+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
25 Januari 2022 | 13:27:30 WIB


Hybrid Learning dan Skenario Terbaik


Ditulis Oleh : Nurvita Wijayanti (Dosen Sastra Inggris)

Semester Genap Tahun Ajaran 2021/2022 tak terasa sudah akan mulai berjalan kembali dengan sejumlah agenda yang cukup menantang untuk direalisasikan, terutama yang berkaitan dengan pandemi Covid-19. Kondisi pandemi yang masih belum membaik mengharuskan kebijakan-kebijakan terkait dengan hybrid learning menjadi tertunda, setidaknya pada semester ganjil yang lalu di beberapa jurusan di Universitas Bangka Belitung masih mempertahankan kelas daring. Kelas luring yang dibuka pun sebenarnya untuk mengakomodir kegiatan mahasiswa yang bersifat praktik. Sedangkan pada ilmu sosial humaniora kelas luring diinterpretasikan sebagai hal yang tingkat urgensinya belum tinggi. 

 

Pada akhirnya toh semua dosen, tenaga kependidikan (tendik), dan mahasiswa harus juga mempersiapkan skenario terbaik mengawali kelas semester genap dengan hybrid learning yaitu 50% daring dan 50% luring. Wacana ini seyogyanya tidak diartikan sebagai penantian tangan kosong. Semua sivitas akademika diharapkan dapat memperkirakan dan mempersiapkan kemungkinan terbaik dan terburuk. Pada prinsipnya, seorang optimistis akan mengesampingkan hal kedua dan berfokus pada yang pertama. 

 

Pada wacana hybrid learning perlu dipersiapkan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang tersusun dengan jelas dan terintegrasi antara kelas daring dan luring. Lembaga yang berkepentingan perlu memberikan standar yang baku namun tetap fleksibel untuk dosen dapat menjalankannya. Standar RPS yang sebelumnya (standar online learning) sebaiknya tidak perlu dirombak total. Hanya perlu sedikit standar teknis pelaksanaan kelas luring sebanyak 50%. Tendik yang berkutat dengan jadwal kelas juga sebaiknya mempertimbangkan efisiensi waktu dan perpindahan dari satu kelas ke kelas lainnya yang tetap menaati standar protokol kesehatan. Pada intinya perpindahan jam kelas tidak sampai membuat kerumunan yang berarti. Mahasiswa pun juga harus bersiap dengan konsekuensi pembagian kelas luring dan daring. Jika dalam satu pertemuan ada kelas daring dan luring bersamaan, mahasiswa perlu menyesuaikan dengan anomali dosen mengajar yang kemungkinan lebih besar akan berpihak pada mahasiswa luring. 

 

Dosen menjadi partisipan wacana hybrid learning yang paling digadang-gadang menyukseskan pelaksanaan kegiatan ini. Sejak awal perkuliahan daring, dosen paling disibukkan dengan mengonsep RPS dadakan dimana trial and error tidak terelakkan lagi. Pun dua semester ke depannya, dosen nampak terengah-engah dengan konsep RPS daring dan penyesuaian dengan platform Learning Management System (LMS) yang dipunyai universitas yaitu siakad.ubb.co.id. Hal-hal demikian menjadi tantangan bagi tiap-tiap dosen dalam memberikan pengajaran yang efektif dan efisien selama kelas daring. Dua hal yang dapat diambil hikmahnya dalam dua tahun terakhir masa pandemi adalah pola dosen mengajar dan hasil belajar mahasiswa. 

 

Meskipun sudah terstandar melalui RPS daring, pola dosen mengajar masih terkonsep luring. Penggunaan konferensi video/aplikasi mengobrol/grup kelas ditampilkan layaknya kelas konvensional, sehingga ketika ada kendala terbatasnya paket data dan sinyal baik dari masing-masing pihak kadang tidak mendapat toleransi. Padahal bukan itu esensi dari belajar daring, bukan?

Dosen digadang memiliki jurus yang mumpuni untuk mentransfer ilmu walaupun dalam kondisi berjauhan secara fisik. Tantangan kelas daring adalah bagaimana transfer ilmu tadi dapat secara baik masuk ke alam sadar mahasiswa yang kemudian memantik mahasiswa untuk belajar lanjutan secara mandiri. Pada akhirnya dosen harus menginspirasi diri sendiri untuk dapat menularkannya kepada mahasiswanya dengan cara memberikan penyampaian yang menarik dan ringkas. Dosen dapat belajar lagi tentang daya magis public speaking yang membuat mahasiswa betah nongkrong di platform video conference atau sesegera mungkin mengakses video tutorial dari dosen tersebut demi mendengarkan penjelasan yang tertata. Dosen juga lagi-lagi dituntut untuk menyiapkan materi ajar yang mudah untuk dibaca dan dipahami dalam porsi pertemuan yang bersifat penugasan. Sehingga mahasiswa pun berbondong mengakses materi tersebut, membaca, dan mengerjakan apa yang tertulis dalam penugasan. Pola terakhir adalah diskusi yang seharusnya hidup selayaknya di kelas konvensional. Di kelas daring pun diskusi seharusnya menjadi hal yang tak terbatas waktu dan ruang. Grup-grup WhatsApp menjadi ramai bukan hanya pada waktu jam kelas namun di luar jam kelas, yang bisa saja dosen tetap memberikan umpan balik dalam jam kerja. 

