaknya spot karang menunjukkan banyaknya ekosistem karang yang mengelilingi pulau. Tak heran jika ikan sangat melimpah di pulau ini. Karena keterbatasan waktu, tim hanya sempat melihat kondisi karang yang terdapat di sebelah utara dan selatan pulau. Hanya dua spot dari beberapa spot karang yang terdapat di pulau ini. Pengecekan kondisi karang dilakukan pada sore hari dan pagi hari.

Dikelilingi spot karang yang sangat banyak, membuat gelombang disekitar perairan pulau cukup tenang. Perairan yang jernih, hutan yang asri dan pasir putih merupakan keindahan yang dipamerkan oleh pulau ini kepada kami.

Hari pertama pengamatan dilakukan di sebelah utara pulau. Perjalanan dari dermaga menggunakan perahu nelayan lokal hanya sekitar lima menit. Lokasi karang tidak jauh dari pesisir pulau. Kondisi karang di daerah ini cukup dangkal sehingga tampak ada beberapa karang yang mati karena terlalu sering terbuka terkena sinar matahari secara langsung. Namun, secara umum kondisi terumbu karang masih sangat asri dan sehat. Ikan karang sangat banyak dan koloni-koloni karang berukuran sangat besar. Ini menunjukkan bahwa karang telah tumbuh sangat lama dan kondisinya tetap terjaga. Koloni karang acropora branching yang berwarna kuning dan karang massif yang seukuran rumah penduduk pun ada. Keanekaragaman jenis karang di lokasi ini cukup tinggi. Tampak karang dengan berbagai bentuk pertumbuhan sperti acropora branching, massif, submassif, foliose, softcoral dan lainnya. Karang tumbuh dengan sehat dengan tutuap karang hidup yang cukup tinggi. Kedalaman perairan dengan rataan karang saat pengamatan antara 1 – 6 meter. semakin kearah dalam, kondisi karang semakin baik namun setelah itu tidak dijumpai karang setelah kedalaman lebih dari enam meter. ini menandakan bahwa karang dilokasi ini merupakan jenis karang dangkal.

Yang menjadi daya tarik ekosistem terumbu karang di spot ini adalah dijumpai banyak kerang raksasa yang merupakan famili Tridacnidae yang sering disebut kima. Dijumpai kerang jenis Tridacna squamosa yang dilindungi dan banyak pula jenis kerang Tridacna maxima yang beraneka warna sesuai dengan simbiosisnya dengan zooxanthella. Kerang tridacna maxima di pulau ini disebut dengan nama lokal ”selak batu”. Berdasarkan cara hidupnya, Famili Tridacnidae memang terdiri dari dua tipe. Pertama adalah jenis kerang yang hidupnya menempel atau bebas diantara batu karang, hidup bebas didasar yang berpasir didaerah terumbu karang. Yang termasuk tipe ini seperti Tridacna gigas, Tridacna squamosa, Hippopus hippopus dan Hippopus porcellanus. Tipe kedua adalah jenis kerang yang hidupnya membenamkan diri pada karang baik seluruh atau sebagian saja dari cangkangnya. tipe ini sering disebut pula tipe pembor (boring form). Tipe ini meliputi Tridacna crocea dan Tridacna maxima. Kemungkinan besar karena terlihat hidup dicelah-celah karang makanya oleh masyarakat lokal Pulau Pongok kerang ini disebut ”selak batu”.

Selak batu biasanya diambil oleh masyarakat jika air surut rendah pada siang hari. Kegiatan ini bisanya dilakukan pada bulan April hingga Juni setiap tahunya. Kerang ini dikonsumsi masyarakat dengan diolah menjadi ”tembilok” dengan pengolahan menggunakan proses anaerob. Pengolahannya sama seperti pembuatan ”rusip” yang biasa kita jumpai di pulau bangka sebagai makanan khas pulau ini. Perbedaannya hanya dari bahan dasar, jika tembilok menggunakan bahan dasar selak batu sedangkan rusip berbahan dasar ikan teri.

Sayangnya, pada rataan karang yang kondisinya lebih dangkal kondisi karang kurang baik banyak dijumpai mahkota berduri (Acanthaster plancii). Biota jenis ini memakan zooxanthella karang dan menyebabkan karang menjadi putih dan lama kelamaan menjadi mati. Namun kepadatan mahkota berduri yang ditemukan masih dalam batas yang wajar dan dapat ditolerir.

Hari kedua kegiatan pengamatan kondisi karang dilakukan di bagian selatan pulau. Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung dibawa menuju spot Karang Panjang. Perjalanan menuju lokasi hanya menempuh waktu kurang dari 10 menit. Dapat kita bayangkan betapa dekatnya lokasi-lokasi antar spot karang di pulau ini. Sungguh pulau yang fantastis!.

Disebut karang panjang karena bentuk ekosistem terumbu karang yang memanjang. Pada perairan yang dangkal, ekosistem karang di spot karang ini tampak dipenuhi oleh alga jenis anggur laut (Caulerpa sp.) yang menghijau. Booming anggur laut pernah dijumpai oleh tim eksplorasi terumbu karang di spot lain yaitu di karang Pulau Simbang Kabupaten Bangka ( artikel di tulisan yang lain). Alga ini memang booming pada waktu-waktu tertentu dan kemudian membusuk dan bersih terbawa oleh arus laut. Jadi hal ini bukan menjadi kekhawatira yang berlebihan selama penutupan booming tidak terlalu parah.

Keanekaragaman karang di spot Karang Panjang tidak setinggi pada spot karang sbelah selatan pulau. Terumbu karang di spot ini didominasi oleh jenis karang Acropora formosa. Karang ini berbentuk seperti tanduk rusa dan hidup dengan sehat di spot ini. Tampak ada yang berwarna hijau, ungu namun didominasi oleh warna coklat dengan ujung berwarna putih yang menjadi kekhasan jenis karang ini. Dominasi jenis Acropora formosa menjadi indikator bahwa spot ini sering menerima arus yang tinggi dan gelombang yang kuat. Bentuk percabangan memang merupaka tipe yang sangat baik dalam meredam gelombang.

Selain itu, ditemukan jenis karang acropora lain namun dengan kerapatan dan kepadatan lebih kecil. Tipe karang acropora tubulate, foliose dan acropora digitate. Spot karang panjang memiliki keindahan biota laut yang sangat eksotis. Ikan-ikan karang dengan berbagai warna dan rupa dijumpai hidup dengan baik. Ikan dengan scooling dengan warna-warni yang menawan membentuk formasi berenang yag sangat mengagumkan. Saat arus laut naik ikan-ikan membuka mulutnya melawan arah arus. Sungguh pemandangan yang sangat indah. keanekaragaman dan kepadatan ikan cukup tinggi menjadi daya tarik untuk melakukan kegiatan penyelaman dan snorkling di lokasi karang ini. Sayangnya, tim menemui karang yang patah-patah secara merata membentuk cekungan akibat penangkapan menggunakan bom. Terlihat beberapa individu karang baru mulai tumbuh diantara patahan-patahan karang. Sepertinya pengeboman tersebut sudah cukup lama terjadi dan masyarakat pulau mulai sadar jika karang hancur maka ikan akan semakin sulit didapat dan abrasi pantai semakin kuat.

Keindahan dan keaslian ekosistem terumbu karang di pulau ini merupakan aset masa depan yang harus tetap dijaga dan dilestarikan dari tangan-tangan manusia serakah dan tidak bertanggung jawab. Perlu kepedulian semua pihak agar ekosistem terumbu karang di kawasan ini terus terpelihara dengan baik sebagai pondasi perekonomian di pulau ini.

Puji syukur tim panjatkan kepada ilahi, akhirnya tim menemukan spot ekosistem terumbu karang yang kondisinya masih sangat baik dan sehat di pulau yang terkenal dengan penambangan timahnya. Ancaman terhadap ekosistem terumbu karang yang rapuh terjadi setiap waktu seiring penambangan timah di laut yang semakin marak dan tidak terkendali. Semoga kita semakin sadar bahwa ekosistem ini merupakan aset masa depan yang harus dijaga setelah timah tidak potensial lagi untuk ditambang di daerah ini.




Foto-foto Terumbu Karang di wilayah Selatan Pulau Pongok



Keindahan ekosistem di spot karang panjang di bagian selatan Pulau Pongok



Keindahan ekosistem di spot karang panjang di bagian selatan Pulau Pongok



Keindahan ekosistem di spot karang panjang di bagian selatan Pulau Pongok



Keindahan ekosistem di spot karang panjang di bagian selatan Pulau Pongok



Keindahan ekosistem di spot karang panjang di bagian selatan Pulau Pongok



Keindahan ekosistem di spot karang panjang di bagian selatan Pulau Pongok



Acropora formosa yang berwarna ungu dan coklat



Perjalanan pongok – sadai menyusuri selatan Pulau Lepar yang indah



Bekas bom yang membuat karang menjadi patah dan dijumpai banyak bulu babi (Diadema sp.)



Bekas bom yang membuat karang menjadi patah dan dijumpai banyak bulu babi (Diadema sp.)



Karang yang dangkal terdapat banyak alga anggur laut (Caulerpa sp.) pada spot kkarang panjang




Foto-foto Terumbu Karang di wilayah Utara Pulau Pongok



Keindahan karang di bagian utara pulau pongok



Keindahan karang di bagian utara pulau pongok



Keindahan karang di bagian utara pulau pongok



Keindahan karang di bagian utara pulau pongok



Keindahan karang di bagian utara pulau pongok



Tridacna maxima yang banyak dijumpai di rataan karang bagian utara pulau



Ikan napoleon yang terdapat di keramba hasil bubu nelayan pulau pongok.



Keramba Jaring Apung yang terdapat di Pulau Pongok, keramba ini banyak ikan kerapu, ikan kakap merah dan ikan napoleon



Mahkota berduri (Acanthaster plancii) yang terdapat di rataan karang dangkal karang sebelah utara



Karang yang tampak dari perahu, berada tidak jauh dari pulau




Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung.
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Hadi Sodikin.
Ucapan tarima kasih Tim kepada : Bapak Kamaluddin atas bantuannya selama di Pulau Pongok.
Email : indra-ambalika[At]ubb.ac.id
Pengambilan foto di Pulau Pongok dilakukan pada September 2009.
Menggunakan kamera Olympus µTough-8000 12 MP.


Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang
Lokasi : Kerusakan Terumbu Karang
Spot-Spot Baru Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang Pulau Bangka
Tanggal 9 Mei 2010, Tim Eksplorasi Terumbu Karang Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB untuk pertama kalinya melakukan reef check (pengecekan kondisi terumbu karang) di Pulau Pemuja, Desa Penganak Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat. Tulisan mengenai hasil dan kondisi pulau ini telah dimuat oleh media Bangkapos pada tanggal 16 Mei 2010. Pulau Pemuja dengan hutan yang masih asri, berpasir putih dan dikelilingi bebatuan granit berukuran besar berwarna putih keabua-abuan ini ternyata memiliki tutupan karang hidup (persen cover live coral) hanya 14,12 %. Sebagian besar tertutup lumpur karena penambangan timah lepas pantai. Pulau pemuja memang dikelilingi oleh terumbu karang dengan ketebalan yang bervariasi. Daerah selatan dan barat pulau memiliki rataan karang yang cukup luas. Sedihnya, maksud kami sayangnya, pulau ini pun dikelilingi oleh kapal isap mitra PT Timah Tbk dan TI Apung milik masyarakat.







Waktu itu saya tak berminat untuk menghitung jumlah kapal isap yang sedang beroperasi. Kemungkinan jumlahnya lebih dari 20. Lagipula sebagian besar kapal isap beroperasi cukup jauh dari pesisir. Mungkin antara satu sampai tiga mil dari pantai.
Tanggal 16 September 2010, Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB kembali lagi berkesempatan melakukan reef check di daerah ini. Namun bukan di Pulau Pemuja Penganak. Tapi di laut sebelah Pulau Pemuja, Laut Ketap. Laut Ketap dan Laut Penganak dibatasi oleh Pulau Pemuja. Tim berangkat dari perairan penganak menyewa perahu milik nelayan yang bukan digunakan lagi untuk menangkap ikan. Saat melewati Pulau Pemuja, miris melihat kondisi pulau ini. Kapal isap yang dulu masih relative jauh menambang dari pulau kini menambang bersebelahan dengan pulau, bahkan ada beberapa kapal isap yang menambang hanya berjarak puluhan meter. Bayangkan, tak lebih dari 100 meter dari pesisir Pulau Pemuja. Padahal menurut informasi yang saya dapatkan. Peraturan Daerah (perda) Kabupaten Bangka Barat tidak mengizinkan penambangan pada jarak 0 sampai 1 mil laut dari garis pantai. Tapi peraturan ini tak berlaku bagi Pulau Pemuja. Saya tak mengerti, entah seperti apa pengawasan terhadap kerja dari aktivitas penambangan kapal isap oleh PT Timah Tbk dan juga oleh tim pengawas dari pihak pemerintah daerah agar kapal isap beroperasi sesuai dengan jalurnya.







Keistimewaan kapal isap dibandingkan kapal keruk adalah dari segi mobilitas. Pagi hari beroperasi di tengah laut tapi pada malam hari bisa jadi beroperasi di pinggir pantai. Jaminan terhadap lokasi penambangan yang tidak merusak daerah terumbu karang masih jauh panggang dari api. Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa ekosistem vital pesisir Pulau Pemuja luluh lantak dan demikian pun dengan hasil pengukuran di Laut Ketap. Terdapat sekitar tujuh kapal isap beroperasi diperairan tersebut saat kami sedang melakukan reef check. Total jumlah kapal isap di laut ketap dan penganak saya hitung satu per satu dengan mata telanjang, 35 unit.

Pulang dari kegiatan reef check di Laut Ketap, melewati perairan penganak yang keruh dan tampak ada tumpahan solar di laut, saya berpikir "Jika timah di perairan penganak ini tak potensial lagi ditambang, tak mungkin kapal isap-kapal isap ini menganggur. Kemana lagi 35 kapal isap ini akan mencari lokasi baru? Mengerikan!". Sempat juga terpikirkan oleh saya "Darimana dan atas dasar apa diberikannya izin menambang suatu lokasi diserbu oleh 35 kapal isap ini?". Karena kerusakan ekosistem laut akibat penambangan oleh 35 kapal isap akan jauh lebih besar dan parah dibandingkan dengan kerusakan yang diakibatkan oleh dua unit kapal keruk. Apalagi dengan apa yang dapat diperbuat oleh kapal isap yang sebagian besar pekerjanya dari Thailand.







Sedihnya, maaf maksud saya sayangnya, beroperasinya kapal isap diikuti juga oleh beroperasinya ratusan TI Apung disekitar daerah operasi kapal isap. Ini membuat kondisi perairan Bangka semakin luluh lantak. Padahal konsep total mining dengan jaminan reklamasi pasca penambangan belum dipersiapkan. Terkesan seperti ada pembenaran, jika perusahaan boleh menambang, maka masyarakat pun boleh. Kerusakan yang telah diakibatkan oleh TI Apung pun tak jauh berbeda dengan kapal isap. Sedihnya, maaf maksud saya sayangnya, pihak swasta maupun pemerintah daerah terkesan lepas tangan atas tanggung jawab yang telah diakibatkan oleh TI Apung. Padahal, Timah hasil TI Apung dijual kepada pihak swasta dan pemerintah hanya mendapat "sedikit cipratan" untuk PAD.







Hampir setiap daerah yang beroperasi kapal isap secara sporadis, hasil tangkap nelayan di daerah tersebut menurun drastis. Bahkan, Desa Teluk Limau Jebus dan Desa Pesaren Belinyu yang tidak terdapat kapal isap pun mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Kedua desa ini hanya mendapat getah dari dampak penambangan lepas pantai di daerah yang tidak jauh dari desa mereka. Berdasarkan hasil reef check yang telah Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB lakukan, kondisi ekosistem terumbu karang di kedua desa ini sangat menyedihkan. Sebagian besarnya tertutup lumpur bahkan tertimbun oleh debu sisa penambangan timah lepas pantai. Kerusakan ekosistem alami peissir ini akhirnya berdampak pada menurunnya stock perikanan yang dibuktikan dengan menurunnya hasil tangkapan nelayan. Ini membuktikan bahwa kerusakan akibat penambangan berdampak hingga bermil-mil jauhnya. Dampaknya, harga ikan di Pulau Bangka menjadi mahal dan daya beli masyarakat terhadap ikan secara tidak langsung semakin menurun.







Pemulihan (recovery) ekosistem terumbu karang yang rusak akibat aktivitas penambangan sangat sulit untuk dilakukan. Ini karena telah terjadi perubahan tipe substrat dan tertutupnya terumbu karang oleh lumpur dan debu. Syarat utama untuk melakuakn rehabilitasi adalah tidak terjadi lagi tekanan ekologis. Ini artinya laut harus steril dari aktivitas penambangan lepas pantai. Berdasarkan hasil penelitian dari tim geologi Pelayaran Kebangsaan Ilmuwan Muda (PKIM) kerjasama antara LIPI dan DIKNAS selama lima hari melakukan penelitian di bagian selatan, timur dan utara pulau Bangka menunjukkan bahwa sediment debu dari aktivitas penambangan lepas pantai terperangkap dikolom perairan pantai. Ini artinya, debu dan lumpur hanya sebagian besar yang terperangkap di pantai tapi terperangkap di kolom perairan. Pasir pantai tetap terlihat putih namun perairannya sangat mudah keruh jika ditempa arus atau gelombang. Hal ini karena persentase lempung dan debu yang jauh meningkat dari sebelumnya.

Bangkapos, 12 November 2010 halaman 4, memberitakan bahwa 19 kapal isap dari penganak berpindah ke perairan tempilang dan mentok kabupaten Bangka barat karena alasan berlindung dari gelombang. Perairan penganak sedang ditempa gelombang musim barat. Tapi dari berita yang ditulis, ternyata kapal isap-kapal isap tersebut tidak hanya berlindung tetapi juga tetap beroperasi dikawasan kapal isap tersebut berlindung. Selain itu, PT Timah Tbk bersama mitra juga telah menyiapkan belasan kapal isap untuk perairan jeliti dan pantai rebo Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka. Ternyata apa yang saya khawatirkan sudah mulai terjadi. Penganak-penganak baru akan segera menyusul sementara jaminan program reklamasi ekosistem pesisir pasca tambang belum ada. Sungguh menakutkan nasib laut di kampung halamanku.

Untuk Laut Biru yang kami rindu ...





Lihat Halaman Terumbu Karang UBB di : Explorasi Terumbu Karang


Oleh : Indra Ambalika Syari
(Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang dan Dosen Perikanan – UBB)





Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Kerusakan Terumbu Karang
Kerusakan ekosistem terumbu karang di Pulau Bangka akibat penambangan timah lepas pantai (Kapal Isap)




kapal isap yang beraktivitas di perairan Penganak, Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat. Tedapat sekitar 35 kapal Isap yang beroperasi di kawasan ini





Timah telah ditambang di bumi Pulau Bangka dan Belitung lebih dari 300 tahun yang lalu. Berawal dari daratan kini penambangan timah mulai beralih ke laut Pulau Bangka. Di Pulau Belitung, timah sudah ditambang di laut sekitar 30-an tahun yang lalu. Kini penambangan mulai ekstensif dan menuju intensif (semi intensif) dilakukan di laut Pulau Bangka. Sejak Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (otonomi daerah) dan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 146/MPP/Kep/4/1999 mengenai pencabutan timah sebagai komoditas strategis, pertambangan timah inkonvensional (TI) menjarah daratan Pulau Bangka dan Belitung. Saat ini, TI Apung dan modivikasinya mulai marak memenuhi lautan Pulau Bangka. Jumlah Kapal isap di laut terus bertambah yang sebelumnya dikuasai oleh kapal keruk.

Yup! Masyarakat Pulau Bangka pasti menyadari bahwa penambangan saat ini mulai beralih ke laut. Semakin susahnya mendapatkan lokasi yang kaya timah di daratan Pulau Bangka, hasil penambangan di darat yang terus merosot dan biaya operasional yang semakin melambung membuat masyarakat dan perusahaan penambang timah mengalihkan prioritas penambangan ke laut Pulau Bangka. TI Apung, Kapal Isap dan Kapal Keruk adalah komoditi penambangan timah di laut. Dari ketiga komoditi itu, kapal isap yang dianggap paling efektif dan efisien dalam melakukan penambangan di laut. Dengan mobilitas yang tinggi, proses kerja yang efektif dan hasil penambangan yang cukup menjanjikan. Selain itu, harga kapal isap cukup terjangkau bagi perusahaan - perusahaan penambangan timah swasta. Tak heran dalam waktu singkat, jumlah kapal isap di laut Pulau Bangka bertambah drastis.

Penambangan timah di laut dengan kapal isap sedang menjadi trend dan sepertinya akan terus bertambah di tahun-tahun mendatang di laut Pulau Bangka jika belum ada ketegasan dari pemerintah daerah dalam mengatur dan menjaga sumberdaya alam lain di laut selain timah pasca timah nanti.


Kapal isap mulai terdengar di telinga saya sekitar tahun 2006. Jumlahnya terus bertambah marak pada tahun 2008. Perusahaan timah swasta yang memiliki peleburan timah (smelter) selain PT Timah Tbk mulai aktif mendatangkan kapal isap. PT Timah Tbk pun tidak ingin kalah bersaing dengan membeli dan merakit kapal isap. Selain itu, perusahaan timah terbesar di Indonesia dan nomor dua di dunia ini pun bermitra dengan mendatangkan kapal isap. Saat ini lebih dari 50 kapal isap yang dimiliki perusahaan ini berserta mitra kerjanya. Izin penambangan timah lepas pantai pun terus bermunculan. Surat Keputusan (SK) dari kepala daerah untuk Izin Usaha Penambangan (IUP) di laut dengan mengoperasikan kapal isap terus bermunculan. Apalagi saat pilkada baru-baru ini. Trend semakin banyak SK IUP yang dikeluarkan saat pilkada menjadi bahan perbincangan dan rahasia umum masyarakat. Semakin banyaknya jumlah kapal isap ternyata tidak berbanding lurus dengan pengawasan. Ya, harus di akui bahwa pengawasan penambangan timah di laut masih sangat minim. Dari hasil pantauan satelit yang dimiliki Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla), 100% kapal hisap yang beroperasi di perairan Babel beroperasi diluar wilayah yang sudah ditentukan (Bangkapos, 9 November 2008).

Dari mana kapal isap di Pulau Bangka datang?


Pertanyaan menggelitik ini tentu wajar untuk ditanyakan. Karena kapal isap merupakan pendatang baru di dunia pertambangan timah di Pulau Bangka. Sebelumnya tidak ada kapal isap di laut Pulau Bangka. Pertanyaan ini pasti akan mudah dijawab oleh sebagian besar masyarakat kita. Darimana? Tentu saja Thailand. Negara yang terkenal dengan komoditas pertaniannya ini ternyata tidak hanya sukses mengeksport komodistas pertanian seperti pepaya bangkok, durian bangkok, mangga bangkok dan banyak lagi jenis buah lainnya tapi juga komoditas pertambangan timah laut yaitu "kapal isap".

Pertanyaannya, mengapa dari Thailand? Mengapa bukan dari negara lain? Jawaban dari pertanyaan ini baru saya dapatkan beberapa minggu yang lalu setelah berbincang dengan teman yang aktif berkecimpung dibidang pertambangan di Bangka Belitung. Beberapa tahun yang lalu, ada beberapa daerah di Thailand yang dilakukan penambangan total (total mining). Deposit bahan tambang dilokasi tersebut ditambang dengan intensif hingga benar-benar tidak potensial lagi untuk ditambang sehingga diperkirakan tidak akan dilakukan lagi penambangan di masa yang akan datang di lokasi tersebut. Banyak kapal isap yang beroperasi di lokasi pertambangan pada waktu itu. Penambangan dilakukan di darat dan di laut. Namun pemerintah Thailand mewajibkan semua perusahaan yang melakukan penambangan menganggarkan dana jaminan untuk reklamasi dan rehabilitasi pasca penambangan. Dana jaminan reklamasi dan rehabilitasi ini jumlahnya cukup besar dan dipastikan akan cukup untuk membiayai program reklamasi dan rehabilitasi sehingga potensi non tambang seperti pertanian, peternakan, perikanan dan pariwisata akan dapat dikembangkan pasca penambangan. Dana jaminan tersebut diserahkan oleh pihak perusahaan penambang kepada pemerintah sebelum izin penambangan diberikan.

Setelah penambangan intensif itu selesai dilakukan beberapa tahun yang lalu dan program reklamasi dan rehabilitasi mulai dan sedang berjalan, kapal isap-kapal isap ini pun mengganggur. Melihat peluang penambangan timah di Pulau Bangka, kapal isap-kapal isap itu dibeli oleh pengusaha-pengusaha timah untuk melakukan penambangan di laut. Kapal isap-kapal isap yang didatangkan dari Thailand memang sebagian besar adalah kapal isap bekas yang beroperasi beberapa tahun yang lalu dengan hampir tidak ada perubahan teknologi. Dengan kondisi bekas itu, pengusaha membeli dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan harus merancang dengan teknologi pembuangan tailing yang jauh lebih ramah lingkungan. Tak heran jika kapal isap bekas tersebut pun harus dioperasikan oleh tenaga kerja asing yang juga didatangkan khusus dari thailand. Kapal isap memang merupakan komoditas penambang timah lepas pantai yang paling efektif dalam mendapatkan hasil tambang timah.

Namun, kapal isap pun paling efektif dalam menyebabkan kerusakan ekosistem vital di laut kita. Sedimentasi dari aktivitas penambangan kapal isap telah menyebabkan kerusakan parah pada ekosistem padang lamun dan ekosistem terumbu karang yang merupakan penyangga sektor perikanan dan pariwisata bahari yang merupakan sektor harapan dan pengembangan pasca timah.

Aneh memang, jika kita mampu mengimport kapal isap-kapal isap bekas dari Thailand untuk melakukan penambangan timah di laut kita, tapi sampai saat ini kita tak mampu mengimport manajemen lingkungan yang diterapkan oleh negara gajah putih ini. Sampai saat ini, jaminan kepastian terhadap program reklamasi dan rehabilitasi untuk ekosistem laut kita yang merupakan warisan untuk generasi mendatang daerah ini masih terus ditunggu dan ditunggu. Harus kita akui, banyak "oknum" yang memanfaatkan kesempatan dari tidak atau belum teratur dan tegasnya aturan-aturan penambangan timah di laut daerah ini. Jadi, jangan heran lagi jika SK IUP lepas pantai dengan mengoperasikan kapal isap "bekas" dari Thailand akan terus bermunculan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Hingga tulisan ini dibuat, terdapat 57 kapal isap yang beroperasi di perairan pulau bangka yang terus mengeruk timah di dasar laut. Jumlah itu terus bertambah.

