+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel Feature UBB

Universitas Bangka Belitung's Feature
23 April 2008 | 05:35:20 WIB


Penemuan Beras Merah Putih


Adji Koesoemo tak pernah mengira dirinya akan menanam beras merah-putih. Dulu, lulusan Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) ini hanya bercita-cita sebagai sutradara dan pelukis.

Semasa SMA, ia menimba ilmu di Ponpes Al Mujahadah asuhan KH Muhammad Dardiri di Lempuyangan, dan Ponpes 'Bodho' asuhan KH Abdul Hamid di Kajoran, Magelang. Selepas itu, dan kemudian menikah, ia bahkan hanya berkeinginan menjadi guru mengaji dan memiliki rumah kecil sederhana.

Direktur Utama Prakasita Sekar Mataram ini, sekitar Januari-Februari 2006 lalu, kedatangan seorang tamu dari sekitar Candi Sewu, Pambranan. Tamu itu membawa 160 butir beras yang berwarna merah-putih. Tamu itu mengaku mendapatkan beras itu di tempat yang diperkirakan sebagai peripih (tempat sesajen) di kompleks Candi Prambanan. Ia mendapatkannya saat menggali tanah di sebelah timur Candi Sewu dan menemukan wadah tertutup yang berisi beras itu.

''Saya juga tidak tahu kenapa orang tersebut menyerahkan kepada saya. Ia mengenal saya karena tahu saya banyak berkecimpung di pertanian,'' ujar Adji, yang sudah 2-3 tahun mengembangkan pupuk organik cair. Kala itu, Adji ragu bisa membudidayakan beras merah-putih itu. ''Apakah bisa tumbuh atau tidak, karena bentuknya sudah beras dan umurnya sudah lama,'' kata pria kelahiran Yogyakarta, 4 November 1965, ini.

Adji tahu, dengan teknologi, gabah padi hanya bisa didimpan sampai 25 tahun. Ia menduga beras merah-putih ini berasal dari abad ke-10 atau ke-11. Sebuah majalah malah menulis beras ini berasal dari abad ke-7. Beras itu diperkirakan tertimbun tanah karena pada 1006 Gunung Merapi meletus. Adji menduga ini beras berkualitas bagus di masanya, karena benda-benda yang dibuat sesajen di masa lalu biasanya merupakan benda yang terbagus.

Beras merah-putih itu pun kemudian ia pilah. Ia mendapatkan 120 butir beras yang masih mempunyai lembaga. Sebanyak 20 butir dikecambahkan dengan cara dibungkus sekam padi rojolele, 100 butir lagi dikecambahkan di atas kapas dan diberi hormon tumbuh, kemudian ditanam di pot.

Pertumbuhan tanaman berjalan sangat lambat. Tiap hari tanaman satu per satu mati, bahkan pada umur 2,5 bulan tanaman baru mencapai tinggi sekitar 5 cm. Dan, hanya tinggal tujuh tanaman yang bertahan hidup sampai bisa panen. Tujuh tanaman inilah yang selanjutnya disebut sebagai tanaman tetua.

Dari tujuh tanaman tetua, pada umur 5,5 bulan berhasil dipanen sebanyak 2.411 butir gabah merah-putih. ''Yang menyemaikan dan menanam sejak awal adalah staf saya, Hertanto, yang bekerja di tempat saya (di bagian penelitian dan pengembangan) sejak 1,5-2 tahun yang lalu,'' kata suami dari drg Evy Herawati ini.

Hertanto adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berhenti kuliah, karena sibuk bekerja. ''Hertanto akan diaktifkan lagi masa kuliahnya, karena sudah KKN dan tinggal menyelesaikan skripsi. Skripsinya tentu saja tentang beras merah-putih. Karena ketekunannyalah bisa dikembangkan beras merah-putih,'' kata Ir Gatot Supangkat MP, dosen Fakultas Pertanian UMY yang bersama koleganya, Ir Lilik Utari MS, juga menjadi tim peneliti beras merah-putih, mewakili UMY.

Beras merah-putih belum ditanam di sawah, melainkan di halaman rumah keluarga istri Adji di Dusun Kebonagung, Tridadi, Sleman. ''Padi merah putih ini saya namakan varietas RI-1,'' ungkap Adji yang di masa kuliahnya aktivis demonstrasi dan pernah mogok makan menolak UU Lalu Lintas pada 1992.

