+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
22 Desember 2021 | 14:31:39 WIB


Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi


Ditulis Oleh : Rodian Akbar (Mahasiswa Program Studi Sosiologi)

Kepemimpinan merupakan suatu hal penting yang harus dimiliki oleh setiap individu sebagai modal dalam hidup berkelompok. Kepemimpinan juga dimaknai sebagai proses mempengaruhi tidak hanya dari pemimpin kepada pengikut atau satu arah melainkan timbal balik atau dua arah (Solikin dkk, 2017). Setiap manusia, suatu saat pasti akan menjadi pemimpin, baik itu memimpin dirinya sendiri atau juga memimpin orang lain. Oleh karena itu, kepemimpinan juga teramat penting dimiliki oleh kaum muda yang biasanya dikenal dengan sebutan Milenial atau Generasi Z.

Milenial berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia berkaitan dengan generasi yang lahir pada tahun di antara tahun 1980 hingga 2000. Itu berarti milenial merupakan generasi yang saat ini terdiri dari kaum muda. Kaum muda merupakan penerus kehidupan bangsa yang diharapkan mampu membawa perubahan ke arah yang jauh lebih baik.

Milenial dan kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dieratkan juga dipersatukan, karena penerus dari negara ini adalah para milenial. Kepemimpinan sangat perlu ditumbuhkan pada generasi milenial agar ketika suatu saat nanti mereka menjadi pemimpin, mereka dapat menghormati pendapat orang lain, menghargai perbedaan yang ada, serta mengedepankan persatuan atau integrasi. Mengutamakan kepentingan bersama seluruh anggota masyarakat dibandingkan keinginan pribadi, dimana sering kali dapat merugikan oranglain.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, integrasi memiliki arti pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat. Lawan kata dari integrasi adalah disintegrasi yang memiliki arti perpecahan. Tidak ada satu pun negara yang menginginkan adanya perpecahan pada negaranya. Maka dari itu, untuk melawan disintegrasi, diperlukan kepemimpinan yang kuat pada diri penerus kehidupan suatu negara. 

Disintegrasi dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti tidak meratanya pendidikan, kurangnya kesejahteraan sosial, atau kurang meratanya pembangunan. Pemimpin yang kurang memperhatikan keinginan dan masukan dari rakyatnya juga berpotensi mengakibatkan terjadinya perpecahan. Selain itu, disintegrasi juga dapat disebabkan oleh kebiasaan yang buruk di media sosial seperti perundungan (bullying).

Mengutip sumber dari Sindonews.com, berdasarkan Penilaian Siswa Internasional atau OECD Programme for International Student Assessment (PISA), sebanyak 41 persen siswa Indonesia dilaporkan pernah mengalami perundungan, setidaknya beberapa kali dalam sebulan. Persentase angka perundungan siswa di Indonesia ini berada di atas angka rata-rata negara OECD sebesar 23 persen. Hal ini menjadi sangat miris sekali, karena kasus ini terjadi pada anak-anak usia sekolah yang harapannya di hari kemudian akan menjadi pemimpin di negara ini.

Banyaknya kasus bullying yang terjadi di kalangan para pelajar sebagai generasi milineal terutama generasi Z, mengindikasikan kurangnya edukasi tentang kepemimpinan terhadap mereka.  Belum lagi dengan perundungan yang dilakukan melalui media sosial atau cyberbullying mengingat beberapa waktu belakangan kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara daring. Hal ini menimbulkan spekulasi serta kekhawatiran, bahwa sebelum memimpin negara saja generasi milenial sudah berpotensi untuk terpecah belah, bagaimana jika nantinya generasi ini memimpin negara yang memiliki ragam budaya dengan beragam perbedaan-perbedaan yang ada.

Indonesia merupakan negara dengan 34 provinsi yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Pada setiap provinsi ini, terdapat ragam suku, budaya, bahasa, dan agama. Dengan saling memahami satu sama lain, maka terciptalah integrasi nasional dalam Indonesia serta berpegang teguh pada Bhinneka Tunggal Ika, maka sirna lah semua perbedaan, melebur dalam satu nama, Indonesia. 

Hal inilah yang seharusnya dapat dipahami oleh generasi milenial, bahwa dengan adanya ragam perbedaan, akan memberikan kekuatan bagi bangsa.

Edukasi kepemimpinan tidak saja memberikan pengetahuan tentang menghormati perbedaan, namun juga membentuk karakter yang dapat mendorong generasi muda sekarang menjadi seorang pemimpin yang paham bagaimana memberikan pengaruh yang baik pada orang yang dipimpinnya. Edukasi kepemimpinan juga dapat mengarahkan seseorang untuk berpikir tentang metode peletakan ragam perbedaan pada satu wadah, agar tidak ada bagian wadah yang kosong sehingga memperlihatkan kesenjangan karena perbedaan lalu menimbulkan perpecahan atau disintegrasi.

