+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel Feature UBB

Universitas Bangka Belitung's Feature
01 April 2008 | 14:31:54 WIB


BANGUN BISNIS Dari CASSITERITE


Sedikitnya 89 orang mahasiswa/I UBB mengikuti pelatihan dalam tajuk “Pembekalan Beasiswa Damandiri,” di Mess Diklat Timah Pemali selama tiga hari (7s/d 9/12). Acaranya sendiri berupa pelatihan menjadi wirausahawan yang sukses dan terampil. Acara yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Pengabdian Masyarakat (LPPM UBB) disponsori oleh Yayasan Damandiri Jakarta.
Rangkaian acara selama tiga hari diantaranya diisi dengan pemaparan kiat-kiat berwirausaha, simulasi menjalankan usaha serta bagaimana mendirikan dan mendapatkan kredit dari bank untuk modal usaha. Ada juga success story telling dari pengusaha-pengusaha muda. Acara diikuti oleh peserta yang berasal dari FPPB (29 orang), FT (24 orang), Polman (11), FE (10) dan FHIS (26 orang). Mereka diinapkan di wisma Zircon, Xinotime dan sebagainya selama tiga hari tanpa boleh keluar dari area pelatihan.
Dalam sambutannya Jum’at (7/12) Wakil Rektor IV, Zulfakar S.Hut mengharapkan agar para mahasiswa/I mampu memanfaatkan kegiatan pelatihan ini sebaik mungkin. Sehingga dapat menciptakan mahasiswa UBB yang mampu berwirausaha secara mandiri. Pembukaan acara juga dihadiri ketua LPPM, Nyayu Siti Khadijah.S.P,.M.Si.,, yang menyampaikan harapannya agar pelatihan ini mampu mencetak mahasiswa/I yang unggul
Acara di hari pertama diisi dengan pembekalan materi kewirausahaan oleh Reniati,S.E.,M.Si yang juga dosen jurusan ekonomi di UBB. Beliau juga memberikan tip dan kiat-kiat dalam menjalankan sebuah usaha. Sedangkan dihari kedua Sabtu (8/12), para peserta mempraktekan ilmu yang telah didapat dengan mengaplikasikan dalam bentuk simulasi per kelompok terdiri dari 10 orang. Kegiatan outdoor ini mengambil tempat di seputaran desa Pemali. Seluruh peserta terlibat dalam simulasi bisnis. Tujuan simulasi adalah melihat bagaimana mereka menjalankan usaha dengan modal yang didapat. Sebelumnya mereka diberikan uang saku sekaligus modal Rp.50.000, - per orang. Jumlah itu untuk biaya hidup selama pelatihan dan termasuk modal untuk simulasi. .
Banyak hal menarik terjadi ketika masing-masing kelompok menjalankan bisnis dadakan mereka. Ada yang berdagang es buah dan kelapa muda dengan sistem door to door . Beberapa ada yang tampak malu-malu dan canggung Ada juga yang menuju ke Sekolah Dasar setempat. Mereka menjual sosis goreng untuk murid SD. Beberapa peserta ada yang menjual minuman kaleng, ragam aksesoris, handuk, ember plastik. Diantaranya ada lagi yang menawarkan jasa, seperti montir memperbaiki pompa air, mesin cuci. Bagi yang tidak punya modal dan keahlian, jadi pembersih rumput pun dilakoni juga. Ada keceriaan dan kebersamaan disana. Semua peserta tampak bersemangat walau sebagian besar diantara mereka tak pernah melakukan usaha berdagang atau menawarkan jasa seperti ini.
Menurut ketua panita, A.Wahyu C P, S.T.,M.Sc, bekal Rp.50.000,- sengaja diberikan jauh hari sebelum kegiatan agar mahasiswa belajar mengelola keuangan. Uang itulah untuk biaya hidup mereka sekaligus modal nantinya. Selama di penginapan, para peserta tidak diperbolehkan untuk keluar membeli perlengkapan bahkan membeli bekal makan malam atau siang. Tujuannya sekali lagi mengajarkan mereka mengatur keuangan. Asumsinya jika kemudahan dipersempit, orang-orang akan dipaksa untuk lebih kreatif. Tak heran, ada beberapa kelompok yang menyiapkan catering untuk mengantisipasi peraturan seperti ini, tak aneh pula jika ada peserta sempat sedikit kelaparan di hari-hari pertama. Menurut beliau tujuan dari kegiatan pelatihan ini adalah pembekalan mahasiswa dalam kewirausahaan, menumbuhkan kreativitas, kemandirian, dan mengajarkan pentingnya arti komunikasi.

