+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
28 Desember 2011 | 11:22:55 WIB


Pangkalpinang Dulu, Kini dan Nanti


Ditulis Oleh : Rendy Hamzah

Pangkalpinang antara dulu, kini dan nanti tentulah menghadirkan potret realitas yang multi perspektif. Yang jelas Pangkalpinang kini telah berbeda jauh dengan yang dulu. Beberapa tahun terakhir, kota yang bermoto BERARTI ini kian aktif berbenah dan membangun, khususnya pembangunan infrastruktur yang kian intensif di berbagai sudut ruang kota. Terlepas dari realitas negatif yang bisa jadi berpotensi membebankan sekaligus mengabaikan dimensi keadilan bagi warganya, yang jelas, Pangkalpinang dengan berbagai eksotika dan kompleksitas berkotanya, siap tidak siap dituntut harus mampu menghadirkan realitas berkota secara humanis.

Menyoal humanisme berkota, inilah yang sekarang menjadi spirit berkota hampir seluruh kota-kota berkelas dunia yang ada di dunia. Berbagai kota besar dan kecil saling berlomba secara kompetitif mengembangkan konsep berkota yang bersahabat dan ramah lingkungan. Harapannya tentu yaitu meningkatkan kualitas berkota yang memperhatikan betul nasib warga dan ekologi hijaunya yang sehat dan berkelanjutan, serta mendisiplinkan betul agar jangan sampai terjadi disparitas sosial yang serius antara si miskin dan yang berpunya. Sebagaimana mengutip kriteria standar kota yang dianggap berkelas dunia versi City Brands IndexSM (CBI, Reuters-Singapore, 2009) bahwa penampilan dan pengetahuan berkota harus mencakup kebersihan dan iklim, gaya hidup yang menarik, persepsi sebagai tempat yang baik untuk berbisnis, mencari pekerjaan, dan bersekolah.

Tulisan singkat ini tak bermaksud menggurui, terlebih menyudutkan para elit penguasa kota kita tercinta. Yang jelas, ini sekedar bercurah gagas, paling minimal bisa menggairahkan spirit humanisme kita semua dalam berkota agar mampu memenuhi harapan warga kotanya. Untuk itu, kedepannya tentu menjadi harapan kita semua agar Pangkalpinang mampu menerapkan konsep berkota yang benar-benar bisa memanusiakan para penghuninya, para pedagang kakilima, para pelajar, para kaum difabel, serta masyarakat luas yang ingin merasakan romantisme ruang publik kota secara berkeadilan.

Potret Berkota di Pangkalpinang


Pangkalpinang memiliki pesona tersendiri, selain sebagai jantungnya ibu kota negeri Serumpun Sebalai, Pangkalpinang telah menggiurkan banyak orang dari berbagai penjuru negeri ini untuk mengadu nasibnya. Selain itu juga, konsekuensi modernisasi kini juga tidak luput juga mewarnai dinamika pergaulan muda-mudi perkotaan sehingga tidak heran jika akhir-akhir ini tidak sedikit norma-norma kesopanan dan kepatutan adat budaya ketimuran kita mulai bias di tengah-tengah kita semua. Kini Pangkalpinang pun juga diramaikan dengan kehadiran banyak pusat hiburan yang semakin memeriahkan gemerlap dunia malam kota kecil ini. Pun demikian, Pangkalpinang tetaplah sebuah kota yang tidak luput dari problem perkotaan yang kian kompleks.

Ini terlihat dari kepadatan penduduk kota yang secara otomatis juga berkontribusi terhadap kondisi tata ruang kota sehingga berpotensi menimbulkan kesemerawutan yang akan mengganggu estetika keindahan berkota di Pangkalpinang. Termasuk juga persoalan kriminalitas yang tentunya mesti mendapat perhatian ekstra serius semua pihak agar Pangkalpinang mampu menggaransi diri sebagai kota yang benar-benar BERARTI : Bersih, Rapi, Aman, Tertib, dan Indah. Ini sejalan dengan spirit moto Kota Pangkalpinang.

