+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
06 Agustus 2012 | 00:58:02 WIB


GRAND DESIGN KEPENDUDUKAN (Refleksi Hari Penduduk Dunia)


Ditulis Oleh : Dwi Haryadi

Hari ini merupakan Hari Penduduk Dunia. Mungkin diantara kita kurang mengetahui tentang hari ini, meskipun dunia sudah memperingatinya sejak 11 Juli 1987 ketika penduduk dunia diperkirakan sudah mencapai 5 milyar. Berapa jumlahnya saat ini ? PBB pada tanggal 31 Oktober 2011 telah menetapkan bahwa jumlah penduduk dunia telah mencapai 7 (tujuh) milyar. Jadi hanya dalam kurun waktu puluhan tahun jumlah penduduk dunia telah berlipat ganda.

Bagaimana kondisi nasional ? Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 telah mencapai angka sekitar 237 juta jiwa. Jumlah ini tentu masih jauh dari Cina yang penghuninya sudah mencapai 1 milyar jiwa. Namun perbandingan angka yang jauh ini harusnya tidak membuat kita lengah terhadap masalah-masalah kependudukan yang saat ini sudah semakin kompleks. Diakui atau tidak, selama ini pembangunan yang dilaksanakan seolah menempatkan penduduk hanya sebagai obyek dan bukan subyek. Pembangunan masih dominan fisik dari pada kualitas SDM. Padahal beberapa negara maju telah menunjukkan bahwa kemajuan lebih ditentukan kualitas sumber daya manusianya dan kekayaan sumber daya alam hanyalah sebagai penunjang. Moment Hari Penduduk Dunia ini kiranya kembali mengingatkan kita betapa pentingnya melakukan pengendalian penduduk agar kualitas kehidupan menjadi lebih baik dan merata.

Dampak Ledakan Penduduk


Tahun 2011 jumlah penduduk dunia telah mencapai 7 (tujuh) milyar. Hal terpenting yang perlu diperhatikan dari angka ini adalah percepatan jumlahnya dalam kurun waktu yang tidak lama. Pada tahun 1800 sampai tahun 1930, telah terjadi pertambahan penduduk 1 milyar dalam kurun waktu 130 tahun. Kemudian dari tahun 1930 sampai tahun 1960, kembali terjadi pertambahan penduduk 1 milyar hanya dalam kurun waktu 30 tahun. Sudah bisa diperkirakan bahwa pada tahun-tahun berikutnya hamper akan berlaku rumus yang sama, bahwa pertambahan penduduk 1 milyar cukup dicapai dengan waktu yang semakin singkat. Hal ini terbukti dimana pada tahun 1975 1987 1999 2011, hanya butuh waktu masing-masing 12 tahun, jumlah penduduk dapat bertambah 1 milyar jiwa. Apa dampaknya ? Secara sederhana, jumlah penduduk terus bertambah namun sumber daya pangan, air dan energi kini semakin terbatas. Kondisi makin diperparah dengan rusaknya lingkungan. Tidak heran kini dibeberapa belahan dunia mengalami krisis pangan, krisis energi, krisis air bersih, udara dan tanah tercemar dan lain-lain.

Adanya ledakan penduduk di atas sudah diprediksi oleh Thomas Malthus dalam tulisannya yang berjudul Principle of Population tahun 1798, bahwa "Penduduk meningkat seperti deret ukur, sedangkan produksi pangan meningkat seperti deret hitung". Pernyataan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk tidak berbanding lurus dengan produksi pangan. Akibatnya terjadi kelaparan dimana-mana, bayi dan anak kurang gizi dan busung lapar. Nina Fedorof, pakar kependudukan mengatakan bahwa "Jumlah manusia di planet bumi sebenarnya sudah melebihi daya dukung dan daya tampung lingkungan. Kita harus dengan sungguh-sungguh berupaya agar pertumbuhan penduduk dapat terkendali karena planet ini sudah tidak mampu menampung penduduk lebih banyak lagi. Perubahan iklim akibat pertumbuhan penduduk yang sangat pesat berakibat buruk bagi produksi pangan sehingga miliaran penduduk terancam kelaparan".

Data PBB melalui FAO menyebutkan bahwa tahun 2009 ada 1,20 Milyar penduduk dunia mengalami kelaparan. Begitu besarnya korelasi antara ledakan penduduk yang tidak terkendali dengan kelaparan dan kemiskinan di berbagai belahan dunia, membuat Paul Ehrlich dalam bukunya The Population Bomb menuliskan bahwa "Sementara anda membaca tulisan ini, empat orang mati kelaparan dan kebanyakan anak-anak". Bagaimana Indonesia?

Grand Design


Persoalan kependudukan di atas bukanlah hanya sekedar bicara bagaimana mengendalikan jumlah penduduk secara kuantitas saja, tetapi juga bagaimana meningkatkan kualitasnya. Jadi persoaalan kependudukan bukan hanya beban masalah bagi BKKBN atau Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil saja. Bukan pula kependudukan hanya bicara KTP dan Keluarga Berencana. Namun mengurus kependudukan butuh lintas sektor dan program administrasi kependudukan serta KB hanyalah sebagian dari upaya pengendalian dan peningkatan kualitas kependudukan. Oleh karena itu dibutuhkan adanya kesadaran nasional bahwa persoalan kependudukan sebagai persoalan bersama.

