+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel Feature UBB

Universitas Bangka Belitung's Feature
13 Oktober 2008 | 16:31:17 WIB


Ekspedisi di Pulau Belitung


Sore di Pantai Tanjung Pendam. Pantai Tanjung Pendam, adalah satu dari sekian pantai di Pulau Belitung yang banyak didiami kaum nelayan. Di pulau seluas 4.800 kilometer persegi ini, tidak kurang dari 17.000 kepala keluarga mengandalkan kekayaan laut Belitung.

Cukup beralasan, potensi perikanan lautnya amat menjanjikan. Kepadatan perikanan lautnya hampir mencapai 3 ton per kilometer perseginya. Sementara luas perairan laut yang masuk dalam wilayah Belitung, mencapai hampir 30.000 kilometer persegi. Sore itu, sekelompok nelayan turun ke pantai. Waktu ini dianggap saat yang tepat untuk menangkap ketam, saat mana air laut akan pasang. Mereka hanya bermodalkan peralatan sederhana.

Hanya jaring.Biasanya, hanya dengan jaring inipun, mereka yang telah berpengalaman, dapat dengan mudah mengetahui keberadaan ketam, hewan buruannya. Ketam diibaratkan mahluk yang malas bergerak. Karena itu, kondisi pantai yang sedikit landai dengan arus yang tak begitu deras, biasanya disenangi hewan bercapit ini. Para nelayan amat mengandalkan penglihatannya untuk mencari hewan buruannya.

Namun bila air laut agak keruh, maka kaki mereka yang tak beralas, akan menjadi tumpuan utnuk mengetahui keberadaan ketam. Kaki mereka seolah memiliki mata. Pencarian ketam terus berlangsung, hingga air laut telah pasang, ataupun ombak telah mulai menghantam keras, dan tak lagi bersahabat. Namun, biasanya pencarian ketam juga berlanjut di malam hari, terutama di saat air bertiup tak terlalu keras, dan malam itu hujan tidak turun.

Seperti malam itu, saat mana sekelompok nelayan kembali menuruni pantai untuk mencari ketam. Gelapnya malam, yang saat itu hanya diterangi separuh bulan, membuat para nelayan harus menggunakan alat penerang. Mereka memanfaatkan petromaks. Selain irit bahan bakar, sinar lampu petromakspun mampu menrikperhatian ketam. Hingga perlahan, mereka mendekati sumber cahaya, yang artinya menghampiri nelayan.

Ini amat menguntungkan buat nelayan. Sehingga bila boleh memilih, mereka lebih senang bila berburu dimalam hari seperti ini. Merekapun, tak harus berjalan terlalu jauh seperti di sore hari saat air laut surut. Awalnya dulu, petromaks mereka jinjing dengan sebelah tangan. Sementara tangan lainnya membawa jaring. Namun kini, banyak yang menggunakan ban yang tidak terpakai, untuk menaruh petromaks. Para nelayan dapat lebih berkonsentrasi mengincar buruannya, sementara petromaks meluncur tenang di atas ban yang terapung di permukaan air laut.

Biasanya, bila keranjang yang dibawa telah dipenuhi ketam, maka mereka segera menyudahi perburuannya malam itu. Bila keranjang penuh, paling tidak 5 kilogram ketam telah mereka kumpulkan. Mereka segera berbenah, meninggalkan pantai yang menjadi tumpuan hidupnya. Menyusuri Belitung, tidak hanya berkutat di pantai dan lautnya yang kaya akan perikanan lautnya.

Sejak lama, Belitung lekat dengan timah. Namun itu dulu, tepatnya dimulai tahun 1952, saat sebuah perusahaan swasta belanda melakukan usaha penambangan timah diBilli-ton, nama Belitung dulunya. Kejayaan timah di Belitung, seakan berakhir sejak PT Timah membubarkan unit penambangan timah Belitung, tahun '90-an. Kini, yang tersisa hanyalah kolong-kolong, sebutan untuk bekas reklamasi yang berubah menjadi kolam atau danau.

