+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Photography UBB

Universitas Bangka Belitung's Photography'


Wisata Pendidikan Di Pantai Parai Kabupaten Bangka Snorkling dan selam


23 Juni 2008 | 02:36:28 WIB

Dalam rangka memperingati hari Pendidikan nasional, Proram studi S1 Perikanan FPPB Universitas Bangka Belitung, mengadakan kegiatan “Wisata Pendidikan di Pantai Parai Kabupaten Bangka berupa snorkling dan selam”. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari sabtu tanggal 21 Juni 2008, bekerjasama dengan dinas terkait di kabupaten Bangka Provinsi Bangka Belitung. Perjalanan darat dari FPPB di Sungailiat menuju pelabuhan Jelitik sekitar 15 menit (sekitar 1 jam dari Bandar Udara Depati Amir di Kota Pangkalpinang), dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan perahu motor sekitar 45 menit menuju perairan laut di depan Pantai Parai. Disini kita dapat melihat matahari terbit, bukit, gunung, menikmati pemandangan pasir putih, berenang, snorkeling, menyelam, underwater http://ubb.ac.id/fotografi, memancing, dan berbagai kegiatan air lainnya.

Wisata Pendidikan Di Pantai Parai Kabupaten Bangka <Q>Snorkling dan selam</Q>

Wisata Pendidikan Di Pantai Parai Kabupaten Bangka <Q>Snorkling dan selam</Q>


Sudirman selaku Ketua Program studi S1 Perkanan FPPB UBB menjelaskan bahwa, Wisata pendidikan ini merupakan ajang memupuk wawasan pelajar dan mahasiswa mengenai pendidikan, lingkungan, pariwisata, perikanan dan kelautan serta mempromosikan Provinsi Bangka Belitung dalam rangka “Visit Indonesia Year 2008”.
Kegiatan pendidikan, sebagai proses belajar terhadap alam diharapkan pelajar dan mahasiswa dapat mengenal sumberdaya di pesisir pantai dan laut seperti mangrove, padang lamun (sea grass), rumput laut (sea weed), terumbu karang (coral reefs), sponge, jenis ikan, non-ikan, serta hidro-oseanografi (suhu, arus, gelombang, pasang surut). Kegiatan lingkungan diharapkan dapat menimbulkan perhatian terhadap sumberdaya alam dan sosial budaya masyarakat lokal, kelestarian dan pengawetan keanekaragaman hayati termasuk sistem-sistem ekologi (ekosistem) sehingga tercipta konservasi lingkungan.

Wisata Pendidikan Di Pantai Parai Kabupaten Bangka <Q>Snorkling dan selam</Q>

Wisata Pendidikan Di Pantai Parai Kabupaten Bangka <Q>Snorkling dan selam</Q>

Wisata Pendidikan Di Pantai Parai Kabupaten Bangka <Q>Snorkling dan selam</Q>

Wisata Pendidikan Di Pantai Parai Kabupaten Bangka <Q>Snorkling dan selam</Q>


Dari wawasan di atas muncul konsep ekotourisme, dimana kegiatan wisata harus ada unsur ekologi, ekonomi, dan evaluasi kepentingan. Menurut Hector Cebalos-Lascurain (1993) "Ekotourisme adalah suatu fenomena baru dalam pandangan dunia dimana aktivitas ini merupakan suatu bentuk perjalanan dan kunjungan yang bertanggung jawab ke tempat/daerah yang alami dan relatif tidak terganggu dalam rangka menikmati, mempelajari dan mengagumi alam, dan perwujudan budaya yang terdapat di dalamnya (baik pada masa lalu maupun masa yang akan datang), yang dapat mempromosikan konservasi, menekan dampak negatif terhadap alam serendah mungkin, dan dapat memberikan kontribusi yang tinggi terhadap kelestarian dan keuntungan masyarakat lokal yang terlibat di dalamnya".

sumberdaya secara ekologis harus dipertahankan karena dapat memberikan kontribusi positif terhadap upaya pelestarian alam dan lingkungan. Dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah yang bersangkutan. Dari sini terlihat bahwa peranan wawasan masyarakat sangat besar dalam menjaga daya tarik wilayah pesisir sebagai objek wisata.

Wisata Pendidikan Di Pantai Parai Kabupaten Bangka <Q>Snorkling dan selam</Q>

Wisata Pendidikan Di Pantai Parai Kabupaten Bangka <Q>Snorkling dan selam</Q>

Wisata Pendidikan Di Pantai Parai Kabupaten Bangka <Q>Snorkling dan selam</Q>



Fakta yang terjadi saat ini karena kurangnya wawasan masyarakat, kondisi air laut tercemar akibat pelumpuran di pesisir pantai yang sangat merugikan terhadap pertumbuhan terumbu karang. Hal ini akibat kegiatan masyarakat di lahan atas seperti penggundulan lahan atau konversi lahan yang memberikan sumbangan pelumpuran terhadap sungai dan pesisir yang terbawa sampai ke laut; penambangan timah inkonvensional secara sporadis di pantai; kegiatan destructive fishing (bom ikan, potasium sianida, trawl), memberikan sumbangan secara langsung terhadap rusaknya terumbu karang. Hidrodinamika air laut sebenarnya mampu menetralisir pelumpuran terhadap air laut, namun karena tingginya intensitas pelumpuran mengakibatkan air laut tidak pernah jernih pada radius sekitar 2 km bahkan lebih dari sumber pelumpuran dalam waktu 24 jam. Artinya secara terus menerus lumpur akan menghalangi sinar matahari untuk menembus kolom perairan yang di bawahnya terdapat terumbu karang. Terumbu merupakan endapan masif yang terbentuk dari kalsium karbonat yang dihasilkan oleh hewan karang dan alga berkapur serta organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat.

