+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
22 Maret 2022 | 00:30:12 WIB


RELASI MAHA ESA DAN MAHASISWA (Refleksi terhadap Pengantar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum)


Ditulis Oleh : Rozi, S.Sos., M,A.

(Dosen Agama Islam Universitas Bangka Belitung)

Mengapa mahasiswa Perguruan Tinggi Umum (PTU), baik Negeri maupun Swasta harus mendapatkan mata kuliah pendidikan agama? Apakah penting pendidikan agama diajarkan kepada mahasiswa yang tergabung di Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Biologi, yang mana bukan berbasis agama? Bukankah pendidikan agama itu pelajaran yang hanya diperuntukkan untuk mahasiswa di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), baik Negeri maupun Swasta? Tentunya pertanyaan-pertanyaan seperti itu, acapkali ingin dilontarkan, khususnya oleh para mahasiswa yang kuliah di PTU.

 

Disadari atau tidak, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius. Demikian itu dikarenakan bangsa ini memiliki tradisi beragama dan budaya secara turun temurun dan mengakar pada setiap daerah, dari Sabang sampai Marauke. Para pendiri negara ini sangat memahami kondisi itu, sehingga diekspresikan ke dalam rumusan Pancasila, khususnya termaktub dalam sila pertama yang berbunyi, “Ketuhanan yang Maha Esa”. Menariknya, pada kalimat tersebut tidak hanya memberikan ketegasan tentang makna religiusitas bangsa Indonesia, tetapi juga diperankan guna menjiwai empat sila selanjutnya, dimulai dari sila kedua sampai kelima. Dari segi idealisme, setidaknya bangsa ini ditumbuhsuburkan dan dirancang menjadi bangsa yang selalu menaati agama yang mereka anut.

 

Pendidikan agama di PTU mempunyai tujuan yang sangat mulia dan ideal tentunya. Terlebih, diketahui bahwa PTU menempati posisi dan menjadi garda terdepan guna mewujudkan berbagai gagasan strategis dalam melaksanakan pembangunan nasional. Pendidikan agama diajarkan di PTU, sejatinya telah dirumuskan melalui Konsorsium Ilmu Agama dalam seminar nasional yang diselenggarakan pada 14 – 16 November 1988, yang bertempat di Jakarta. Demikian itu sebagaimana telah dikutip oleh Mastuhu, dengan menyatakan bahwa pendidikan agama diberikan sebagai upaya membantu terbinanya para sarjana yang beragama, bertakwa, dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, mampu berpikir filosofis, berakhlak mulia, berwawasan luas, dinamis, dan turut andil dalam kerja sama antar umat beragama dalam rangka pemanfaatan dan pengembangan Ilmu Pengetahuandan dan Teknologi (IPTEK), serta kesenian untuk kepentingan nasional. 

 

Lebih lanjut Mastuhu menegaskan bahwa, adapun upaya untuk memikirkan dan mencanggihkan metodologi pendididkan dan pengajaran agama di PTU merupakan hal yang sangat penting dan memang seharusnya diajarkan. Terlebih jika dengan seksama disaksikan bahwa tantangan yang PTU hadapi, guna menghadirkan agama di tengah-tengah kehidupan modern yang semakin besar, kompleks, dan mendesak. Oleh sebab itu, agama merupakan satu-satunya pertimbangan moral untuk itu semua.

 

Berangkat dari statement yang dilontarkan oleh Mastuhu tersebut, agaknya penulis setuju bahwa pendidikan agama di Perguruan Tinggi Umum (PTU), baik negeri maupun swasta, sangat penting untuk diajarkan. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini penulis mencoba berusaha menuangkan pemikiran guna memberikan penjelasan, meskipun sifatnya hanya sebatas selayang pandang terkait pentingnya pendidikan agama bagi kehidupan mahasiswa yang berada di Perguruan Tinggi Umum.

 

Agama: Relasi Maha Esa dan Mahasiswa

Pentingkah ilmu agama dan apa itu agama? Untuk menjawab pertanyaan itu, penulis teringat dengan istilah yang dinyatakan oleh seorang fisikawan teoretis asal Jerman, yaitu Albert Einstein, “Science without religion is lame, religion without science is blind ”, (ilmu pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta). Tentunya, statement yang dibangun oleh seorang Albert Einstein tersebut memiliki makna yang mendalam. Artinya, Albert Einstein yang dikenal menganut paham Panteisme yang dicetus oleh Baruch Spinoza, memberikan statement yang sangat terkesan religius. 

