+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
04 Februari 2022 | 16:23:59 WIB


Paradigma yang Salah tentang IPK dan Keaktifan Berorganisasi


Ditulis Oleh : Umulya Islaha (Alumnus Prodi Akuntasi UBB)

Ada stigma yang berkembang di kalangan mahasiswa yang cukup membuat Penulis gelisah, yakni banyak mahasiswa yang terjebak dengan anggapan bahwa nilai atau yang lebih dikenal dengan IPK yang diperoleh selama menjalani proses perkuliahan itu tidak terlalu penting untuk melamar suatu pekerjaan setelah lulus nantinya. Melainkan yang terpenting bagi mereka adalah keaktifan dan pengalaman dalam berorganisasi. 

Bagi teman-teman Mahasiswa yang memiliki paradigma berpikir begitu— nilai hanya suatu angka yang tertera pada 1 lembar kertas saja, karena grade nilai yang tinggi di lembar kertas itu tidak menjamin mahasiswa tersebut mampu melaksanakan suatu pekerjaan ketika nanti terjun ke dunia rill setelah lulus dari kampus. 

Oleh karena berkembangnya anggapan ini juga, Penulis melihat beberapa mahasiswa memilih lebih aktif saat berada di organisasinya dibandingkan saat berada di kelas untuk mengikuti perkuliahan secara tertib dan penuh antusiasme.

Paradigma berpikir ini tentu kurang tepat, sebab menurut Penulis, ketika mahasiswa memilih fokus mengikuti organisasi kemahasiswaan, bukan berarti bisa mengabaikan segala tugas yang ada di perkuliahan. Di satu sisi, penulis meyakini bahwa mengikuti suatu organisasi memang dapat menambah soft skill, melatih leadership, belajar manajemen waktu, memperluas jaringan dan networking, mengasah kemampuan sosial, meningkatkan kemampuan problem solving atau manajemen konflik serta berbagai pengalaman dalam melaksanakan program kerja yang dapat menjadi bekal dan poin tambahan untuk menghadapi seleksi dalam dunia kerja. Namun ingat, yang paling penting, Mahasiswa juga tentu harus melaksanakan kewajibannya untuk mengikuti proses pembelajaran akademik dengan baik dan tertib. Adapun proses pembelajaran sang Mahasiswa dapat dikatakan telah terlaksana dengan baik, salah satu indikatornya yakni dengan melihat nilai yang diperoleh pada lembar kerta KHS (Kartu Hasil Studi)-nya. 

Lantas apakah nilai yang diraih tersebut akan berpengaruh signifikan pada kelancaran dalam proses melamar pekerjaan setelah lulus nantinya? Jawabannya tentu saja sangat berpengaruh. Sebab sebagian besar perusahaan dan instansi yang melakukan open recruitment tenaga kerja baru memiliki kriteria khusus terutama dalam hal nilai. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya persyaratan administrasi open recruitment yang mencantumkan syarat minimal IPK dan melampirkan transkip nilai akademik untuk melihat nilai-nilai per mata kuliah dari pelamar kerja. 

Sebagai contoh sederhana dapat dilihat salah satunya yaitu pada saat proses seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang banyak sekali diminati oleh calon pelamar kerja. Saat proses tahapan awal seleksi penerimaan CPNS tersebut, panitia seleksi atau sistem tidak langsung melihat keaktifan calon pelamar pekerjaan berdasarkan sertifikat atau surat keterangan keaktifan organisasi dan surat pengalaman kerja, namun yang pertama kali dilihat adalah keselarasan persyaratan administrasi calon pelamar dengan syarat yang telah ditentukan, yakni salah satunya adalah batas minimal nilai IPK pelamar. Apabila calon pelamar tersebut memiliki segudang pengalaman kerja maupun organisasi, tapi nilai IPK nya belum memenuhi kriteria, maka otomatis calon pelamar tersebut tetap tidak akan lolos seleksi administrasinya. 

Jadi, pesan Penulis, teman-teman mahasiswa mulailah menggeser paradigma berpikir yang mengganggap bahwa dengan hanya aktif berorganisasi— tanpa upaya menseriusi perolehan IPK setiap semester, akan membuat masa depan lebih baik dan menjamin dalam proses perekrutan kerja dibandingka mereka yang memilih untuk hanya fokus berproses di kelas. Berorganisasi memang penting untuk memperkaya berbagai skill yang penulis sebutkan sebelumnya, namun ambisi meningkatkan IPK menjadi maksimal itu juga sangat penting penting, karena Ia masih menjadi indikator utama kualitas Mahasiswa atau Sarjana, dan indikator utama juga bagi pihak instansi pemerintahan atau perusahaan swasta pada umumnya ketika merekrut tenaga kerja.

 

(Penulis merupakan Alumnus Prodi Akuntasi UBB/ Staff Supporting Perbendaharaan BPKKU UBB)



UBB Perspectives

Merebut Hati Gen Z

Masyarakat Tontonan dan Risiko Jenis Baru

Penelitian MBKM Mahasiswa Biologi

PEREMPUAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN TIMAH (Refleksi atas Peringatan Hari Kartini 21 April 2022)

Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan

PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA

Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi

Xerosere* Bangka dan UBB

Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan

SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?

RELASI MAHA ESA DAN MAHASISWA (Refleksi terhadap Pengantar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum)

KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA

Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus

Timah, Kebimbangan yang Tak akan Usai

Hybrid Learning dan Skenario Terbaik

NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN

Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN

Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka

GRAND DESIGN KEPENDUDUKAN (Refleksi Hari Penduduk Dunia)

Berebut Kursi Walikota

Kenalkan Bangka Belitung dengan Foto !

Demokrasi yang Tersandera

Pamor Rajendra

DNSChanger dan Kiamat Kecil Internet

MARI DISIPLIN BERLALU LINTAS

Radiasi Perlu Diteliti

Kebablasan Otonomi Daerah : Obral Izin Pertambangan

TIMAH PENCABUT NYAWA

Labelling

Penegakan Perda Tambang Lemah

Gratifikasi = Suap

Bukan Berarti Sudah Sejahtera

Tips Menjadi Jurnalis Online Sejati

Ujian (Nasional) Kejujuran

Bukan Politis

Saatnya Mencontoh Sumber Energi Alternatif Brazil

LEGOWO DAN BERSATU MEMBANGUN BABEL

Aspek Hukum Hibah dan Bansos

Pengawasan Senjata Api

Gelatin Tulang Rawan Ikan Hiu

MERAMU PAKAN IKAN LELE

Tak Etis Sembako Naik

Berharap Gubernur Baru Babel Pro Perikanan

Aquaculture's Never Ending

AYO MENULIS, MENULIS DAN MENULIS (SILAHTURAHMI KEILMUAN-Bagian 5)

SIAP MENANG (TAK) SIAP KALAH?

Pendalaman Demokrasi Babel Menuju Demokrasi Substansial

PENJAHAT ONLINE

Akuakultur di Bangka Belitung

KEPEMIMPINAN NASIONAL ANTI KORUPSI DALAM MENEGAKKAN KEDAULATAN HUKUM

Waspada Aksi Pencurian

Perangkingan Webometrics pada Universitas Sedunia

URGENSI JALAN SATU ARAH

Wartawan Sehat, Pers Sehat

GUBERNUR BARU DAN PROGRAM KEPENDUDUKAN

ANALISIS HASIL PILGUB BABEL : ANTARA DE FACTO DAN DE YURE

Menimbang Nalar dan Nurani Cagub