+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel Feature UBB

Universitas Bangka Belitung's Feature
04 Juni 2009 | 12:38:05 WIB


Raja Belitong Dari Jawa


Pelabuhan adalah sarana ujung tombak dari perekonomian di Pulau Belitung dimana rutinitas bongkar muat kapal ada di pelabuhan Tanjungpandan, namum pelabuhan Tanjungpandan ini bukanlah yang pertama ada di pulau Belitung, pelabuhan tertua ada di teluk Balok sebelah timur Pulau Belitung yang dinamakan oleh masarakat Pelabuhan Dendang. Tahun 1668 Seorang kebangsaan Belanda bernama Jan De Harde. Kapalnya melewati teluk Balok lalu menuju muara hingga merapat di kerajaan Balok. Jan De Harde mencatat adanya rumah adat atau rumah balai di kerajaan Balok.

Kini puing-puing dari sisa peninggalan kerajaan dimasa Ki Gede Yakob Cakraningrat 1 tersebut tidak tersisa yang ada hanyalah Pelabuhan Dendang yang menjadi saksi bisu. untuk mengenang kembali Raja Balok dan menggali kembali memori masalalu.

Pengaloran keluarga Besar Cangkraningrat garis keturunan Raja balok ini masih menziarahi makam Raja mereka. Keluarga besar ini masih peduli akan warisan leluhur mereka yang mesti dijaga sebagai perwujudan dari Budaya sejarah pulau Belitung yang mesti dilestarikan dan diwariskan ke generasi berikutnya agar tidak lenyap ditelan waktu.

Ki Gede Yakob atau Kyai Masud, adalah raja ke dua Balok, memerintahanya tahun 1618-1661, menggantikan raja Balok pertama Ki Ronggo Udo . Ki Gede Yakob merupakan ponakan Ki Gede Pamanah Raja Mataram menikahi anak raja Balok pertama bernama Nyi Ayu Kusuma alias Nyayu Siti kusuma. Setelah memerintah kerajaan Balok Ki Gede Yakob bergelar Cakraningrat I, sedang turunan Raja apabilah lelaki akan bergelar Ki Agus dan turunan perempuannya bergelar Nyi Ayu.

Pada masa pemerintahan Cakraningrat I, Ki Gede Yakob, beliau menerapkan sistem pemerintahan yang egaliter, mengayomi semua suku etnik yang ada di Pulau Belitung, masa pemerintahan beliau dikenal adanya rumah adat yang disebut Ruma Gede, merupakan rumah balai tempat bermusyawarah dengan kepala suku yang ada di wilayah pemerintahannya. Sebagai orang Jawa, beliau menghormati sistem yang sudah berlaku sebelumnya, sehingga adat istiadat masyarakat dapat berkembang sebagaimana yang ada.

Tidak hanya makam Raja Bolak yang diziarahi namum di sini juga terdapat makam Syech Abdul Jabar Syamsudin, ulama penyebar agama Islam di Pulau Belitung semasa perintahan Cakraningrat I. Beliau mengajarkan Islam dan memperkenalkan kesenian rudat petama kalinya.

Nama Desa Dendang yang sekarang Balok Baru, awalnya bernama Kampong Bedendang yang bermakna kampung kesenian, di sana rudat dimasyarakatkan. Bedendang artinya melagukan syair lagu sambil menari. Beliau memperkenalkan rudat sampai ke wilayah hulu Sungai Kembiri yang bermuara ke Teluk Balok.

Kini makam-makam tua ini akan sunyi sepi apabila terpisah dengan para penziarah namum bagi pulau Belitung tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari jejak sejarah yang panjang. (Ki Agus wahyudi / Ian Sancin)




Penulis : Ki Agus wahyudi / Ian Sancin di Begalor.com


Feature UBB

Berita UBB

UBB Perspective