+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Kabar UBB

Universitas Bangka Belitung
11 Oktober 2021 | 02:22:27 WIB


Ini yang Dilakukan KOMPAS UBB dengan Tanaman Lokal dan Obat-obatan Masyarakat Adat Mapur


Bangka, UBB— Salah satu bentuk perwujudan Tridharma Perguruan Tinggi adalah pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. Pada tahun 2021 ini, salah satu bentuk pengabdian masyarakat KOMPAS UBB ialah pemberdayaan desa melalui program PHP2D (Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa). Kegiatan PHP2D KOMPAS UBB dilaksanakan di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka. Kegiatan ini berlangsung dari bulan Juli hingga Desember nanti.

Salah satu program besar yang dilakukan Kompas UBB bersama masyarakat di Air Abik adalah pembangunan rumah pembibitan tanaman obat dan lokal, yang mana pada tanggal  9-10 Oktober kemarin tim kompas kembali melanjutkan pembangunan rumah pembibitan tersebut. Pada dua hari itu, mereka fokus pada pemasangan instalasi air dan penambahan tanaman obat-obatan. 


"Semua program yang telah dan akan dilaksanakan merupakan rancangan bersama masyarakat untuk mewujudkan Dusun Air Abik menuju Kampung Ekowisata Berbasis Budaya. Kami juga bekerjasama dengan mitra BPDASHL Provinsi Bangka Belitung serta PT. TIMAH yang mendukung dan membina dalam pembangunan rumah pembibitan ini,” ucap Jennikita Isabela selaku ketua Tim.

“Kami berharap program pembibitan ini dapat terus berjalan serta memberikan dampak baik  bagi masyarakat, seperti yang masyarakat Air abik harapkan,” tambah Jennika Isabela.

Program pembibitan tanaman lokal dan obat-obatan ini merupakan wujud dari kekayaan alam dan keanekaragaman budaya yang ada di Adat Mapur yang telah dijaga sejak dulu. Mulai dari cara hidup masyarakat yang menghormati alam, serta cara memanfaatkan alam untuk obta-obatan. 


Menurut Ketua Tim, Jeninika Isabela, Rumah pembibitan tanaman lokal dan obat-obatan ini nantinya akan menjadi pendukung objek wisata budaya Adat Mapur. Selain itu, bisa juga sebagai sarana penelitian dan edukasi bagi akademisi serta masyarakat umum. 

“Berdasarkan buku Tumbuhan Obat Suku Lom 2013, diketahui jumlah jenis tumbuhan yang bisa dimanfaatkan adalah berjumlah 50 dari 34 famili yang telah teridentifikasi.  Adapun tiga famili yang paling banyak dimanfaatkan berturut-turut adalah Rubiaceae, Myrtaceae, dan Poaceae,” ucap Jennika

“Beberapa tumbuhan obat yang digunakan oleh Suku Lom terdiri dari rukem, kelingkak, kayu pulih kebentak, kekupak, pedu sabak, dan pedu pelanduk. Tumbuhan obat ini biasanya digunakan untuk mengobati penyakit, seperti: patah tulang, sakit tulang leher, ngilu sendi, sakit kulit, luka, demam, malaria, maag dan jerawat,” pungkasnya.


Dalam program PHP2D KOMPAS UBB ini, pelestarian tanaman obat tidak hanya dilakukan secara ex situ (rumah pembibitan) namun juga in situ dengan pelestarian di Habitat asli tumbuhan obat-obatan. Sebab, tidak semua tanaman dapat di pindahkan dan dapat hidup baik di rumah pembibitan sehingga perlu kolaborasi bersama masyarakat Dusun Air Abik dan pemerintah sehingga Sustainability dapat terus berjalan. (Mahasiswa Kompas UBB)