Sifatnya yang multi sektor dan terkait berbagai isu, seperti kesehatan, pendidikan, lingkungan dan lain-lain, maka harus ada grand design kependudukan yang terarah dengan program strategis yang terpadu, baik ditingkat nasional maupun daerah. UU No. 52/2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga dapat menjadi dasar dan acuan dalam penyusunan grand design kependudukan. Dalam Grand Design Pembangunan Kependudukan di Indonesia, meliputi 5 (lima) aspek, yakni Pengendalian Kuantitas Penduduk, Pengendalian Kualitas Penduduk, Pengarahan Mobilitas Penduduk, Pembangunan Keluarga dan Pembangunan Database Kependudukan. Kelima aspek tersebut membutuhkan sinergisitas multisektor, seperti BKKBN, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, Kementerian Transmigrasi dan Tenaga Kerja, Kementerian Sosial dan Kementerian Dalam Negeri. Grand design nasional ini tentu harus turun pula ketingkat daerah dengan karakter, potensi dan wilayah masing-masing. Pengendalian penduduk bukan sekedar mengurangi jumlah penduduk atau memindahkannya agar merata, tetapi ada nilai budaya dan adat istiadat lokal yang juga harus diperhatikan. Akhirnya, semoga Hari Penduduk Dunia ini dapat menjadi moment semua stakeholder dan masyarakat akan pentingnya masalah-masalah kependudukan untuk masa depan yang cemerlang.

Opini Bangkapos 11 Juli 2012




Penulis : Dwi Haryadi
Dosen FH UBB dan Pengurus Koalisi Kependudukan Babel


UBB Perspective

Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital di Era Society 5.0

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka

Berebut Kursi Walikota

Kenalkan Bangka Belitung dengan Foto !

Demokrasi yang Tersandera

Pamor Rajendra

DNSChanger dan Kiamat Kecil Internet

MARI DISIPLIN BERLALU LINTAS

Radiasi Perlu Diteliti

Kebablasan Otonomi Daerah : Obral Izin Pertambangan

TIMAH PENCABUT NYAWA

Labelling

Penegakan Perda Tambang Lemah

Gratifikasi = Suap

Bukan Berarti Sudah Sejahtera

Tips Menjadi Jurnalis Online Sejati

Ujian (Nasional) Kejujuran

Bukan Politis

Saatnya Mencontoh Sumber Energi Alternatif Brazil

LEGOWO DAN BERSATU MEMBANGUN BABEL

Aspek Hukum Hibah dan Bansos

Pengawasan Senjata Api

Gelatin Tulang Rawan Ikan Hiu

MERAMU PAKAN IKAN LELE

Tak Etis Sembako Naik

Berharap Gubernur Baru Babel Pro Perikanan

Aquaculture's Never Ending

AYO MENULIS, MENULIS DAN MENULIS (SILAHTURAHMI KEILMUAN-Bagian 5)

SIAP MENANG (TAK) SIAP KALAH?

Pendalaman Demokrasi Babel Menuju Demokrasi Substansial

PENJAHAT ONLINE

Akuakultur di Bangka Belitung

KEPEMIMPINAN NASIONAL ANTI KORUPSI DALAM MENEGAKKAN KEDAULATAN HUKUM

Waspada Aksi Pencurian

Perangkingan Webometrics pada Universitas Sedunia

URGENSI JALAN SATU ARAH

Wartawan Sehat, Pers Sehat

GUBERNUR BARU DAN PROGRAM KEPENDUDUKAN

ANALISIS HASIL PILGUB BABEL : ANTARA DE FACTO DAN DE YURE

Menimbang Nalar dan Nurani Cagub

Babel dan Demokrasi Hijau

Anak Kepulauan Cerdas

PROFIL BANGKA BELITUNG

PASCAPANEN SORGUM

AWAL MENUJU KEMANDIRIAN RUMPUT LAUT PULAU BANGKA

POPULARITAS MINUS KUALITAS

Ketika Pilkada Berakhir Penjara

TIGA MISI - TIGA KUALIFIKASI

Polemik Pemidanaan Kasus Xenia Maut

Mutiara Di Timur Belitung - Refleksi Sembilan Tahun Beltim

SAATNYA PERPUSTAKAAN BERINOVASI

Memilih Calon Abdi Masyarakat - Renungan Untuk Para Kandidat

Maling Berdasi itu Koruptor

Rakyat Berdaulat Tolak Politik Uang

Urgensi RUU Partisipasi Masyarakat

ENAM ALASAN GOLPUT MENGECIL

TUGAS, HAK DAN KEWAJIBAN DOSEN (SILAHTURAHMI KEILMUAN-Bagian 4)

TUJUH TITIK RAWAN PILGUB

PERANG YANG RUGIKAN RAKYAT