Nama RI-1 dipakai untuk menunjukkan beras merah-putih itu simbol kebangkitan dan pemersatu bangsa. Bila beras merah-putih yang dikembangkan sudah menghasilkan cukup banyak, akan dibagikan kepada petani ke seluruh Indonesia. ''Saya mengembangkan dan memproduksi padi merah putih ini bukan untuk dijual, melainkan untuk dibagikan kepada masyarakat petani di seluruh Indonesia,'' kata alumnus SMA Muhammadiyah III itu.

Pada 13 Agustus 2006 dalam acara Indonesia Bangkit 'Doa Sejuta Rakyat', sebagian kecil gabah hasil panen tetua itu diberikan kepada perwakilan petani di 12 daerah di Indonesia, yaitu Kediri, Sumenep, Pati, Banyumas, Sabdodadi Bantul, Banjarnegara, Riau, Kutai Timur, Sulawesi Barat, Ambon, Papua, dan Bali.

Padi RI-1 yang diberikan kepada petani di Sabdodadi, Bantul, belum ditanam, karena situasi belum memungkinkan, sedangkan di Bali mati semua. Yang ditanam di Banyumas paling bagus hasilnya. Jumlah anakan mencapai 60-70 batang, setelah dipupuk dengan pupuk organik buatan Adji dan tim penelitinya. ''Pupuk yang kami buat berasal dari ramuan asli Indonesia,'' ujar ayah dari Cintia, Wika, dan Ami itu.

Pupuk organik ini pula yang dipakai untuk meningkatkan produksi beras rojolele mencapai 15 ton per hektare. Pakai pupuk biasa hanya 4-5 ton. ''Pupuk tersebut belum kami jual secara luas dan belum kami beri nama, karena masih terus kami uji di laboratorium,'' kata Adji yang lebih percaya kerja 'supertim' daripada sebagai 'superman'.

Rencananya, pada 16 Agustus 2007 nanti, Adji akan membuat Tumpengan Agung Sang Dwi Warna Indonesia Bangkit. Nasinya berasal dari beras merah-putih. Ia berharap pada 16 Agustus itu produksi beras merah-putih sudah mencapai 5-6 ton dari lahan satu hektare. Yang satu ton untuk membuat tumpengan, sisanya akan dibagikan ke perwakilan petani di Indonesia.

Sentra pertanian
Sejak 1992 ia telah menggeluti pengobatan herbal-alami. Ia mempelajari jamu tradisional hasil konservasi leluhur Keraton Mataram. ''Waktu itu saya diminta oleh eyang saya (Pujokusumo) memegang buku resep-resep jamu untuk kesehatan dan kecantikan tulisan Hamengku Buwono II dalam tulisan Jawa. Sejak saya coba-coba, pada tahun 1992/1993 saya mulai membuat suplemen kecantikan dan suplemen kesehatan untuk otak. Sekarang suplemen tersebut yang mengembangkan adik-adik saya,'' tutur Adji.

Kini ia berencana menjadikan Desa Kebonagung sebagai 'kebon agung'-nya Indonesia. Di Kebonagung ada sekitar 13 hektare sawah milik petani yang akan dijadikan sebagai sentra penelitian dan pendidikan pertanian. Semua hortikultura akan dicoba ditanam di sini. ''Saya akan koordinasi dengan masyarakat di sini,'' kata dia.

Sejak mendapat beras merah-putih, Adji mengaku punya kesadaran bahwa padi lokal harus dilindungi. Karena itu ia berkeinginan untuk membikin koleksi plasma nutfah padi. ''Saya akan keliling dari Sabang sampai Merauke untuk mencari padi-padi lokal,'' tutur dia yang kini sudah mengumpulkan sekitar 15-20 jenis varietas padi lokal di Indonesia. Dari limbah suplemen kecantikan dan kesehatan serta ditambah dengan berbagai ramuan lainnya, ia pun berhasil mengembangkan pupuk mikroorganik dan makroorganik. Belum lama ini ia mendapat tawaran dari perusahaan Malaysia yang bersedia menjadi agen tunggal produk pupuknya, dan siap mentransfer uang Rp 140 miliar. Namun, ia bersama istrinya menolak. ''Bila ada agen tunggal, masyarakat petani yang akan dirugikan, karena ketersediaan barang maupun harga bisa dimainkan,'' ujar Adji, yang sejak mahasiswa membela kepentingan petani itu.

Source : http://bung-ak.blogspot.com/2008/02/adjikoesoemo-padi-lokal-dan-nasib.html

Feature UBB

Berita UBB

UBB Perspective