Ditulis Untuk kampung halamanku tersayang
Bogor, 29 Juli 2010





kapal isap yang beraktivitas di perairan Penganak, Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat. Berlatarkan Pulau Pemuja




kapal isap yang beraktivitas di perairan Penganak, Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat. Berlatarkan Pulau Pemuja




Terumbu karang yang tertutup sediment di Pulau Pemuja Penganak, Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat. Terumbu karang di pulau ini mati tertutup sediment akibat penambangan timah lepas pantai di daerah penganak, kecamatan jebus




Terumbu karang yang tertutup sediment di Pulau Pemuja Penganak, Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat. Terumbu karang di pulau ini mati tertutup sediment akibat penambangan timah lepas pantai di daerah penganak, kecamatan jebus




Terumbu karang yang tertutup sediment di Pulau Mengkudu, Desa Pesaren Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka. Di daerah ini tidak terdapat kapal isap dan TI Apung. Namun, terumbu karang di pulau ini mati tertutup sediment dari aktivitas penambangan timah lepas pantai di desa yang berdekatan dengan Desa Pesaren yaitu di perairan laut Desa Penyusuk, desa Batu Atap dan desa Bubus




Terumbu karang yang tertutup sediment di Pulau Mengkudu, Desa Pesaren Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka. Di daerah ini tidak terdapat kapal isap dan TI Apung. Namun, terumbu karang di pulau ini mati tertutup sediment dari aktivitas penambangan timah lepas pantai di desa yang berdekatan dengan Desa Pesaren yaitu di perairan laut Desa Penyusuk, desa Batu Atap dan desa Bubus



Oleh : Indra Ambalika Syari, S.Pi
Dosen Perikanan dan Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB



Catagory : Artikel Terumbu Karang
Lokasi : Tranplantasi Karang
Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB Berhasil Lakukan Transplantasi Terumbu Karang untuk Tahun ke Dua




Sampel Tranplantasi Terumbu Karang di Pantai Teluk Limau Sungailiat Kabupaten Bangka





Pada bulan Mei 2009, Laboratorium Perikanan Universitas Bangka Belitung dengan diprakarsai oleh Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB telah berhasil melakukan kegiatan transplantasi terumbu karang untuk pertama kalinya di Pantai Teluk Limau Sungailiat Kabupaten Bangka. Lokasi ini di pilih karena akses yang mudah, termasuk jenis karang tepi (fringing reef) sehingga tak perlu menyebrang. Pengamatan hasil transplantasi pada bulan oktober menunjukkan hasil yang sangat mengagumkan dengan indeks keberhasilan > 75 %. Sayangnya, saat di cek pada bulan maret 2010 setelah diterpa oleh angin barat, kondisinya banyak yang mati tercabut dari substrat. Selain itu banyak pula yang tersangkut oleh sampah. Jenis karang yang digunakan adalah karang Acropora formosa yang diambil dari Karang Batu Putih tidak jauh dari Pantai Teluk Limau Sungailiat.

Karenanya, pada tahun kedua kegiatan transplantasi terumbu karang melakukan beberapa modivikasi yaitu menambah besar dimensi substrat, menggunkaan jenis karang lifeform Acropora Digitate (ACD) yang terdapat di sekitar Pantai Teluk Limau dan membuat tempat dudukan karang transplant sehingga lebih kokoh dan stabil. Penelitian kali ini dilakukan sebanyak 100 patahan karang transplant. Hingga akhir Oktober 2010, hasil pengamatan menunjukkan hasil keberhasilan > 95%. Sebuah hasil yang sangat mengagumkan meskipun saat terakhir pengamatan, kondisi ekosistem terumbu karang di lokasi penelitian sangat menyedihkan.

Dibandingkan pengamatan kondisi terumbu karang pada tahun 2007 saat Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB pertama kali melakukan reef check di perairan pantai ini, kondisi terumbu karang masih cukup baik den jernih. Saat ini, ekosistem di lokasi mulai banyak tertutup sediment akibat pengaruh penambangan timah lepas pantai yang pernah terjadi di sekitar lokasi penelitian. Kondisi ini sangat menyedihkan, mengingat syarat untama untuk melakukan kegiatan rehabilitasi terumbu karang adalah tidak ada lagi "tekanan ekologis" di lokasi penelitian. Inilah yang menjadi kesulitan tim dalam melakukan penelitian ini mengingat tidak adanya lokasi perairan di pulau Bangka yang steril dari pengaruh den ancaman penambangan timah.

Timah itu antara madu dan racun. Madu yang sebenarnya menyehatkan dapat menjadi racun jika diminum terlalu banyak den tanpa aturan yang jelas. Karenanya harus ada yang mengimbangi kegiatan penambangan dengan menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang laut kita. Langkah kecil yang kami lakukan ini adalah upaya untuk menjaga keseimbangan itu. Menjaga agar laut di pulau ini tak hanya diekploitasi sebanyak-banyaknya. Tapi ada pula yang menjaga kegiatan kelestariannya. Semoga tumbuh kepedulian yang lebih baik dari pemerintah daerah, PT Timah Tbk , masyarakat dan perusahaan timah yang melakukan penambangan timah di laut lainnya agar lebih arif dadn bijaksana memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. Memanfaatkan namun tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan nasib generasi masa depan provinsi ini pasca timah. Saat dimana timah tak lagi ditambang, laut masih tetap menjadi berkah bagi kita. amiiiiiiin




Oleh : Indra Ambalika Syari, S.Pi
Dosen Perikanan dan Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB



Catagory : Terumbu Karang
Lokasi : Tanjung Kelayang Belitung
Terumbu Karang Di Pantai Tanjung Kelayang Belitung








Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa akhirnya tim eksplorasi terumbu karang Universitas Bangka Belitung diberikan kesempatan untuk dapat melakukan eksplorasi terumbu karang di pantai yang indah di Pulau Belitung. Di Pulau inilah lounching visit babel archipelago 2010 dilakukan sekitar akhir Desember 2009. acara yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 1,1 Milliar dengan pesta kembang api dan nonton bareng film ”sang pemimpi” itu memang terkesan mubazir dan jauh dari keberkahan. Kurang layak untuk dilakukan oleh masyarakat melayu yang merupakan mayoritas provinsi ini yang sederhana dan bersahaja.
Pantai Tanjung Kelayang Belitung, Pantai dengan pasir putih yang luas dan lebar, air yang biru jernih hingga menembus dasar dan bebatuan granit yang berukuran raksasa ciri khas pantai indah di pulau belitung.

Pantai ini terletak di Kecamatan Sijuk dan berjarak sekitar 27 Km dari Tanjung Pandan ibukota Kabupaten Belitung. Pantai Tanjung Kelayang memang eksotis. Pantas saja pantai ini sering menjadi lokasi sail internasional dan nasional. Pantai ini telah tertata dengan terdapat rumah makan, cottage dan tempat-tempat duduk bagi pengunjung yang datang ke pantai ini. Saat memandang pantai, terdapat pulau yang jaraknya cukup dekat yang sangat eksotis. Selain itu tampak diantara lautan yang luas, menyembul batu-batu granit berukuran raksasa. Diantaranya ada yang disebut Pulau Burung karena ada batu yang bentuknya seperti kepala burung. Konon ceritanya, nama ”kelayang” diambil dari nama burung yang banyak terdapat di pantai ini. Selain itu, tampak pula Pulau Lengkuas dengan ciri khasnya terdapat mercusuar. Informasi yang didapat oleh tim eksplorasi bahwa disekitar Pulau Lengkuas terdapat rataan terumbu karang yang cukup luas dan bagus. Dari sudut tanjung pulau ini tampak jelas pula Pulau Kepayang dan Pulau Pegadur.

Tim eksplorasi melakukan eksplorasi terumbu karang disekitar kawasan Pantai Tanjung Kelayang. Namun sayangnya, tidak terdapat terumbu karang di pantai ini. Tim hanya menemukan hamparan lamun. tim tidak menyerah, akhirnya eksplorasi dilakukan dengan menyusuri lautan hingga pulau yang tak jauh dari pantai itu. Penyusuran diawali dengan menyusuri pantai yang terdapat tepat di sudut tanjung. Sudut tersebut terdapat batu-batu granit berukuran besar.Ternyata dari atas batu kita disajikan view yang jauh lebih luas dan indah. lautan biru yang membentang dengan pulau-pulau yang bertebaran, sungguh beltung memang mempesona.

Di sekitar sudut tanjung terdapat bangunan tua dua lantai yang tak selesai dibangun. Dapat kami bayangkan, jika bangunan ini selesai dibangun maka gedung ini akan sangat besar dan megah. Didepan gedung itu terdapat kolam renang. Tampaknya bangunan itu sebenarnya akan dibangun menjadi hotel. Entah apa yang menyebabkan bangunan itu tak selesai dibangun. Selain gedung tersebut, terdapat beberapa gedung lain yang juga kondisinya sama. Tak selesai dibangun dan sebagian rusak dimakan usia. Informasi terbaru yang kam dapat bahwa pembangunan itu terhenti karena masalah keuangan. Namun pada tahun 2010, pembangunan gedung ini rencananya akan diteruskan kembali.

Saat melakukan penyusuran dari pantai hingga pulau, yang tersaji hanyalah hamparan lamun (seagrass beds) yang didominasi oleh jenis Enhalus acoroides, Halodule dan Cymadocea. Setelah mencapai pulau, tersaji hamparan makroalga yang cukup luas. Makroalga ini didominasi oleh jenis sargassum dan padina. Hamparan alga yang luas ini hampir sama dengan yang terdapat di Pantai Tanjung Tinggi yang memang lokasinya tidak terlalu jauh dengan Pantai Tanjung Kelayang. Pulau-pulau ini tidak berpenghuni dan jika para wisatawan ingin ke Pulau-pulau tersebut dapat menyewa perahu nelayan yang dapat disewakan di sekitar pantai. waktu tempuh ke pulau tersebuts hanya sekitar 10 menit.

Setelah cukup jauh berenang barulah kami menemukan hamparan terumbu karang yang sangat indah dan cukup sehat. Inilah keindahan yang kami cari. Saat melakukan kegiatan eksplorasi, perairan lumayan bergelombang. Namun inilah keunggulan pantai tanjung kelayang belitung. Tekstur substrat pantai ini cukup besar sehingga perairan tetap jernih meskipun perairan cukup bergelombang.

Terumbu karang di pantai ini memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi dan kaya dengan ikan karang yang hidup disekitarnya. Selain itu ditemukan juga Tridacna squamosa yang termasuk jenis biota terumbu karang yang mulai terancam dan kategori biota laut yang dilindungi. Tingginya keanekaragaman jenis dan banyaknya jenis ikan menunjukkan bahwa kondisi lingkungan perairan di kawasan pantai tanjung kelayang sangat sesuai untuk kehidupan terumbu karang. Diantara terumbu karang yang begitu rapat, terdapat beberapa koloni karang meja (Acropora tubulate) yang berwarna ungu, kuning, hingga merah muda. Hamparan karang ini begitu indah dan memiliki nilai estetika yang tinggi dilengkapi dengan ikan-ikan karang yang khas dan berwarna-warni.

Jarak antara ekosistem terumbu karang dengan pantai sekitar 800 meter. Eksistem ini tepat berada didepan pulau yang tak jauh dari pantai tanjung kelayang. Karangnya memanjang disekitar pulau. Semakin ke arah tubir kondisi terumbu karang semakin cantik. Setelah tubir yang kita temui hamparan pasir yang perairannya cukup dalam. Sebenarnya jika ingin berenang lebih jauh sekitar 250 meter tepat di depan pulau masih terdapat ekosistem terumbu karang. Namun hal itu tidak tim lakukan karena gelombang yang semakin kuat karena perairan mulai pasang saat itu.

Luasnya hamparan alga yang menutupi rataan karang sebelum terdapat ekosistem terumbu karang merupakan indikator mulai terjadinya ketidakseimbangan dalam perairan di pantai ini. Semakin meluasnya ekosistem makroalga dan banyaknya ekosistem terumbu karang yang berubah menjadi ekosistem makroalga diberbagai negara di dunia menjadi ancaman global bagi ekosistem terumbu karang. Alga mulai menutupi karang karena karang yang mati akibat terlalu sering terbuka terkena sinar matahari secara langsung. Karang yang mati tersebut kemudian ditumbuhi oleh alga. Selain karena perubahan suhu yang kontras dan eutrotifikasi, semakin banyaknya alga juga bisa disebabkan oleh semakin berkurangnya ikan dan biota pemakan alga akibat penangkapan yang berlebih dan ketidakseimbangan dalam rantai makanan.

Inilah salahsatu alasan mengapa begitu pentingnya menjaga keseimbangan dalam ekosistem terumbu karang. Saat terjadi ketidakseimbangan maka akan menimbulkan dampak yang sangat besar bagi ekosistem yang cantik dan vital bagi sebagian besar organisme di laut. Ekosistem ini rapuh.

Pulau belitung sudah dikenal sebagai pulau yang memiliki keindahan pantai namun belum banyak yang mengetahui keindaha ekosistem bawah lautnya. Jika potensi ini dapat dikembangkan, tidak mustahil pulau ini akan menjadi tujuan utama wisata bahari wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara dikemudian hari. Semoga keindahan ekosistem terumbu karang di daerah ini dapat dipelihara dan terjaga dengan baik. Tidak seperti tetangganya, Pulau Bangka, yang kondisi ekosistem terumbu karangnya yang rusak dan merana akibat penambangan timah di daerah lautnya yang kebablasan. Peduli ekosistem terumbu karang berarti peduli terhadap masa depan daerah ini. Ekosistem yang merupakan tulang punggung sektor perikanan dan sektor wisata bahari saat timah nanti dan pasti, tidak potensial lagi untuk ditambang.





View yang tampak dari sudut Tanjung pantai tanjung kelayang Belitung



View yang tampak dari sudut Tanjung pantai tanjung kelayang Belitung



salahsatu View pulau yang tapak dari pantai tanjung kelayang. Tampak pulau burung (batu yang berbentuk kepala burung)



Hamparan makroalga di perairan Pantai Tanjung Kelayang yang didominasi oleh jenis Sargassum sp. dan Padina sp.



Hamparan makroalga di perairan Pantai Tanjung Kelayang yang didominasi oleh jenis Sargassum sp. dan Padina sp.



Hamparan makroalga di perairan Pantai Tanjung Kelayang yang didominasi oleh jenis Sargassum sp. dan Padina sp.



Ubur-ubur yang ditemukan dihamparan makroalga. Ukurannya cukup besar namun tidak berbahaya (Jenis ini).



keindahan terumbu karang di Pantai Tanjung Kelayang dengan keanekaragaman jenis karang yang tinggi dan ikan karang.



keindahan terumbu karang di Pantai Tanjung Kelayang dengan keanekaragaman jenis karang yang tinggi dan ikan karang.



keindahan terumbu karang di Pantai Tanjung Kelayang dengan keanekaragaman jenis karang yang tinggi dan ikan karang.



keindahan terumbu karang di Pantai Tanjung Kelayang dengan keanekaragaman jenis karang yang tinggi dan ikan karang.



keindahan terumbu karang di Pantai Tanjung Kelayang dengan keanekaragaman jenis karang yang tinggi dan ikan karang.



keindahan terumbu karang di Pantai Tanjung Kelayang dengan keanekaragaman jenis karang yang tinggi dan ikan karang.



Salahsatu jenis Bulu babi yang ditemui di ekosistem terumbu karang Pantai Tanjung Kelayang



Tridacna squamosa yang ditemui di ekosistem terumbu karang Pantai Tanjung Kelayang



karang yang beasosiasi dengan padang lamun.



karang yang beasosiasi dengan padang lamun.



karang yang beasosiasi dengan padang lamun.



Hamparan lamun di perairan Pantai Tanjung Kelayang yang terdapat pula biota khas padang lamun seperti bintang laut.



Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung.
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Dwi Septiawan (Mahasiswa Perikanan Universitas Bangka Belitung)
Email : indra-ambalika[At]ubb.ac.id
Pengambilan foto dilakukan pada Agustus 2009.
Menggunakan kamera Canon SX 20 dan Olympus µTough-8000.




Catagory : Terumbu Karang
Lokasi : Tranplantasi
Laboratorium Perikanan UBB Berhasil Transplantasi Karang









Upaya penanggulangan kerusakan ekosistem terumbu karang dapat dilakukan dengan mengembangkan teknik transplanstasi karang. Transplanstasi karang merupakan salah satu upaya rehabilitasi ekosistem terumbu karang melalui pencangkokan atau pemotongan karang hidup yang selanjutnya ditanam di tempat lain yang mengalami kerusakan atau menciptakan habitat baru pada lahan yang kosong (COREMAP, 2006).

Transplantasi karang diharapkan dapat mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah rusak dan dapat pula digunakan untuk membangun daerah terumbu karang baru yang sebelumnya tidak ada.Selain itu, kegunaannya juga untuk menambah karang dewasa ke dalam populasi sehingga produksi larva di ekosistem terumbu karang yang rusak dapat ditingkatkan.

Laboratorium Perikanan Universitas Bangka Belitung (UBB) melalui Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB telah melakukan penelitian transplantasi karang sejak bulan Mei 2009. penelitian yang telah berjalan sekitar 5 bulan ini terdiri dari 100 patahan transplantasi karang jenis Acropora formosa (brown).

Penelitian dilaksanakan di Pantai Teluk Limau Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka dengan panjang patahan karang yang ditransplantasi sekitar 10 cm. koloni karang yang diambil sebagai bahan transplantasi harus memiliki diameter minimal 20 cm. Indeks keberhasilan penelitian ini cukup baik karena mencapai > 75% dengan laju pertumbuhan yang sangat menakjubkan.

Secara teoritis, laju pertumbuhan karang acropora Formosa sekitar 15 cm/tahun. Namun, dalam penelitian ini sudah ada karang transplantasi yang tumbuh mencapai 25 cm dalam waktu 5 bulan sejak awal transplantasi. Hebatnya lagi, ekosistem terumbu karang di Pantai Teluk Limau didominasi oleh jenis karang massif (CM) bukan jenis karang branching (ACB) seperti Acropora formosa.

Ini menunjukkan bahwa transplantasi karang jenis acropora dapat dilakukan di daerah yang meskipun bukan mayoritas jenis karang ini. Penelitian ini dilakukan pada dua kedalaman yang berbeda dengan kedalaman 1 meter dan 3 meter saat perairan surut terendah. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa karang transplantasi pada kedalaman 1 meter memiliki indeks keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan pada kedalaman 3 meter.

Beberapa negara memang telah mengembangkan lebih lanjut transplantasi karang, antara lain Australia. Tujuannya, selain untuk rehabilitasi, juga melakukan budi daya untuk memenuhi kebutuhan pasar akan karang hias. Jenis yang banyak dibudidayakan, antara lain, karang piring (Heliofungia aktinoformis), karang sarang burung (Seriatopora hystrixs), dan karang melati.
Di Taman Laut Great Barrier Reef, misalnya, transplantasi karang dilakukan untuk mempercepat regenerasi ekosistem terumbu karang yang rusak akibat serangan Acanthaster plancii atau bulu babi. Di Hawaii, Amerika Serikat, transplantasi karang bertujuan untuk menumbuhkan kembali terumbu karang mati karena limbah di perairan. Di Florida (AS), hal itu dilakukan untuk mempercepat dan memperbanyak tutupan karang.

Saat ini Laboratorium Perikanan UBB sedang melakukan pengembangan model terumbu karang buatan yang murah namun efektif. Terumbu karang yang dibuat menggunakan model modifikasi beton yang digabungkan dengan transplantasi karang. Dengan model ini, terumbu karang yang dibuat akan memiliki keberhasilan yang lebih tinggi dalam penempelan koloni karang hidup pada substratnya dan dengan harga yang relatif murah.

Hasil Penelitian ini diharapkan menjadi solusi terhadap upaya rehabilitasi ekosistem terumbu karang yang rusak dengan biaya yang relatif murah namun dengan tingkat keberhasilan sesuai dengan yang diharapkan.

Ekosistem terumbu karang di Pulau Bangka saat ini semakin terancam akibat aktivitas penambangan timah di daerah pantai yang semakin tinggi. Jumlah TI Apung, Kapal Hisap dan Kapal Keruk semakin banyak di perairan Pulau Bangka. Kegiatan penambangan ini akan mengakibatkan sedimentasi yang dapat menurunkan kualitas ekosistem terumbu karang hingga menyebabkan kematian massal ekosistem terumbu karang karena tertutup sediment. Padahal, dari 1 km2 terumbu karang yang sehat, dapat diperoleh 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan 1.200 orang di wilayah pesisir setiap tahun (Burke et al., 2002). Proses pemulihan (recovery) ekosistem ini membutuhkan waktu yang lama hingga lebih dari 50 tahun. Dengan model ini diharapkan proses recovery ekosistem terumbu karang dapat dipersingkat.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi solusi metode rehabilitasi ekosistem terumbu karang yang telah rusak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan dapat bekerjasama dengan pemerintah daerah maupun pihak swasta yang masih peduli terhadap ekosistem terumbu karang di Negeri Serumpun Sebalai.

































Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung.
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Mahasiswa M.K Biodiversity Ekosistem Terumbu Karang tahun 2009
Email : indra-ambalika[At]ubb.ac.id
Pengambilan foto di Pantai Teluk Limau dilakukan pada Mei 2009. dan Oktober 2009
Menggunakan kamera Canon Powershot A710 IS 7,1 MP dan Olympus µTough-8000 12 MP.



Catagory : Artikel dan Foto Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Terumbu Karang Tanjung Ular
Terumbu Karang di Pantai Tanjung Ular Mentok Kabupaten Bangka Barat



Foto Terumbu Karang di Pantai tanjung Ular 2

pengamatan kondisi terumbu karang, Melihat banyaknya bebatuan dipantai, airnya yang terlihat biru jernih dan substrat pasir pantainya tim menduga pantai ini akan menjadi kawasan ekosistem terumbu karang yang cukup baik. Apalagi melihat nelayan yang menggunakan alat tangkap jenis bubu (seperti di daerah Pulau Semujur) semakin menguatkan indikasi kami bahwa ada potensi terumbu karang di pantai ini. Maklum, hasil pengamatan terhadap kondisi terumbu karang di Daerah Tungau Kecamatan Simpang Teritip ternyata kurang baik. Karenanya, hingga artikel ini dibuat belum ada daerah di Kabupaten Bangka Barat yang kondisi karangnya tergolong bagus atau sangat baik (tutupan karang hidup > 75%).



Pantai Tanjung Ular merupakan kawasan pantai yang cukup terkenal dikawasan Mentok Kabupaten Bangka Barat. Pantai terlihat jelas saat kita melewati jalan yang memanjang sepanjang kawasan ini. Posisi pantai ini berjarak sekitar 12 km dari kota Mentok melewati beberapa perkampungan melayu dan chinese. Sepanjang perjalanan menuju pantai dari mentok, kita akan disajikan pemandangan yang indah menghijau bukit menumbing. Bukit ini merupakan bukit yang sangat terkenal di Provinsi Bangka Belitung karena dipuncaknya merupakan tempat presiden pertama indonesia Ir Soekarno pernah diasingkan oleh Belanda. Mulai dari awal perjalanan pun kita telah disajikan pemandangan laut yang luas membiru. Jalan menuju pantai ini baru diaspal sehingga perjalanan menjadi terasa nyaman.

Daerah Pantai Tanjung Ular Mentok kabarnya akan dijadikan sebagai kawasan chemical tin yang merupakan kawasan industri untuk peleburan timah di Pulau Bangka. Namun pembangunan ini mendapat kendala karena masalah pembebasan lahan dan krisis listrik yang masih melanda daerah ini. Tak hanya itu, kabarnya chemical tin merupakan industri yang tidak hanya melebur timah tetapi merupakan industri yang dapat menghasilkan produk olahan dari timah. Masyarakat Bangka Belitung telah lama menantikan indutri ini mengingat daerah ini merupkan lumbung timah dunia yang telah ditambang dari zaman sebelum VOC. Kerusakan alam yang diakibatkan oleh penambangan timah dari zaman ke zaman pun semakin tampak di provinsi ini terutama saat penambangan timah inkonvensional (TI) mulai diperbolehkan pada tahun 1999.

Pantai Tanjung Ular merupakan pantai yang banyak dikunjungi oleh masyarakat kota Mentok saat akhir pekan selain Pantai Tanjung Kalian. Sama dengan Pantai Tanjung Kalian yang terdapat mercusuar, di Pantai Tanjung Ular pun terdapat mercusuar. Namun mercusuar di pantai ini lebih kecil dan terbuat dari rangka besi sama dengan mercusuar mini yang terdapat di Pantai Tanjung Berikat Kecamatan Lubuk Besar Kabupaten Bangka Tengah dan Pulau Lampu Pantai Penyusuk Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka. Disampingnya terdapat pangkalan nelayan merapatkan perahunya. Nelayan di pantai ini sebagian besar merupakan nelayan pancing, bubu dan jaring tergantung musim. Jika perairan tenang, nelayan di daerah ini banyak yang memasang bubu. Namun ketika ombak cukup besar berganti menjadi nelayan pancing atau jaring. Nelayan di daerah ini sebagian besar merupakan nelayan dari chinese.

Pantai Tanjung Ular seperti pantai khas yang terdapat di daerah Bangka Barat adalah dengan warna pasirnya yang tampak sedikit kuning jika dibanding pantai yang terdapat di daerah lain. Pantai ini berpasir putih kekuning-kuningan dengan batu-batu berwarna merah bervariasi yang licin dan artistk. Berbeda dengan pantai yang terdapat di daerah lain yang merupakan batu granit. Kawasan Pantai Tanjung Ular sangat panjang dan pantainya cukup landai. Saat melakukan pengamatan kondisi pantai, tim eksplorasi terumbu karang UBB bertemu dengan ibu-ibu yang sedang mencari wak-wak (Spicuncula sp.). Wak-wak biasanya dijual dalam bentuk kering dan sangat disukai orang chinese sebagai masakan.

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang Pantai Tanjung Ular Kecamatan Mentok Kabupaten Bangka Barat


Sebelum melakukan pengamatan kondisi terumbu karang, Melihat banyaknya bebatuan dipantai, airnya yang terlihat biru jernih dan substrat pasir pantainya tim menduga pantai ini akan menjadi kawasan ekosistem terumbu karang yang cukup baik. Apalagi melihat nelayan yang menggunakan alat tangkap jenis bubu (seperti di daerah Pulau Semujur) semakin menguatkan indikasi kami bahwa ada potensi terumbu karang di pantai ini. Maklum, hasil pengamatan terhadap kondisi terumbu karang di Daerah Tungau Kecamatan Simpang Teritip ternyata kurang baik. Karenanya, hingga artikel ini dibuat belum ada daerah di Kabupaten Bangka Barat yang kondisi karangnya tergolong bagus atau sangat baik (tutupan karang hidup > 75%).

Namun setelah melakukan pengamatan hasilnya ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Terumbu karang di kawasan ini kondisinya buruk (tutupan karang hidup <25%). Terumbu karang dipantai ini tampak merana dan banyak yang mati tertutup substrat halus. Saat melakukan pengamatan air laut pun kurang jernih akibat substrat-substrat halus yang banyak beterbangan di perairan. Hal ini menyebabkan kondisi karang kurang optimal dan karang yang tidak sanggup terhadap tekanan kondisi ini banyak yang mati. Tampak karang-karang massive yang mati dan tertutup sedimen dihampir seluruh permukaannya. Selain itu tampak pula substrat-substrat yang menempel pada karang Acropora digitate dan karang foliose. Selain itu ditemukan pula banyak bulu babi hitam (Diadema sp.) di ekosistem terumbu karang.

