+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel Feature UBB

Universitas Bangka Belitung's Feature
13 Oktober 2008 | 16:36:04 WIB


Pulau Belitung diserbu para Seniman


Pulau Belitung yang terletak di sebelah timur Sumatra, adalah kawasan yang elok. seluruh wilayahnya dikelilingi pantai pasir putih. Keindahan panorama di pulau yang tergabung dalam propinsi Bangka - Belitung ini, mengundang kehadiran para seniman tanah air untuk mengabadikannya ke dalam karya seni mereka.

Pagi itusetelah melalui penerbangan selama kurang lebih 1 jam dari Jakarta, 62 seniman yang tergabung dalam sebuah komunitas seniman yang mayoritas pelukis, tiba di bandara Hananjudin, Tanjung Pandan Belitung. Keceriaan terpancar dari raut wajah para pelukis beragam usia ini. Walaupun peralatan melukis seperti kanvas, cat air dan lainnya terasa sedikit memberatkan barang bawaan. Diantara rombongan pelukis ini terdapat nama-nama yang cukup dikenal di kalangan seni, seperti Tresna Suryawan, IB Said dan Erman Sadin.

Dipilihnya Belitung sebagai lokasi kegiatan melukis bersama, awalnya memang tak terpikirkan sebelumnya, mengingat informasi perihal Belitung sedikit sekali diterima. Memotret kehidupan nelayan adalah tujuan pertama. Di pulau dengan jumlah penduduk sekitar 200 ribu jiwa ini, 10 persennya bermata pencaharian sebagai nelayan. Lokasi pelabuhan, kesibukan nelayan melakukan bongkar muat barang serta hamparan kapal yang sandar di pelabuhan merupakan pemandangan unik.

Tak kalah dengan kesibukan di pelabuhan, para pelukis pun segera mencari sudut pandang yang tepat untuk dituangkan ke atas kanvas. Beberapa diantara pelukis berbagai aliran semisal impresionisme, realisme, abstrak, serta lainnya mulai melakukan coretan-coretan kecil yang awalnya berbentuk sebuah sketsa di atas kanvas, berukuran rata-rata satu meter persegi. Dari sketsa inilah setiap pelukis, mulai menggarap karya mereka sesuai dengan alirannya.

Sepintas, orang awam mungkin sulit mendefinisikan isi dan makna dari sebagian gambar atau lukisan ini. Namun dapat dipastikan tarikan garis demi garis di atas kanvas menunjukan bahwa panorama di Belitung, sarat dengan keindahan. Lain lagi gaya pelukis jika objek lukisannya adalah beberapa pantai yang dijadikan pemda setempat sebagai lokasi wisata. Diantaranya Pantai Burong Mandi yang unik. Struktur bebatuan di pantai ini, dari kejauhan mirip dengan burung yang sedang mandi. Pantai inipun tak luput dari perhatian para seniman berbagai usia ini.

Masing-masing larut dalam keasyikannya mencurahkan inspirasi. Begitu pula lokasi pantai lainnya, semisal Pantai Kelayang, Pantai Tanjung Tinggi serta segala sesuatu yang merupakan ciri khas masyarakat Belitung. Pesona Belitung memang terlalu indah untuk diabaikan. Sosok seniman lekat dengan penampilan yang terkesan apa adanya, bahkan cenderung nyentrik.

Biasanya, setiap seniman memiliki ciri khas tertentu seperti topi, gelang, pakaian atau bentuk lainnya. Belum lagi ditambah dengan kepribadian si seniman itu sendiri yang cenderung eksentrik, yang belum tentu bisa diterima orang banyak. Dengan kombinasi penampilan dan kepribadian nyeleneh tersebut, menyeret kita berasumsi bahwa seniman seolah ingin membentuk komunitas sendiri tanpa mau diusik pihak luar.

Selintas, penampilan para seniman yang cenderung apa adanya bahkan kumal, membentuk persepsi bahwa hidup mereka pas-pasan. Padahal, bila dilihat dari sisi kehidupan ekonomi sang seniman, sesungguhnya mereka bisa dibilang cukup. Bahkan beberapa diantaranya bisa menghasilkan lukisan yang laku dijual puluhan juta rupiah.

Seperti misalnya para seniman yang ikut dalam acara melukis bersama di Belitung ini. Bagi mereka, justru karena mereka memiliki uang dari hasil karya sendiri, mereka pun leluasa memilih gaya berpakaian. Dari yang apa adanya hingga yang rapi. Ekspresi berkesenian bagaimanapun memang seringkali bersifat amat individu. Dan itu termasuk penampilan sang seniman. Sebetulnya banyak juga seniman yang tampil necis, rapi tak ubahnya pegawai kantoran. Tapi penampilan urakan memang terasa lebih menonjol.

Dalam komunitas seniman yang tengah berkumpul di Belitung ini misalnya, banyak yang tampil dengan rambut gondrong padahal usia sudah menua. Ada juga yang bahkan tidak pernah mandi entah sudah berapa lama. Namun sesuai dengan sifat berkesenian yang hakikatnya bebas tidak terkotak-kotak, penampilan nyeleneh bukan masalah. Yang penting, hasil karya mereka terwujud sesuai kehendak hati. Pada akhirnya, kembali pada hakikat sang seniman itu untuk berkarya.

Tentu berbeda dengan orang-orang yang bekerja di kantor, yang dituntut berpakaian sesuai peran, maka sejatinya para seniman ini adalah orang yang merdeka untuk memilih. Sebagaimana mereka pun merdeka untuk berkarya. Tidak semua seniman memang sukses secara materi. Seperti juga tidak semua seniman sulit dipahami. Namun hanya menilai seseorang dari tampilan fisik seringkali menyesatkan. Kentalnya hubungan secara batin di antara para seniman juga tidak diragukan lagi.

Aroma persaingan dalam berkarya, sama sekali tidak tercium. apalagi jika tengah berkumpul. Hanya ada tawa canda dan rasa kebersamaan. Maka yang terlihat adalah satu bentuk komunitas yang sangat unik. Terkesan kekanak-kanakan, namun sesungguhnya menggambarkan kedekatan mereka.(Idh)

Source : Begalor.com

Feature UBB

Berita UBB

UBB Perspective