+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel Feature UBB

Universitas Bangka Belitung's Feature
30 Desember 2008 | 13:39:23 WIB


Analisa Harga Sawit dan CPO Dunia


Tren harga minyak sawit (crude palm oil/ CPO) sepanjang 2008 seperti pesawat gagal take off, naik tinggi lalu menukik terempas jatuh. Setelah crash landing, kini sektor kelapa sawit ibarat mengumpulkan nyawanya yang terluka.

Sebagai produsen terbesar dunia, jelas Indonesia menikmati euphoria kenaikan harga CPO yang terdongkrak harga minyak dunia. CPO menjadi produk paling laris di pasaran karena diandalkan sebagai salah satu sumber energi nabati alternatif.

Melanjutkan tren yang terus naik sejak akhir 2007 hingga Februari 2008 di kisaran 2.900 RM-3.300 RM per ton, harga minyak sawit terus terpacu di angka fantastis 4.300 RM per ton atau sekitar US$1.228 per ton pada Maret 2008.

Wajar awal tahun ini kelapa sawit dinobatkan menjadi komoditas terpopuler. Inilah saatnya berkebun. Terbukti, ekspansi usaha perkebunan di dalam negeri tampak agresif dimotori oleh perusahaan besar.

Sebut saja raksasa-raksasa perkebunan dan agrobisnis, seperti Grup Sinar Mas, Grup Bakrie, Wilmar, dan Charoen Pokphand yang berlomba-lomba mengekspansi lahan baru di beberapa kawasan di dalam negeri, termasuk Papua.

Departemen Pertanian juga mencatat 44 perusahaan asing yang telah mengakuisisi perusahaan perkebunan dalam negeri dengan areal perkebunan sawit yang dikelola seluas 442.016 hektare (ha).

Sejumlah perusahaan asing itu, 16 di antaranya adalah perusahaan perkebunan asal Malaysia, yang menguasai areal perkebunan seluas 137.942 ha dengan nilai investasi sebesar Rp. 3,44 triliun.


Mulai landai

Namun, saat semua orang menikmati sensasi harga CPO dengan grafiknya yang spektakuler itu, pasar komoditas justru melandai. Harga-harga komoditas mulai melemah pada pertengahan tahun ini.

Dari puncaknya, harga CPO terguncang naik turun di level 3.300 RM-3.900 RM per ton sepanjang Mei-Juli 2008. Hingga awal bencana mengintai ketika harga minyak dunia jatuh di bawah US$60 per barel dan mengempas harga CPO di titik terendahnya 1.300 RM per ton pada Oktober 2008.

Kejatuhan harga itu mengawali babak baru. Harga CPO menguji ketangguhan sektor perkebunan kelapa sawit di dalam negeri. Pemerintah bersama pemangku kepentingan di sektor ini boleh dibilang cukup reaktif.

Injeksi pertama untuk memperkuat antibodi adalah ketika pemerintah mengubah ketentuan pungutan ekspor (PE) CPO dengan menaikkan batas bawah harga CPO sebagai penentu tariff PE. Dari semula US$550 per ton menjadi US$700 per ton.

Cukup melegakan. Setidaknya, dengan harga yang terus turun di bawah US$700 per ton atau sekitar US$505 pada November 2008, CPO kini tidak lagi kena PE. Saat itu harga sempat menguat.

Penguatan harga juga menahan kejatuhan harga tandan buah segar (TBS) yang sempat anjlok Rp200 per kg dari sebelumnya yang sempat Rp1.200 per kg.

Suntikan selanjutnya, pemerintah bersepakat dengan Malaysia untuk bersama-sama menghadapi laju penurunan harga. Caranya, mengendalikan suplai ke pasar. Meski relatif terlambat, pasar domestik kini diandalkan untuk menyerap stok yang berlebih.

Harga memang berangsur menguat. Dari titik terendahnya yang sempat menyentuh sekitar US$487 per ton, CPO berangsur naik ke level US$500-US$515 per ton.

Dua negara pemasok utama CPO dunia tidak berhenti di sini. Indonesia-Malaysia berlanjut menyepakati pengelolaan stok dengan mempercepat peremajaan tanaman tua. Targetnya, 50.000 ha di Indonesia dan 200.000 ha di Malaysia untuk 2009.

Ya, dengan harga yang rendah, lebih baik petani merealisasikan peremajaan tanaman. Apalagi, di dalam negeri, tanaman sawit tua diperkirakan mencapai 1 juta ha dari total areal perkebunan yang lebih dari 6 juta ha.

Mengutip Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Akmaluddin Hasibuan, aset usaha perkebunan adalah tanaman. Jika mayoritas aset adalah tanaman tua, usaha itu tidak akan pernah punya antibodi untuk menangkal serangan.

Tanaman tua dengan produktivitas TBS hanya 1 ton-1,5 ton per ha tidak akan lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan realisasi peremajaan. Sehingga dalam 3 tahun ke depan ketika harga CPO diproyeksi mulai menemukan keseimbangan barunya, tanaman sudah bisa berproduksi.

Harus diacungi jempol, pelaku usaha perkebunan di dalam negeri sudah cukup banyak belajar dari situasi serupa yang pernah terjadi pada 1983-1988 ketika CPO mencapai US$729 per ton lalu drop ke US$257 per ton.

Begitu juga ketika menghadapi krisis 1997-2004 yang menciptakan turbulensi pada harga CPO dari US$545 per ton lalu naik ke US$672 per ton dan berangsur turun sampai US$283 dan baru mencapai keseimbangan baru dalam 6 tahun berikutnya di US$422 per ton.

Pertanyaan kemudian, sampai di mana titik baru harga keseimbangan CPO tercapai?

Analis minyak nabati dunia dari LMC International, James Fry, sempat mengkhawatirkan pelemahan harga CPO akan bertahan sampai 2 tahun ke depan karena diperparah dengan krisis global yang menurunkan permintan.

Namun, Co-editor Oil World Seigfred Falk optimistis harga CPO masih bisa menembus US$770 per ton karena keterbatasan suplai minyak kedelai akan mendorong peningkatan kebutuhan CPO.

Bagaimanapun, bayang-bayang kelabu itu masih bergelayut di sektor perkebunan di dalam negeri. Rencana-rencana ekspansi dan renegosiasi kontrak membuat pelaku usaha memilih untuk wait and see.

Written By : Aprika R. Hernanda di Bisnis.com
Email : aprika.hernanda@bisnis.co.id

Feature UBB

Berita UBB

UBB Perspective