Namun masih tetap ada ditemukan karang yang kondisinya masih baik. Hal ini diestimasikan karena karang berada pada perairan yang arusnya cukup kuat sehingga mampu menyapu sedimen-sedimen halus yang menempel pada karang tersebut. Karena karang yang kondisinya lebih baik tersebu berada pada perairan yang lebih dalam dengan arus yang lebih kuat. Banyaknya sedimen halus besar kemungkinan diakibatkan oleh arus perairan yang membawa subsrtat-substrat tersebut. Selain itu aktivitas peambangan timah inkonvensional apung (TI Apung_red) yang masih marak di sekitar pantai tersebut. Sedimen-sedimen halus tersebut terbawa arus dan akhirnya menutup polip-polip karang yang ukurannya lebih kecil sehingga lama kelamaan akan menyebabkan kematian karang.

Jenis ikan yang ditemui di ekosistem terumbu karang di daerah ini pun rendah. Tak banyak jenis ikan yang ditemukan dan ukurannya relatif kecil. Inilah yang terjadi ketika ekosistem terumbu karang telah rusak. Perikanan akan menurun karena rumah, tempat tumbuh dan tempat mencari makan telah rusak. Selain itu potensi pariwisata pun akan sulit berkembang karena turis asing yang sebagian besar berasal dari daerah subtropis bukan hanya menyukai keindahan pantai yang tampak luar namun menyukai wisata underwater dengan snorkling dan diving di ekosistem terumbu karang tropis yang memiliki keanekaragaman yang jauh lebih tinggi daripada ditempat asal mereka. Karenanya, ketika pemerintah daerah ini serius ingin membangun sektor pariwisata bahari, seharusnya serius pula menjaga kelestarian terumbu karang kita. Sayangnya, kenyataan yang terlihat banyak terumbu karang yang kondisinya merana bahkan rusak permanen akibat kebebasan penambangan timah yang kebablasan.





Pantai Tanjung Ular yang cantik



Pantai Tanjung Ular yang cantik



Pantai Tanjung Ular yang cantik



Pantai Tanjung Ular yang cantik



Ibu-ibu nelayan yang sedang mencari wak-wak (Spicuncula Sp.) di Pantai Tanjung Ular



Foto Terumbu Karang di Pantai tanjung Ular 1



Foto Terumbu Karang di Pantai tanjung Ular 2



Foto Terumbu Karang di Pantai tanjung Ular 3



Terumbu Karang di Pantai tanjung Ular yang kondisinya kurang baik karena banyak tertutup sedimen halus dan banyak terdapat bulu babi hitam (Diadema sp)



Pengamatan dilakukan pada Mei 2009
Menggunakan kamera canon powershot A710 IS 7,1 MP.
Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Khoirul Muslih S.Pi, Rahmat Kurnia.



Catagory : Artikel dan Foto Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Tanjung Sangkar Bangka Selatan
Terumbu Karang (Coral Reef) Tanjung Sangkar




vegetasi yang dijumpai adalah lamun yang didominasi oleh enhalis acoroides. Setelah itu akan dijumpai vegetasi alga yang tumbuh cukup luas hingga hampir ke arah tubir. Makroalga yang ditemui sebagaian besar adalah jamur laut (Padina), Sargassum dan Turbinaria yang berasosiasi dengan karang masaif dan submasif. Namun karang masih sedikit dijumpai diantara vegetasi yang subur. Terumbu karang baru dijumpai dengan keanekaragaman yang cukup tinggi didaerah tubir dengan kedalaman 2 – 4 meter.


Salahsatu desa yang terdapat di Pulau Lepar adalah desa tanjung sangkar. Desa ini memiliki luas …. Dengan jumlah penduduk sebanyak …. Atau …. KK. Desa yang termasuk luas dan telah memiliki SMP satu atap. Di desa ini terdapat rumah produksi usaha kepiting rajungan. Kepiting ini di kirim ke Jakarta hanya dalam bentuk daging. Karenanya, ketika melintas dari desa menuju darmaga yang baru dibangu di sebelah barat laut desa, kita akan melihat tumpukan kulit-kulit kepiting rajungan yang dibuang begitu saja dengan jumlah yang cukup banyak. Sungguh sangat disayangkan karena jika di Pulau Jawa, kulit kepiting rajungan ini telah diolah sebagai chitosan yang digunakan sebagai pengawet makanan alami pengganti formalin yang berbahaya.

Di desa ini pun terdapat pembuatan perahu nelayan. Perahu yang dibuat ukurannya cukup besar dengan ukuran rata-rata lebar 1,5 – 3 meter dengan panjang hingga 10 meter. Di ujung desa ketika menuju dermaga kita akan menjumpai bapak-bapak yang membuat perahu ini. Penduduk desa tanjung sangkar memang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan hanya sebagaian kecil sebagai petani. Hasil tangkapan dari nelayan biasanya ikan karang, ikan pelagis, kepiting, udang kipas hingga lobster. Dari pantai tanjung sangkar kita langsung dapat melihat beberapa pulau kecil yang lokasinya tak jauh dari pantai desa tanjung sangkar. Selain kaya akan terumbu karang , pantai desa tanjung sangkar pun banyak di tumbuhi lamun dan mangrove.

Terumbu karang di Pantai Desa Tanjung sangkar


Ditemani oleh penduduk setempat, tim eksplorasi terumbu karang universitas Bangka Belitung menuju lokasi terumbu karang yang lokasinya menyusuri jalan stapak dipinggir pantai. Perjalanan sekitar 700 meter dari desa kearah utara hingga berakhir disebuah pantai yang landai dan cukup luas. Di hadapan kami menantang dengan jelas sebuah pulau yang cukkup besar dan luas. Itu adalah pulau kelapan yang dapat kita lihat dari tanjung berikat. Pulau kelapan merupakan salahsatu pulau kecil di provinsi kepulauan Bangka Belitung yang berpenghuni. Tampak ada beberapa rumah terdapat di pulau kelapan. Di pantai itu tampak pula ibu-ibu yang sedang mencari siput dan kepiting. Selain itu tampak burung laut berwarna putih yang bertengger mengintai ikan. Dengan pasir yang putih, bebatuan dan air laut yang biru menjadi pemandangan yang sangat indah. Apalagi tepat didepan kami terlihat sebuah pulau dengan jelas diantara birunya air laut.

Saat melakukan penyisiran, vegetasi yang dijumpai adalah lamun yang didominasi oleh enhalis acoroides. Setelah itu akan dijumpai vegetasi alga yang tumbuh cukup luas hingga hampir kearah tubir. Makroalga yang ditemui sebagaian besar adalah jamur laut (Padina), Sargassum dan Turbinaria yang berasosiasi dengan karang masaif dan submasif. Namun karang masih sedikit dijumpai diantara vegetasi yang subur. Terumbu karang baru dijumpai dengan keanekaragaman yang cukup tinggi di daerah tubir dengan kedalaman 2 – 4 meter.




















































Written N Photographed By : Indra Ambalika
Email : indra-ambalika[At]ubb.ac.id




Catagory : Artikel dan Foto Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Tanjung Labu Pulau Lepar
Terumbu Karang di Desa Tanjung Labu Pulau Lepar Kabupaten Bangka Selatan, Pengamatan Bulan April 2009




keindahan ekosistem terumbu karang di karang kucek. Dengan keanekaragaman jenis karang dan ikan yang tinggi.


Pulau Lepar merupakan Pulau terbesar dari Pulau-Pulau kecil di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Secara administrasi Pulau Lepar terletak di Kecamatan Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan. Pulau ini terletak pada posisi geografis 02o57’00” LS dan 106o48’36” BT dengan luas 25.416,380 ha (Pulau terbesar di Kabupaten Bangka Selatan). Topografi Pulau Lepar berbentuk sedikit datar dan banyak berbukit-bukit.

Penduduk Pulau ini tersebar pada 3 (tiga) desa, yaitu Desa Penutuk, Tanjung Sangkar dan Tanjung Labu. Ekosistem padang lamun di Pulau Lepar merupakan ekosistem padang lamun terluas di Pulau Bangka. Padang lamun di Pulau ini tersebar di perairan dangkal sekitar Desa Penutuk dan Desa Tanjung Sangkar, sedangkan Desa Tanjung Labu merupakan kawasan terumbu karang. Selain memiliki potensi yang besar dibidang perairan disekitarnya, Pulau Lepar juga memiliki potensi bahan tambang timah yang mulai marak digarap oleh masyarakat dan para pendatang sejak tahun 2005 – 2007. Selain itu terdapat juga perkebunan sawit yang dimiliki oleh swasta dan saat ini masyarakat pun mulai berkebun sawit.

Kecamatan Lepar Pongok berpusat pada Desa Tanjung Labu. Desa ini terdiri dari 2050 jiwa dengan luas 47,460 km2 (Kecamatan Lepar Pongok dalam angka, 2007). Masyarakat desa ini berprofesi sebagai nelayan dan petani. Jika berjalan diantara rumah-rumah penduduk akan kita temui tumpukan pecahan karang yang biasanya digunakan masyarakat sebagai pondasi rumah. Ini menggambarkan bahwa kawasan laut di desa ini banyak terdapat karang. Harga pecahan karang memang lebih murah dibandingkan batu granit yang biasa digunakan untuk pondasi rumah. Selain itu, proses pengerjaan untuk mendapatkan pecahan karang jauh lebih mudah jika dibandingkan memecah batu granit. Dari pantai desa ini kita dapat melihat Pulau Pongok yang jika menggunakan perahu nelayan setempat membutuhkan waktu 1,5 – 2 jam.

Terumbu karang di Desa Tanjung Labu


Desa Tanjung Labu merupakan desa yang terdapat pada bagian Pulau Lepar yang perairan lautnya kaya dengan ekosistem terumbu karang. Sepanjang pantai yang terdapat di desa ini terdapat rataan karang yang memanjang. Sayangnya ketebalan karang yang terdapat sepanjag pantai relative rendah sehingga jika kita ingin menikmati keindahan karang, disarankan untuk menyelam sepanjang tubir. Terumbu karang sepanjang pantai ini kondisinya masih bagus karena memang sangat jarang masyarakat desa melakukan kegiatan pengrusakan terhadap ekosistem terumbu karang didesanya.

Sebenarnya, ketebalan lapisan karang cukup tinggi jika saja tidak banyak ditumbuhi oleh alga dan pada beberapa titik ditemukan lamun (seagrass). Banyaknya ditemui alga karena saat surut terendah, rataan karang yang terdapat di pinggir pantai ini terbuka terkena matahari secara langsung. Inilah yang membuat pertumbuhan karang menjadi kurang baik dan memacu tumbuhnya alga. Namun, pada bagian rataan karang yang selalu terendam oleh air, kondisinya bagus dan memiliki keanekaraman jenis karang yang tinggi dan terdapat banyak jenis ikan dan biota laut khas terumbu karang.

Di lokasi karang ini banyak ditemukan hydra jenis bulu ayam (Aglaophenia) yang menyerupai helaian daun yang berwarna pucat, merupakan salah satu jenis hydra yang kuat jenis nematositnya. Jika tersentuh kulit secara langsung akan menyebabkan kulit meradang dan mengalami pembengkakan yang cukup serius jika tidak segera ditangani.

Banyaknya ditemui hydra ini mengindikasikan jika terjadi ketidakseimbangan dalam ekosistem terumbu karang ini. Namun, secara umum kondisi karang disepanjang pantai Desa Tanjung Labu kondisinya masih relative sehat dan tidak ditemukan kerusakan yang berarti akibat tangan jahil manusia. Selain itu, ditemui cukup banyak kerang raksasa jenis kima (Tridacna squamosa) yang memiliki corak warna yang indah dan bervariasi.

Kerang ini biasanya jika ditemui oleh nelayan akan diambil untuk dikonsumsi sendiri. Banyaknya ditemui kima disepanjang pantai ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Tanjung Labu sangat jarang melakukan penyelaman disekitar kawasan terumbu karangnya sendiri. Masyarakat Desa Tanjung Labu memang sebagian besar adalah nelayan. Namun bukan jenis nelayan yang menyelam untuk mencari ikan. Nelayan di desa ini adalah nelayan pancing dan nelayan bagan.

Selain itu di sepanjang pantaipun banyak ditemui sero. Sero adalah alat tangkap ikan jenis perangkap (trap) yang memanfaatkan pasang surut air laut. Ikan yang didapat adalah ikan karang jenis ekonomis yang memiliki harga jual cukup tinggi seperti kerapu, seminyak, lutjanus, ketarap dan banyak lagi. Namun selain ikan, sering juga yang didapat adalah penyu hijau. Penyu ini biasanya dilepas kembali oleh nelayan namun ada juga yang sebagian dibunuh karena dianggap pengganggu (artikel tentang penyu hijau di pantai Desa Tanjung Labu pada tulisan yang lain).

Selain terdapat karang sepanjang pantainya, di Desa Tanjung Labu pun terdapat karang yang letaknya terpisah dari pantai. Karang tersebut terlihat dari pantai saat air laut surut dan akan tertutup saat air laut pasang dan cukup luas. Karang ini dikenal oleh masyarakat Desa Tanjung Labu dengan sebutan “karang kucek”. Karang kucek dapat dilihat dari dermaga pantai yang terdapat di Desa Tanjung Labu. Untuk mencapai lokasi karang kucek dapat dilakukan dengan berenang dari pantai kira-kira sejauh 300 meter. Namun perairan yang akan dilintasi cukup dalam sehingga sangat jarang yang berenang langsung dari pantai. Bisanya jika nelayan atau masyarakat yang ingin ke lokasi karang kucek menggunakan perahu.

Karena karang kucek posisinya terpisah secara langsung dari daratan pantai sehingga masyarakat lebih jarang melakukan kegiatan pengrusakan di ekosistem karang ini. Ekosistem terumbu karang kucek masih sangat asli. Sepanjang perjalanan ekspedisi terumbu karang yang telah dilakukan oleh universitas Bangka Belitung, karang kucek merupakan lokasi dengan ekosistem yang kondisinya terbaik dengan keanekaragaman biota laut yang juga tinggi. Semua jenis tipe pertumbuhan karang ditemukan di karang kucek, mulai dari acropora hingga foliose. Semua tersaji dengan indah di laut Tanjung Labu.

Ketika melakukan penyelaman, diantara celah-celah keindahan karang yang tersaji dihadapan kami, ada dua hal yang menjadi ancaman terhadap keindahan terumbu karang di karang kucek yaitu pemutihan karang (coral bleaching) dan penangkapan ikan dengan cara yang destruktif oleh nelayan. Spot pemutihan karang yang ditemukan cukup banyak dan mengkhawatirkan. Kemungkinan terjadinya pemutihan karang akibat pemanasan global di Pulau Bangka Belitung yang cukup tinggi akibat banyaknya hutan yang dijarah oleh penambangan timah dan pembukaan lahan untuk perkebunan sawit oleh perusahaan swasta maupun masyarakat. Memang hampir di setiap titik terdapat pemutihan karang dari lokasi-lokasi karang yang telah tim ekspedisi terumbu karang UBB lakukan. Namun spot yang terdapat di terumbu karang Desa Tanjung Labu lebih banyak ditemukan.

Pemutihan karang secara umum terjadi karena dua macam, yaitu karena matinya polip karang dan karena keluarnya zooxanthella dari organism karang. Kedua hal ini terjadi karena permasalahan yang sama yaitu “stress” akibat perubahan lingkungan. Kematian polip biasanya disebabkan karena turunnya salinitas air laut dan faktor kimia (herbisida, pestisida, sianida) yang tercemar dalam perairan air laut. Keluarnya zooxanthella biasanya karena perubahan suhu akibat pengaruh pemanasan global dan el-nino. Pemutihan karang karena matinya polip karang menyebabkan karang menjadi mati dan lama-kelamaan akan ditumbuhi alga dan kemudian patah menjadi rubber. Berbeda jika zooxanthella yang keluar, masih ada harapan karang menjadi pulih jika kondisi lingkungan kembali sesuai dengan kehidupan karang.

Penangkapan dengan cara destruktif merupakan salah satu ancaman terhadap ekosistem terumbu karang di karang kucek Desa Tanjung Labu. Semakin sedikitnya ikan hasil tangkapan dengan jumlah armada tangkap (nelayan) yang terus meningkat menjadikan tak sedikit nelayan yang menangkap ikan dengan cara yang dapat mengancam kerusakan ekosistem terumbu karang seperti dengan bom, sianida dan alat tangkap yang dapat merusak ekosistem terumbu karang. Hal ini diperparah oleh penegakan hukum di laut terhadap para pengrusak ekosistem yang sangat vital ini dianggap masih sangat lemah. Ada beberapa spot pengamatan terlihat karang patah dan posisinya terbalik akibat dari tangan-tangan yang tidak bijaksana memanfaatkan ekosistem ini.

Dalam pemenuhan kebutuhan hidup, di satu sisi seringkali sumberdaya alam termasuk ekosistem terumbu karang dianggap sebagai sumberdaya milik umum (common comunity) yang dapat dimanfaatkan sekehendak hati tanpa memperhatikan kelestariannya. Dengan demikian, keadaan ekosistem terumbu karang semakin menipis dan kemampuan dalam menyediakan jenis-jenis lingkungan keperluan pembangunan dan kehidupan manusia semakin menurun. Pemanfaatan ekosistem terumbu karang yang merusak dapat mengakibatkan hilangnya komponen sumberdaya hayati lain yang terkandung di dalamnya. Sumberdaya penyusun ekosistem terumbu karang memiliki nilai ekonomi, sehingga aktivitas dan pemanfaatan ekosistem terumbu karang dapat berakibat hilangnya nilai ekonomi dari komponen sumberdaya lain yang terkandung di dalamnya.

Tiga perempat perikanan dunia telah mengalami tangkap lebih atau sudah mengalami penurunan tangkapan (FAO Fisheries Departement, 2002). Sebagian besar perairan Indonesia telah mengalami tangkap lebih. Hampir separuh Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia mengalami tangkap lebih yang sangat parah untuk ikan karang dan lobster, sementara lebih dari separuh WPP Indonesia telah mengalami tangkap lebih untuk udang penaeid (PRPT-BRKP dan PPPO-LIPI, 2002). Usaha untuk mengatasi overfishing adalah dengan melakukan pendekatan pengelolaan berbasis ekosistem, dimana daerah perlindungan laut (DPL) memainkan peranan penting untuk mendukung kelestariannya.

Menjadikan kawasan karang kucek sebagai daerah perlindungan laut berbasis masyarakt (DPL-BM) dimana masyarakat (nelayan) sebagai pelaku utama dalam menjaga dan mengawasi DPL merupakan langkah nyata yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam turut andil menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang yang merupakan pilar utama sektor perikanan dan wisata bahari di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dinas kelautan dan perikanan kabupaten bangka selatan rencananya akan membuat kawasan koservasi laut daerah (KKLD) di beberapa spot terumbu karang yang lokasinya masih bagus.

Mudah-mudahan rencana ini berjalan dengan baik dengan menerapkan masyarakat sebagai pelaku utama dari kegiatan ini. Bukan hanya sekedar proyek yang menghabiskan anggaran tinggi namun hanya untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu saja. Inilah yang menyebabkan sektor kelautan dan perikanan di daerah kita sulit berkembang padahal memiliki potensi yang sangat besar jika dikelola dengan benar dan bijaksana oleh seluruh sektor terkait yang peduli dengan nasib terumbu karang, peduli akan masa depan generasi Bangka Belitung pasca timah.





Nelayan Desa Tanjung Labu yang sedang mencari wak-wak (Spicuncula Sp.) menggunakan potongan rotan yang digunakan untuk umpan memancing



Foto kima (Tridacna squamosa), hydra bulu ayam (Aglaophenia) dan bulu babi (Diadema) di ekosistem terumbu karang Pantai Desa Tanjung Labu



karang jenis acropora yang terhampar dengan ikan-ikan damselfishes yang beraneka jenis di karang kucek pantai desa Tanjung Labu



hamparan karang lunak Sarcophyton dan Stychodactyla atau yang lebih dikenal dalam bahasa local dengan “karang handuk” pada karang kucek yang dangkal



Keindahan ekosistem terumbu karang di karang kucek yang terancam pemutihan karang (coral bleaching). Tampak beberapa spot karang yang kondisinya memutih (bleaching)



keindahan ekosistem terumbu karang di karang kucek. Dengan keanekaragaman jenis karang dan ikan yang tinggi.



keindahan ekosistem terumbu karang di karang kucek. Dengan keanekaragaman jenis karang dan ikan yang tinggi.



keindahan ekosistem terumbu karang di karang kucek. Dengan keanekaragaman jenis karang dan ikan yang tinggi.



Desa Tanjung Labu, tampak pecahan karang di depan rumah yang biasanya digunakan sebagai pondasi rumah



Pantai di desa Tanjung Labu



Pantai di desa Tanjung Labu



Pulau Lepar (yang paling besar). Terlihat bekas penambangan timah inkonvensional dengan Pulau-pulau kecil disekitarnya.


Pengamatan dilakukan pada April 2009
Menggunakan kamera canon powershot A710 IS 7,1 MP.
Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Khoirul Muslih S.Pi, Eko Chandra.




Catagory : Artikel dan Foto Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Tanjung Berikat Bangka Belitung (BABEL)
Pesona Terumbu Karang Di Titik Paling Timur Pulau Bangka, Tanjung Berikat




Terumbu Karang di sébelah timur tanjung. Terumbu karang yang ditemukan cukup luas. Didominasi oleh jenis Coral Massive dan akar bahar. Karang dikawasan ini cukup dangkal sehingga rentan terkena sinar matahari secara langsung saat air laut surut terendah
Dari hasil pengamatan kondisi ekosistem terumbu karang di kawasan itu, tim eksplorasi terumbu karang UBB menyimpulkan bahwa ekosistem terumbu karang dalam kondisi sedang (tutupan karang hidup 25 – 50 %). Sebenarnya tak ada kegiatan pengrusakan terhadap ekositem terumbu karang oleh manusia yang datang di sekitar pantai mengingat untuk mencapai lokasi harus berenang minimal 100 meter ke arah laut. Rendahnya tutupan karang disebabkan karena rataan karang di pantai ini terlalu dangkal sehingga saat air laut surut terendah, rataan karang ini terbuka secara langsung dengan matahari.


Senang rasanya dapat melihat keindahan di spot paling timur Pulau Bangka. Titik itu bernama Tanjung Berikat desa beriga kabupaten Bangka tengah. Sebuah tanjung yang dikelilingi oleh laut. Pantai di Tanjung Beriga sangat indah. Saat melihat pantai ini, kami teringat saat mengunjungi Pantai Tanjung Tinggi Kecamatan Sijuk Kabupaten Belitung. Pantai dengan pasir putih bersih, air laut biru jernih dengan bebatuan granit berukuran besar dan artistik. Dipantai ini ditumbuhi tanaman tropis yang masih alami, namun sebagian besar pohon kelapa yang tinggi telah mati karena tersambar petir. Hal ini terlihat dari pohon yang tinggal batang menjulang ke langit. Saat mengunjungi pantai ini, tim eksplorasi terumbu karang UBB disambut oleh kehadiran beberapa ekor monyet yang sedang bermain dipinggir jalan. Benar-benar merupakan suasana alam yang masih alami.

Melihat sunrise di Pantai Tanjung Berikat memberikan rasa tentram karena disekelilingnya kita dapat merasakan keindahan. Warna langit yang masih jingga dengan sinar matahari yang masih malu-malu dan dipantulkan oleh laut yang tenang. Inilah yang tim ekspedisi terumbu karang UBB rasakan saat hunting foto di pantai ini. Pantai indah ini memang banyak dikunjungi oleh para wisatawan lokal sekitar Kabupaten Bangka Tengah untuk sekedar melihat pemandangan ataupun berenang menikmati pesona Pantai Tanjung Berikat saat akhir pekan.

Secara geografis, berikat adalah dusun yang masih termasuk dalam Desa Beriga Kecamatan Lubuk Besar Kabupaten Bangka Tengah. Penduduk di Dusun Berikat sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan petani. Dusun indah dan tentram yang banyak ditumbuhi oleh pohon kuini. Saat menjelang malam, masih bisa kita mendengar suara burung-burung malam dan lutung yang bersiap untuk tidur yang tak akan kita rasakan di kota.

Batu-batu di ujung Pantai Tanjung Berikat merupakan kumpulan batu-batu yang berukuran besar dan tinggi. Terutama pada sebelah kiri tanjung atau sebelah utara, kita akan mendaki batu yang cukup besar dan tinggi dan dipenghujungnya kita akan disajikan pemandangan laut yang terbentang luas dengan keindahan yang luar biasa dari ketinggian. Saat malam hari, dari tempat ini akan terlihat lampu-lampu nelayan yang sedang menangkap cumi dan ikan. Selain itu akan tersaji pula lampu yang berkelip-kelip terlihat dari arah Kota Pangkalpinang dari titik ini. Bila sinar rembulan terang dan banyak bertabur bintang, ini akan menjadi malam yang sangat indah.

Tepat di ujung Tanjung Berikat i kita akan dapat melihat sebuah pulau yang terlihat cukup jauh. Pulau itu adalah Pulau Kelapan yang letaknya lebih dekat dengan Pulau Lepar di sebelah Desa Tanjung Sangkar (terumbu karang di Pulau lepas akan dibahas dalam artikel yang lain). Di tanjung ini pun terdapat menara lampu (mercusuar mini) yang digunakan sebagai petunjuk bahwa ini adalah daerah paling timur Pulau Bangka dan arah bagi kapal-kapal yang melintas di sekitar Tanjung Berikat.

Terumbu karang di Pantai Tanjung Berikat


Ternyata Pantai Tanjung Berikat bukanlah tempat yang memiliki terumbu karang dengan rataan yang luas. Airnya yang jernih dengan bebatuan mengelilinginya ternyata bukanlah habitat untuk hidup karang yang luas dalam bentuk rataan karang. Terumbu karang ditemukan di sebelah timur tanjung dan berada sekitar 100 meter dari tepi pantai tak jauh dari batu besar yang terdapat diseberang Tanjung Berikat.

Dari hasil pengamatan kondisi ekosistem terumbu karang di kawasan itu, tim eksplorasi terumbu karang UBB menyimpulkan bahwa ekosistem terumbu karang dalam kondisi sedang (tutupan karang hidup 25 – 50 %). Sebenarnya tak ada kegiatan pengrusakan terhadap ekositem terumbu karang oleh manusia yang datang di sekitar pantai mengingat untuk mencapai lokasi harus berenang minimal 100 meter ke arah laut. Rendahnya tutupan karang disebabkan karena rataan karang di pantai ini terlalu dangkal sehingga saat air laut surut terendah, rataan karang ini terbuka secara langsung dengan matahari.

