+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel Feature UBB

Universitas Bangka Belitung's Feature
04 Juni 2009 | 13:00:20 WIB


Parang Badau Senjata khas orang Melayu di Pulau Belitong




Tahun 1365 Nama Belitung tertera di dalam syair kartagama ditulis oleh Empu Prapanca.



Parang Badau adalah senjata tajam yang terbuat dari besi, Bentuknya sederhana tanpa pernak pernik. Kegunaannya adalah sebagai alat untuk memotong kayu atau membersikan semak belukar ketika memasuki hutan atau membersikan areal pertanian di pulau Belitung.

Senjata khas orang Melayu ini zaman dahulu. sebagai alat untuk bertempur guna mempertahankan diri dari musuh. Sedangkan menurut keterangan pengamat sejarah Belitung Ian Sancin pada abad ke13 berdiri kerajaan kecil di Badau dipimpin oleh Raja dengan gelar Ronggo udo. pada masa itu era majapahit penduduk sudah membuka kawasan pemukiman dan kegiatan berladang, maka kegiatan pandai besi di Badau sudah berlaku ketika itu masarakatnya langsung di ajarkan empu pandai besi dari majapahit. Tahun 1365 Nama Belitung tertera di dalam syair kartagama ditulis oleh Empu Prapanca.

Sehingga tidak heran Badau sampai saat ini sebagai setra pengerajin Parang di Pulau Belitung. Sebut saja salah seorang yang bernama Masri 50 tahun, Kepandaian menempa besi ini didapat dari orang tuanya yang sudah turun temurun membuat usaha kerajinan parang ini.

Masri di Bantu oleh istrinya bertugas memompa angin untuk sepuhan besi, Satu minggu Masri bisa menghasilkan 10 Parang dijual dengan harga perbuah 50 ribu pelanggan Masri masarakat petani sekitarnya dan juga toko-toko pertanian di pasar Tanjungpandan Pulau Belitung, Sedangkan bahan baku berupa besi bekas shock breker mobil Masri harus membeli 8 ribu perkilo namum saat ini bahan baku agak susah didapat ujar masri".

Para pengerajin parang di kecamatan Badau ini adalah Usaha Kecil Menengah yang perlu dukungan serta pembinaan dari pemerintah daerah terutama dari segi pemasaran yang tidak hanya berkutat di pulau Belitung saja tetapi bisa dipasarkan ke daerah lain demikian juga dengan kualitas parang yang butuh sentuhan yang lebih agar punya nilai ekonomis tinggi, menjadikan parang ini berupa seni kerajian shopenir dari pulau Belitung dengan begini usaha pengerajin parang ini akan terus berkembang

Parang tidak hanya berupa senjata warisan leluhur budaya pulau Belitung namum juga. Para pengrajin akan bersemangat menjadikan usaha kecil menengah berupa parang sebagai tulang punggung perekonomian di pulau Belitung, khususnya untuk mengatasi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja dan memeratakan pertumbuhan ekonomi.




Penulis : Ki Agus wahyudi di Begalor.com


Feature UBB

Berita UBB

UBB Perspective