Yayasan Dana Sejahtera Mandiri atau disebut Yayasan Damandiri didirikan pada tanggal 15 Januari 1996 oleh HM Soeharto sebagai pribadi, yang kebetulan saat itu menjabat Presiden RI. Sebagai pendiri, HM Soeharto dipercaya sebagai ketua yayasan, dibantu oleh Prof. Dr. Haryono Suyono sebagai Wakil Ketua I, Sudwikatmono sebagai Wakil Ketua II, dan Liem Soei Liong sebagai Wakil Ketua III.
Tujuan utama yayasan adalah membangun sumber daya manusia, utamanya dari keluarga kurang mampu, dengan menempatkan yayasan sebagai wadah bagi masyarakat untuk bergotong-royong mewujudkan tingkat kesejahteraan sejati dan taraf hidup mandiri. Modal awal Yayasan dihimpun dari sumbangan yang ikhlas dari wajib pajak yang berasal dari keuntungan setelah dipotong pajak untuk membantu mewujudkan keluarga sejahtera secara merata. (www.damandiri.or.id)

Untung atau rugi yang mereka dapat, paling penting adalah pengalaman. Hal inilah yang dilakukan Sabtu sore, para peserta diajak sharing pengalaman. Banyak hal dikemukakan oleh para peserta. Debat dan kritikan mewarnai acara ini. Sangat menarik melihat antusiasme para peserta yang tergolong masih muda, mahasiswa semester III UBB. Meskipun berasal dari berbagai jurusan ilmu, mereka kompak dan bersama untuk perkara wirausaha. Melalui sharing itulah muncul rumusan kata-kata ‘magis’ bila ingin jadi wirausahawan sukses yakni : kompak, kerja keras, komunikasi, kepercayaan, semangat, networking, perencanaan, marketting, yakin, tidak gengsi/ malu, ikhlas terakhir kreatif. Perlu diingat, rumusan ini muncul dari pengalaman nyata bukan asal tiru dari buku.
Sungguh sebuah perencanaan yang matang, ketika pengalaman mereka ini dielaborasi dengan sharing pengalaman dari para pengusaha-pengusaha sukses. Inilah yang mendasari adanya success story telling (cerita sukses) Sabtu malam. Para peserta mendapat semacam pencerahan dengan mendengarkan kisah sukses dari tiga orang pengusaha lokal. Mereka diantaranya adalah Budi Prawoto pengusaha Pewter, Deni Usma (Deniar) pengusaha buah-buahan, ekspedisi, dan besi tua, serta Kandar Sutopo dari pemilik warung makan Yogya. Ada banyak hal yang ditanyakan para peserta, diantaranya mengenai permodalan, persaingan usaha, serta bagaimana secara mahasiswa dapat berbisnis.
Menginjak hari ketiga, minggu (9/12) merupakan acara terakhir. Sebelumnya para peserta mendapat materi dari narasumber Dedih Sapjah, S.T.,M.Sc, mengenai berwirausaha yang sukses. Sera dari narasumber, Cecep Holili mengenai profil bank BRI dan fasilitas yang diberikan kepada para calon pengusaha. Kades Pemali, Sutarman juga memberikan wawasan mengenai tata cara UKM yang baik dan benar.
Dalam acara penutupan, Dedih Sapjah sekaligus Warek III mengharapkan agar mahasiswa dapat lebih disiplin dan loyal dalam menjalankan usahanya. Sedangkan menurut Nyayu Siti Khadijah, beasiswa ini sesungguhnya diperuntukan bagi mereka yang berminat dalam kewirausahaan. “ Persoalannnya bukan mampu atau tidak mampu anda untuk kuliah, tapi karena mampukah anda mempraktekan pelatihan wirausaha,” ungkapnya. Lebih lanjut beliau mengatakan , “inilah wirausahawan baru, mahasiswa UBB, Mahasiswa Damandiri,”.
Ada banyak impian coba digantungkan, ada juga keletihan dan keceriaan yang dilebur jadi satu. Kebersamaan hari itu adalah kekuatan bagi Universitas Bangka Belitung. Mereka pulang dengan sejuta pengalaman seru. Mereka datang dengan rasa penasaran dan pulang membawa poin plus.