Hal ini membuat kondisi karang kurang optimal dan banyak ditumbuhi oleh mikroalga. Berbeda dengan kondisi karang di Pantai Desa Sungai Samak Kecamatan Badau Kabupaten Belitung dimana karangnya kurang bagus karena tertutup mikro alga akibat eutrofikasi, di Pantai Tanjung Berikat permasalahnnya berbeda karena memang masyarakat desa tak tinggal di pinggir pantai secara langsung dan melakukan aktivitas rumah tangga disekitar pantai. Dusun Berikat berjarak sekitar 500 meter dari Pantai Tanjung Berikat.

Ekosistem terumbu karang didominasi oleh jenis karang massive (Coral massive) seperti Pavites dan Goniastrea. Ditemui juga jenis karang foliose dan acropora tumbulate namun sangat sedikit. Selain itu, banyak ditemui jenis karang akar bahar (Melithaea) yang tumbuh menempel diantara bebatuan granit yang terendam air laut.

Meskipun terumbu karangnya tidak luas, namun Biota laut jenis ikan karang yang ditemui cukup beranekaragam. Ikan schooling berjumlah ribuan berenang diantara celah-celah batu granit dengan formasi renang yang sangat mengagumkan menjadi daya tarik sendiri saat melihatnya. jenis ikan ukuran besar ditemukan seperti kerapu dan Lutjanus sp. Ikan karang yang ukurannya lebih kecil seperti carsio cuning, amphiprion dan damselfishes. Ini membuktikan bahwa selama kondisi laut terjaga dengan baik maka jumlah dan keanekaragaman ikan yang ditemukan cukup tinggi.

Ikan disekitar pantai tanjung berikat memang terkenal dengan ukurannya yang relative besar dan jumlahnya yang cukup banyak. Saat menemui nelayan pancing yang membawa hasil tangkapannya yang cukup banyak padahal hanya menagkap ikan selama satu malam. Ikan jenis k uwe-kuwe, tenggiri, kakap dan pari tampak di keranjang hasil tangkapannya. Selain perairannya yang masih alami dan belum tercemar, perairan Tanjung Berikat memang merupakan kawasan perairan yang cukup dalam dan merupakan jalur pelayaran nusantara. Tak heran jika sering terlihat kapal-kapal besar yang melintas dari daerah Singapura, Batam, Malaysia dan Sumatera menuju atau dari Jawa.mengingat Pulau Bangka memang merupakan jalur pelayaran yang dilalui kapal-kapal dagang antar kawasan itu.

Melihat potensi perikanan dan keindahan pantainya, bukannya mustahil jika suatu saat pantai ini akan menjadi lokasi wisata bahari yang akan maju jika keindahan ini dapat dijaga dengan baik. Mejaga keindahan pantai dan ekosistem terumbu karang dalam memajukan sektor wisata bahari merupakan pengembangan ekonomi di pulau ini pasca penambangan timah adalah warisan terbaik yang kita titipkan kepada generasi penerus di daerah kita yang katanya merupkan pulau lumbung timah dunia.






Pulau Kelapan tampak dari Ujung tanjung berikat (spot paling timur pulau bangka)



Pantai tanjung berikat dilihat dari atas bebatuan granit di sebelah selatan tanjung



Pantai tanjung berikat dilihat dari atas bebatuan granit di sebelah selatan tanjung



Tampak kapal berukuran besar yang sedang melintas dari pantaitanjung berikat, kawasan laut disekitarnya memang merupakan jalur pelayaran lintas nusantara.



Siap-siap untuk melakukan eksplorasi terumbu karang di pantai tanjung berikat bersama dengan nelayan setempat



Nelayan yang baru pulang dari menangkap ikan. Ikan-ikan yang didapat termasuk jenis ikan-ikan besar dengan harga jual yang cukup tinggi



Terumbu Karang di sébelah utara tanjung. Terumbu karang banyak ditemukan hidup menempel pada batu-batu granit yang terendam air laut. Sebagian besar terumbu karangnya terdiri dari jenis akar bahar namun banyak terdapat ikan-ikan



Terumbu Karang di sébelah utara tanjung. Terumbu karang banyak ditemukan hidup menempel pada batu-batu granit yang terendam air laut. Sebagian besar terumbu karangnya terdiri dari jenis akar bahar namun banyak terdapat ikan-ikan



Terumbu Karang di sébelah utara tanjung. Terumbu karang banyak ditemukan hidup menempel pada batu-batu granit yang terendam air laut. Sebagian besar terumbu karangnya terdiri dari jenis akar bahar namun banyak terdapat ikan-ikan



Terumbu Karang di sébelah timur tanjung. Terumbu karang yang ditemukan cukup luas. Didominasi oleh jenis Coral Massive dan akar bahar. Karang dikawasan ini cukup dangkal sehingga rentan terkena sianar matahari secara langsung saat air laut surut terendah



Terumbu Karang di sébelah timur tanjung. Terumbu karang yang ditemukan cukup luas. Didominasi oleh jenis Coral Massive dan akar bahar. Karang dikawasan ini cukup dangkal sehingga rentan terkena sianar matahari secara langsung saat air laut surut terendah



Terumbu Karang di sébelah timur tanjung. Terumbu karang yang ditemukan cukup luas. Didominasi oleh jenis Coral Massive dan akar bahar. Karang dikawasan ini cukup dangkal sehingga rentan terkena sianar matahari secara langsung saat air laut surut terendah



Terumbu Karang di sébelah timur tanjung. Terumbu karang yang ditemukan cukup luas. Didominasi oleh jenis Coral Massive dan akar bahar. Karang dikawasan ini cukup dangkal sehingga rentan terkena sinar matahari secara langsung saat air laut surut terendah



Keindahan pantai tanjung berikat saat pagi hari



Keindahan pantai tanjung berikat saat pagi hari



Keindahan pantai tanjung berikat saat pagi hari



Keindahan pantai tanjung berikat saat pagi hari



snorkeling melihat keindahan terumbu karang di pantai Tanjung Berikat


Pengamatan dilakukan pada Juni 2009
Menggunakan kamera canon powershot A710 IS 7,1 MP.
Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Hadi Sodikin, Hanafi, Jumroh Aqobah, Rizki puspita dan Zalia




Catagory : Artikel dan Foto Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Sungai Samak Pulau Belitong BABEL
Terumbu Karang di Sungai Samak Kecamatan Badau kabupaten Belitung







Foto Terumbu karang di pantai desa sungai samak Pulau Belitung - Belitong - BABEL






Pulau Belitung memang kaya dengan sebaran terumbu karang. Hal ini karena Pulau belitong yang sekarang lebih di kenal dengan sebutan negeri laskar pelangi ini dikelilingi oleh pulau-pulau kecil yang kaya dengan potensi wisata bahari. Pantai-pantai di pulau Belitung terkenal dengan pasirnya yang putih, airnya yang biru jernih tenang dan pemandangan alamnya yang indah.
Karakteristik pesisir di pulau Belitung ini membuat daerah tersebut sangat potensi menjadi daerah yang kaya akan ekosistem terumbu karang. Pada bulan februari 2009 kemarin, tim ekspedisi berkesempatan untuk melakukan eksplorasi terumbu karang di pulau Belitung. Tempat yang menjadi target adalah pantai di desa sungai samak kecamatan badau kabupaten Belitung.

Pada bulan februari, perairan di pulau Belitung saat itu sedang memasuki musim utara sehingga kawasan sepanjang pantai tanjung kelayang dan tanjung tinggi bergelombang tinggi dengan perairan yang kurang baik untuk melakukan foto underwater. Padahal pantai ini biasanya terkenal dengan panorama yang indah dan perairan yang tenang. Namun karena memang arah angin yang berakibat kepada arah arus permukaan air laut tepat mengarah ke kawasan tersebut membuat gelombang perairan di pantai itu cukup besar. Tapi tim eksplorasi terumbu karang universitas Negeri Bangka Belitung tidak kehilangan akal, pencarian lokasi dialihkan ke lokasi yang cukup terlindung saat musim utara akhirnya tim memutuskan ke lokasi di desa sungai samak kecamatan badau kabupaten Belitung. Menurut sumber dari Belitung Dalam Angka, 2006, kecamatan badau memiliki luas 413,992 Km2 atau 19.95% dari luas total kabupaten Belitung. Sejak tahun 2003, pulau Belitung memang telah dimekarkan menjadi dua kabupaten yaitu kabupaten Belitung dan kabupaten Belitung timur. Desa sungai samak kemungkinan besar diawali dengan “sungai” karena ada aliran sungai yang terdapat di desa ini. Pulau Belitung memang banyak terdapat aliran sungai.

Di sepanjang jalan desa kita akan melihat pantai yang panjang dan luas. Saat surut terendah di sore hari, disepanjang pantai akan kita jumpai banyak ibu dan anak-anak yang mencari biota laut untuk konsumsi sendiri atau dijual seperti kepiting, kerang, lokan dll. Ini adalah bukti bahwa Laut memang menyediakan pangan yang kaya protein kepada manusia selama kita bisa menjaga laut dengan baik dan bijaksana. Sebenarnya lokasi terumbu karang di kawasan pantai desa sungai samak dapat dicapai cukup dengan berjalan kaki. Namun karena perairan mulai pasang, tim memutuskan menyewa perahu menuju lokasi terumbu karang terdekat dari pantai. Dengan guide dari nelayan setempat, tim dibawa menuju pantai.

Kesan pertama saat melihat pantainya adalah hamparan pasir putih yang luas dengan perairan biru jernih terbentang. Tak jauh dihadapan kami terdapat dua pulau yang sebenarnya ketika dilihat saling menyatu. Pulau tersebut adalah pulau bayan yang sangat eksotis dengan hamparan pasir putihnya dan menyembul batu-batu berwarna kemerahan (bukan batu granit seperti pada umumnya) diantara pepohonan tropis yang masih asri. Pulau bayan sebenarnya dapat ditempuh dengan berjalan kaki bila air laut surut. Menurut nelayan setempat, terumbu karang berada tepat di hadapan pulau bayan. Saat berjalan dipantai yang landai ini, banyak terdapat makroalga jenis rumput laut Euchema. Ini mengindikasikan bahwa lokasi ini sebenarnya dapat dikembangkan sebagai daerah budidaya rumput laut dimasa yang akan datang.

Kondisi Terumbu karang di Pantai Desa Sungai Samak


Terumbu karang yang terdapat di Sungai samak bukanlah jenis terumbu karang yang memanjang secara merata. Terumbu karang terpisah-pisah dengan luasan yang relative kecil. Dapat dikatan bahwa ekosistem terumbu karang hanya ditemui pada komplek-koplek tertentu. Setiap komplek terumbu karang dipisahkan oleh pasir dengan jarak bervariasi antara 300 – 700 meter.
Ketika melakukan penyelaman dan pengambilan foto underwater, tim eksplorasi terumbu karang UBB menyimpulkan bahwa kondisi terumbu karang di kawasan ini cukup baik. Keanekaragaman jenis karang cukup tinggi dan biota laut khas ekosistem terumbu karang pun cukup banyak ditemui. Karang jenis branching, foliose, massif, softcoral dan tabulate dijumpai di ekosistem terumbu karang ini. Jenis ikan yang dijumpai pun cukup banyak seperti jenis ikan amphiprion, angle fish, carsio cuning, butterflyfish, dasn banyak lagi jenis lainnya. Namun ada satu hal yang menjadi kekhawatiran ketika melihat kondisi terumbu karang di kawasan ini.

Saat melakukan eksplorasi tak dijumpai bulu babi (Diadema Sp.) sebagaimana yang biasa tim temui di lokasi ekosistem terumbu karang sebelumnya. Bulu babi merupakan biota herbivore diekosistem terumbu karang yang memliki peranan dalam menjaga keseimbangan pertumbuhan alga di ekosistem ini. Namun, jika jumlahnya terlalu banyak (lebih dari 100 ekor per 1 km2) akan menyebabkan kerugian bagi terumbu karang karena dapat memakan zooxanthella pada karang. Namun yang menjadi kekhawatiran utama terhadap kondisi ekosistem terumbu karang di kawasan ini adalah tutupan alga yang cukup tinggi pada ekosistem terumbu karang. Banyak ditemui karang yang mati akibat tutupan mikroalga (Dead Coral with Alga, DCA). Menurut kami, berdasarkan kondisi lingkungan, besar kemungkinan hal ini diakibatkan oleh peningkatan unsur hara di perairan (eutrofikasi). Hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk desa yang rumahnya berdekatan dengan pantai membuang sampah dan limbah organic rumah tangga di perairan pantai. Selain itu, adanya sungai menjadikan kandungan unsur hara dari daerah daratan terbawa ke laut dan terus terakumulasi setiap waktu.

Walaupun unsur hara (nutrient) sangat penting dalam suatu ekosistem terutama sebagai sumber penyusunan bahan organik oleh produsen primer, akan tetapi peningkatan unsur hara pada ekosistem terumbu karang dinilai justru dapat berpengaruh negatif terhadap perkembangan ekosistem ini. Hal ini bisa dilihat dari kenyataan bahwa terumbu karang justru berkembang dengan baik pada daerah yang relatif jauh dari sumber unsur hara dan sebaliknya tidak berkembang pada daerah yang mendapat suplai unsur hara yang tinggi. Adanya sisklus nutrient yang efektif dalam ekosistem terumbu karang merupakan kunci utama tingginya produktifitas ekosistem ini walaupun jauh dari sumber nutrient. Menurut Lapointe (1997), salah satu penyebab utama terjadinya blooming alga makro pada ekosistem terumbu karang di Jamaika adalah meningkatnya unsur hara yang menyebabkan peningkatan laju pertumbuhan alga sampai pada kondisi dimana ketersediaan populasi hewan herbifora tidak sanggup lagi mengontrol kelimpahan alga ini yang pada gilirannya menyebabkan kematian karang akibat tertutup alga. Walaupun hipotesa ini mendapat kritikan dari Hughes dkk. (1999) serta Aronson dan Precht (2000), tapi dari banyak penelitian sebelumnya telah terbukti bahwa peningkatan unsur hara pada ekosistem terumbu karang baik cepat atau lambat akan menyebabkan perubahan keseimbangan (phase shift) menuju ke terumbu yang didominasi oleh alga.

Mekanisme lain yang mungkin terjadi dengan peningkatan unsur hara atau eutrofikasi pada ekosistem terumbu karang adalah semakin menurunnya populasi hewan-hewan herbifora akibat pengaruh langsung dari perubahan kualitas perairan. Dengan demikian, maka eutrofikasi ini berpeluang meningkatkan kelimpahan alga makro dari dua arah; yang pertama secara langsung meningkatkan pertumbuhan alga, dan yang kedua mengurangi konsumsi alga oleh hewan herbifora. Pengaruh eutrofikasi tidak hanya berpengaruh terhadap peningkatan kelimpahan alga makro sebagai pesaing utama hewan karang, akan tetapi juga secara langsung berpengaruh negatif terhadap fisiologi dan perkembangan hewan karang tersebut, misalnya terhadap perkembangan embrio dan planula karang (Tomascik dan Sander, 1987). Dampak lain yang juga bisa timbul adalah meningkatnya bioerosi akibat perubahan komunitas ekosistem terumbu karang (Hallock, 1988).

Dengan demikian, konsekwensi eutrofikasi sangat penting untuk diperhatikan dalam manajemen ekosistem terumbu karang, karena dampak yang ditimbulkan cukup serius baik jangka pendek lebih-lebih dalam jangka panjang. Apalagi jika hal ini ditinjau dari potensi lain ekosistem terumbu karang sebagai obyek wisata bahari, maka bisa dipastikan bahwa nilai estetika dari daerah yang terkena dampak eutrofikasi ini akan sangat berkurang atau malah mungkin dapat hilang sama sekali.

Karenanya, menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa menjaga keseimbangan unsure hara dan keseimbangan biota pada ekosistem terumbu karang merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan di ekosistem terumbu karang yang sehat dan indah. Jika hal ini terus dibiarkan, bukan mustahil jika nanti sector wisata bahari akan sulit berkembang di daerah ini karena “innerbeauty” dari wisata baharinya tak elok lagi.





Terumbu karang jenis Acropora Formosa (Brown) yang ditemukan di ekosistem terumbu karang pantai desa sungai samak. Tampak sebagian karang ada yang mati karena tertutup alga (DCA)



Terumbu karang jenis Acropora Formosa (Brown) yang ditemukan di ekosistem terumbu karang pantai desa sungai samak. Tampak sebagian karang ada yang mati karena tertutup alga (DCA)



Foto Terumbu karang di pantai desa sungai samak Pulau Belitung - Belitong - BABEL



Foto Terumbu karang di pantai desa sungai samak Pulau Belitung - Belitong - BABEL



Foto Terumbu karang di pantai desa sungai samak Pulau Belitung - Belitong - BABEL



Foto Beberapa jenis ikan yang ditemui sedang bermain di antara terumbu karang saat pengambilan underwater foto



Foto terumbu karang yang tertutup oleh alga (Dead coral with alga)



Ibu-ibu dan anak-anak kecil yang mencari biota laut saat air laut surut. Bukti bahwa laut menyediakan pangan yang bergizi tinggi kepada manusia selama kita mampu menjaga laut kita dengan baik dan bijaksana.



Ibu-ibu dan anak-anak kecil yang mencari biota laut saat air laut surut. Bukti bahwa laut menyediakan pangan yang bergizi tinggi kepada manusia selama kita mampu menjaga laut kita dengan baik dan bijaksana.



Hasil tangkapan selama air surut. Kepiting, kerang, dan siput laut.



Pantai di desa sungai samak kecamatan badau, Belitung - Belitong. Tampak pulau bayan dengan pantainya yang luas dan landai.




Pengamatan dilakukan pada Februari, 2009.
Menggunakan kamera canon powershot A710 IS
Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi, Email : indra-ambalika[At]ubb.ac.id
Anggota : Dwi Septiawan.




Catagory : Artikel Terumbu Karang Marine Protect Area
Lokasi : Rehabilitasi Terumbu Karang
Upaya Rehabilitasi Ekosistem Terumbu Karang dengan Merintis Daerah Perlindungan Laut (Marine Protect Area) Berbasis Masyarakat
Belajar dari kerusakan hutan Indonesia, maka untuk menyelamatkan kelestariannya dibuatlah hutan lindung. Demikian pula di laut, sudah saatnya dibuat ”Daerah Perlindungan Laut (DPL)” untuk menyelamatkan ekosistem terumbu karang yang masih tersisa. Ternyata hutan lindung pun masih tetap dijarah di negeri yang serakah ini. Demikian pula dengan laut, banyak DPL yang masih tetap dijarah dan terjadi kegiatan pengrusakan terhadap ekosistem terumbu karang. Karenaya, terbukti di Indonesia ”hutan adat” jauh lebih terjaga kelestariannya dibandingkan hutan lindung. Karena hutan adat dimiliki oleh masyarakat dan dijaga oleh masyarakat. Demikian pula dengan di laut, Daerah perlindungan Laut Berbasis Masyarakat (DPL-BM) jauh lebih banyak yang memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Secara alami, banyak masalah dan penyebab hilangnya terumbu karang baik lokal maupun global. Seperti penyakit, sedimentasi, spesies pendatang, pemutihan (bleaching), predator, karang keropos (osteoporosis of coral), tumbuhnya alga, dan badai. Selain itu, perubahan iklim global juga menjadi penyebab hilangnya terumbu karang. Stress berupa panas, dingin, terang, dan gelap, terutama meningginya suhu air laut menyebabkan kerusakan simbiosisme antara karang dengan alga pada karang tersebut (zooxanthella). Semakin banyak karbondioksida dilepas ke atmosfir semakin banyak pula yang kembali ke laut melalui air hujan dan mengubah pH (keasaman) air laut menjadi lebih rendah atau makin asam. Turunnya pH air laut ini menyebabkan karang menjadi keropos. Karang keropos ini jika dikembalikan ke kondisi air laut semula tidak dapat memperbaiki terumbu kembali.

Semua masalah dan penyebab itu kian diperparah dengan kegiatan manusia yang melakukan penangkapan ikan dengan bahan peledak, bahan kimia dan alat tangkap yang merusak karang serta kegiatan penambangan timah di daerah pesisir yang banyak terjadi di Pulau Bangka.

Pengelolaan sumberdaya kelautan berbasis masyarakat merupakan salah satu strategi pengelolaan yang dapat meningkatkan efisiensi dan keadilan dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam. Selain itu strategi ini dapat membawa efek positif secara ekologi dan sosial. Pengelolaan sumberdaya alam khususnya sumberdaya kelautan berbasis komunitas lokal sangatlah tepat diterapkan, selain karena efeknya yang positif juga mengingat komunitas lokal memiliki keterikatan yang kuat dengan daerahnya sehingga pengelolaan yang dilakukan akan diusahakan demi kebaikan daerahnya dan tidak sebaliknya. Seiring trend di dunia yang sedang giat-giatnya mengupayakan penguatan institusi lokal dalam pengelolaan laut (pesisir).

Laut tidak semata merupakan sebuah sistem ekologi, tetapi juga sistem sosial. Karena itu, pengembangan kelautan dengan memperhatikan sistem ekologi-sosial mereka yang khas menjadi penting. Kuatnya institusi lokal di pesisir merupakan pilar bangsa bahari. Bila mereka berdaya, aturan lokal mereka bisa melengkapi kekuatan hukum formal, mereka bisa menjadi pengawas laut yang efektif, menjadi pengelola perikanan lokal karena didukung pengetahuan lokal (traditional ecological knowledge) serta pendorong tumbuhnya ekonomi pesisir.

Pengelolaan sumberdaya kelautan berbasis Masyarakat ini bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat. Sejak dahulu, komunitas lokal memiliki suatu mekanisme dan aturan yang melembaga sebagai aturan yang hidup di masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam termasuk di dalamnya sumberdaya kelautan. Hukum tidak tertulis ini tidak saja mengatur mengenai aspek ekonomi dari pemanfaatan sumberdaya kelautan, namun juga mencakup aspek pelestarian lingkungan dan penyelesaian sengketa.

Faktor utama yang menyebabkan kerusakan ekosistem terumbu karang di Indonesia karena kurangnya kepedulian masyarakat untuk menjaga dan melestarikan ekosistem ini. DPL-BM merupakan program dengan kegiatan utama memberikan wawasan kepada masyarakat dan menanamkan kepedulian untuk bersama-sama menjaga ekosistem pesisir yang ada disekitarnya yang dijadikan DPL-BM. Dengan program DPL-BM, masyarakat akan dirangsang untuk mengembangkan kearifan lokal, peningkatan rasa memiliki terhadap ekosistem terumbu karang sehingga akan berkembangnya metode penangkapan yang ramah lingkungan dan lestari. Selain itu, akan berkembang pula mata pencaharian alternatif selain penangkapan seiring berkembangnya wawasan masyarakat pesisir.

DPL-BM merupakan program konservasi laut yang berdasarkan aspirasi masyarakat, dilaksanakan oleh masyarakat dan untuk kesejahteraan masyarakat. Program ini melibatkan masyarakat sekitar sebagai pengawas yang akan terus menjalankan program dalam menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang. Pakar terumbu karang asal Amerika Serikat (AS), Dr Knowlton mengatakan bahwa salah satu cara melestarikan terumbu karang yang patut dipertimbangkan ialah membuat sebanyak-banyaknya Daerah Perlindungan Laut (Marine Protected Area) seperti Taman Nasional Laut, Cagar Alam Laut, dan Suaka Margasatwa Laut. Sebab, terumbu karang merupakan biota yang dapat memperbaiki dirinya sendiri setelah kerusakan, namun perlu didukung dengan strategi pemulihannya (Republika, 13 Mei 2009).

Sudah saatnya proyek pembangunan kelautan bukan hanya milik pemerintah daerah dan pemborong proyek tapi juga melibatkan peran serta masyarakat sehingga masyarakat punya rasa memiliki terhadap proyek yang dilakukan. Pelibatan itu seharusnya dimulai dari tahap awal hingga akhir kegiatan, dan ini tergambar dalam pengembangan konservasi laut berbasis masyarakat (DPL-BM).

Model perlindungan laut berbasis masyarakat (DPL-BM) akan lebih menguntungkan dan efektif dalam pemulihan ekosistem terumbu karang yang telah rusak dan melestarikan ekosistem yang masih baik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Pemerintah Daerah tingkat kabupaten/kota telah mengeluarkan banyak dana untuk proyek penanaman karang buatan. Berdasarakan kondisi itu, akan lebih efektif bila anggaran dana yang besar tersebut digunakan untuk kegiatan melindungi ekosistem terumbu karang yang kondisinya masih baik daripada harus digunakan untuk dana rehabilitasi yang keberhasilannya belum tentu terjamin.

Jika kita beraksi sekarang, masih banyak tempat di mana terumbu karang masih bagus dan ikan-ikan melimpah dapat diselamatkan. Cerita sukses tentang konservasi terumbu karang memang masih sedikit, tetapi ada! Dan ini adalah saatnya untuk memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada mayarakat untuk menjaga lingkungan disekitarnya dengan pihak pemerintah daerah, akademisi dan LSM yang benar-benar peduli terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dapat membantu dalam membina penguatan kelembagaan masyarakat dalam membentuk DPL-BM. Kini saatnya untuk mencoba merintis DPL-BM di daerah ini!!






Written By : Indra Ambalika, S.Pi
Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang – Universitas Bangka Belitung
Kepala Laboratorium Perikanan FPPB – UBB (indra-ambalika[At]ubb.ac.id)
HP : 0852 1843 7613



PENGALAMAN MENULIS DI BANGKA POS


  1. “Susahnya Menggali Potensi Kelautan Kita” pada Rubrik Opini Harian Pagi Bangka Pos, 22 Juni 2003.
  2. “Optimalisasi Potensi Non-Tambang” pada Rubrik Opini Harian Pagi Bangka Pos, 16 Juli 2004
  3. “Tantangan Masyarakat Melayu” Lomba menulis Artikel Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Oleh Harian Pagi Bangka Pos, mendapat Juara III. 2004.
  4. ”Rumitnya Persoalan Timah” pada Rubrik Opini Harian Bangka Pos, 10 Juni 2008.
  5. ”Ancaman bagi wisata bahari” pada rubrik Opini Bangka Pos, 25 Januari 2009.
  6. ”Detik-detik kehancuran ekosistem laut kita” pada rubrik Opini Bangka Pos, 26 Januari 2009.




Catagory : Terumbu Karang Buatan
Lokasi : Artikel Terumbu Karang
Efektifitas Terumbu Karang Buatan Bagi Rehabilitasi Ekosistem Terumbu Karang
Sekitar sepuluh tahun berlalu sejak Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 146/MPP/Kep/4/1999 mengenai pencabutan timah sebagai komoditas strategis sehingga penambangan timah skala masyarakat diperbolehkan, kini penambangan timah di darat Pulau Bangka dan Belitung dirasa mulai tidak potensial lagi untuk dilakukan. Hasil yang didapat dari penambangan timah darat semakin sedikit sedangkan biaya operasional terus meningkat. Apalagi lokasi penambangan timah darat semakin sulit karena hutan lindung dan daerah serapan air pun telah banyak dijarah oleh keserakahan penambangan timah inkonvensional (TI) di darat.

