+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel Feature UBB

Universitas Bangka Belitung's Feature
04 Desember 2008 | 13:50:12 WIB


KERJA KERAS UNTUK MENSUKSESKAN VISIT BABEL ARCHI 2010


"Pencanangan Visit Babel Archi 2010 perlu didukung, namun dukungan itu tidaklah bersifat buta oleh masyarakat, ia perlu pemahaman untuk menghadapinya."


Daerah Pantai tempat Pariwisata Bangka Belitung ( BABEL )


Pemahaman itu tidak semata bersifat material tapi juga mesti bersifat immaterial atau perilaku sebagai masyarakat pariwisata Objek kunjungan wisata tidak semata mengandalkan pada bentuk yang hanya dirasakan oleh indrawi nyata atau material semata tetapi sesungguhnya ia juga mencakup hal yang tak nyata atau immaterial, yaitu sense yang ditawarkan sehingga sensibelitas pengunjung dapat menerima imaji atau kesan yang mendalam pada setiap kunjungannya.

Sensibilitas terhadap hal yang diterima oleh indra itu sendiri secara umum adalah bentuk keindahan. Jadi setiap pengunjung atau wisatawan akan merasakan sebuah kesan dari apa yang dilihat dan dirasakannya, dari apa yang didengar, dari apa yang disentuh bahkan dari aroma yang diciumnya. Keindahan bersipat objektif yang kita pertaruhkan sementara ini masih berkutat pada pemahaman untuk menjual objek yang berkenaan pada keindahan alam serta produk budaya seperti kesenian, kerajinan, dan kuliner Kemudian untuk mendukung penjualan objek itu, ia digandeng atau dibarengi berbagai pasilitas, akomodasi dan transfortasi, tenaga pelayanan, serta sarana pendukung lainnya.

Sementara Keindahan lain bersifat esensial, yang merupakan faktor utama kepariwisataan, sama sekali belum diperhatikan dengan sungguh-sungguh bahkan mungkin belum dipahami karena faktor tersebut berkenaan dengan sikap individu dari masyarakat yang menjual objek kepariwisataannya. Pendukung utama yang tak kasat mata itu adalah pencitraan yang dirasakan oleh para pengunjung yaitu merasa nyaman, rasa tenang, rasa aman, rasa senang, dan menentramkan yang kesemua rasa itu menjadi seoleh-oleh yang tak terlupakan.

se Olah-olah hal tersebutlah yang membuat pengunjung akan betah untuk datang lagi dan mempromosikannya ke orang lain. Keindahan esensial hanya muncul dari sikap masyarakat yang berbudaya, artinya masyarakat selalu mengedepankan tatanan nilai sosial budaya yang baik. Didalamnya sudah ada ketaatan dan mencintai hal positif, seperti taat pada norma, baik hukum legal maupun adat.


Daerah Pantai tempat Pariwisata Bangka Belitung ( BABEL )


Tapi secara umum ia memiliki kesantunan, keramahan, rasa kekeluargaan, toleransi, rasa keindahan, mengutamakan kebersihan, memberikan rasa aman, dan hal lain yang bersifat positif. Kesimpulannya, hanya masyarakat berbudayalah akan selalu menciptakan produk kreasinya dengan bagus. Maka itu, kita dapat mengaji atau menelaah semua kelemahan dan kekurangan dalam persiapan kunjungan wisata ke wilayah ini. Persiapan promosi tanpa dibarengi sebuah kenyataan itu akan menjadi sebuah kerja yang sia-sia. Promosi terbaik adalah sebuah kekasan yang positif. Contoh sederhana dapat dirasakan pada gerbang kedatangan di tiap pelabuhan baik udara atau laut .

Apakah pengunjung sudah dapat merasakan keramahan baik dari pasilitas umum atau sikap masyarakat, misalnya sopir angkutan atau aparat pelayanan, Karena itulah, kedua faktor itu mesti berlaku seiring, baik aspek keindahan objektif serta keindahan esensinya. K e i n d a h a n O b j e k t i f Jika kita telaah sisi keindahan objektif yang dapat dipertaruhkan di Babel barulah sebatas awal. Kita sering bangga mengatakan objek wisata alam pantai Babel tak kalah dengan Bali dan Lombok. Ternyata alam tidak pernah salah, alam selalu muncul apa adanya, kelebihan atau kekurangannya.