Tiap Tahun
Melihat kekompakan dari para peserta menunjukkan pada dasarnya mereka senang dengan kegiatan ini. Sebab ada banyak hal yang dapat mereka petik untuk dapat dipraktekan dalam kegiatan kegiatan sehari-hari. Beberapa semula gengsi untuk berjualan kini tak lagi. Kini ada keasyikan tersendiri dalam menawarkan dagangannya. Bisa jadi selama ini para peserta hanya bisa menerima uang tanpa perlu memikirkan mencarinya, sekarang sadar ternyata tak mudah mendapatkannya.
Suka duka dari kegiatan ini beragam. Salah seorang mahasiswa menjawab, “Suka kebersamaan, bisa bersenang-senang, sedangkan dukanya tidur di atas semen dan banyak nyamuk,” ujar Benge, mahasiswa Fakultas Teknik Mesin. Ia bersama kelopoknya menjual es kelapa dalam simulasi. Mereka meraih untung Rp.35.000,-. Jumlah yang termasuk besar.
“ Enjoy,pacak berbagi atau curhat sesame peserta,” ungkap Yulita dengan senyum simpul tatkala ditanya hal yang ia rasakan. Kata kebersamaan nampaknya populer di telinga mahasiswa. Ini mungkin karena acaranya berkelompok. Mereka pun selalu bersama dalam melakukan sesuatu. Hal ini juga diamini oleh Sri Maryati asal fakultas Pertanian, menurutnya kebersamaan dan kekompakan adalah dua hal yang disukainya dalam kegiatan ini.
“ Relatif sukalah,” Ungkap Dwi Subekti kelahiran DIli 21 tahun lalu. Loh anda bisa berada disini,” yah ikut orang tua, saya pindah ketika kelas 3 SMP,” rupanya mereka adalah eks penduduk Timtim yang hijrah ketika konflik pasca jajak pendapat lalu. “Acara seperti ini bisa menambah wawasan kita dalam berusaha, jadi I am the boss, bisa memanfaatkan dan memperjuangkan apa yang kita usahakan,” urainya. Saat ditanya apakah anda pantas mendapat beasiswa Damandiri, ia menjawab pantas. Alasannya ia punya motivasi untuk berwirausaha dan dapat memberi motivasi untuk adik tingkat walau belum mampu. Sungguh cita-cita mulia.
Sedangkan bagi seorang Ririn Amelia (18), kegiatan seperti ini dapat menambah pengalamannya dan bisa memotivasinya untuk selalu berusaha jadi interpreneur. Mereka telah termotivasi rupanya. Baginya, duka yang ia rasakan hanyalah jauh dari keluarga apalagi tinggal di tempat yang sunyi seperti ini. Padahal gadis dari jurusan teknik sipil ini terbiasa mengikuti pelatihan-pelatihan. Ia berencana berbisnis kue nantinya.
Ada banyak hal yang dirasakan oleh para peserta. Sejak menginjak kaki di wisma Cassiterite pikiran mereka telah di indoktrinasi dengan kata-kata wirausaha, bisnis, I am the boss, pantang menyerah, sukses. Kata–kata yang bernada positif dan menggugah selera dan minat. Mereka memang diajarkan untuk berwirausaha tiga hari itu.
Apa yang mereka dapatkan dari kegiatan seperti ini. “ Kalau kita berusaha dan yakin, peluang untuk berhasil besar, “ kata Benge mantap. Lain lagi bagi Ririn, ia mendapatkan semacam pencerahan, “Setiap tetes keringat sangat berarti,” ungkapnya. Ia juga menambahkan untuk berhasil harus ada semangat, kerja keras dan keyakinan. Ternyata pada saat simulasi ia menjual sayur, tempe, udang kering, dan merumput di halaman salah satu penduduk bersama temannya. Inilah yang membuatnya sadar setetes keringat sangat berarti. Luar biasa memang.
Entah ini perasaan hangat-hangat tahi ayam atau fixed planning yang bakal dijalankan secara konsekuen. Mereka paling tidak disadarkan bahwa kini untuk menjadi sukses ada banyak cara. Salah satunya, yah dengan berwirausaha. Lalu perkara inilah yang nantinya akan mereka tularkan ke siswa-siswi SMA/K nantinya. Sekedar informasi, program ini nantinya dimaksudkan agar mereka (mahasiswa-red) mendampingi siswa/I dalam program kewirausahaan bulan-bulan kedepan.
Hal inilah yang membuat seorang Dwi Subekti merasa pantas menerima beasiswa. Alasannya ia punya motivasi untuk beriwirausaha dan dapat memberi materi untuk adik tingkat walau belum mampu mengembangkan secara nyata dalam kehidupan pribadinya. “ Insya Allah kami bisa menjelaskan, “ lanjutnya. Sedangkan bagi seorang Sri Maryati, nilai-nilai kreatif, kerjasama, sabar dan kekompakan adalah poin-poin yang ia dapatkan dalam kegiatan ini. Lain lagi bagi Yulita, dengan kegiatan seperti ini ia bisa berkembang, bisa berbagi teman dan mendapatkan inspirasi.
Semua narasumber kompak menjawab setuju bila acara seperti ini bisa dilakukan tiap tahun. “ harus setiap tahun, sebab bisa mendidik orang yang belum mandiri jadi mandiri dan memotivasi mereka untuk berusaha terutama mahasiswa,” kata Benge. “ Kalau bisa setiap tahun, dengan catatan mahasiswa diberi kebebasan dalam menentukan projek seperti apa,” ungkap Dwi.
Seharusnya lah acara-acara pembekalan seperti ini diadakan sesering mungkin. Kata kuncinya adalah wirausaha. Lebih baik menciptakan pekerjaan dari pada mencari pekerjaan. Bisa dibayangkan pengaruhnya kepada diri mereka dan universitas jika kegiatan kewirausahaan adalah kewajiban. Peserta manapun boleh ikut serta. Kegiatan ini bukan faktor ketidakmampuan secara finansial tapi minat mereka. “kalian disini memang dipilih dari masing-masing fakultas, tapi sesungguhnya kalian disini adalah kehendak dari yang di Atas,” ungkap Nyayu berapi-api. (Iksander)

Feature UBB

Berita UBB

UBB Perspective