Saat ini tren penambangan timah di Pulau Bangka mulai bergeser ke daerah laut. PT Timah Tbk bersama mitranya semakin menambah armada kapal keruk dan kapal hisap. Smelter-smelter pun ikut berlomba-lomba mendatangkan kapal hisap-kapal hisap baru. Masyarakat pesisir mulai banyak yang beralih dari nelayan ikan menjadi nelayan timah (fisher tin). Perahu-perahu mereka tak lagi menangkap ikan tapi berganti untuk memburu timah di daerah pesisir pantai. Selain itu, banyak pula jenis TI Apung ponton dan penambangan timah di daerah pinggir pantai. Dampaknya, kerusakan pesisir di Pulau Bangka terutama ekosistem terumbu karang terus meningkat.

Terumbu karang memang merupakan ekosistem yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis tinggi. Namun, ekosistem yang kaya ini sangat rapuh terhadap perubahan lingkungan yang membuat ekosistem ini merana dan akhirnya mati. Sebagai bentuk kepedulian pihak swasta yang menambang timah di daerah laut (termasuk PT Timah Tbk) dan pemerintah daerah terhadap kerusakan ekosistem ini adalah dengan membuat ekosistem terumbu karang buatan. Ini merupakan salahsatu bentuk tanggung jawab mereka terhadap kerusakan ekosistem terumbu karang yang semakin nyata di pulau ini terhadap generasi masa depan mengingat ekosistem terumbu karang merupakan sumber pangan masa depan karena merupakan tempat tinggal, tepat memijah dan tempat berlindung biota-biota laut yang kaya dengan sumber protein. Dari 1 km2 terumbu karang yang sehat, dapat diperoleh 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan 1.200 orang di wilayah pesisir setiap tahun (Burke et al., 2002). Selain itu, ekosistem ini merupakan ”pelindung alami” daerah pesisir dari abrasi pantai yang jika menggunakan penahan ombak buatan akan menghabiskan anggaran yang sangat mahal dan ekosistem ini merupakan potensi besar bagi perkembangan wisata bahari yang akan dijadikan sebagai sektor unggulan pasca penambangan timah di daerah ini.

Penanaman terumbu karang buatan merupakan salahsatu langkah rehabilitasi ekosistem terumbu karang di Pulau Bangka khususnya dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada umumnya. Penanaman terumbu karang buatan diharapkan dapat membantu dan mempercepat pemulihan terumbu karang yang rusak dengan meningkatkan atau menambah proses alamiah dari kemampuan pemulihan karang. Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka pada tahun 2008 talah melakukan penanaman sebanyak 100 buah terumbu karang buatan yang terbuat dari beton senilai Rp 890 juta dari dana APBD murni tahun 2008. Terumbu karang buatan sudah disebar di sepanjang pantai Parai Tenggiri Sungailiat, yang berlokasi dua mil dari bibir obyek wisata pantai paling terkenal di Pulau Bangka (antaranews.com, 07 November 2008). Dijelaskan bahwa proyek peyebaran terumbu karang buatan ini untuk melestarikan dan meningkatkan aneka jenis spesies kembali biota laut. Tahun 2009 Propinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui Dinas Kelautan dan Perikanan telah menyiapkan dana untuk mengadakan proyek penanaman karang buatan di 500 titik yang tersebar di seluruh kawasan Propinsi ini dengan anggaran yang jauh lebih besar. Tapi, apakah penanaman terumbu karang buatan yang menghabiskan dana miliaran rupiah tiap tahunnya di propinsi ini merupakan langkah yang paling efektif dan efisien?

Ada beberapa macam metode rehabilitasi karang, salahsatunya adalah dengan pemasangan atau penanaman terumbu karang buatan. Untuk menentukan bentuk konstruksi, bahan dan metode pemasangan harus dilakukan kajian awal agar proyek rehabilitasi yang mahal ini memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Kajian itu pun dilakukan dengan melihat faktor oseanografi, topografi dasar perairan dan penelitian ekosistem terumbu karang di sekitar lokasi pemasangan. Metode-metode perbaikan kondisi untuk pertumbuhan karang harus dapat menghilangkan tekanan yang ada. Ini harus selalu menjadi prioritas utama karena pemasangan terumbu karang buatan diharapkan pula dapat mendorong proses pemulihan alami ekosistem terumbu karang. Belajar dari proyek pemasangan terumbu karang di Pantai Utara Jawa Tengah yang telah menghabiskan dana miliaran rupiah namun hampir tidak menunjukkan hasil karena tidak menggunakan penelitian awal (kompas, 2 Oktober 2006).

Terumbu karang buatan di Provinsi Kepaulauan Bangka Belitung biasanya dibuat dengan bentuk mangkuk yang diberi lobang dari bahan beton. Terumbu karang buatan ini diletakkan di sekitar ekosistem terumbu karang dengan harapan agar dapat menjadi tempat larva karang menempel dan tempat bermain berbagai jenis ikan. Apakah itu hasil yang diperoleh? Karang buatan yang berbahan dasar beton bukan hanya menjadi tempat menempel karang, namun menjadi tempat tumbuhnya alga dan biota laut bercangkang seperti teritip. Selain itu, bentuk mangkok dengan diberi lobang dengan diameter tertentu hanya akan menjadi tempat berlindung jenis-jenis ikan tertentu saja. Biaya pemasangan terumbu karang buatan atau substrat buatan yang mahal untuk daerah yang luas seharusnya dilarang untuk terumbu karang yang terdegradasi dalam daerah perluasan yang besar. Patahan-patahan karang yang mati (rubber) sebenarnya dapat menjadi substrat yang sesuai untuk menempelnya larva-larva karang yang kemudian tumbuh menjadi organisme baru dalam memulihkan ekosistem terumbu karang alami tanpa harus membuat terumbu karang buatan dengan biaya yang mahal.

Banyak program rehabilitasi ekosistem terumbu karang terbukti tidak efektif atau layak dalam skala besar (km2), baik secara ekonomis maupun ekologis. Tidak masuk akal bila rehabilitasi yang mahal dilakukan pada saat faktor kerusakan tetap terjadi. Selanjutnya, proses pemulihan alamiah mungkin sudah terjadi dan dapat terganggu dengan kegiatan rehabilitasi ini dan malah dapat lebih merugikan daripada menguntungkan. Penilaian dilakukan secara hati-hati sebelum menentukan apakah intervensi aktif dapat lebih berguna. Dalam banyak kasus, pemulihan alamiah lebih baik daripada “penyembuhan” yang riskan dan mahal. Program konservasi dengan melibatkan peran serta masyarakat peisir untuk menjaga dan mengelola ekosistem terumbu karang jauh lebih mudah dan murah dibandingkan dengan memperbaiki (rehabilitasi). Jika demikian, apakah pemasangan terumbu karang buatan dengan biaya yang mahal akan meninggkatkan keberhasilan pemulihan karang? atau dengan membiarkan proses pemulihan secara alami dengan biaya yang lebih efisien bahkan tanpa biaya jauh lebih efektif dan efisien untuk dilakukan?.




Written By : Indra Ambalika, S.Pi
Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang – Universitas Bangka Belitung
Kepala Laboratorium Perikanan FPPB – UBB (indra-ambalika[At]ubb.ac.id)




Catagory : Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Tanjung Kerasak dan Tanjung Kemirai Januari 2009
Terumbu Karang (Coral Reef) di Tanjung Kerasak dan Tanjung Kemirai Desa Pasir Putih Kabupaten Bangka Selatan Penelitian Januari 2009







Foto Udang kipas (Thennus orientalis) salahsatu hasil tangkapan nelayan Pantai Tanjung Kerasak Kabupaten Bangka Selatan Babel Penelitian Januari 2009







Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia tahun 1999 – 2004, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, pernah mengatakan bahwa kerusakan yang terjadi pada ekosistem terumbu karang Indoneia salah satu disebabkan karena masyarakat Indonesia baru mampu melihat nilai langsung (direct use value) dari sebuah potensi yang terdapat di ekosistem terumbu karang. Sedangkan nilai tak langsung (un-direct use value) yang nilainya jauh lebih besar belum mampu dilihat oleh masyarakat Indonesia. Tak banyak masyarakat Indonesia bahkkan masyarakat pesisir yang sering bersentuhan langsung dengan ekosistem terumbu karang menyadari nilai tak langsung ini.

Nilai langsung dari ekosistem pesisir itu misalnya berapa banyak ikan yang ditangkap, berapa banyak karang yang dapat dijual, berapa banyak biota laut non ikan hasil tangkapan nelayan, dsb. Nilai ini tentu sebenarnya tidak sebanding dengan nilai yang akan ditanggung jika kawasan ekosistem terumbu karang hancur dan rusak. Nilai inilah yang dimaksud dengan nilai tak langsung, seperti nilai dari fungsi terumbu karang yang dapat menahan gelombang besar dan abrasi pantai. Nilai dari ikan yang dapat bertelur, tumbuh besar dan berlindung dari predator kemudian berkembang biak. Nilai dari wisata bahari yang akan berkembang jika terumbu karang dalam kondisi baik. Nilai dari usaha budidaya rumput laut atau budidaya laut (marineculture) seperti keramba jaring apung dan model budidaya lainnya. Nilai dari bahan obat-obatan yang dapat dijual dari biota khas terumbu karang seperti spons atau porivera dan banyak lagi nilai lainnya. Nilai ini akan hilang dan akan ditanggung oleh manusia jika ekosistem terumbu karang hancur.





Foto budidaya seaweed (rumput laut) yang tumbuh di Perairan Pantai Tanjung Kerasak dan Pantai Tanjung Kemirai di Kabupaten Bangka Selatan Babel pada Penelitian Terumbu karang tahun 2007




Foto budidaya seaweed (rumput laut) yang tumbuh di Perairan Pantai Tanjung Kerasak dan Pantai Tanjung Kemirai di Kabupaten Bangka Selatan Babel pada Penelitian Terumbu karang tahun 2007




Foto budidaya seaweed (rumput laut) yang tumbuh di Perairan Pantai Tanjung Kerasak dan Pantai Tanjung Kemirai di Kabupaten Bangka Selatan Babel pada Penelitian Terumbu karang tahun 2007




Foto budidaya seaweed (rumput laut) yang tumbuh di Perairan Pantai Tanjung Kerasak dan Pantai Tanjung Kemirai di Kabupaten Bangka Selatan Babel pada Penelitian Terumbu karang tahun 2007





Salah satu contoh konkrit kondisi ini adalah apa yang terjadi pada ekosistem terumbu karang di Pantai Tanjung Kerasak dan Tanjung kemirai Desa Pasir Putih Kabupaten Bangka Selatan. Pantai yang populer di Kabupaten Bangka Selatan dan banyak dikunjungi oleh masyarakat local setiap hari libur dan akhir pekan ini memang memiliki panorama pantai yang indah. Perairan yang biru, pulau-pulau kecil dan batu-batu karang yang khas menjadikan pantai ini terlihat cantik. Ditambah dengan pasirnya yang putih berlatar hutan tropis yang menghijau menjadikan pantai ini aset wisata bahari yang sangat potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Bangka Selatan dimasa yang akan datang. Sebagai pantai yang terletak diantara dua tanjung (Tanjung Kerasak dan Tanjung Kemirai), pantai ini merupakan pantai yang perairannya cukup terlidung. Ditambah banyaknya bebatuan karang yang bermunculan di tengah-tengah perairan meanandakan perairan ini tak begitu dalam dan merupakan tempat yang sesuai untuk kehidupan terumbu karang.





Foto Indra Ambalika Pantai tanjung kerasak dan pantai tanjung kemirai Kabupaten Bangka Selatan Babel Penelitian Terumbu Karang (Coral Reef) Januari 2009




Foto Pantai tanjung kerasak dan pantai tanjung kemirai Kabupaten Bangka Selatan Babel Penelitian Terumbu Karang (Coral Reef) Januari 2009




Foto Pantai tanjung kerasak dan pantai tanjung kemirai Kabupaten Bangka Selatan Babel Penelitian Terumbu Karang (Coral Reef) Januari 2009




Foto Pantai tanjung kerasak dan pantai tanjung kemirai Kabupaten Bangka Selatan Babel Penelitian Terumbu Karang (Coral Reef) Januari 2009





Eksplorasi ekosistem terumbu karang di pantai tanjung kerasak Kabupaten Bangka Selatan oleh Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung sebenarnya telah dilakukan pada awal tahun 2007, pengamatan dilakukan dengan menyisir ekosistem terumbu karang di kawasan tersebut dengan menggunakan alat selam dasar. Ekosistem terumbu karang di pantai ini sangat luas. Rataan karang tepinya sekitar 500 meter dari tepi tegak lurus ke arah laut. Kedalam air saat surut terendah di daerah rataan karang sekitar 1 – 3 meter meskipun telah menyisiri ekosistem teumbu karang menuju laut sejauh 500 meter. Ini menandakan terumbu karang dipantai ini sangat luas dan merupakan terumbu karang tepi terluas yang menyatu dengan Pulau Bangka yang tim eksplorasi temui. Memang ada ekosistem terumbu karang yang lebih luas, namun untuk mencapainya kita harus menyeberang menggunakan perahu atau kapal milik nelayan karena letaknya tidak langsung bersentuhan dengan Pulau Bangka tetapi di sekitar pulau atau karang yang memang terdapat di laut yang posisinya cukup jauh dari daratan Pulau Bangka. Berbeda dengan ekosistem terumbu karang yang terdapat di kawasan pantai tanjung kerasak, kita dapat mencapai terumbu karangnya dengan berenang langsung dari terpi karena memang terumbu karang didaerah ini termasuk jenis terumbu karang tepi (barrier reef).

Ekosistem terumbu karang di Pantai Tanjung Kerasak sangat luas dan memiliki keanekaragaman jenis karang yang tinggi. Namun karang jenis massif (MC) yang paling banyak dijumpai. Ini menandakan bahwa memang kondisi arus dan gelombang di perairan pantai tanjung kerasak cukup tenang. Dijumpai pula jenis karang lain seperti Acropora, free living seperti fungia sp dan jenis lainnya, selain itu banyak pula terdapat karang lunak (soft coral) yang jenisnya beraneka ragam dan warna. Melihat kondisi karang yang begitu luas, mudah untuk dijangkau dan memiliki keanekaragaman yang tinggi dapat diprediksikan bahwa kawasan tanjung kerasak merupakan asset wisata bahari pemerintah daerah yang sangat poensial untuk berkembang menjadi wisata bahari tingkat nasional yang dapat dibanggakan. Namun sayangnya potensi itu telah hilang setelah ekosistem terumbu karang ini hancur mati tertutup sediment akibat kegiatan tambang timah inkonvensional (TI Apung_red) yang beroperasi dikawasan terumbu karang pada tahun 2006. keserakahan manusia telah menghancurkan semuanya. Demi mendapatkan nilai langsung dari ekosistem pesisir tanpa melihat nilai jangka panjang, ekosistem terumbu karang di tanjung kerasak telah menjadi korban tangan-tangan serakah manusia yang tak memikirkan masa depan generasi mendatang.





Foto TI Apung di daerah sebelah utara pantai tanjung kerasak pada awal tahun 2007 di Kabupaten Bangka Selatan Babel pada Penelitian Terumbu karang tahun 2007





Tak ada lagi karang yang beraneka warna dengan bentuk yang beraneka rupa. Tak ada lagi ikan-ikan yang meramaikan terumbu karang yang indah itu. Biota-biota laut khas terumbu karang yang beraneka warna dan bentuk pun tak banyak lagi dijumpai kecuali bulu babi (Diadema sp.) yang merupakan indicator ekosistem terumbu karang yang rusak dan sakit. Semua karang telah ditutupi oleh sediment bekas aktivitas penambangan TI Apung. Karang yang telah ditutupi itu mati secara merata, tertutama pada jenis karang keras (hardcoral). Semuanya hanya menyisakan sebuah ekosistem karang yang tak seharusnya mejadi seperti ini.


Hasil eksplorasi Terumbu Karang Tanjung Kerasak Bangka Selatan awal tahun 2007

Inilah awal pertama tim eksplorasi terumbu karang Universitas Bangka Belitung pertama kali mengadakan eksplorasi terumbu karang di pantai tanjung kerasak. Pengamatan dilakukan dengan mengguanakan peralatan selam dasar. Hasilnya sekitar 80% karang mati tertutup sediment. Selain itu dijumpai banyak bulu babi (Diadema sp.) yang hidup di ekosistem terumbu karang.

Dalam pengamatan tersebut, masih dijumpai beberapa jenis softcoral yang masih tetap bertahan hidup terutama jenis karang handuk. Disebut karang handuk karena memang bentuknya seperti handuk yang terdapat banyak tentakel-tentakel halus organisme polip karangnya. Namun pada sela-sela karang yang terdapat sisa endapan sediment tampak bahwa karang lunak tersebut merana dan sebagian mati tak mampu menahan perubahan kondisi perairan yang ekstrim akibat penambangan TI Apunng pada tahun 2006.
Menurut infomasi yang kami dapatkan dari penduduk Desa Pasir Putih yang merupakan desa terdekat dengan pantai tanjung kerasak, penambangan TI Apung di daerah pantai yang memilikii ekosistem terumbu karang yang luas tersebut dilakukan pada akhir tahun 2006 hinggan awal tahun 2007. Saat kami melakukan monitoring kondisi terumbu karang, TI Apung telah berpindah ke lokasi lain disebelah utara pantai tanjung kerasak.

Pada bagian dalam tampak ekosistem terumbu krang kondisinya lebih baik. Berbeda dengan kondisi yang mendekati daratan yang hampir seluruhnya mati tertutup sediment. Pada karang bagian dalam lebih banyak dijumpai karang yang masih bertahan hidup meski dalam kondisi merana. Hal ini diestimasikan karena pada perairan yang lebih dalam arus air laut lebih kuat dalam membawa sediment-sedimen bekas penambangan sehingga penutupan karang oleh sediment sedikit berkurang.namun karena kondis karangnya merana, banyak pula kami temui bulu babi (Diadema sp).

Pada bagian-bagian pusat penambangan TI Apung, tampak karang-karangnya terbongkar dan terbalik. Karang disekitarnya tertutup sediment dengan ketebalan sekitar 2 -3 cm. selain itu terdapat lobang-lobang menganga di sekitar karang yang berserakaan mati tersebut.


Eksplorasi ekosistem Terumbu Karang Tanjung Kerasak Bangka Selatan Januari 2009

Pada bulan januari 2009 Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung kembali melakukan monitoring terhadap kondisi ekosistem pasca penambangan TI Apung. Tujuan utamanya adalah ingin membandingkan kondisi ekosistem terumbu karang pada tahun 2007 dengan 2009. Perkembangan tersebut dapat menjadi salah satu acuan untuk melihat perubahan kondisi karang pasca penambangan TI Apung setelah dua tahun.

Berbeda dengan pengamatan pada tahun 2007, hasil monitoring pada tahun 2009 memperlihatkan bahwa karang-karang yang telah mati karena ditutupi oleh sediment-sediment halus akibat penambangan TI Apung telah ditumbuhi oleh makroalga. Alga-alga yang tumbuh sangat banyak dan luas. Pada karang yang mati tertutup sediment kemudian ditumbuhi oleh alga-alga. Alga yang ditemui terdiri dari beberapa jenis alga yang dominan yaitu jenis padina dan turbinaria.





Foto 1 Terumbu karang yang rusak akibat penambangan TI apung di Kabupaten Bangka Selatan Babel pada Penelitian Terumbu karang tahun 2007




Foto 2 Terumbu karang yang rusak akibat penambangan TI apung di Kabupaten Bangka Selatan Babel pada Penelitian Terumbu karang tahun 2007




Foto 3 Terumbu karang yang rusak akibat penambangan TI apung di Kabupaten Bangka Selatan Babel pada Penelitian Terumbu karang tahun 2007




Foto 4 Terumbu karang yang rusak akibat penambangan TI apung di Kabupaten Bangka Selatan Babel pada Penelitian Terumbu karang tahun 2007




Foto 5 Terumbu karang yang rusak akibat penambangan TI apung di Kabupaten Bangka Selatan Babel pada Penelitian Terumbu karang tahun 2007




Foto 6 Terumbu karang yang rusak akibat penambangan TI apung di Kabupaten Bangka Selatan Babel pada Penelitian Terumbu karang tahun 2007




Foto 7 Terumbu karang yang rusak akibat penambangan TI apung di Kabupaten Bangka Selatan Babel pada Penelitian Terumbu karang tahun 2007





Namun, yang mengherankan adalah alga-alga tersebut pun ditutupi oleh sediment-sediment halus. Sama seperti kondisi karang pada tahun 2007. Karenanya, tim eksplorasi menduga bahwa ada kegiatan penambangan TI apung kembali dikawasan karang ini pada tahun 2008. Ternyata prediksi tim memang terbukti benar. Setelah mewawancari masyarakat Desa Pasir Putih, memang penambangan TI Apung pernah lagi dilakukan di daerah tersebut pada akhir tahun 2008 dan sekarang telah berhenti dan berpindah ke daerah lain yang lebih jauh.

Pada pengamatan ini, tim hanya menemukan hamparan makroalga yang tumbuh diatas karang karang mati yang tertutup sediment. Makroalga yang telah kotor karena ditutupi pula oleh sediment-sedimet halus akibat penambangan TI Apung pada akhir tahun 2008 menjadi pemandangan bawah laut yang menyedihkan.

Karang lunak yang kami temui ada yang tetap bertahan dan ada pula yang mati. Namun, ada benih-benih baru kehidupan karang lunak yang baru tumbuh yang kami jumpai. Harapan untuk tetap kembali itu masih ada. Selama kegiatan pengrusakan seperti penambangan dan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan tidak kita ulangi lagi. Ekosistem yang merupakan asset masa depan ini dapat kembali lagi seperti semula meskipun harus menunggu puluhan tahun lamanya. Harapan itu masih ada ketika pemerintah berusaha menyadarkan masyarakat akan pentingnya terumbu karang dan banyaknya sektor perekonomian yang akan berkembang ketika ekosistem terumbu karang kita sehat. Terbukti kini di sekitar kawasan karang tersebut telah mulai dirintis budidaya rumput laut Euchema cottonii dengan metode tali panjang yang dipanen setiap 50 – 60 hari. Semoga saja kerusakan akibat keserakahan dan kebutuhan sesaat yang terjadi pada ekosistem terumbu karang Pantai Tanjung Kerasak dan Tanjung Kemirai Kabupaten Bangka Selatan tak terjadi dan terulang pada daerah yang lain di provinsi ini. Amiin.





Foto 1 softcoral yang masih bertahan dan baru tumbuh di Tanjung Kerasak Kabupaten Bangka Selatan Babel Penelitian Januari 2009




Foto 2 softcoral yang masih bertahan dan baru tumbuh di Tanjung Kerasak Kabupaten Bangka Selatan Babel Penelitian Januari 2009




Foto 3 softcoral yang masih bertahan dan baru tumbuh di Tanjung Kerasak Kabupaten Bangka Selatan Babel Penelitian Januari 2009




Foto 4 softcoral yang masih bertahan dan baru tumbuh di Tanjung Kerasak Kabupaten Bangka Selatan Babel Penelitian Januari 2009




Foto 5 softcoral yang masih bertahan dan baru tumbuh di Tanjung Kerasak Kabupaten Bangka Selatan Babel Penelitian Januari 2009




Foto 6 softcoral yang masih bertahan dan baru tumbuh di Tanjung Kerasak Kabupaten Bangka Selatan Babel Penelitian Januari 2009




Foto 7 softcoral yang masih bertahan dan baru tumbuh di Tanjung Kerasak Kabupaten Bangka Selatan Babel Penelitian Januari 2009






Pengamatan dilakukan pada Januari 2009
Menggunakan kamera canon powershot A710 IS 7,1 MP.
Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Email : indra-ambalika@ubb.ac.id


Catagory : Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Pulau Panjang Kabupaten Bangka Tengah
Terumbu Karang (Coral Reef) di Pulau Panjang Kabupaten Bangka Tengah





Foto Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009






Terumbu karang (Coral Reef) di Pulau Panjang Kabupaten Bangka Tengah

Pulau Panjang terletak disebelah utara Pulau Semujur. Sesuai dengan namanya, pulau ini berbentuk memanjang. Bahkan saat surut, tampak gusung pasir yang sangat panjang yang terdapat disebelah utara pulau ini. Pulau ini berjarak hanya sekitar 600 meter laut dari Pulau Semujur. Berbeda dengan Pulau Semujur yang banyak terdapat penduduk, pulau ini termasuk pulau yang tidak berpenghuni. Padahal Pulau Panjang luasnya sekitar 4 kali lebih luas dari Pulau Semujur. Jia kita mendengar cerita dari penduduk di Pulau Semujur, hal ini dikarenakan ada cerita masyarakat bahwa Pulau Panjang termasuk pulau angker/menyeramkan karena dijaga oleh binatang melata yang besar. Benar atau tidaknya, yang pasti cerita ini membuat keaslian pulau ini masih sangat terjaga dari tangan-tangan serakah manusia.




Foto Nelayan Pulau Semujur berlatarkan Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 1 Nelayan Pulau Semujur berlatarkan Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009


Foto TI Apung yang terdapat di daerah Tanjung Gunung kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah berlatarkan Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 2 TI Apung yang terdapat di daerah Tanjung Gunung kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah berlatarkan Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009


Foto Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 3 Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009


Foto Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 4 Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009


Foto Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 5 Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang UBB Maret 2009


Foto Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 6 Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009


Foto Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 7 Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009


Foto Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 8 Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009


Foto Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 9 Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009




Keaslian pulau ini masih sangat baik. Tampak pepohonan menghijau dan pasir putih yang bersih. Menurut informasi yang diperoleh dari penduduk semujur, saat bulan purnama, banyak penyu yang bertelur di Pulau Panjang. Pulau ini banyak ditumbuhi pepohonan khas flora tropis pesisir yang menghijau. Namun berbeda dengan Pulau Semujur dan pulau ketawai yang banyak ditumbuhi oleh banyak pohon kelapa, di Pulau Panjang hanya sedikit ditemui pohon tersebut. Disebelah barat terdapat mangrove jenis Rhizopora, Avicennia dan Bruguiera.




Foto Pulau panjang tampak bagian utara, terdapat gusung pasir yang sangat panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 10 Pulau panjang tampak bagian utara, terdapat gusung pasir yang sangat panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009





Terumbu karang di Pulau Panjang

Terumbu karang yang kami jumpai di Pulau Panjang terdapat di sebelah barat, timur dan selatan pulau ini. Namun tak kami temui terumbu karang disebelah utara. Terumbu karang yang terdapat di Pulau Panjang berbeda-beda kondisinya sesuai dengan lokasinya. Terumbu karang disebelah barat (yang mengarah ke Pulau Bangka) kondisinya rusak karena sebagian tertutup sediment, ditumbuhi macroalga dan banyak terdapat bulu babi (diadema sp) yang ukurannya pun lebih besar dari yang kami jumpai di pulau ketawai dan di Pulau Semujur. Padahal hamparan karangnya cukup luas. Hamparan karang tampak berwarna kecoklatan jika kita lihat dari permukaan. Namun kondisinya hamper sama, tertutup sediment dan terdapat banyak bulu babi. Diduga hal ini karena pengaruh dari banyaknya TI-TI Apung yang beroperasi di kawasan pesisir Pulau Bangka yang sedikit banyak telah memberikan pengaruh terhadap terumbu karang sebelah barat Pulau Panjang yang posisinya langsung menghadap kearah Pulau Bangka.