 

Seakan-akan dirinya ingin mengingatkan kepada manusia bahwa ilmu pengetahuan, baik itu sosiologi, politik, ekonomi, pariwisata, hukum, dan ilmu lainnya yang dianggap bukan pelajaran agama tidaklah bertentangan dengan yang namanya agama. Hemat penulis, pernyataan itu juga sejalan dengan pernyataan Tuhan yang termaktub dalam kitab suci pedoman umat Muslim yaitu Al-Qur"an, tepatnya surah Al-Mujadalah ayat ke 11, yang berbunyi:

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepada kamu, Berlapang-lapanglah dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan melapangan buat kamu, dan apabila dikatakan, Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah terhadap apa yang kamu kerjakan Maha Mengetahui”. 

 

Jika menilik kepada pendapat M. Quraish Shihab bahwa makna yang terkandung dalam potongan ayat alladzina utul ilma darojat adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Adapun ilmu yang dimaksud oleh ayat tersebut tidak hanya ilmu agama, akan tetapi ilmu apa pun yang dapat memberikan manfaat.

 

Agama

Perlu dipahami bahwa pendefinisian tentang makna agama dengan sempurna, tentunya tidaklah mungkin cukup penulis tuangkan di tulisan ini. Meskipun demikian, bukan berarti pendefinisian itu tidak diperlukan. Menurut sebagian pendapat bahwa agama berasal dari bahasa Sangsekerta dan merupakan kata majemuk yang terdiri dari A dan gama. A memiliki arti tidak, sedangkan gama berarti kacau. Dengan demikian, Agama memiliki arti tidak kacau. Jika menilik secara bahasa Al-Qur"an, kata agama itu adalah din (دين) yang memiliki arti beragam, yaitu taat, pembalasan, ibadah, hutang, pengakuan atas jasa, dan pembenaran. Thomas Henry Huxley seorang ahli biologi asal Inggris (1825 – 1895 M) mendefinisikan agama adalah pengagungan seseorang terhadap nilai-nilai luhur dari budi pekerti, serta kecintaan untuk mewujudkannya dalam kehidupan.

 

Secara garis besar, sebagian pakar membagi setidaknya terdapat tiga hal yang pokok yang mencerminkan makna agama. Pertama, Kepercayaan seseorang terhadap wujud Kekuatan yang mengatur dan mengendalikan alam raya. Kedua, kepercayaan atau keyakinan terhadap adanya balasan dan ganjaran atas tindakan setiap orang. Ketiga, relasi antara penganut agama dengan kekuatan yang dipercayai atau diyakini. 

 

Relasi Maha Esa dan Mahasiswa

Perlu disadari bahwa relasi Maha Esa dan Mahasiswa itu sangat erat. Berbicara tentang relasi keduanya, maka penulis ingin menggubah salah satu kalimat yang cukup familiar yaitu man arofa nafsahu faqod‘arofa Robbahu “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya”. Kata “maha” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti sangat, teramat, maha-mulia, maha-besar. Jika sesuatu telah digelari maha, secara otomatis, sesuatu tersebut harus menempatkan ataupun memposisikan dirinya pada posisi yang tertinggi. Jika seseorang menyebut Maha Esa, maka dapat dipastikan bahwa yang dimaksud adalah Tuhan. Sedangkan bila disebut Mahasiswa, maka dapat dipastikan bahwa yang dimaksud adalah seorang manusia yang diberikan oleh Tuhan potensi lebih dan kesempatan yang mungkin tidak diberikan kepada orang lain di sekitarannya.

 

Menurut Al-Qur"an, Tuhan yang Maha Esa, tidak saja sebagai satu-satunya yang tertinggi namun juga satu-satunya Wujud yang pantas dikatakan wujud dalam arti kata seutuhnya. Dengan demikian, tidak ada satu pun kekuatan yang dapat melawan Kekuatan dan Kekuasan-Nya. Oleh sabab itu, anggapan mayoritas manusia menyatakan bahwa mereka percaya gelar mahasiswa dianggap sebagai manusia yang memiliki pengetahuan dan memiliki wawasan yang luas. Kemudian di mana letak relasi Mahasiswa (yang diyakini memiliki banyak ilmu dan wawasan luas) dengan yang Maha Esa?