Segelintir masyarakat masih tetap berupaya untuk menambang timah ini. Mereka melakukan penambangan sederhana. Seperti di daerah Kelapa Kampit. Dengan berkelompok 2 sampai 5 orang, mereka memanfaatkan sisa limbah tambang atau telling yang diyakininya masih memiliki kadar kandungan timah putih antara 65 hingga 72 once per kubik. Mereka menyelam untuk mengambil bongkahan demi bongkahan telling dari kolong. Praktis, mereka mengabaikan keselamatan, sementara ancaman runtuhnya gundukan telling, terus ada. Di tengah terik matahari, mereka memisahkan kandungan timah dengan partikel lainnya dengan menggunakan ayakan. Sedikit demi sedikit, timah terkumpul. Dalam 8 jam, biasanya tersaring 3 hingga 5 kilogram timah. Bagi penambang yang sedikit memiliki modal, mereka memanfaatkan kompresor, yang memudahkan dan mempercepat perolehan hasil. Hasilnya bisa berlipat-lipat dibanding bekerja dengan peralatan sederhana. Paling tidak dalam sepekannya, terkumpul 100 kilogram timah. Timah yang didapat, dijual ke penampung, yang biasanya membeli dengan kisaran harga antara 10.000 hingga 17.000 rupiah, per kilogramnya. Meski tak lagi cemerlang, timah masih menyisakan sedikit harapan buat penduduk Belitung. Waktu terus berputar. Timah, perlahan ditinggalkan. Lada, piper nigrum, kembali dilirik masyarakat Belitung. Tanaman ini telah lama dikelola masyarakatnya. Bahkan tanaman yang dapat dijumpai hampir di seluruh wilayah Belitung ini, menjadi primadona. Membalong dan Dendang, 2 kecamatan di Belitung, adalah contohnya. Lebih dari 12.000 kepala keluarga, di Membalong dan Dendang, menanam lada di kebun miliknya. Butiran-butiran inilah yang menjadi harapan petani lada untuk meraih untung. Meski harga lada amat fluktuatif. Tak lama berselang ini misalnya, lada hanya dihargai 20.000 rupiah per kilogramnya, tak sebaik tahun '97 yang mencapai 75.000 rupiah. Lada Belitung yang produksinya mencapai lebih dari\ 5.000 ton setahun, kini tengah diupayakan agar kembali menjadi primadona. Kehidupan masyarakat Belitung, tidak hanya melulu berkutat di pantai, kebun lada, ataupun areal pertambangan timah. Hampir 300.000 jiwa yang mendiami pulau seluas 4.800 kilometer persegi ini, tetap menjaga harmoni hidupnya. Boleh dibilang, penduduk Belitung multi etnis, dengan jumlah terbesar adalah etnis Melayu, sebagai penduduk asli. Sebagian lainnya adalah suku Bugis, Jawa, Batak, dan Tionghoa. Mereka tetap hidup berdampingan. Pertumbuhan budaya multi etnis di Belitung, tak membuat budaya Melayu terpinggirkan. Sejumlah budaya Melayu masih mudah ditemui.

Sebut saja kesenian lesung panjang. Kesenian ini merupakan bentuk permainan yang berasal dari Buluh Tumbang, Tanjung Pandan. Sejumlah orang dalam hitungan genap, dengan cekatan saling lempar buluh. Bentuk kegembiraan ini biasanya terlihat di saat panen tiba. Lain lagi dengan Dumulok. Ini merupakan seni panggung sandiwara sepanjang satu babak.

Dua puluhan orang terlibat langsung di atas pentas. Mereka menari dan memainkan perannya masing-masing. Ceritanya banyak berkutat sekitar kerajaan Melayu yang jaya di abad ke-15 dulu. Kesenian yang kental sekali akan nuansa Melayunya dan melibatkan sekitar 20 an pemain tersebut, berisikan sandiwara dan tarian seputar permasalahan kerajaan yang pernah berjaya pada jaman dahulu. Bunyi tetabuhan rebana irama gambus atau kesibukan orang di rumah ini, biasanya menandakan si empunya rumah tengah bersiap menggelar hajat.