Foto Bulu Babi (Diadema sp.) pada terumbu karang di Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 1 Bulu Babi (Diadema sp.) pada terumbu karang (Coral Reef) di Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) (Coral Reef) UBB Maret 2009


Foto Bulu Babi (Diadema sp.) pada terumbu karang di Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 2 Bulu Babi (Diadema sp.) pada terumbu karang (Coral Reef) di Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009


Foto Bulu Babi (Diadema sp.) pada terumbu karang di Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 3 Bulu Babi (Diadema sp.) pada terumbu karang di Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009


Foto Bulu Babi (Diadema sp.) pada terumbu karang di Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 4 Bulu Babi (Diadema sp.) pada terumbu karang (Coral Reef) di Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009


Foto Bulu Babi (Diadema sp.) pada terumbu karang di Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 5 Bulu Babi (Diadema sp.) pada terumbu karang (Coral Reef) di Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009


Foto Bulu Babi (Diadema sp.) pada terumbu karang di Pulau Panjang, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 6 Bulu Babi (Diadema sp.) pada terumbu karang (Coral Reef) di Pulau Panjang Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009




Terumbu karang disebelah selatan kondisinya jauh lebih baik daripada disebelah barat. Kondisi karang (reef) yang termasuk tipe karang tepi termasuk dalam kategori sedang. Sayangnya hamparan karangnya tak seluas hamparan karang sebelah barat. Diantara Pulau Panjang dan Pulau Semujur terdapat hamparan karang yang terpisah dari daratan. Untuk kelokasi karang tersebut harus menggunakan perahu karena cukup jauh ditengah laut. Kondisi karang inilah yang kondisinya masih sangat baik. Banyak ditemui Tridacna dan ikan-iakan karang yang beranekaragam.




Foto Terumbu Karang di Pulau Panjang sebelah selatan, Tim Ekspedisi terumbu Karang UBB Maret 2009
Foto 7 Terumbu Karang (Coral Reef) di Pulau Panjang sebelah selatan Pada Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) UBB Maret 2009




Terumbu karang (Coral Reef) disebelah timur kondisinya cukup baik. Karang-karang dalam kondisi sehat meskipun dijumpai bulu babi namun dengan kepadatan yang relatif normal.karang-karang jenis Favites dimana dicelah-celahnya terdapat tridacna menjadi pemandangan yang sangat indah diantara berbagai jenis karang dan ikan-ikan karang yng beraneka warna.

Dengan jaraknya yang cukup dekat dari kota pangkalpinang ibukota provinsi kepulauan Bangka Belitung, Pulau Panjang merupakan kawasan wisata bahari yang sangat potensial untuk dijaga keasliannya. Dengan kondisinya saat ini, Pulau Panjang akan menjadi aset wisata bahari yang tak ternilai.


Pengamatan dilakukan pada tanggal 29 – 30 November 2008
Menggunakan kamera canon powershot A710 IS 7,1 MP.
Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Email : indra-ambalika@ubb.ac.id
Anggota : Hadi Sodikin, Denny Maesyaputra dan Herpin


Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Pulau Gusung Alam Kabupaten Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Terumbu Karang (coral reef) di Pulau Gusung Asam Kabupaten Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Gusung Alam
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Gusung Alam





Pulau Gusung Asam terletak disebelah timur laut Pulau Ketawai. Jika dilihat menggunakan GPS, pulau ini terletak pada titik koordinat 02o 15’ 25” LS dan 106o 20’ 24” BT. Berjarak hanya sekitar 1,5 km dari Pulau Ketawai. Karenanya, pulau ini terlihat jelas dari Pulau Ketawai. Antara pulau ketawai dan Pulau Gusung Asam terdapat lagi sebuah pulau yang tidak berpenghuni. Pulau itu dinamakan Pulau Ketugar.

Disebut gusung mungkin karena terdapat gusung di pulau ini. Gusung dalam bahasa lokal merupakan gugusan pasir hasil dari sedimentasi. Gugusan tersebut timbul (terlihat) saat air surut dan tenggelam saat air laut pasang. Ini mengindikasikan bahwa perairan disekitar gusung merupakan perairan yang dangkal. Jika kita menuju Pulau Gusung Asam melewati Pulau Ketawai, maka kita akan menemukan dua buah gusung sebelum dan setelah pulau ini.

Meskipun luasnya hanya sekitar setengah luas Pulau Ketawai, namun pulau ini dihuni penduduk lebih banyak dari Pulau Ketawai. Di Pulau Ketawai hanya tinggal penduduk sepasang suami istri. meskipun terdapat beberapa pondok, namun pondok itu bukan lah rumah tetap yang ditempati oleh pemiliknya. Pemiliknya hanya membuat pondok itu ketika mereka ada keperluan di Pulau Ketawai. Biasanya mereka hanya singgah di Pulau Ketawai untuk istirahat sebentar setelah menangkap ikan atau membeli kelapa yang banyak terdapat di Pulau ini. Umumnya mereka tinggal di desa kurau kabupaten Bangka tengah.




Foto Nelayan yang sedang menyiapkan pakan untuk ikan kerapu dari hasil ikan sisa bubu di keramba jaring apung
Foto Nelayan yang sedang menyiapkan pakan untuk ikan kerapu dari hasil ikan sisa bubu di keramba jaring apung





Di Pulau Gusung Asam terdapat sekitar 15 KK, memang tidak banyak, tapi para nelayan ini merupakan penduduk pulau ini. Nelayan di Pulau Gusung Asam merupakan nelayan bubu. Mereka menangkap ikan dengan menggunakan bubu yang mereka buat sendiri atau kadang didatangkan dari daerah lain seperti kurau dan tanjung gunung. Bubu tersebut mereka pasang di daerah terumbu karang. Karenya ikan yang didapat adalah ikan-ikan karang yang bernilai ekonomis seperti kerapu, ekor kuning, ikan tanda-tanda, ikan ketarap, sampai kakap.




Foto Bubu yang digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan. Ditemukan disekitar terumbu karang Pulau Gusung Asam
Foto Bubu yang digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan. Ditemukan disekitar terumbu karang Pulau Gusung Asam



Foto Ikan Amphiprion dan anemone pada terumbu karang di Pulau Gusung Asam
Foto Ikan Amphiprion dan anemone pada terumbu karang di Pulau Gusung Asam





Namun,selain itu terdapat juga ikan yang tidak bernilai ekonomis dan ikan hias laut yang tertangkap dibubu. Ikan tersebut tetap mereka ambil dan dijadikan sebagai pakan untuk ikan kerapu di keramba jaring apung (KJA) tempat mengumpul ikan kerapu hidup hasil dari bubu. Ikan kerapu baru diambil setiap dua minggu sekali. Jika pun tidak, ikan-ikan tersebut dibuat menjadi ikan asin yang kemudian dijual di pulau Bangka. Saat tim eksplorasi terumbu karang UBB ke pulau tersebut tidak terlihat lagi KJA yang sebelumnya terdapat di pulau ini. KJA tersebut sebenarnya untuk menampung ikan kerapu yang masih hidup hasil tangkapan nelayan setempat dengan bubu. Namun, berdasarkan informasi yang didapat bahwa ikan yang ditampung di dalam KJA banyak yang mati. Hal ini mungkin karena ikan yang stress dari bubu, kualitas perairan yang kurang mendukung disekitar KJA, penanganan KJA yang salah dan penyakit.


Kondisi Terumbu Karang (Coral Reef) di Pulau Gusung Asam

Ekosistem terumbu karang di Pulau Gusung Asam kondisinya termasuk kategori sedang. Jika dilihat saat pengamatan kondisi terumbu karang dengan tutupan sekitar 30-40%. Tutupan karang dengan selang nilai tersebut termasuk dalam kategori sedang. Karang terletak tidak berjauhan dari pulau. Berjarak sekitar 200 - 300 meter dari pulau. Karang hanya ditemui disebelah timur dan selatan pulau. Ini menandakan bahwa karang tidak mengelilingi pulau. Disebelah barat terdapat ekosistem padang lamun dan banyak pula ditumbuhi oleh seaweed. Sedangkan disebelah utara tidak ditemukan ekosistem terumbu karang dan padang lamun melainkan hanya hamparan pasir dengan air yang biru jernih.




Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Gusung Alam - Tridacna yang terdapat pada ekosistem terumbu karang Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Gusung Alam
Tridacna yang terdapat pada ekosistem terumbu karang Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Gusung Alam - Tridacna yang terdapat pada ekosistem terumbu karang Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Gusung Alam
Tridacna yang terdapat pada ekosistem terumbu karang Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Gusung Alam - Tridacna yang terdapat pada ekosistem terumbu karang Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Gusung Alam
Tridacna yang terdapat pada ekosistem terumbu karang Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Gusung Alam - Tridacna yang terdapat pada ekosistem terumbu karang Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Gusung Alam
Tridacna yang terdapat pada ekosistem terumbu karang Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Gusung Alam - Tridacna yang terdapat pada ekosistem terumbu karang Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Gusung Alam
Tridacna yang terdapat pada ekosistem terumbu karang Pulau Ketawai





Penyebab kecilnya angka tutupan karang di pulau ini karena karang banyak tertutup oleh makroalga dan mikroalga. Selain itu ditemukan pula beberapa jenis rumput laut (seaweed) yang bersaing dalam habitat tersebut. Hal ini menyebabkan persaingan hidup dalam habitat tersebut cukup tinggi. Di ekosistem terumbu karang ini banyak ditemui jenis tridacna yang ukurannya masih kecil. Tridacna ini hidup dicelah-celah batu atau karang.

Karena tutupan karangnya yang relative kecil, maka keanekaragaman ikan dan biotanya pun relative kecil pula. Tak banyak jenis ikan dan biota khas laut yang ditemukan pada ekosistem terumbu karang di Pulau Gusung Asam. Ikan yang dijumpai pun ukurannya relative kecil.

Dengan ditemukannya beberapa jenis rumput laut disekitar pulau ini sebenarnya mengindikasikan bahwa pulau ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daerah budidaya rumput laut dimasa mendatang. Selain itu, jika tutupan karangnya baik sehingga keanekaragaman ikannya pun tinggi. Maka, dengan pulaunya yang sangat cantik ditambah dengan hamparan terumbu karang yang terbentang indah. tempat ini Dapat dibayangkan akan menjadi daerah wisata bahari yang sangat potensial untuk dikembangkan.






Pengamatan dilakukan pada tanggal 29 – 30 November 2008
Menggunakan kamera canon powershot A710 IS 7,1 MP.
Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Hadi Sodikin, Denny Maesyaputra dan Herpin




Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Karang Pulau Ketawai - Kabupaten Bangka Tengah
Eksotisme Terumbu Karang (Coral Reef) di sekitar Pulau Ketawai Februari 2009, Kabupaten Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai





Tak diduga, saat melakukan ekspedisi yang kedua di Pulau Ketawai, dengan melakukan penyeberangan dari Tanjung Gunung Kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah, Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung bersama nelayan dari daerah itu membawa tim yang berjumlah empat orang (Indra Ambalika, S.Pi, Hadi Sodikin, Deni Maesyaputra dan Herpin) untuk melihat langsung kondisi karang yang terdapat di Pulau Ketawai. Posisi ekosistem terumbu karang sekitar 300 meter sebelah barat dari Pulau Ketawai. Kedalaman perairan sekitar 3 – 5 meter dengan kondisi perairan dari pasang menuju surut.
Ternyata Pulau Ketawai menyimpan potensi terumbu karang yang sangat besar. Tak seperti pada ekspedisi sebelumnya di pulau ini, Tim hanya menemukan karang dengan kondisi yang kurang baik dan padang lamun (seagrass). Hal ini terjadi mungkin karena pencarian lokasi karang dilakukan tidak jauh dari lokasi pulau (hanya berjarak sekitar 100 – 200 meter dari sekitar pulau). Pada ekspedisi yang kedua kali ini tim eksplorasi terumbu karang menemukan ekosistem terumbu karang yang cukup luas dan kondisinya cukup beragam. Luasan karang tidak merata di lokasi yang ditemukan. Kondisi karang yang ditemukan mulai dari kondisi yang sangat baik, sedang hingga semuanya tertutup makroalga yang didominasi oleh sargassum dengan tinggi mencapai satu meter.




foto Pulau Ketawai. Tampak dari atas berwarna kecoklatan yang merupakan ekosistem terumbu karang
Foto Pulau Ketawai. Tampak dari atas berwarna kecoklatan yang merupakan ekosistem terumbu karang (coral reef)


foto Pulau Ketawai. Tampak dari atas berwarna kecoklatan yang merupakan ekosistem terumbu karang
Foto Pulau Ketawai. Tampak dari atas berwarna kecoklatan yang merupakan ekosistem terumbu karang (coral reef)


foto Pulau Ketawai. Tampak dari atas berwarna kecoklatan yang merupakan ekosistem terumbu karang
Foto Pulau Ketawai. Tampak dari atas berwarna kecoklatan yang merupakan ekosistem terumbu karang (coral reef)


foto Pulau Ketawai. Tampak dari atas berwarna kecoklatan yang merupakan ekosistem terumbu karang
Foto Pulau Ketawai. Tampak dari atas berwarna kecoklatan yang merupakan ekosistem terumbu karang (coral reef)






Karang dengan kondisi sangat baik ditemukan dalam kondisi sehat meski ditemukan bulu babi (Diadema sp.) namun dalam kepadatan yang masih dapat ditolerir. Berbeda jauh pada kondisi terumbu karang dengan kondisi terumbu karang yang kondisinya kurang baik dan sehat, jumlah bulu babi sangat banyak dengan kepadatan tinggi. Hal tersebut sangat mengancam kelangsungan ekosistem terumbu karang, karena jumlah bulu babi yang terlalu banyak pada ekosistem terumbu karang dapat membahayakan kehidupan terumbu karang mengingat serbuan bulu babi yang tak terkontrol sangat mengancam ekosistem ini. Pasalnya, hewan yang mampu hidup selama 3-5 tahun ini menghisap zooxanthella yang merupakan teman hidup hewan karang dan memberi warna karang. Akibatnya, karang menjadi memutih dan lama kelamaan akan mati. Karang yang paling disukai adalah jenis karang yang pertumbuhannya relatif cepat yaitu jenis karang acropora, terutama jenis karang meja (Acropora tumbulate) dan karang cabang (Acropora branching). Dampaknya, terjadi kerusakan terumbu karang yang imbasnya ke sektor pariwisata, perikanan, serta terganggunya fungsi ekologi karang sebagai pencegah abrasi.




foto bulu babi (Diadema sp.) yang terdapat pada ekosistem terumbu karang Pulau Ketawai
Foto bulu babi (Diadema sp.) yang terdapat pada ekosistem terumbu karang (coral reef) Pulau Ketawai



foto seaweed (rumput aut) yang tumbuh di bagian timur Pulau Ketawai
Foto seaweed (rumput aut) yang tumbuh di bagian timur Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai



Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai
Foto pesona ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Ketawai







Pada ekosistem terumbu karang yang kondisinya baik, terlihat karang dalam kondisi sehat dengan keanekaragaman jenis karang yang tinggi. Jenis karang yang ditemukan yaitu karang Acroppora branching, acropora tubulate, montipora, fungia, coral massif dan beberapa jenis softcoral. Namun secara umum, jenis hardcoral yang banyak ditemukan adalah jenis karang Acropora branching dan acropora tumbulate. Selain itu, ditemukan juga jenis makroalga Halimeda sp. yang berwarga putih kehijauan dengan bentuk yang khas. Jenis ikan karang yang ditemui cukup beragam. Mulai dari beraneka jenis amphiprion, parrotfish, Lutjanus sp., kerapu, ekor kuning, damselfishes dan banyak lagi jenis ikan lainnya yang jumlahnya cukup banyak dan beragam. Disebelah timur dijumpai ekosistem padang lamun (seagrass) dan ditumbuhi juga oleh beberapa jenis makroalga dan rumput laut (seaweed). Ini mengindikasikan bahwa pulau ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daerah budidaya rumput laut di masa yang akan datang.

Sayangnya, saat pengambilan foto underwater, langit ditutupi oleh awan tebal. Mengingat bulan Desember memang telah memasuki musim penghujan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ini menyebabkan kondisi perairan terlihat kurang terang karena intensitas cahaya matahari yang masuk hingga ke dasar perairan lemah. Selain itu arus perairan dibawah cukup kuat sehingga sedimen-sedimen halus beterbangan dibawa arus.


Terserang Penyakit

Tak seperti daerah karang yang ditemui sebelumnya, ternyata terumbu karang yang ditemukan di Pulau Ketawai terkena wabah penyakit. Karang yang terkena wabah ini hanya terdapat pada karang jenis Acropora. Wabah yang paling banyak terlihat pada jenis karang acropora branching jenis Acropora formosa. Tampak karang menjadi warna putih dan ditutupi lendir. Terlihat jelas antara karang yang sehat berwarna coklat muda, sedangkan karang yang terserang wabah berwarna putih (ditunjukkan pada foto). Peristiswa pemutihan karang (Bleaching) sering dihubungkan dengan gangguan lingkungan seperti naiknya suhu air laut. Karang dapat hidup dalam batas toleransi suhu berkisar dari 20 sampai 30 derajat celsius.




karang yang terkena wabah pemutihan karang, tampak pada lingkaran merah (yang masih sehat berwarna coklat sedangkan yang sakit dan telah mati berwarna putih)
Foto karang yang terkena wabah pemutihan karang, tampak pada lingkaran merah (yang masih sehat berwarna coklat sedangkan yang sakit dan telah mati berwarna putih)





Suhu kritis yang dapat menyebabkan karang memutih tergantung dari penyesuaian karang tersebut terhadap suhu air laut rata-rata daerah dimana ia hidup. Karang cenderung memutih apabila suhu meningkat tajam dalam waktu yang singkat atau suhu meningkat perlahan-lahan dalam jangka waktu yang panjang. Gangguan alam yang lain yang dapat menyebabkan pemutihan karang yaitu tingginya tingkat sinar ultra violet, perubahan salinitas secara tiba-tiba, kekurangan cahaya dalam jangka waktu yang lama, dan penyakit. Faktor pengganggu lainnya adalah kegiatan manusia, mencakup sedimentasi, polusi dan penangkapan ikan dengan bahan peledak.




perairan yang karangnya sakit, tampak lendir-lendir putih beterbangan ketika arus laut kuat dan air laut menjadi terasa sedikit gatal
Foto perairan yang karangnya sakit, tampak lendir-lendir putih beterbangan ketika arus laut kuat dan air laut menjadi terasa sedikit gatal



perairan yang karangnya sakit, tampak lendir-lendir putih beterbangan ketika arus laut kuat dan air laut menjadi terasa sedikit gatal
Foto perairan yang karangnya sakit, tampak lendir-lendir putih beterbangan ketika arus laut kuat dan air laut menjadi terasa sedikit gatal





Namun Karang bleaching biasanya tak mengeluarkan lendir sebanyak ini. Bahkan saat pengambilan foto underwater disekitar lokasi yang ekosistem terumbu karangnya terserang wabah ini, air menjadi sedikit terasa berlendir dan kulit terasa sedikit gatal. Saat arus kuat, terlihat jelas lendir-lendir putih beterbangan di perairan terbawa arus.




 karang yang terkena wabah penyakit tampak berwarna keputihan berendir
Foto karang yang terkena wabah penyakit tampak berwarna keputihan berendir



 karang yang terkena wabah penyakit tampak berwarna keputihan berendir
Foto karang yang terkena wabah penyakit tampak berwarna keputihan berendir



 karang yang terkena wabah penyakit tampak berwarna keputihan berendir
Foto karang yang terkena wabah penyakit tampak berwarna keputihan berendir



 karang yang terkena wabah penyakit tampak berwarna keputihan berendir
Foto karang yang terkena wabah penyakit tampak berwarna keputihan berendir



 karang yang terkena wabah penyakit tampak berwarna keputihan berendir
Foto karang yang terkena wabah penyakit tampak berwarna keputihan berendir



 karang yang terkena wabah penyakit tampak berwarna keputihan berendir
Foto karang yang terkena wabah penyakit tampak berwarna keputihan berendir





Tim eksplorasi mengestimasikan bahwa gejala ini terjadi akibat terjadinya penurunan kualitas perairan bagi kesesuaian ekosistem terumbu karang terutama untuk jenis karang acropora branching. Selan itu kegiatan TI Apung di daerah Tanjung Gunung dan daerah sekitarnya yang cukup banyak jumlahnya sedikit banyak telah memberikan dampak terhadap ekosistem terumbu karang di daerah Pulau Ketawai ini. Pulau Ketawai memang berjarak hanya sekitar 4 – 5 km dari tanjung gunung. jika perkiraan ini terbukti benar, maka benarlah bahwa kegiatan penambangan yang jaraknya cukup berjauhan dari daerah terumbu karang tetap memberikan dampak negatif bagi kelangsungan ekosistem terumbu karang disekitarnya.




TI Apung dan perahu nelayan berlatarkan Pulau Ketawai (foto diambil dari daerah Tanjung Gunung, Kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah)
Foto TI Apung dan perahu nelayan berlatarkan Pulau Ketawai (foto diambil dari daerah Tanjung Gunung, Kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah)>
r





Karena dapat saja sedimen-sedimen tersebut terbawa oleh arus laut hingga mencapai ekosisem terumbu karang disekitarnya. Mengigat terumbu karang merupakan biota fotosintetik, kecerahan air menjadi faktor yang sangat penting bagi kelangsungan hidup biota karang. Karenanya, penambangan yang tidak didasari oleh kajian lingkungan secara mendalam dapat berakibat fatal bagi ekosistem pesisir ini dan akan berdampak memberangus sektor perikanan dan pariwisata yang bernilai sangat tinggi.

Sayangnya, penelitian lebih lanjut untuk meneliti kondisi karang yag terkena wabah tersebut belum dapat kami lakukan secara lebih mendalam mengingat keterbatasan sumberdaya yang kami miliki. Namun, langkah yang paling terpuji adalah segera menjaga dan memulihkan kualitas perairan di sekitar Pulau Ketawai termasuk pesisir Pulau Bangka yang berdekatan dengan Pulau Ketawai sehingga sesuai bagi kelangsungan kehidupan dan perumbuhan ekosistem terumbu karang disekitarnya. Dengan cara ini, mudah-mudahan ekosistem yang menjadi tumpuan hidup ribuan masyarakat pesisir dan merupakan sumber penghasil protein tinggi dalam membentuk generasi penerus Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang berkualitas nanti dapat terjaga dan terpelihara.


Pengamatan dilakukan pada tanggal 29 – 30 November 2008
Menggunakan kamera canon powershot A710 IS 7,1 MP.
Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi Email : indra-ambalika@ubb.ac.id
Anggota : Hadi Sodikin, Denny Maesyaputra dan Herpin


Penulis & Photographer: Indra Ambalika, S.Pi
Email : indra-ambalika@ubb.ac.id
Jabatan : Kepala Laboratorium Perikanan FPPB - UBB

Lihat koleksi foto-foto terumbu karang (Coral Reef) di provinsi kepulauan Bangka Belitung lainnya di (Klik disini) :
Halaman Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef Ekspedition) di Kepulauan Bangka Belitung





Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Pantai Tanjung Tinggi Belitung - Belitong - Biliton
Terumbu Karang (Coral Reef) di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Desember 2008



Mahkota berduri (Acanthaster plancii) yang merupakan predator bagi karang di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Mahkota berduri (Acanthaster plancii) yang merupakan predator bagi karang di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung



Pantai Tanjung Tinggi Belitung merupakan pantai yang sangat cantik. Dengan dihiasi bebatuan granit yang besar dan menjulang tinggi, air yang jernih membiru dan pasirnya yang putih bersih, Pantai Tanjung Tinggi merupakan tujuan wisata bahari yang sangat sesuai bagi para pemburu wisata bahari tropika.

Di pantai ini telah dibangun pondok-pondok yang tertata cukup rapi menawarkan minuman dan makanan. Es kelapa muda dan ikan laut bakar merupakan andalan yang ditawarkan. Setiap akhir pekan, banyak masyarakat yang datang baik menggunakan kendaraan sepeda motor maupun mobil. Masyarakat yang datang bahkan ada yang dari Belitung Timur (berjarak sekitar 85 km dari Belitung Timur). Seperti magnet yang tak berhenti menarik orang untuk datang ke pantai tanjung tinggi. Turis mancanegara yang datang ke Belitung pun pasti akan berkunjung ke pantai ini karena memang tak lengkap rasanya kalau kita ke Pulau Belitung jika belum berkunjung ke pantai ini. Pantai Tanjung Tinggi memang tampak sangat menawan dan wajar saja jika ada kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bahari di Belitung, maka pantai ini menjadi tempat pelaksanaannya. Lokasi Pantai ini tak berjauhan dengan Pantai Tanjung Kelayang yang juga merupakan pantai yang cantik dan telah berdiri hotel dan vila-vila yang tertata dengan rapi dan profesional.




Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung



Tidak mengherankan jika Pantai Tanjung Tinggi menjadi kebanggaan masyarakat Pulau Belitung. Apalagi salah satu setting film laskar pelangi yang sangat populer dilakukan di pantai ini. Membuat para penonton film pasti merasa penasaran ingin mengunjungi pantai yang cantik ini.

Begitulah gambaran singkat tentang keindahan luar dari Pantai Tanjung Tinggi yang tampak dari luar. Banyak tulisan atau artikel yang menulis tentang keidahan Pantai Tanjung Tinggi Belitung. Tapi bagaimana dengan keindahan dalam (underwater) pantai ini? Inilah hasil pengamatan Tim eksplorasi terumbu karang di kawasan wisata bahari Universitas Bangka Belitung di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pengamatan ini dilaksanakan pada tanggal 25 Oktober 2008 dengan kondisi perairan mulai pasang dan arus air di lapisan dasar cukup kuat sehingga pengambilan foto underwater kurang maksimal. Namun foto yang didapat masih bisa diolah untuk dianalisis.




ikan Atherinomorus sp. yang bergerombol (schooling) tak jauh dari daerah lamun yang didominasi oleh Cymadocea di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
ikan Atherinomorus sp. yang bergerombol (schooling) tak jauh dari daerah lamun yang didominasi oleh Cymadocea di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


Terumbu Karang yang tertutup mikroalga dan makroalga di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Terumbu Karang yang tertutup mikroalga dan makroalga di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung




Jika kita baru melihat kondisi underwater di Pantai Tanjung Tinggi, kita akan disambut oleh ratusan hingga ribuan ikan Atherinomorus sp. yang berkelompok membentuk formasi yang artistik (schooling). Setelah itu kita akan menjumpai lapisan lamun yang didominasi oleh jenis Cymadocea, ditemukan pula jenis Thalassia dan jenis lamun Halophilla namun jumlahnya sangat sedikit. Selanjutnya kita akan melihat lapisan makroalga yang didominasi oleh Padina dan Sargasum. Kadang dijumpai pula jenis makroalga Tubinaria tapi jumlahnya sangat sedikit. Semakin kearah tengah dan perairan lebih dalam, kita baru menjumpai karang massif kemudian baru diikuti oleh jenis terumbu karang lainnya. Sayangnya, ketika melihat karang di kawasan pantai ini, kita akan langsung mengerti bahwa sebenarnya terumbu karang di pantai ini kondisinya tidak sehat. Hal ini karena karang tersebut terbuka atau kering saat air laut surut rendah. Ini dapat dilihat pada lapisan karang bagian paling dekat dengan permukaan tampak mati dan kemudian tertutup oleh makroalga dan mikroalga. Kecuali pada bagian yang lebih dalam, kondisi karangnya lebih baik dan beragam. Namun, lapisan terumbu karang dipantai ini tidak panjang dan luas sehingga karang yang terlihat hanya sedikit. Tampak terdapat karang Acropora branching, karang Acropora tumbulate, foliose, mushroom dan karang massif. Selain itu ditemui pula jenis akar bahar dan softcoral namun jumlahnya sangat sedikit.