Yang jelas, inilah dinamika kota yang tak pernah sepi dari berbagai gejolak sosialnya yang kompleks dan perlu mendapat perhatian serius semua pihak untuk mengurai sekaligus menawarkan solusi konstruktif atas persoalan perkotaan. Untuk itu penting sekali untuk menentukan alternatif model bentuk kota yang berkiblat pada sifat-sifat urban sprawl, yang mampu merefleksi kemungkinan trend perkembangan di masa mendatang dengan target tidak lagi terjadi pemborosan sumberdaya, termasuk pemborosan energi (Hudson dalam Hadi SY Struktur tata ruang kota,2000).

Demikianlah salah satu urgensi mengapa pembahasan RTRW yang sekarang sedang digodok sangat perlu sekali mendapat kajian dan telaah lebih mendalam agar benar-benar mampu berkontribusi secara konstruktif bagi tata kelola ruang perkotaan secara ideal baik kini maupun di masa mendatang. Untuk konteks Pangkalpinang, kita bisa menyaksikan bagaimana kualitas sungai Rangkui yang topografinya membelah panjang di tengah-kota. Dulu kita masih sempat menyaksikan romantisme para warga sekitar sungai yang asyik memanfaatkan kehadiran sungainya tersebut setiap harinya. Namun, saat sekarang kita lihat saja betapa bau menyengat serta semakin kotornya kualitas sungai akibat bertebarannya sampah yang dibuang secara sembarangan akibat belum membudayanya hidup bersih warga kota. Ini diperparah dengan sistem drainase kota yang belum terkelola secara baik sehingga tidak jarang setiapkali hujan, beberapa wilayah kota hampir selalu digenangi banjir.

Menjaga Kota Menjaga Warga


Mengantisipasi trend perubahan konsep perkotaan masa depan yang berkeadilan sosial dan 'go green', tentu harapan ideal tersebut mesti mampu dikontekstualisasikan oleh semua pihak, khususnya para pengelola kota baik di jajaran eksekutif bersama para pembantu dan kepala dinasnya. Begitu halnya dengan pihak di legislatif mesti lebih piawai lagi dalam menghadirkan peraturan daerah ideal menyoal konsep tata kelola perkotaan yang tidak hanya melulu sibuk mengejar PAD.

Pembangunan yang begitu masif atas berbagai infrastruktur moderen perkotaan, entah itu bangunan perkantoran/ rumah dinas moderen, pasar moderen, pusat perbelanjaran yang super moderen dan mewah sekalipun, menjadi ironi tersendiri ketika sangat sedikit sekali akses multiplier effect-nya yang berkontribusi langsung dalam membuka ruang kesejahteraan warga kotanya, terlebih untuk menggairahkan perekonomian publik 'akar rumputnya'. Ini diperparah dengan isu korupsi yang acapkali membayangi beberapa proyek pembangunan kota. Belum lagi potret kemiskinan kota yang masih menjadi PR para pengelola kota. Saat itulah sebetulnya dibutuhkan sekali komitmen serius para pengelola kota melalui berbagai artikulasi kebijakan kotanya agar bisa mendahulukan si miskin (lihat: Arie Sudjito,dkk, Mendahulukan si miskin, 2008).

Menjadikan Pangkalpinang sebagai kota humanis yang indah dan bersahabat memang bukanlah perkara mudah. Itu semua tentunya memerlukan solidaritas yang kuat antara para pengelola kota bersama warga kotanya. Ini semua pada akhirnya juga akan berakses positif terhadap eksistensi wisata daerah kepulauan timah ini melalui icon Babel Lovely Island. Untuk itu, tentu tidak ada salahnya kita mencoba berkaca dengan potret kota-kota berkelas dunia sekaliber Sidney yang masuk nominasi sebagai kota top dunia dengan citra kota yang sangat populer. Di sana terdapat begitu banyak jalur-jalur pendestrian yang ramai diperuntukkan untuk komunitas moda tranportasi bersepeda warganya untuk beraktivitas sehari-hari.

Untuk Pangkalpinang, tentu menjadi harapan seluruh warga ketika mampu terhadirkan konsep perkotaan sejenis dengan tersedianya jalur sepeda yang memungkinkan warga kota beraktivitas baik sekedar untuk berolahraga ataupun pergi bekerja. Ini menjadi penting sebagai wahana spirit hemat energi dan cinta lingkungan. Yah, mumpung kepadatan jumlah kendaraan belum terlalu parah menciptakan kemacetan dan polusi kota.