Tapi mengapa objek di sana lebih diminati daripada objek wisata alam Babel. Apa yang salah, padahal kita adalah makhluk yang selalu pintar mencari kesalahan, karena itu kesalahan mesti dapat kita benahi. Misalnya, jika laut pantai Bali dan lombok bisa menggarap surfing karena ombaknya sesuai untuk itu, maka pantai laut Babel relatif tenang mungkin bisa digarap untuk ski, diving, fhising dan lainnya. Bukankah perbedaan selalu menjadi hal yang menarik? Objek wisata produk budaya kesenian misalnya, apakah kita sudah memiliki sentra kesenian yang dapat dikunjungi?

Padahal kita punya kesenian tradisional; gambus, beragam tarian, rudat, betiong, campak, dan lainnya Kita juga punya kesenian tutur misalnya pantun besaut, besyair, bekisah. Kesenian tradisi Dul Muluk. Objek permainan gasing, beladiri pencak silat, beripat rutan, permainan magis antu bubu, bahkan acara ritual perang ketupat, maras taon, dan masih banyak lainnya. Jika ada sentra budaya, tentu tak saja kalender kesenian tradisi dan modern saja yang digelar tapi mengekspose juga produk budaya seni kontemporer lewat galeri permanen misalnya beragam karya lukis, ukir, gerabah, karya terampil berbagai anyaman, bahkan perajin karya seni lainnya.

Dari semua objek produk budaya itu, jika tak memiliki sentra pertunjukan, atau pusat galeri tentu ia mesti memiliki desentra di tiap wilayahnya agar mudah dilihat dan dinikmati. Sudah teragenda dengan baikkah semua objek itu, dapatkah orang menemukan kalendernya dalam brosur paket wisata. Ada di mana brosurnya, dapatkah masyarakat wisata luar mengetahuinya, Semua objek tersebut adalah fotensial dan selalu muncul dalam kesempatan event atau festival kesenian tapi kemudian ia menjadi seperti acara Tikar Dalam Perincongan artinya kapan diperlukan ia digelar jika tidak ia akan tersembunyi dalam sudut gelap rumah kita.

Jika semua objek itu mau dijual sebagai komoditi parawisata maka mesti ada sentranya guna menghidupkan objek tersebut. Sentra itu dapat dibangun di dua wilayah pusat budaya Bangka dan Belitung. Misalnya Pangkalpinang dapat dijadikan sentra budaya wilayah Bangka, dan Tanjungpandan untuk sentra budaya wilayah Belitung. Di Tanjungpandan bisa menghidupkan kegiatan apa yang disebut konsep budaya acara Sentra Budaya Ruma Gede yang seiring dengan agenda budaya rumah adat Belitong yaitu Ruma Gede yang sudah dibangun dan siap diresmikan. Untuk di Pangkalpinang mungkin sentranya bisa di Taman Sari, mungkin kita bisa menyebutnya Sentra Budaya Kota Pinang.

Jika itu terbangun dan berjalan baik tentu tak hanya Jakarta yang bangga memiliki sentra budaya Taman Ismail Marzuki dengan agenda reguler maupun insedentalnya. Jika gagasan di atas fokus pada sentra budaya yang dikelola secara profesional tapi belum terwujud maka justru di tingkat bawah sudah mentradisi. Kita mengenal beberapa wilayah yang memiliki sentra kegiatan budaya reguler seperti Maras Taon di Selat Nasik, Perang Ketupat di Tempilang, Rebo Kasan di Air Anyer dan lainnya. Sentra ini mesti tetap dipertahankan di tingkat daerah sebagai identitas tradisi wilayahnya.