Bulu babi (Diadema sp.)yang banyak terdapat di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Bulu babi (Diadema sp.)yang banyak terdapat di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


Bulu babi (Diadema sp.)yang banyak terdapat di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Bulu babi (Diadema sp.)yang banyak terdapat di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


Pada ekosistem terumbu karangnya, dijumpai banyak bulu babi (Diadema sp.) dan mahkota berduri(Acanthaster plancii) yang merupakan predator bagi karang. Ini mengindikasikan bahwa terumbu karang di daerah ini dalam kondisiyang tidak sehat dan kurang stabil. Serbuan mahkota berduri dan bulu babi yang tak terkontrol sangat mengancam ekosistem terumbu karang di kawasan pantai ini. Pasalnya, hewan yang mampu hidup selama 3-5 tahun ini menghisap zooxanthella yang merupakan teman hidup hewan karang dan memberi warna karang. Akibatnya, karang menjadi memutih dan lama kelamaan akan mati. Karang yang paling disukai terutama jenis karang meja (Acropora tumbulate). Dampaknya, terjadi keruakan terumbu karang yang imbasnya ke sektor pariwisata, perikanan, serta terganggunya fungsi ekologi karang sebagai pencegah abrasi. Namun melihat jenis-jenis ikan yang dijumpai diekosistem terumbu karang di Pantai Tanjung Tinggi ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa ikan karangnya memiliki keanekaragaman yang tinggi. Kami menemukan banyak jenis ikan karang yang beraneka bentuk, ukuran dan warna. Selain itu ditemui juga Tridacna sp. tapi ukurannya masih kecil dan beberapa jenis gastropoda. Hal ini membuat terumbu karang yang tidak begitu luas ini terasa asyik untuk dinikmati karena banyak biota laut yang dapat kita lihat.




Karang jenis Acropora yang terdapat di kawasan Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Karang jenis Acropora yang terdapat di kawasan Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


Terumbu karang yang terdapat di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Terumbu karang yang terdapat di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


Terumbu Karang yang tertutup mikroalga dan makroalga di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Terumbu Karang yang tertutup mikroalga dan makroalga di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


Terumbu Karang yang tertutup mikroalga dan makroalga di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Terumbu Karang yang tertutup mikroalga dan makroalga di Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung



Posisi Pantai Tanjung Tinggi terletak diantara dua tanjung. Ini membuat pantai ini memiliki gelombang yang tenang karena terlindung dari arah barat dan timur. Namun jika datang arus yang tinggi dari utara, maka gelombang dan arus akan tetap kuat karena tidak ada yang melindungi. Terumbu karang yang dipaparkan diatas adalah terumbu karang yang terdapat di daerah tanjung bagian timur Pantai Tanjung Tinggi. Sedangkan terumbu karang yang terdapat di daerah tanjung bagian barat kondisinya sangat menyedihkan. Hampir seluruh rataan karangnya telah tertutup mikroalga dan makroalga. Jenis makroalga yang mendominasi adalaha Padina dan Sargassum. Diantara rerimbunan makroalga itu menyembul malu-malu karang Acropora tumbulate, namun jumlahnya sangat sedikit dan ukurannya kecil. Jadi, kami sarankan jika anda ingin snorkling menikmati keindahan karang di Pantai Tanjung Tinggi, anda sebaiknya snorkling di seputaran tanjung bagian timur pantai ini.


Terumbu karang yang terdapat di daerah Tanjung sebelah barat Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Terumbu karang yang terdapat di daerah Tanjung sebelah barat Pantai Tanjung Tinggi Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


Pantai-pantai di Pulau Belitung memang sangat indah. sektor wisata bahari akan sangat potensial dikembangkan sebagai langkah optimalisasi potensi nontambang di daerah ini. Selama ini kita sudah terlalu lama dimanja oleh timah. Kini saatnya untuk menjaga dan melestarikan laut kita terutama ekosistem terumbu karang yang memiliki peran ekologis dan ekonomis yang sangat penting. Laut adalah warisan untuk anak cucu, karena darinya dihasilkan sumber makanan yang bergizi tinggi yang akan membentuk generasi penerus yang sehat dan berkualitas.


Penulis & Photographer: Indra Ambalika, S.Pi
Email : indra-ambalika@ubb.ac.id
Jabatan : Kepala Laboratorium Perikanan FPPB - UBB

Foto Menggunakan kamera canon powershot A710 IS 7,1 MP.
Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6


Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Pantai Rebo' Sungailiat Kabupaten Bangka (Rebo' Beach)
Terumbu Karang (Coral Reef) Di Pantai Rebo Sungailiat Kabupaten Bangka provinsi Kepulauan Bangka Belitung



Terumbu karang yang terdapat di daerah Karang Kering Pantai Rebo
Terumbu karang yang terdapat di daerah Karang Kering Pantai Rebo Sungailiat Kabupaten Bangka



Pantai Rebo berjarak hanya sekitar 8 km dari Kota Sungailiat ibukota Kabupaten Bangka Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pantai ini sebenarnya merupakan daerah wisata bahari yang dahulu ingin dikembangkan oleh Pemda Kabupaten Bangka. Sayangnya karena kurang perhatian dan ketegasan wisata bahari di Pantai Rebo hampir luluh lantak dibantai oleh Tambang Inkonvensional (TI) apung dan TI darat. Selain itu pernah pula beroperasi kapal hisap dikawasan ini. Bekas galian, lobang-lobang dan sedimentasi pasir tak beraturan membuat Pantai Rebo tak secantik dulu. Dulu (tahun 1990-an) di kawasan pantai ini dibangun dermaga sebagai tempat menambatkan perahu nelayan dan dibangun pondok-pondok sebagai tempat bersantai dan berteduh sambil menikmati keindahan pantai. Berlatar Bukit Rebo yang hijau, berpasir putih dan air lautnya yang biru jernih, Pantai Rebo menjadi salah satu aset wisata bahari penting di Kabupaten Bangka saat itu.


TI Apung yang terdapat di Pantai Rebo Bangka provinsi Kepulauan Bangka Belitung
TI Apung yang terdapat di Pantai Rebo Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


TI Apung yang terdapat di Pantai Rebo Bangka provinsi Kepulauan Bangka Belitung
TI Apung yang terdapat di Pantai Rebo Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


Kini pondok-pondok itu telah berubah fungsi menjadi tempat tinggal yang tak terawat para pekerja TI yang sebagian besar berasal dari luar Pulau Bangka. Hanya dalam beberapa tahun penambangan timah telah meluluhlantakkan keindahan di pantai ini.
Sekitar 4 km dari bibir pantai tepat di depan Pantai Rebo (arah timur) terdapat kawasan terumbu karang yang sangat cantik. Memang tak semua orang yang mengetahui lokasi ini. Hanya nelayan dan sebagian penduduk setempat saja yang mengetahuinya. Jika menggunakan perahu nelayan, sekitar 20 menit kita telah sampai ke lokasi tersebut. Nelayan setempat menyebutnya ”karang kering”.


Terumbu karang yang terdapat di daerah Karang Kering Pantai Rebo Sungailiat Kabupaten Bangka
Terumbu karang yang terdapat di daerah Karang Kering Pantai Rebo Sungailiat Kabupaten Bangka


Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


Karang jenis Acropora formosa (brown) yang terdapat di kawasan Karang Kering Pantai Rebo Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Karang jenis Acropora formosa (brown) yang terdapat di kawasan Karang Kering Pantai Rebo Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


Karang jenis Montipora aequituberculata yang terdapat di kawasan Karang Kering Pantai Rebo Sungaliat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Karang jenis Montipora aequituberculata yang terdapat di kawasan Karang Kering Pantai Rebo Sungaliat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung




Sama seperti kawasan karang kering yang terdapat di daerah bedukang (pada tulisan sebelumnya) karang di daerah tesebut kering (terlihat) saat air laut rendah dan tertutup saat pasang tinggi. Luasan karangnya sekitar 2 hektar dengan didominasi oleh karang jenis Acropora formosa (brown) yang memiliki tipe pertumbuhan branching dan karang jenis Montipora aequituberculata yang memiliki tipe foliose. Saat pengambilan gambar, kedalaman air laut di daerah karang sekitar 3 meter. Selama penyelaman, tidak ditemui Acanthaster plancii (mahkota berduri) dan Diadema sp (bulu babi), ini mengindikasikan bahwa karang di lokasi ini dalam kondisi sehat. Sayangnya tak ditemui Tridacna sp selama penyelaman yang merupakan biota laut jenis terumbu karang yang dilindungi karena terancam punah. Kawasan terumbu karang di Pantai Rebo termasuk kaya dengan jenis ikan karang seperti Lutjanus sp., Angelfishes, butterflyfishes, Abudefdu vaigiensis, parrotfishes dan Amphiprion. Selain itu ditemukan pula Anemon (softcoral), sponge, gastropoda dan biota laut khas terumbu karang lainnya.


Amphiprion melanopus dan Ocellaris magnifica yang terdapat di kawasan terumbu karang Pantai Rebo Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Amphiprion melanopus dan Ocellaris magnifica yang terdapat di kawasan terumbu karang Pantai Rebo Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


Pengukuran persen tutupan karang hidup dengan menggunakan line transek di kawasan Karang Kering Pantai Rebo Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Pengukuran persen tutupan karang hidup dengan menggunakan line transek di kawasan Karang Kering Pantai Rebo Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


Selain melihat potensi ikan karang, dilakukan pula pengukuran persen tutupan karang hidup menggunakan metode line intercept transect sepanjang 100 meter. Tutupan karang hidup di lokasi ini termasuk dalam kategori sangat baik karena tutupan karangnya lebih dari 75%. Pengambilan data ini dilakukan oleh dosen perikaan FPPB – UBB Aldino akbar, S.Pi. sayangnya, keanekaragaman jenis karangnya termasuk rendah. Bila memang ada keseriusan dari pemerintah daerah, tidak mustahil jika kawasan Pantai Rebo dimasa yang akan datang menjadi kawasan wisata bahari yang potensial.


Tim Ekspedisi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung
Indra Ambalika dan Tim Ekspedisi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung



Penulis & Photographer: Indra Ambalika, S.Pi
Email : indra-ambalika@ubb.ac.id
Jabatan : Kepala Laboratorium Perikanan FPPB - UBB
Anggota TIM ekspedisi : Khoirul Muslih, S.Pi

Foto Menggunakan kamera canon powershot A710 IS 7,1 MP. Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6


Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Karang pantai penyusuk (penyusuk beach)
Ekspedisi Terumbu Karang (Coral Reef) di Pantai Penyusuk Desember 2008



Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung
Featherstar (Oxycomanthus bennetti)



Ibarat seorang gadis, Pantai Penyusuk tak lagi cantik luar dalam. Mengapa begitu? Karena sebagai pantai yang berpasir putih, air yang biru dan jernih, dikelilingi pulau-pulau yang indah serta dihiasi pepohonan yang menghijau. Pantai Penyusuk memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai obyek wisata bahari unggulan Pulau Bangka dimasa yang akan datang.

Namun sayang, Pantai Penyusuk yang cantik itu ternyata tak cantik luar dalam, mengapa tak cantik luar dalam? Secara kasat mata, Pantai Penyusuk memang sangat indah. Setiap orang yang baru datang ke lokasi wisata bahari pasti akan berdecak kagum melihat keindahan pantai yang terdapat di daerah ini. Namun, setelah melakukan penelitian dilokasi ini, maka tim eksplorasi terumbu karang dan pengembangan wisata bahari Universitas Bangka Belitung pun mendapatkan hasil yang cukup mengejutkan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua kelompok nelayan di daerah ini, Pak Adli, didapatkan informasi bahwa kualitas keindahan Pantai Penyusuk jauh berkurang dibandingkan dulu. Dulu perairan disini sangat jernih dan kaya akan biota laut. Ikan, cumi, udang dan rajungan sangat mudah untuk didapatkan oleh nelayan di kawasan Pantai Penyusuk.

Namun sejak beroperasinya beberapa kapal keruk timah dan ditambah lagi dengan hadirnya kapal hisap, perairan Pantai Penyusuk mulai lebih keruh dan membuat terumbu karang di kawasan ini banyak yang mati karena tertutup oleh sediment yang dibawa oleh arus air laut akibat aktivitas penambangan timah di daerah laut sekitar kawasan Pantai Penyusuk. Hal senada juga disampaikan oleh sarifudin yang merupakan penjaga mercusuar di Pulau Lampu yang terdapat dikawasan Pantai Penyusuk. Dulu, dari atas bukit pulau ini, kita dapat melihat warna-warni karang dari bukit ini, namun sekarang yang terlihat hanya warna kecoklatan saja. Mungkin karangnya sudah banyak yang mati. Kata sarifudin.

Inilah yang menyebabkan Pantai Penyusuk tidak dapat dikatakan sebagai kawasan bahari yang cantik luar dalam. Hal ini mengingat bahwa untuk menjadi kawasan wisata bahari yang dapat berkembang dengan baik, maka kawasan wisata tersebut tidak hanya dapat mengandalkan kendahan luarnya, tapi juga keindahan bawah lautnya. mengingat, tujuan utama para wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara (wisman) bukanlah hanya untuk menikmati keindahan suatu wisata bahari yang tampak luar tetapi juga keindahan tampak dalam yaitu keindahan terumbu karang dengan bersnorkling menikmati keindahan terumbu karang atau diving.


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung
Kawasan Pantai Penyusuk (foto diambil dari Pulau Lampu)


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung
Pulau Putri yang menawan di Kepulauan Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung
Pulau Putri yang menawan di Kepulauan Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung
Pulau Putri yang menawan di Kepulauan Bangka Belitung


Kondisi dilapangan memang menunjukkan bahwa Pantai Penyusuk diapit oleh kapal keruk, di sebelah tenggara pantai ini tampak ada empat buah kapal keruk dan dua kapal hisap yang sedang beraktivitas, sedangkan di sebelah utara tampak ada dua kapal keruk. Inilah yang menjadi penyebab utama kekeruhan perairan di Pantai Penyusuk. Karenanya harusnya kegiatan penambangan dilaut jangan sampai merusak ekosistem terumbu karang, karena akan memberangus potensi wisata bahari kepulauan bangka belitung yang merupakan investasi jangka panjang bagi daerah ini. Selain itu terumbu karang yang sehat pun akan manjadi tempat hidup dan berkembang biota laut yang menjadi sumber pencaharian utama bagi nelayan dan sumber makanan bergizi bagi generasi masa depan pulau ini.

Memang tak bijak juga bila potensi yang besar dari kandungan timah yang terdapat disebuah lokasi jika tidak digali. Namun seharusnya, dalam pelaksanaannya, pengambilan potensi tersebut jangan sampai menghancurkan potensi yang lain yang memiliki potensi jangka panjang dan tak kalah pentingnya. Sehingga terciptalah kondisi yang win-win solution. Karenanya, sebelum melakukan penambangan lepas pantai, harus dilakukan pengkajian yang mendalam sehingga tidak akan merusak ekosistem terumbu karang di kawasan tersebut. Mengingat, terumbu karang membutuhkan setidaknya 50 tahun untuk dapat pulih kembali tanpa ada kegiatan pengrusakan lagi dilokasi tersebut.

Terumbu karang di Pantai Penyusuk.


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung
Karang jenis acropora tumbulate (meja) yang banyak ditemukan di daerah tubir Pantai Penusuk Bangka


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung
Salahsatu softcoral yang terdapat di Pantai Penyusuk Bangka


Melihat kondisinya yang tediri dari beberapa pulau kecil dan perairan yang dangkal dapat diprediksi bahwa kawasan ini adalah daerah yang sangat mendukung untuk habitat ekosistem terumbu karang. Apalagi kondisi perairannya yang cukup terlindung sehingga sehingga memiliki keanekaragaman jenis karag yang cukup tinggi. Namun karena pengaruh dari kegiatan penambangan timah oleh kapal keruk dan kapal hisap yang berada tak jauh dari lokasi wisata bahari ini, sedikit banyak telah memberikan pengaruh terhadap kondisi ekosistem terumbu karang di kawasan Pantai Penyusuk.

Berdasarkan hasil pemantauan dengan snorkeling dan diving melihat kondisi karang di daerah ini, karang yang tersisa dengan kondisi yang cukup baik hanya terdapat didaerah tubir yaitu daerah antara perairan dangkal dan dalam yang berpasir. Lebar lapisan tubir hanya sekitar 3 – 5 meter. Sedangkan daerah rataan karang yang cukup luas dan lebar karangnya mati tertutup oleh sediment dan beberapa ditumbhi oleh alga. Beberapa tempat didaerah rataan terumbu ditemui mulai ditumbuhi karang diantara hamparan karang yang mati. Namun kondisinya sangat merana dan banyak ditemui Diadema sp (bulu babi).
Dari ketiga pulau besar yang terdapat di kawasan Pantai Penyusuk, pulau yang terdapat diantara Pulau Putri dan Pulau Lampu adalah pulau yang memiliki kondisi terumbu karang yang paling luas dan kondisinya lebih baik. Di pulau ini pula ditemukan Tricacna sp yang tergolong biota dilindungi. Hal ini diestimasikan karena pulau ini lebih terlindung (terlindung bagian utara dan selatan oleh Pulau Putri dan Pulau Lampu) dan daerah yang hidupnya lebih luas karena memang luasan karangnya lebih luas dibandingkan pulau lain. ini karena kondisi substratnya sesuai untuk tempat hidup terumbu karang.


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung
Kerusakan karang di daerah rataan terumbu karang di Pantai Penyusuk


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung
Kerusakan karang di daerah rataan terumbu karang di Pantai Penyusuk


Berdasarkan pantauan, dapat kita lihat bahwa terdapat banyak karang acropora, karang massif, karang mushroom (Fungia repanda), karang foliose (Montipora aequituberculata), akar bahar, karang api dan ditemui juga beberapa jenis softcoral. Anehnya, tipe karang acropora yang banyak ditemukan adalah tipe karang acropora meja (Acropora tabulate) sedangkan karang jenis acropora bercabang (Acropora branching) seperti di daerah terumbu karang lain di Pulau Bangka sangat jarang ditemukan. Hal ini menandakan bahwa pecahan ombak di kawasan ini sangat sedikit. Acropora branching ditemukan di karang pulau putrid namun sangat sedikit dan kondisinya kurang baik. Acropora branching sebenanrnay banyak ditemukan di karang Pulau Lampu. Ini mungkin karena pulau inilah yang merupakan pulau terluar dari ketiga pulau yang berhubungan langsung dengan laut cina selatan. Tapi kondisi karang Acropora branching di pulau ini sangat mengenaskan. Karangnya hampir 100% telah mati tertutup sediment dan patah-patah tak beraturan.


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung
Karang Acropora di Pulau Putri


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung
Karang Acropora di Pulau Putri


Biota ikan karang yang ditemukan cukup banyak, mulai dari jenis kerapu, Lutjanus sp, Angelfishes, butterflyfishes, Abudefdu vaigiensis, parrotfishes, dan Amphiprion. dengan dijadikan sebagai daerah perlindungan laut yang merupakan daerah larang ambil, sebenarnya kondisi karang dan keanekaragaman biota karang di kawasan Pantai Penyusuk akan kembali cantik bila memang pengawasannya juga dudukung oleh semua pihak. Dengan menerapkan model daerah perlindungan laut berbasis masyarakat (DPL-BM), terbukti di beberapa daerah di Indonesia seperti bali, kondisi ekosistem terumbu karangnya dapat terjaga dengan baik. Mengapa tidak dengan Pantai Penyusuk?? Harapan itu selalu ada.


Penulis & Photographer: Indra Ambalika, S.Pi, Email : indra-ambalika@ubb.ac.id
Jabatan : Kepala Laboratorium Perikanan FPPB - UBB
Anggota TIM ekspedisi : Khoirul Muslih, S.Pi

Foto Menggunakan kamera canon powershot A710 IS 7,1 MP.
Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6


Catagory : Foto dan Artikel
Lokasi : Batu Putih
Pengukuran Tinggi Karang Acropora Formosa (Brown) di Karang Batu Putih Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Pertumbuhan tinggi karang rata-rata dalam satu tahu sangat lambat, rata-rata hanya sekitar 3 cm pertahun. Namun pertumbuhan pada karang acropora dengan tipe branching (CB) lebih cepat pertumbuhannya. Sebaliknya, pada karang massive (CM), laju pertumbuhan karang lebih kecil.


Pengukuran Tinggi Karang Acropora Formosa (Brown) di Karang Batu Putih Kabupaten Bangka


Pengukuran Tinggi Karang Acropora Formosa (Brown) di Karang Batu Putih Kabupaten Bangka
Pemasangan tanda nomor pada karang yang akan dihitung pada
pengukuran karang branching Acropora formosa (brown) di karang batu putih sungailiat bangka

Pengukuran Tinggi Karang Acropora Formosa (Brown) di Karang Batu Putih Kabupaten Bangka


Pengukuran Tinggi Karang Acropora Formosa (Brown) di Karang Batu Putih Kabupaten Bangka




Hingga tulisan ini dibuat, belum kami jumpai data yang jelas mengenai seberapa besar laju pertumbuhan tinggi karang di Pulau Bangka. Karenaya, Laboratorium Perikanan FPPB-UBB melaksanakan kegiatan pengukuran tinggi karang di daerah Karang Batu Putih Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 16 Oktober 2008 dengan kondisi perairan yang cukup bergelombang. Penelitian ini tetap dilaksanakan mengingat biasanya mulai dari bulan oktober hingga februri, Perairan Pulau Bangka merupakan masa musim barat dimana perairan yang keruh dan gelombang yang besar. Jenis karang yang diukur adalah karang tipe branching (CB) Acropora formosa (brown).


Pengukuran Tinggi Karang Acropora Formosa (Brown) di Karang Batu Putih Kabupaten Bangka


Pengukuran Tinggi Karang Acropora Formosa (Brown) di Karang Batu Putih Kabupaten Bangka




Alasan dipilih dari jenis karang cabang karena pertumbuhan karang jenis ini lebih cepat daripada jenis karang lainnya. Sehingga dalam satu tahun ke depan, laju pertumbuhannya dapat dilihat dalam perubahan tinggi yang relative lebih baik. Selain itu, dibeberapa lokasi terumbu karang di Pulau Bangka yang telah kami kunjungi, Acropora formosa selalu ada meskipun kepadatannya berfariasi. Hal ini menunjukkan bahwa Acropora formosa merupakan jenis karang yang umum terdapat di Pulau Bangka. Karenanya, karang jenis ini sangat ideal untuk dijadikan sebagai bahan untuk transplantasi karang pada program rehabilitasi karang di Pulau Bangka dimasa mendatang.


Pengukuran Tinggi Karang Acropora Formosa (Brown) di Karang Batu Putih Kabupaten Bangka


Pengukuran Tinggi Karang Acropora Formosa (Brown) di Karang Batu Putih Kabupaten Bangka
karang A formosa yang telah dipasang tanda nomor, selanjutnya akan dihitung kembali pada tahun berikutnya

Pengukuran Tinggi Karang Acropora Formosa (Brown) di Karang Batu Putih Kabupaten Bangka




Penelitian dilakukan sebanyak 15 titik dengan diberi nomor urut yang terbuat dari bahan plastik dan diikatkan pada cabang karang yang diukur. Pengukuran dilakukan dengan cara mengukur tinggi karang tegak lurus mulai dari substrat karang hingga cabang tertinggi dari karang. Adapun alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah : penanda titik penelitian, tali pengikat, camera underwater, penggaris stainlessteel, alat tulis dan perlengkapan snorkeling. Pengukuran dilaksanakan pada kedalaman perairan 2 – 3 meter. Tinggi cabang karang yang di ukur rata-rata 20 – 30 cm. Penelitian ini turut dibantu oleh 2 (dua) orang asisten dari mahasiswa perikanan UBB yaitu Hadi Sodikin dan Hanafi.

Pengukuran ulang akan dilaksanakan lagi pada bulan april 2009 setelah musim barat dan pada bulan oktober 2009. Dengan demikian, diharapkan laju pertumbuhan rata-rata tinggi karang branching (CB) Acropora formosa (brown) per tahun di perairan ini dapat dilihat dengan cukup baik.


Pengukuran Tinggi Karang Acropora Formosa (Brown) di Karang Batu Putih Kabupaten Bangka
karang A formosa yang telah dipasang tanda nomor, selanjutnya akan dihitung kembali pada tahun berikutnya

Pengukuran Tinggi Karang Acropora Formosa (Brown) di Karang Batu Putih Kabupaten Bangka
karang A formosa yang telah dipasang tanda nomor, selanjutnya akan dihitung kembali pada tahun berikutnya

Pengukuran Tinggi Karang Acropora Formosa (Brown) di Karang Batu Putih Kabupaten Bangka


karang A formosa yang telah dipasang tanda nomor, selanjutnya akan dihitung kembali pada tahun berikutnya
karang A formosa yang telah dipasang tanda nomor, selanjutnya akan dihitung kembali pada tahun berikutnya



By : Indra Ambalika, S.Pi
Kepala Laboratorium Perikanan FPPB UBB

Email : indra-ambalika@ubb.ac.id


Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Karang Karang Pantai penyusuk (penyusuk beach) Bangka
Cantiknya Terumbu Karang (Coral Reef) Pantai Penyusuk yang Sakit
Pantai Penyusuk memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai obyek wisata bahari unggulan Pulau Bangka dimasa yang akan datang.


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung



Namun sayang, Pantai Penyusuk yang cantik itu ternyata tak cantik luar dalam, mengapa tak cantik luar dalam? Secara kasat mata, Pantai Penyusuk memang sangat indah. Setiap orang yang baru datang ke lokasi wisata bahari pasti akan berdecak kagum melihat keindahan pantai yang terdapat di daerah ini. Namun, setelah melakukan penelitian dilokasi ini, maka tim eksplorasi terumbu karang dan pengembangan wisata bahari Universitas Bangka Belitung pun mendapatkan hasil yang cukup mengejutkan.