Dengan ini semua, impian memiliki kota yang menggembirakan banyak orang tentulah bukan lagi sekedar mimpi, paling tidak Pangkalpinang menjadi kota yang semirip rupa dengan kota berkelas dunia, tentu bukan mustahil jika suatu nanti Pangkalpinang justru masuk dalam jajaran kota top di Indonesia yang cukup terpandang karena bergaya sejajar dengan kota-kota berkelas dunia lainnya yang kian tertib dan teratur sekaligus berkontribusi besar dalam mengendalikan efek pemanasan global. Terakhir, semoga Pangkalpinang selalu menjadi kota yang tekun merawat, sekaligus mempercantik diri lewat vegetasi hijau asrinya yang berbungaria serta ramai menghiasi berbagai ruang sudut kotanya. Amin...Kita tunggu saja!!!

Kampong Keramat, Desember 2011
Opini BangkaPos, Selasa (27/12)





Penulis : Rendy Hamzah
Penggiat Pustaka Selawang Sedulang, Dosen LB FISIP UBB



UBB Perspective

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital di Era Society 5.0

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka

GRAND DESIGN KEPENDUDUKAN (Refleksi Hari Penduduk Dunia)

Berebut Kursi Walikota

Kenalkan Bangka Belitung dengan Foto !

Demokrasi yang Tersandera

Pamor Rajendra

DNSChanger dan Kiamat Kecil Internet

MARI DISIPLIN BERLALU LINTAS

Radiasi Perlu Diteliti

Kebablasan Otonomi Daerah : Obral Izin Pertambangan

TIMAH PENCABUT NYAWA

Labelling

Penegakan Perda Tambang Lemah

Gratifikasi = Suap

Bukan Berarti Sudah Sejahtera

Tips Menjadi Jurnalis Online Sejati

Ujian (Nasional) Kejujuran

Bukan Politis

Saatnya Mencontoh Sumber Energi Alternatif Brazil

LEGOWO DAN BERSATU MEMBANGUN BABEL

Aspek Hukum Hibah dan Bansos

Pengawasan Senjata Api

Gelatin Tulang Rawan Ikan Hiu

MERAMU PAKAN IKAN LELE

Tak Etis Sembako Naik

Berharap Gubernur Baru Babel Pro Perikanan

Aquaculture's Never Ending

AYO MENULIS, MENULIS DAN MENULIS (SILAHTURAHMI KEILMUAN-Bagian 5)

SIAP MENANG (TAK) SIAP KALAH?

Pendalaman Demokrasi Babel Menuju Demokrasi Substansial

PENJAHAT ONLINE

Akuakultur di Bangka Belitung

KEPEMIMPINAN NASIONAL ANTI KORUPSI DALAM MENEGAKKAN KEDAULATAN HUKUM

Waspada Aksi Pencurian

Perangkingan Webometrics pada Universitas Sedunia

URGENSI JALAN SATU ARAH

Wartawan Sehat, Pers Sehat

GUBERNUR BARU DAN PROGRAM KEPENDUDUKAN

ANALISIS HASIL PILGUB BABEL : ANTARA DE FACTO DAN DE YURE

Menimbang Nalar dan Nurani Cagub

Babel dan Demokrasi Hijau

Anak Kepulauan Cerdas

PROFIL BANGKA BELITUNG

PASCAPANEN SORGUM

AWAL MENUJU KEMANDIRIAN RUMPUT LAUT PULAU BANGKA

POPULARITAS MINUS KUALITAS

Ketika Pilkada Berakhir Penjara

TIGA MISI - TIGA KUALIFIKASI

Polemik Pemidanaan Kasus Xenia Maut

Mutiara Di Timur Belitung - Refleksi Sembilan Tahun Beltim

SAATNYA PERPUSTAKAAN BERINOVASI

Memilih Calon Abdi Masyarakat - Renungan Untuk Para Kandidat

Maling Berdasi itu Koruptor

Rakyat Berdaulat Tolak Politik Uang

Urgensi RUU Partisipasi Masyarakat

ENAM ALASAN GOLPUT MENGECIL

TUGAS, HAK DAN KEWAJIBAN DOSEN (SILAHTURAHMI KEILMUAN-Bagian 4)

TUJUH TITIK RAWAN PILGUB

PERANG YANG RUGIKAN RAKYAT