 

Jika kita menilik kembali kepada Tafsiran ayat 11 Surah Al-Mujadalah di atas dipahami bahwa seseorang (sebut saja “mahasiswa”) dituntut untuk dapat menghiasi dirinya dengan ilmu pengetahuan. Sederhananya, ayat tersebut di atas membagi kaum beriman (meyakini Kemahaesaan Tuhan) menjadi dua kelompok besar. Kelompok yang pertama, bisa dikatakan manusia yang hanya sekadar beriman dan beramal saleh. Kelompok yang kedua, dapat pula dianalogikan sebagai “mahasiswa” yang mana mereka mendapatkan derajat lebih tinggi, bukan hanya dikarenakan memiliki wawasan luas dan ilmu pengetahuan yang disandangnya, akan tetapi dikarenakan hubungan atau relasi dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa memiliki hubungan yang baik. Yang mana hubungan tersebut dibina tidak hanya melalui ibadah ritual (seperti shalat, puasa, zakat, dan sebagainya), namun juga amal pengajarannya kepada pihak lain, baik secara lisan, atau tulisan, maupun dengan keteladanan atau dikenal dengan istilah ibadah sosial. Berangkat dari penjelasan tersebut, maka dapat dipahami bahwa relasi atau hubungan keduanya yaitu antara Maha Esa dan Mahasiswa tidak dapat dipisahkan. Pada intinya, bagaimana pun kondisi dan situasi seorang mahasiswa, baik mahasiswa di PTU atau bahkan PTAI sekalipun, tidak bisa memisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, pengajaran tentang agama, sangat diperlukan dan penting diajarkan di PTU, baik yang Negeri maupun Swasta.

 



UBB Perspectives

Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan

PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA

Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi

Xerosere* Bangka dan UBB

Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan

SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?

KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA

Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus

Timah, Kebimbangan yang Tak akan Usai

Paradigma yang Salah tentang IPK dan Keaktifan Berorganisasi

Hybrid Learning dan Skenario Terbaik

NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN

Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN

Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka

GRAND DESIGN KEPENDUDUKAN (Refleksi Hari Penduduk Dunia)

Berebut Kursi Walikota

Kenalkan Bangka Belitung dengan Foto !

Demokrasi yang Tersandera

Pamor Rajendra

DNSChanger dan Kiamat Kecil Internet

MARI DISIPLIN BERLALU LINTAS

Radiasi Perlu Diteliti

Kebablasan Otonomi Daerah : Obral Izin Pertambangan

TIMAH PENCABUT NYAWA

Labelling

Penegakan Perda Tambang Lemah

Gratifikasi = Suap

Bukan Berarti Sudah Sejahtera

Tips Menjadi Jurnalis Online Sejati

Ujian (Nasional) Kejujuran

Bukan Politis

Saatnya Mencontoh Sumber Energi Alternatif Brazil

LEGOWO DAN BERSATU MEMBANGUN BABEL

Aspek Hukum Hibah dan Bansos

Pengawasan Senjata Api

Gelatin Tulang Rawan Ikan Hiu

MERAMU PAKAN IKAN LELE

Tak Etis Sembako Naik

Berharap Gubernur Baru Babel Pro Perikanan

Aquaculture's Never Ending

AYO MENULIS, MENULIS DAN MENULIS (SILAHTURAHMI KEILMUAN-Bagian 5)

SIAP MENANG (TAK) SIAP KALAH?

Pendalaman Demokrasi Babel Menuju Demokrasi Substansial

PENJAHAT ONLINE

Akuakultur di Bangka Belitung

KEPEMIMPINAN NASIONAL ANTI KORUPSI DALAM MENEGAKKAN KEDAULATAN HUKUM

Waspada Aksi Pencurian

Perangkingan Webometrics pada Universitas Sedunia

URGENSI JALAN SATU ARAH

Wartawan Sehat, Pers Sehat

GUBERNUR BARU DAN PROGRAM KEPENDUDUKAN

ANALISIS HASIL PILGUB BABEL : ANTARA DE FACTO DAN DE YURE

Menimbang Nalar dan Nurani Cagub

Babel dan Demokrasi Hijau

Anak Kepulauan Cerdas

PROFIL BANGKA BELITUNG

PASCAPANEN SORGUM