 

Hasil belajar mahasiswa menjadi tolak ukur keberhasilan seorang dosen dalam mentransfer ilmu, walaupun dalam beberapa kasus sulit untuk memberikan validasinya. Dalam hal ini banyak tantangan bagi dosen dalam memberikan format tes atau assesment yang dapat secara valid menggambarkan capaian hasil belajar mahasiswa. Tetapi jika merujuk pada pola mengajar dosen yang terus berupaya menghidupkan diskusi baik di kelas video conference atau grup WhatsApp, tentu dosen akan melihat seberapa aktif dan kritis mahasiswanya sehingga penilaian tengah semester maupun akhir semester mungkin tidak lagi mendapatkan porsi terbanyak dalam total penilaian. 

 

Pada akhirnya sinergi antar sivitas akademika yang baik akan menghasilkan luaran yang baik pula dalam kondisi pandemi ini. Sinergitas yang berjalan sesuai dengan porsi masing-masing akan menghilangkan stigma bahwa belajar daring adalah belajar yang membosankan, tanpa arah, dan membagongkan baik untuk dosen, tendik, pemangku kebijakan, dan mahasiswa. Jadi mari bersiap pada skenario terbaik menyambut semester genap Tahun Ajaran 2021/2022.



UBB Perspectives

Merebut Hati Gen Z

Masyarakat Tontonan dan Risiko Jenis Baru

Penelitian MBKM Mahasiswa Biologi

PEREMPUAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN TIMAH (Refleksi atas Peringatan Hari Kartini 21 April 2022)

Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan

PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA

Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi

Xerosere* Bangka dan UBB

Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan

SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?

RELASI MAHA ESA DAN MAHASISWA (Refleksi terhadap Pengantar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum)

KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA

Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus

Timah, Kebimbangan yang Tak akan Usai

Paradigma yang Salah tentang IPK dan Keaktifan Berorganisasi

NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN

Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN

Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka

GRAND DESIGN KEPENDUDUKAN (Refleksi Hari Penduduk Dunia)

Berebut Kursi Walikota

Kenalkan Bangka Belitung dengan Foto !

Demokrasi yang Tersandera

Pamor Rajendra

DNSChanger dan Kiamat Kecil Internet

MARI DISIPLIN BERLALU LINTAS

Radiasi Perlu Diteliti

Kebablasan Otonomi Daerah : Obral Izin Pertambangan

TIMAH PENCABUT NYAWA

Labelling

Penegakan Perda Tambang Lemah

Gratifikasi = Suap

Bukan Berarti Sudah Sejahtera

Tips Menjadi Jurnalis Online Sejati

Ujian (Nasional) Kejujuran

Bukan Politis

Saatnya Mencontoh Sumber Energi Alternatif Brazil

LEGOWO DAN BERSATU MEMBANGUN BABEL

Aspek Hukum Hibah dan Bansos

Pengawasan Senjata Api

Gelatin Tulang Rawan Ikan Hiu

MERAMU PAKAN IKAN LELE

Tak Etis Sembako Naik

Berharap Gubernur Baru Babel Pro Perikanan

Aquaculture's Never Ending

AYO MENULIS, MENULIS DAN MENULIS (SILAHTURAHMI KEILMUAN-Bagian 5)

SIAP MENANG (TAK) SIAP KALAH?

Pendalaman Demokrasi Babel Menuju Demokrasi Substansial

PENJAHAT ONLINE

Akuakultur di Bangka Belitung

KEPEMIMPINAN NASIONAL ANTI KORUPSI DALAM MENEGAKKAN KEDAULATAN HUKUM

Waspada Aksi Pencurian

Perangkingan Webometrics pada Universitas Sedunia

URGENSI JALAN SATU ARAH

Wartawan Sehat, Pers Sehat

GUBERNUR BARU DAN PROGRAM KEPENDUDUKAN

ANALISIS HASIL PILGUB BABEL : ANTARA DE FACTO DAN DE YURE

Menimbang Nalar dan Nurani Cagub