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung



Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua kelompok nelayan di daerah ini, Pak Adli, didapatkan informasi bahwa kualitas keindahan Pantai Penyusuk jauh berkurang dibandingkan dulu. Dulu perairan disini sangat jernih dan kaya akan biota laut. Ikan, cumi, udang dan rajungan sangat mudah untuk didapatkan oleh nelayan di kawasan pantai penyusuk.


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Namun sejak beroperasinya beberapa kapal keruk timah dan ditambah lagi dengan hadirnya kapal hisap, perairan Pantai Penyusuk mulai lebih keruh dan membuat terumbu karang di kawasan ini banyak yang mati karena tertutup oleh sediment yang dibawa oleh arus air laut akibat aktivitas penambangan timah di daerah laut sekitar kawasan pantai penyusuk. Hal senada juga disampaikan oleh sarifudin yang merupakan penjaga mercusuar di pulau lampu yang terdapat dikawasan pantai penyusuk. Dulu, dari atas bukit pulau ini, kita dapat melihat warna-warni karang dari bukit ini, namun sekarang yang terlihat hanya warna kecoklatan saja. Mungkin karangnya sudah banyak yang mati. Kata sarifudin.


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung




Inilah yang menyebabkan Pantai Penyusuk tidak dapat dikatakan sebagai kawasan bahari yang cantik luar dalam. Hal ini mengingat bahwa untuk menjadi kawasan wisata bahari yang dapat berkembang dengan baik, maka kawasan wisata tersebut tidak hanya dapat mengandalkan kendahan luarnya, tapi juga keindahan bawah lautnya. mengingat, tujuan utama para wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara (wisman) bukanlah hanya untuk menikmati keindahan suatu wisata bahari yang tampak luar tetapi juga keindahan tampak dalam yaitu keindahan terumbu karang dengan bersnorkling menikmati keindahan terumbu karang atau diving.


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung




Kondisi dilapangan memang menunjukkan bahwa Pantai Penyusuk di apit oleh kapal keruk, di sebelah tenggara pantai ini tampak ada empat buah kapal keruk dan dua kapal hisap yang sedang beraktivitas, sedangkan di sebelah utara tampak ada dua kapal keruk. Inilah yang menjadi penyebab utama kekeruhan perairan di pantai penyusuk. Karenanya harusnya kegiatan penambangan dilaut jangan sampai merusak ekosistem terumbu karang, karena akan memberangus potensi wisata bahari kepulauan bangka belitung yang merupakan investasi jangka panjang bagi daerah ini. Selain itu terumbu karang yang sehat pun akan manjadi tempat hidup dan berkembang biota laut yang menjadi sumber pencaharian utama bagi nelayan dan sumber makanan bergizi bagi generasi masa depan pulau ini.


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung




Memang tak bijak juga bila potensi yang besar dari kandungan timah yang terdapat disebuah lokasi jika tidak digali. Namun seharusnya, dalam pelaksanaannya, pengambilan potensi tersebut jangan sampai menghancurkan potensi yang lain yang memiliki potensi jangka panjang dan tak kalah pentingnya. Sehingga terciptalah kondisi yang win-win solution. Karenanya, sebelum melakukan penambangan lepas pantai, harus dilakukan pengkajian yang mendalam sehingga tidak akan merusak ekosistem terumbu karang di kawasan tersebut. Mengingat, terumbu karang membutuhkan setidaknya 50 tahun untuk dapat pulih kembali tanpa ada kegiatan pengrusakan lagi dilokasi tersebut.


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung


Terumbu Karang di Pantai Penyusuk Bangka Belitung




Ibarat seorang gadis, Pantai Penyusuk tak lagi cantik luar dalam. Mengapa begitu? Karena sebagai pantai yang berpasir putih, air yang biru dan jernih, dikelilingi pulau-pulau yang indah serta dihiasi pepohonan yang menghijau. Sayang jika tidak dijaga dan dilestarikan, sungguh sebuah aset yang sangat besar dan berharga untuk disia-siakan begitu saja ...

By : Indra Ambalika, S.Pi
Kepala Laboratorium Perikanan FPPB UBB

Email : indra-ambalika@ubb.ac.id


Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Pantai Teluk Limau Sungailiat Kabupaten Bangka
Terumbu Karang (Coral Reef) di Pantai Teluk Limau Sungailiat Bangka Belitung
Pantai Teluk Limau Sungailiat merupakan kawasan pantai yang memiliki ekosistem terumbu karang yang cukup baik. Terletak pada 01' 48"03"'ť LS dan 106' 07" 26"'. berjarak sekitar 9,5 km dari kota sungailiat. Tepat berada setelah pantai parai beach hotel dan sebelum Pantai Matras sungailiat.


Terumbu Karang di Pantai Teluk Limau Sungailiat Bangka Belitung
Ikan badut (Amphiprion sp.) yang sedang bermain di anemone Ocellaris sp. di terumbu karang Pantai Teluk Limau


Terumbu Karang di Pantai Teluk Limau Sungailiat Bangka Belitung
Lokasi Terumbu Karang di Pantai Teluk Limau Sungailiat Bangka Belitung



Terumbu karang di kawasan pantai ini tergolong jenis karang tepi karena karang hanya berada di daerah tepi pantai. Panjang rataan terumbu hanya sekitar 20 meter menuju laut. Karena topografinya yang cenderung berbatu, kedalamannya sangat bervariasi. Namun secara rata-rata, kedalamannya sekitar 2,5 meter. Karang dikawasan Pantai Teluk Limau cenderung berkelompok. Menurut hasil penelitian Umroh dan Indra, 2007, karang di Pantai Teluk Limau didominasi oleh jenis karang Acropora solitaryensis dan Goniastrea retiformis dengan tutupan karang sekitar 73% yang tergolong baik. Pengambilan data ini dilakukan di daerah karang dengan mengunakan metode transek garis (line transect method).


Terumbu Karang di Pantai Teluk Limau Sungailiat Bangka Belitung
Ikan badut (Amphiprion sp.) yang sedang bermain di anemone Ocellaris sp. di terumbu karang Pantai Teluk Limau


Terumbu Karang di Pantai Teluk Limau Sungailiat Bangka Belitung
Kerang Besar di terumbu karang Pantai Teluk Limau



Biota laut di daerah ini masih sangat baik meskipun banyak terdapat nelayan yang melakukan kegiaan penangkapan ikan dikawasan pantai ini. Hingga saat ini belum menunjukkan dampak kerusakan yang berarti bagi ekosistem terumbu karang di Pantai Teluk Limau. Contoh biota khasnya seperti Tridacna squamosa yang merupakan biota laut yang dilindungi karena terancam kepunahan, Amphiprion sp, Ocellaris magnifica dan berbagai macam softcoral dan hardcoral lainnya. Berbagai jenis ikan hias karang dan gastropoda. Biota karang di pantai ini cukup bervariasi. Sebagai tempat untuk snorkling, Pantai Teluk Limau merupakan daerah yang cukup baik. Mengingat letaknya yang tidak jauh dari Kota Sungailiat dan merupakan tipe karang tepi (barrier reef).
Kawasan sekitar Pantai Teluk Limau ini merupakan tempat pangkalan bagi perahu-perahu nelayan yang berasal dari Kampung Matras Sungailiat Bangka.


Terumbu Karang di Pantai Teluk Limau Sungailiat Bangka Belitung
Pemandangan Bawah Laut yang Indah di terumbu karang Pantai Teluk Limau


Terumbu Karang di Pantai Teluk Limau Sungailiat Bangka Belitung
Pemandangan Bawah Laut yang Indah di terumbu karang Pantai Teluk Limau



Pemberdayaan nelayan agar lebih peduli terhadap kondisi terumbu karang dikawasan pantai ini sehingga merekalah yang akan menjaga dan memelihara terumbu karang Pantai Teluk Limau merupakan solusi terbaik dalam menyelamatkan ekosistem terumbu karang di Pulau Bangka yang kalah pamornya dibandingkandengan hasil yang didapat dari TI Apung yang memberikan hasil yang lebih menggiurkan bagi masyarakat kita saat ini. Sayangnya, dampak dari kegiatan penambangan TI Apung disekitar kawasan terumbu karang ini sebenarnya memberikan kerugian tidak langsung yang sangat besar yang akan dirasakan dan ditanggung oleh generasi nanti sekitar 10 hingga 30 tahun ke depan. Hal ini dikarenakan terumbu karang yang rusak akibat penutupan sedimen baru dapat kembali pulih pada jangka waktu tersebut.

By : Indra Ambalika, S.Pi
Kepala Laboratorium Perikanan FPPB UBB

Email : indra-ambalika@ubb.ac.id


Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Karang Tungau Simpanggong Bangka Barat
Nuansa Terumbu Karang (Coral Reef) Menawan di Karang Sebidang Kampung Tungau, Simpanggong Bangka Barat
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Kampung Tungau merupakan kampung nelayan yang terdapat di Kecamatan Simpanggong Kabupaten Bangka Barat. Kampung ini hanya terdiri dari 22 kepala keluarga (April 2008). Terletak pada 01' 52'' 04'' LS dan 105' 17" 18"' BT, berjarak sekitar 90,5 km dari Kota Sungailiat.


Nuansa Terumbu Karang yang Menawan di Karang Sebidang Kampung Tungau Bangka Belitung
Nuansa Terumbu Karang yang Menawan di Karang Sebidang Kampung Tungau Bangka Belitung



Kawasan ini telah dikembangkan oleh Kabupaten Bangka Barat sebagai kawasan wisata bahari yang cukup baik. Mulai dari perbaikan jalan, pembangunan rumah pendududk dan fasilitas penunjang wisata lainnya. Tempat ini cukup ramai dikunjungi oleh masyarakat saat akhir pekan. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari media massa dan informasi dari masyarakat setempat bahwa pantai di kawasan ini memiliki ekosistem terumbu karang.
Ekosistem terumbu karang di Kampung Tungau ternyata harus ditempuh dengan menggunkan perahu karena bukan termasuk jeis karang tepi (barrier reef).


Nuansa Terumbu Karang yang Menawan di Karang Sebidang Kampung Tungau Bangka Belitung
Nuansa Terumbu Karang yang Menawan di Karang Sebidang Kampung Tungau Bangka Belitung




Ekosistem terumbu karang ini disebut "Karang Sebidang" oleh penduduk setempat. Berjarak sekitar 2 km dari lokasi pantai Kampung Tungau. Luasan karang merawak sekitar 800 m2 dengan kondisi tutupan yang tergolong rendah (25 -50%). Tampak jelas bahwa karang di lokasi ini tertutup oleh sediment halus sehingga banyak yang mati dan merana. Selain itu banyak juga terdapat biota Diadema sp (bulu babi).


Nuansa Terumbu Karang yang Menawan di Karang Sebidang Kampung Tungau Bangka Belitung
Nuansa Terumbu Karang yang Menawan di Karang Sebidang Kampung Tungau Bangka Belitung




Ini menandakan bahwa ekosistem terumbu karang didaerah ini dalam kondisi sakit. Padahal di daerah ini tidak terdapat TI Apung. Karenanya, kami mengestimasikan bahwa hal ini disebabkan oleh kegiatan TI Darat yang banyak terdapat disekitar daerah ini yang dialiri melalui sungai. Hal ini mungkin saja terjadi karena di Kampung Tungau terdapat 2 (dua) sungai yang mengalir dan besar kemungkinan telah dicemari oleh aktivitas TI Darat yang menyebabkan kekruhan yang tinggi dan akhirnya bermuara di pantai Kampung Tungau.


Nuansa Terumbu Karang yang Menawan di Karang Sebidang Kampung Tungau Bangka Belitung
Para Crew/anggota tim Ekspediasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung di Karang Sebidang Kampung Tungau Bangka Belitung




Selain itu, besarnya arus dan gelombang yang tinggi saat musim barat sebelumnya.
Ekosistem terumbu karang di Karang Sebidang cukup banyak ditemui jenis karang Melithaea sp. dan jenis akar bahar. Ditemui beberapa jenis ikan karang dan Holothuria sp (teripang).

By : Indra Ambalika, S.Pi
Kepala Laboratorium Perikanan FPPB UBB

Email : indra-ambalika@ubb.ac.id


Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Karang Pulau Semujur Kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah
Eksotisme Terumbu Karang (Coral Reef) di Pulau Semujur Kepulauan Bangka Belitung
Pulau Semujur terdapat di Kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah. Untuk mencapai pulau ini biasanya dengan melakukan penyeberangan dari Pantai Tanjung Gunung atau dapat pula dari Desa Kurau.


Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung
Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung



Pulau Semujur terletak bersebelahan dengan Pulau Panjang. Namun, berbeda dengan Pulau Semujur yang cukup banyak dihuni oleh penduduk, Pulau Panjang merupakan pulau yang tidak dihuni oleh masyarakat. Ada sekitar 20 pondok yang terdapat di Pulau Semujur yang dihuni oleh masyarakat mayoritas bugis yang berasal dari Desa Tanjung Gunung.


Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung
Pemandangan disekitar Pulau Semujur Bangka Belitung


Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung
Nelayan yang biasa mencari ikan di sekitar Pulau Semujur Bangka Belitung



Masyarakat di daerah ini menangkap ikan dengan menggunkan perangkap (bubu). Ikan hasil tangkapannya adalah ikan karang. Hal ini wajar saja, karena kawasan pulau ini di kelilingi oleh ekosistem terumbu karang.


Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung
Eksotisme Keindahan Pemandangan Terumbu Karang di sekitar Pulau Semujur Bangka Belitung yang Menawan


Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung
Eksotisme Keindahan Pemandangan Terumbu Karang di sekitar Pulau Semujur Bangka Belitung yang Menawan


Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung
Eksotisme Keindahan Pemandangan Terumbu Karang di sekitar Pulau Semujur Bangka Belitung yang Menawan



Selain ekosistem terumbu karang, dibagian selatan pulau ini ditemui pula ekosistem lamun (seagrass) yang didominasi oleh jenis Thalassia sp. Ekosistem terumbu karang di Pulau Semujur dapat disimpulkan dalam kondisi yang cukup baik (50 -85%).


Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung
Eksotisme Keindahan Pemandangan Terumbu Karang di sekitar Pulau Semujur Bangka Belitung yang Menawan


Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung
Eksotisme Keindahan Pemandangan Terumbu Karang di sekitar Pulau Semujur Bangka Belitung yang Menawan


Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung
Eksotisme Keindahan Pemandangan Terumbu Karang di sekitar Pulau Semujur Bangka Belitung yang Menawan



Selama pengamatan, kami tidak menjumpai karang yang rusak parah akibat kegiatan manusia. Ini membuktikan bahwa masyarakat Pulau Semujur memanfaatkan ekosistem terumbbu karang dengan arif. Ikan karang, tridacna dan biota karang khas lainnya banyak ditemui di ekosistem terumbu karang Pulau Semujur.


Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung
Eksotisme Keindahan Pemandangan Terumbu Karang di sekitar Pulau Semujur Bangka Belitung yang Menawan


Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung
Eksotisme Keindahan Pemandangan Terumbu Karang di sekitar Pulau Semujur Bangka Belitung yang Menawan


Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung
Eksotisme Keindahan Pemandangan Terumbu Karang di sekitar Pulau Semujur Bangka Belitung yang Menawan



Karang tepi di Pulau Semujur relatif tipis, namun memanjang mengelilingi pulau. Ekosistem terumbu karang yang terdapat antara Pulau Semujur dan Pulau Panjang sangat menakjubkan. Karang terlihat sangat asri, memiki keanekaragaman jenis karang yang tinggi dan kaya akan biota. Berjarak sekitar 600 meter dari tepi pantai Pulau Semujur. Tempat ini merupakan tempat yang sangat cocok untuk dijadikan lokasi snorkling.


Eksotisme Terumbu Karang di Pulau Semujur Bangka Belitung
Eksotisme Keindahan Pemandangan Terumbu Karang di sekitar Pulau Semujur Bangka Belitung yang Menawan




By : Indra Ambalika, S.Pi
Kepala Laboratorium Perikanan FPPB UBB

Email : indra-ambalika@ubb.ac.id


Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Karang Batu Putih Sungailiat Kabupaten Bangka
Terumbu Karang (Coral Reef) Batu putih Sungailiat Bangka Belitung
Batu putih merupakan sebutan untuk sebuah batu besar yang berada di depan Pantai Tanjung Kelayang (sebelum Pantai Matras) dan setelah Pantai Teluk Limau. Untuk mencapai lokasi ini kita harus menyeberang dari tepi pantai sejauh 300 meter.


Terumbu Karang Batu putih Sungailiat Bangka Belitung



Terumbu Karang Batu putih Sungailiat Bangka Belitung




Dapat ditempuh dengan berenang ataupun dengan menyewa perahu nelayan. Luasan karangnya sekitar 600 m2, dengan kondisi karang yang relatif lebih baik dibandingkan di Pantai Teluk Limau. Hal ini diduga karena tidak bersentuhan langsung dengan tepi pantai sehingga sangat jarang di ganggu oleh tangan-tangan jahil manusia.


Terumbu Karang Batu putih Sungailiat Bangka Belitung



Terumbu Karang Batu putih Sungailiat Bangka Belitung





Biota karangnya pun jauh lebih banyak dan beragam. Sayangnya, selama melakukan pengamatan, tidak ditemukan Tridacna sp. yang berstatus dilindungi. Ikan-ikan khas terumbu karang sangat banyak. Jika kita melakukan snorkling di kawasan ini maka kita akan dimanjakan oleh ikan-ikan karang yang beraneka ragam. Karang jenis Acropora pun tumbuh dengan sangat baik dan beraneka warna.


Terumbu Karang Batu putih Sungailiat Bangka Belitung



Terumbu Karang Batu putih Sungailiat Bangka Belitung





Sayangnya, terumbu karang dikawasan ini tidak cukup luas. Karang hanya tumbuh disekitar bebatuan dan setelah substratnya tidak sesuai, kita hanya menemukan hamparan pasir. Karang di daerah ini ditemukan rusak akibat kondisi alam yang kurang mendukung seperti gelombang yang kuat dan perairan yang keruh. Apalagi tidak jauh dari Pantai Matras terdapat TI Apung yang jumlahnya cukup banyak dan beroperasi tidak jauh dari lokasi terumbu karang.


Terumbu Karang Batu putih Sungailiat Bangka Belitung



Terumbu Karang Batu putih Sungailiat Bangka Belitung



Terumbu Karang Batu putih Sungailiat Bangka Belitung




By : Indra Ambalika, S.Pi
Kepala Laboratorium Perikanan FPPB UBB

Email : indra-ambalika@ubb.ac.id


Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Karang Ketawai Kabupaten Bangka Tengah
Foto-foto Terumbu Karang (Coral Reef) Pulau Ketawai di Perairan Bangka Belitung Indonesia
Pulau Ketawai merupakan salah satu pulau yang terdapat di Kabupaten Bangka Tengah. terdapat beberapa pulau yang letaknya tidakberjauhan dengan pulau ketawai, antara lain : Pulau Semujur, Pulau Panjang, Pulau Gusung Asam dan Pulau Pebuar.


Foto-foto Pulau Ketawai di Perairan Bangka Belitung Indonesia


Foto-foto Pulau Ketawai di Perairan Bangka Belitung Indonesia


Foto-foto Pulau Ketawai di Perairan Bangka Belitung Indonesia



Pulau Ketawai terletak pada posisi geogafis 02º 16’ 04” LS dan 106º 19’ 31” BT berjarak 49,51 km dari Kota Sungailiat atau sekitar 18 km dari Kota Pangkalpinang.. Untuk mencapai pulau ini, kita dapat melewati penyeberangan dari Ketapang Pelabuhan Pangkal Balam atau dari Desa Kurau Kabupaten Bangka Tengah. namun, penyeberangan melalui Desa Kurau lebih umum digunakan untuk menuJu Pulau Ketawai. Pulau Ketawai didominasi oleh pohon kelapa yang memang sengaja ditanam.
Ekosistem pesisir di Pulau Ketawai terdiri dai ekosistem padang lamun (seagrass bed) danekosistem terumbu karang (coral reef). Sebelah timur pulau, didominasi oleh ekosistem padang lamun yang cukup luas dan merata. Ekosistem padang lamun di Pulau Ketawai didominasi oleh lamun jenis Thalassia hemprichii dan ditemui pula jenis Halodule uninevis. Selain itu ditemukan pula beberapa jenis makro alga.


Foto-foto Pulau Ketawai di Perairan Bangka Belitung Indonesia


Foto-foto Pulau Ketawai di Perairan Bangka Belitung Indonesia


Foto-foto Pulau Ketawai di Perairan Bangka Belitung Indonesia



Ekosistem terumbu karang terdapat di sebelah barat pulau. Terumbu karangnya berbentuk memanjang namun tipis. Melihat kondisi terumbu karangnya, dapat disimpulkan bahwa terumbu karang di sekitar Pulau Ketawai dalam kondisi kurang sehat dan tertekan. Memang saat dilakukan snorkling banyak ditemui berbagai jenis ikan khas terumbu karang dan juga beberapa Tridacna sp. yang masih kecil. Namun, terumbu karang di daerah ini banyak terdapat bulu babi (Diadema sp.) yang merupakan indikator kondisi karang yang kurang sehat. Selain itu, banyak karang yang tertutup oleh makro alga. Hal ini menggambarkan bahwa ekosistem terumbu karang di Pulau Ketawai dalam keadaan tertekan.


Foto-foto Pulau Ketawai di Perairan Bangka Belitung Indonesia


Foto-foto Pulau Ketawai di Perairan Bangka Belitung Indonesia



By : Indra Ambalika, S.Pi
Kepala Laboratorium Perikanan FPPB UBB

Email : indra-ambalika@ubb.ac.id


Catagory : Foto dan Artikel Terumbu Karang (Coral Reef)
Lokasi : Karang Kering Sungailiat Kabupaten Bangka
Foto-foto Terumbu Karang (Coral Reef) Kering di Perairan Sungailiat Bangka Belitung Indonesia
Disebut Karang Kering karena rataan karang ini hanya tampak saat air laut surut terendah dan akan tertutup saat air laut pasang. Berjarak kurang lebih 10,9 km dari Pantai Parai Beach Hotel Sungailiat.




Persiapan Tim Explorasi terumbu karang Universitas Bangka Belitung sebelum penyelaman dan penelitian di dalam laut di karang kering Sungailiat
Persiapan Tim Explorasi terumbu karang Universitas Bangka Belitung sebelum penyelaman dan penelitian di dalam laut di karang kering Sungailiat



Kawasan Karang Kering terletak bersebelahan dengan Pulau Simbang yang dapat kita lihat dari Pantai Matras Sungailiat. Pulaunya tampak berwarna hijau tua berada sebelah timur laut dari Pantai Matras. Disebut Pulau Simbang karena merupakan tempat sekawanan Burung Simbang melakukan migrasi harian saar sore hari di pulau ini untuk istirahat hingga esok paginya.


Terumbu karang sebelah barat Karang Kering, tampak ikan ekor kuning, Tridacna (Kerang raksasa) dan Diadema (Bulu babi)
Terumbu karang sebelah barat Karang Kering, tampak ikan ekor kuning, Tridacna (Kerang raksasa) dan Diadema (Bulu babi)


Terumbu karang sebelah barat Karang Kering, tampak ikan ekor kuning, Tridacna (Kerang raksasa) dan Diadema (Bulu babi)
Terumbu karang sebelah barat Karang Kering, tampak ikan ekor kuning, Tridacna (Kerang raksasa) dan Diadema (Bulu babi)



Rataan terumbu karang dikawasan ini cukup luas, sekitar 2,5 ha. Disebelah timur kita akan melihat rataan karang branching jenis Acropora yang beranekaragam. Sangat luas dan membentang seluas mata memandang. Di daerah yang agak dalam baru akan kita temui jenis karang lain. Didaerah ini banyak sekali terdapat ikan Amphiprion yang sering disebut ikan badut dengan anemonnya Ocellaris sp. Disebelah barat (menghadap kearah daratan), karangnya sangat bervariasi namun kondisi tutupannya lebih rendah dibandingkan dengan disebelah timur. Karang disebelah barat pun ditemukan banyak terdapat Diadema sp. (bulu babi) ataupun lebih dikenal dengan sebutan lokal ”janek”.


Terumbu karang sebelah barat Karang Kering, Pengamatan saat melihat kondisi karang di Karang Kering
Terumbu karang sebelah barat Karang Kering, Pengamatan saat melihat kondisi karang di Karang Kering



Banyaknya bulu babi ini menandakan bahwa terumbu karang didaerah ini dalam kondisi karangnya kurang sehat. Perairan disebelah barat pun lebih keruh jika dibanding dengan sebelah timur. Namun biota karangnya lebih bervariasi,hal ini mungkin pasokan pakan lebih banyak tersedia. Dikawasan terumbu karang ini ditemukan berbagai jenis ikan karang khas ekosistem terumbu karang, softcoral, bintang laut (archaster), Tridacna dan berbagai jenis Gastropoda.


Terumbu karang sebelah barat Karang Kering, tampak ikan ekor kuning, Tridacna (Kerang raksasa) dan Diadema (Bulu babi)
Terumbu karang sebelah timur Karang Kering, didominasi oleh jenis karang branching


Terumbu karang sebelah timur Karang Kering, didominasi oleh jenis karang branching
Terumbu karang sebelah timur Karang Kering, didominasi oleh jenis karang branching


Terumbu karang sebelah timur Karang Kering, didominasi oleh jenis karang branching
Terumbu karang sebelah timur Karang Kering, didominasi oleh jenis karang branching


Terumbu karang sebelah timur Karang Kering, didominasi oleh jenis karang branching
Terumbu karang sebelah timur Karang Kering, didominasi oleh jenis karang branching



Untuk saat ini, dapat disimpulkan bahwa terumbu karang terbaik dan terluas yang kami temukan di Kecamatan Sungailiat terdapat dikawasan Karang Kering. Semoga saja karang di lokasi ini dapat terus bertahan hidup dan indah belum terjamah oleh kegiatan penambangan yang hanya memikirkan keuntungan sesaat. Mengingat terumbu karang merupakan stok pangan bagi manusia karena merupakan tempat hidup bagi biota laut yang kaya akan protein yang sangat penting dalam membentuk generasi penerus Pulau Bangka yang berkualitas.


Terumbu karang sebelah barat Karang Kering, tampak ikan ekor kuning, Tridacna (Kerang raksasa) dan Diadema (Bulu babi)
Terumbu karang sebelah barat Karang Kering, tampak ikan ekor kuning, Tridacna (Kerang raksasa) dan Diadema (Bulu babi)



By : Indra Ambalika, S.Pi
Kepala Laboratorium Perikanan FPPB UBB

Email : indra-ambalika@ubb.ac.id





TAG KEYWORD :

Terumbu Karang Coral Reef Bangka Belitung Pulau Universitas UBB Artikel Kabupaten Foto Ekosistem Tanjung Pantai Laut Ikan Timah