Tak salah. Keluarga Bapak Madani. Yang asli Belitung, memang akan mengawinkan puteri sulungnya Riani dengan seorang pria pujaan hati sang anak. tak berbeda dengan di daerah lain, hajatan perkawinan di Belitung, adalah saat menggelar segala hal yang berkenaan dengan adat yang tetap dijunjung. Dalam adat Belitung, tak harus seorang wanita dilamar, saat menjelang perkawinannya. Dimungkinkan, sang prialah yang dilamar oleh calon pendamping hidupnya. Perihal ini, menandakan keluwesan masyarakat Belitung dalam memandang anggota masyarakatnya.

Tak harus pria dinilai lebih dibanding wanita, atau sebaliknya. Kesemuanya dapat diselesaikan dengan kesepakatan. Puade atau pelaminan, bunge teluk atau telur yang dihiasi dengan hiasan bunga beserta payong lilin atau hiasan payung lilin beserta perangkat lainnya telah lengkap terpasang . Kedua keluarga yang akan lebih mengikat kekeluargaan, telah siap untuk melewati rangkaian acara adat perkawinan Belitung. Munggah atau prosesi pernikahan adatpun akan segera digelar. Rombongan pengantin pria telah tiba di rumah keluarga mempelai wanita.

Mereka tak lantas begitu saja masuk ke dalam rumah. Mereka harus melewati tukang tanak, seseorang yang bertugas memasak nasi. Berebut lawang, demikian istilah yang dikenal di Belitung. Di pintu pertama ini, sebaris pantun diujar rombongan tamu. Sebaris pantun pula dibalas tuan rumah. Tak habis sebaris, pantunpun berlanjut.Jelas sudah maksud kedatangan rombongan tamu. Namun belum usai.

Di pintu kedua, mereka masih harus berhadapan dengan penghulu gawai, yang akan memimpin perkawinan nanti. Dua pintu telah dilalui. Masih tersisa satu lagi. Yang terakhir, di pintu ketiga dikawal Mak Inang, seorang juru rias pengantin. Lewat pintu ini barulah lega rombongan tamu. Hantaran dan tipak yang dibawa rombongan tamupun beralih tangan. Seperangkat tempat sirih lengkap, yang menyimpan 17 macam, seperti kapur sirih, pinang, gambir, dan lainnya, kini di tangan tuan rumah. Demikian pula dengan sejumlah uang, yang berkelipatan lima.

Tujuh belas bermakna jumlah rakaat shalat, sehari semalam. Sementara lima, melambangkan jumlah shalat wajib bagi kaum muslim. Sang pengantin pria, akhirnya dipertemukan dengan pujaan hati, yang segera akan dinikahinya. Keduanya duduk berdampingan. Akad nikahpun digelar. Sujud tanda bhakti kepada orang tua, dilakukan pasangan pengantin Belitung ini. Tak cukup satu hari, perhelatan perkawinan di Belitung.

Dulu-dulunya bisa lebih dari 7 hari. namun kini, biasanya cukup dua, tiga hari. Di hari kedua, saat bejamu, lebih menyiratkan rasa mempererat persaudaraan dua keluarga yang disatukan ini. Peran Mak Inang, amat terasa di hari kedua ini. Ia memandu serangkaian adat Belitung. Seperti saling tukar kue. Mertua, harus ingat akan menantunya, demikian pula sebaliknya. Hajatanpun tiba di hari ketiga. Pasangan pengantin, dimandikan dengan air kembang 7 rupa. Mandik besimbor istilahnya. Merekapun menginjak telur.

Cukup mengagetkan, saat pengantin ini berlari ke arah pelaminan. Mereka harus berlari, mengejar mimpi mereka di masa depan. Namun keduanya harus tetap bersama, dalam mewujudkan impian. Hajatan boleh usai. Namun adat, tetap harus mereka jaga. Ia tidak boleh habis, begitu janur telah layu, saat alunan musik tradisional tak lagi terdengar. Adat harus tetap menyala, bak semangat pasangan pengantin mengejar impian.(Idh) Sumber indosiar.com

Source : Begalor.com

Feature UBB

Berita UBB

UBB Perspective