Kepemimpinan tidak akan baik jika seorang pemimpin tidak mampu melihat suatu perbedaan sebagai kekuatan. Kekuatan yang dimaksud adalah seperti saling melengkapi kekurangan dengan perbedaan yang ada. Dengan saling melengkapi kekurangan, maka akan timbul suatu integrasi atau persatuan yang kuat, dan persatuan karena perbedaan seperti inilah yang dibutuhkan oleh Indonesia.

Milenial sejatinya sangat perlu untuk dibimbing secara intensif tentang kepemimpinan. Karena generasi milenial inilah yang akan menjadi pemimpin bangsa dikemudian hari. Oleh sebab itulah, sangat diperlukan upaya untuk menumbuhkan kepemimpinan pada generasi milenial agar nantinya ketika memimpin bangsa, generasi ini tidak terjebak pada perpecahan yang disebabkan oleh adanya perbedaan.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan, harus secepatnya menerapkan kebijakan tentang edukasi kepemimpinan pada generasi milenial, karena sangat penting bagi negara dikemudian hari memiliki pemimpin yang paham perbedaan dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Edukasi kepemimpinan haruslah diberikan sejak kecil, tidak hanya bergantung pada pemerintah melalui sekolah. Orang tua sebagai pendidik utama bagi anak, sangat perlu untuk menanamkan pemahaman bahwa perbedaan harus dihargai, dihormati, dan dijunjung tinggi. Hal ini supaya nantinya ketika anak berada dilingkungan masyarakat yang lebih luas, yang banyak ragam perbedaan, dirinya dapat menghormati orang yang berbeda dengannya dan mencegah perilaku bullying.

Pada akhirnya, kepemimpinan akan baik jika edukasinya dilakukan dengan baik. Sebaliknya, kepemimpinan akan sangat tidak baik, jika edukasinya tidak dilakukan dengan baik. Oleh karena itu, semua pihak diperlukan perannya untuk memberikan edukasi kepemimpinan kepada generasi milenial agar mampu menghargai perbedaan, menghindari perpecahan, dan Indonesia dapat menjadi negara dengan penuh toleransi.

UBB Perspective

Hybrid Learning dan Skenario Terbaik

NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN

Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka

GRAND DESIGN KEPENDUDUKAN (Refleksi Hari Penduduk Dunia)

Berebut Kursi Walikota

Kenalkan Bangka Belitung dengan Foto !

Demokrasi yang Tersandera

Pamor Rajendra

DNSChanger dan Kiamat Kecil Internet

MARI DISIPLIN BERLALU LINTAS

Radiasi Perlu Diteliti

Kebablasan Otonomi Daerah : Obral Izin Pertambangan

TIMAH PENCABUT NYAWA

Labelling

Penegakan Perda Tambang Lemah

Gratifikasi = Suap

Bukan Berarti Sudah Sejahtera

Tips Menjadi Jurnalis Online Sejati

Ujian (Nasional) Kejujuran

Bukan Politis

Saatnya Mencontoh Sumber Energi Alternatif Brazil

LEGOWO DAN BERSATU MEMBANGUN BABEL

Aspek Hukum Hibah dan Bansos

Pengawasan Senjata Api

Gelatin Tulang Rawan Ikan Hiu

MERAMU PAKAN IKAN LELE

Tak Etis Sembako Naik

Berharap Gubernur Baru Babel Pro Perikanan

Aquaculture's Never Ending

AYO MENULIS, MENULIS DAN MENULIS (SILAHTURAHMI KEILMUAN-Bagian 5)

SIAP MENANG (TAK) SIAP KALAH?

Pendalaman Demokrasi Babel Menuju Demokrasi Substansial

PENJAHAT ONLINE

Akuakultur di Bangka Belitung

KEPEMIMPINAN NASIONAL ANTI KORUPSI DALAM MENEGAKKAN KEDAULATAN HUKUM

Waspada Aksi Pencurian

Perangkingan Webometrics pada Universitas Sedunia

URGENSI JALAN SATU ARAH

Wartawan Sehat, Pers Sehat

GUBERNUR BARU DAN PROGRAM KEPENDUDUKAN

ANALISIS HASIL PILGUB BABEL : ANTARA DE FACTO DAN DE YURE

Menimbang Nalar dan Nurani Cagub

Babel dan Demokrasi Hijau

Anak Kepulauan Cerdas

PROFIL BANGKA BELITUNG

PASCAPANEN SORGUM

AWAL MENUJU KEMANDIRIAN RUMPUT LAUT PULAU BANGKA

POPULARITAS MINUS KUALITAS

Ketika Pilkada Berakhir Penjara

TIGA MISI - TIGA KUALIFIKASI

Polemik Pemidanaan Kasus Xenia Maut

Mutiara Di Timur Belitung - Refleksi Sembilan Tahun Beltim

SAATNYA PERPUSTAKAAN BERINOVASI

Memilih Calon Abdi Masyarakat - Renungan Untuk Para Kandidat

Maling Berdasi itu Koruptor

Rakyat Berdaulat Tolak Politik Uang

Urgensi RUU Partisipasi Masyarakat