Cuma perlu diingat bahwa kegiatan tradisi yang bersifat ritual jangan sampai kehilangan hakikatnya jika sudah dijadikan komoditi. Sebenarnya masih banyak sentra nontradional yang fotensial untuk objek wisata misalnya sentra minum kopi di warung kopi, konon terpanjang di Indonesia ada di Manggar, Sentra kuliner ikan laut di Tanjung Tinggi.

Pemandian alam ada di Pemali dan Sijok, juga berbagai sentra lain yang belum tergarap misalnya wisata historis; makam Raja Balok pertama berikut hutan wisatanya, sentra wisata kawasan kelekak Baro Pangkallalang, bahkan peninggalan sejarah tambang seperti objek kapal keruk timah yang legendaris, juga kulong-eks penambangan, serta berbagai lainnya. K e i n d a h a n E s e n s i a l Jika paparan di atas dapat kita lihat sebagai keindahan yang muncul secara alamiah; baik keindahan alam ataupun keindahan yang dimunculkan dalam bentuk karya, tradisi ataupun historis.

Maka keindahan lain yang membentuk koneksitas antar manusia menjadi harmoni adalah keindahan nilai atau keindahan esensi. Dalam dunia kepariwisataan ini menjadi sangat urgen. Hubungan antar manusia meskipun berbeda warna kulit, bahasa, intelektual, sosial, bahkan selera, bisa dipersatukan dengan nilai yaitu nilai-nilai positif, tanpa nilai ini kepariwisataan takkan berkembang. Sejauh mana kesiapan nilai positif masyarakat kita dalam menerima kunjungan wisata? Sudahkah kita memperlakukan tamu kita dengan baik misalnya: Bersikap terbuka, jujur, melindungi, ramah, santun, sopan, suka menolong, toleran dan bersahabat.

Dalam konteks pemahaman ini, tuntutan itu bukan semata tertuju pada masyarakat atau khalayak awan tapi juga terhadap pejabat dan aparat. Menjadi masyarakat pariwisata maka menerapan tatanan nilai adalah mutlak. Keindahan esensial yang dimunculkan bukanlah sekedar basa-basi, tapi memang mesti tumbuh dan berkembang dengan baik. Misalnya dalam diri pengelola jasa; baik ditingkat biro sampai ke level jasa terbawah. Contoh misalnya tukang parkir di beberapa sentra wisata di Bali, parkir tidak dipungut bea tapi diatur rapi oleh petugasnya maka terciptalah rasa aman dan nyaman.

Bagaimana di Babel, sudahkah kita mendapatkan pelayanan yang ramah, santun dan simpatik dari pejabat, aparat, pengelola jasa umum, bahkan ke level tukang parkir Hal lain yang menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman adalah kehadiran gepeng (gelendangan pengemis) dan praktek premanisme. Kecenderungan kedua penyakit sosial ini menciptakan citra yang tidak kondusif. Masalah gepeng membuat rasa tidak nyaman karena asumsi akan mengindikasikan jika pemerintah tak dapat pengelola tatanan sosial ekonomi wilayahnya dengan baik.

Begitupun dengan premanisme, asumsi yang muncul mengindikasikan bahwa warga adalah masyarakat yang kurang intelek. Kedua citra itu menjadi imaji tidak nyaman bagi pengunjung. Kemudian wawasan masyarakat kita. Apakah sudah atau akan siap menerima budaya (kebiasaan) yang dibawa para pengunjung asing? Di Bangka masih memiliki budaya Cigak Retak, di Belitung ada budaya keiranan. Kedua budaya itu adalah sikap heran; urang baru nemu. Tapi itu mungkin akan bersifat sementara. Seperti orang Bali yang kini sudah terbiasa melihat wisatawan asing yang berjemur di pantai tanpa pakaian luar. Bagaimana konsekuensi sosial dan moralnya? Semua berpulang kepada kesiapan diri kita"



Ian Sancin, Direktur Bidang Sosial Budaya SAPIR INSTITUTE Bangka Belitung


Written By : Ian Sancin, Direktur Bidang Sosial Budaya SAPIR INSTITUTE Bangka Belitung

Feature UBB

Berita UBB

UBB Perspective