+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel Feature UBB

Universitas Bangka Belitung's Feature
25 Juni 2008 | 04:39:10 WIB


Red Clover Tanaman Masa Depan: Sebagai Obat dan Bahan Bakar


Wanita yang menderita gejala menopause dan peduli akan dampak sampingan dari terapi pengganti estrogen, mungkin suatu ketika mendapatkan pengobatan alami yang efektif dengan tanaman Red Clover (Trifolium Pratense).

“Kami percaya ada masa depan Red Clover sebagai pengatur hormon untuk mengurangi gejala menopause seperti pancaran panas,” kata ilmuwan Agrikultur dan Agripangan Kanada, Dr. Yousef Papadopoulos.

Bekerja bersama rekan Dr.Rong Cao, Dr. Papadopoulos telah menemukan bahwa tanaman Red Clover mengandung unsur bioaktif kadar tinggi yang disebut isoflavon yang dapat mengatur hormon dan mengurangi rentan tulang karena rendah estrogen.

Sementara ekstrak isoflavon estrogen dari kedelai sudah dapat dibeli dalam beberapa tahun terakhir ini, Dr. Papadopoulos berfikir ini adalah sesuatu yang lebih baik.

“Kami menemukan bahwa isoflavon yang ditemukan pada tanaman Red Clover berada pada tingkat 30 kali lebih tinggi daripada kedelai dengan konsentrasi tertinggi terletak pada daunnya,” katanya. Dr. Cao sambil menyarankan untuk mengekstraksi isoflavon dari daun tanaman Red Clover mungkin akan lebih murah, karena harga kedelai yang terus melonjak.
Mencari tanaman Red Clover berdaun empat.

Dr. Papadopoulos dan Dr. Cao mulai mengamati tanaman Red Clover pada tahun 2000, untuk memperkuat beberapa bukti yang bersifat anekdot dan menyajikan gambaran yang jelas tentang potensi Red Clover sebagai tanaman obat.

“Isoflavon yang dihasilkan berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri dari tanaman untuk melawan serangga, bakteri serta jamur, dan hal ini juga menampakkan memiliki kualitas perlindungan bagi kesehatan manusia.” Kata Dr. Cao.

“Komposisi isoflavon berfungsi sebagai antioksidan dan berkemampuan sebagai anti kanker. Studi yang dihasilkan akhir-akhir ini juga menunjukkan perannya dalam mengurangi resiko penyakit radiovaskuler.”

Langkah selanjutnya
Tahap berikutnya dalam penelitian adalah mengembangkan varitas tanaman Clover dengan kandungan isoflavon yang lebih tinggi

“Kami sudah memilih varitas untuk kebutuhan isoflavon tertinggi,” kata Dr. Papadopoulos, spesialis budidaya tanaman dan genetika dan melakukan penelitian Clovernya di fasilitas penelitian Agrikultur dan Agripangan Kanada, di pulau Prince Edward.

Evaluasi terhadap unsur bioaktif dapat membutuhkan waktu hingga dua tahun. Baru kemudian masalah kerja sama dengan sebuah rekanan industri untuk memproduksinya, yang dapat tuntas dalam waktu tiga hingga lima tahun.

Sebagai peternak telah mengetahui selama ratusan tahun, bahwa Red Clover banyak mengandung nutrisi esensial, menjadikannya sebagai makanan ternak dan binatang yang ideal. Kini berpotensi memberikan persediaan sumber penghasilan di berbagai lapangan pekerjaan baru sebagai bahan obat-obatan.

Kanada mempunyai iklim yang ideal untuk menghasilkan Red Clover dan para petani telah menanamnya secara bergantian dengan jenis tanaman lain. Jika Clover dapat dijual sebagai tanaman obat, petani akan mempunyai jenis tanaman baru untuk dijual tanpa harus menambah luas lahan pertaniannya. Tanaman Red Clover mungkin juga mempunyai kegunaan lain. Batangnya dapat dibuat menjadi biofuel (bahan bakar dengan bahan baku sisa tanaman) sebagai penghangat, lagi-lagi sebuah kesempatan sumber penghasilan baru bagi petani.

Dr. Papadopoulos sangat berminat, bukan hanya sekedar untuk pengobatan tetapi juga potensi ekonomi.

“Di antara keuntungan-keuntungan lain, Red Clover adalah tumbuh-tumbuhan hijau sepanjang tahun dan menyediakan kebutuhan nitrogen bagi dirinya sendiri, serta mengurangi kebutuhan pupuk. Itu tentu bagus bagi lingkungan,” kata Dr. Papadopoulos. (The Epoch Times/dta)

Feature UBB

Berita UBB

UBB Perspective