Hewan karang ada 2 yaitu karang hermatifik dan ahermatifik. Karang hermatifik merupakan karang pembentuk terumbu karena ditubuhnya terdapat zooxanthella yang bersimbiosis. Jadi, jika sinar matahari tidak tembus pada kolom perairan akibat pelumpuran di atas ambang batas maka karang akan stress dan zooxanthella tidak dapat berhttp://ubb.ac.id/fotosintesa. Zooxanthella akan keluar dari hewan karang, akhirnya berdampak negatif terhadap karang itu sendiri seperti terjadi bleaching (pemutihan karang).

Bleaching sendiri dapat terjadi akibat pemanasan global dan ulah manusia secara lokal. Bleaching akan memberikan 2 kemungkinan, apakah hewan karang dapat pulih atau mati. Jika karang dapat pulih maka akan berusaha mengadaptasikan dirinya untuk tumbuh dan berkembang, dimana diketahui bahwa pertumbuhan karang sekitar 2 cm pertahun (sangat lambat).

Wisata Pendidikan Di Pantai Parai Kabupaten Bangka <Q>Snorkling dan selam</Q>


Terumbu karang yang indah dan sehat menjadi daya tarik dalam ekotourisme. Sedangkan, kematian hewan karang tentu saja mengurangi keindahan daya tarik wisata pantai dan juga berdampak negatif bagi dunia perikanan karena terumbu karang merupakan tempat hidup ikan, bertelur, berlindung, mencari makan, dan daerah asuhan. Hal ini menimbulkan efek yaitu ikan akan mencari habitat baru dan semakin jauh dari pantai dimana nelayan biasa menangkap ikan (fishing ground).
Seperti kita ketahui bahwa area laut kabupaten Bangka (sekitar 4 mil) dimana nelayan biasa melaut dengan jarak kurang dari 4 mil sudah memperoleh tangkapan ikan yang berlimpah, sekarang dengan jarak lebih dari 4 mil masih sulit mencari ikan bahkan harus melewati laut propinsi (sekitar 12 mil). Jarak yang jauh mengakibatkan bahan bakar perahu motor nelayan menjadi berlipat padahal tangkapan ikan dengan jumlah sedikit, hal inilah yang menambah beban kehidupan masyarakat nelayan.

Perlu ada solusi dalam mengantisipasi menurunnya kualitas lingkungan seperti peningkatan kesadaran masyarakat, peningkatan pendidikan, ketegasan pelaksanaan peraturan lingkungan, pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu. Dengan adanya kegiatan snorkeling dan selam ini diharapkan masyarakat akan tersentuh dan merasakan betapa penting menumbuhkan kesadaran bahwa lingkungan sebagai objek wisata merupakan hal yang harus dijaga untuk keberlangsungan hidup anak cucu. Perlu upaya mendekatkan jiwa kita dengan alam misalnya kampanye lingkungan laut “Cintai Laut Kita”. Secara formal peningkatan pendidikan ini dapat diperoleh di bangku sekolah dan bangku kuliah khususnya di Universitas Bangka Belitung. Generasi muda yang berpendidikan diharapkan mampu mendorong upaya pelestarian lingkungan khususnya wilayah pesisir.

Pelaksanaan peraturan secara tegas merupakan instrumen yang positif dalam membangun Khususnya di Kabupaten Bangka untuk saling menghormati hak hidup di wilayahnya terutama hak hidup masyarakat pesisir. Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu membutuhkan sumberdaya manusia dari beragam latar belakang keilmuan, termasuk perikanan didalamnya dapat mewarnai pembangunan di Kabupaten Bangka. Sumberdaya perikanan membutuhkan dasar pengetahuan mengenai pengelolaan yang berkelanjutan sehingga dapat dinikmat oleh setiap generasi.

Dalam hal perikanan, sumber daya ikan tidak tampak secara langsung oleh mata manusia (invisible), karena habitat ikan dan manusia berbeda. Namun, perbedaan habitat ini dapat dijembatani dengan mempelajari tingkah laku ikan (fish behaviour) yang akan ditangkap serta memperdalam pemahaman penggunaan alat bantu pendeteksi keberadaan ikan seperti dengan hidroakustik (echosounder, fishfinder, dan sonar). Alat bantu lain dengan menggunakan penginderaan jauh yaitu memanfaatkan data citra satelit untuk mengetahui posisi koordinat ikan secara up to date. Data parameter oseanografi (suhu, salinitas, arus, gelombang dan lain-lain) yang terukur secara up to date di Bangka Belitung akan melengkapi informasi keberadaan ikan. Pengetahuan ini dapat dipelajari di Program Studi Perikanan FPPB UBB.

Provinsi Bangka Belitung sudah memiliki BOST (Bangka Belitung Ocean Science and Technology) yaitu alat untuk menghimpun informasi hidro-oseanografi atas prakarsa Bapak Gubernur Ir. H. Eko Maulana Ali, M.Sc. Hal ini sangat mendukung pembangunan perikanan, dimana kombinasi data dari instrumentasi hidroakustik (echosounder, fishfinder, sonar), data penginderaan jauh dan hidro-oseanografi, kemudian diolah menjadi peta estimasi (pendugaan) fishing ground (daerah penangkapan ikan) yang up to date. Selanjutnya peta estimasi tersebut langsung di-relay ke nelayan / armada penangkapan. Solusi ini dapat menghemat biaya operasional nelayan. Nelayan kita umumnya hanya mengandalkan intuisi dan pengalaman, namun sekarang sudah ada sosialisasi mengenai pemanfaatan teknologi tersebut seperti nelayan yang dilengkapi GPS (Global Positioning System) dan fishfinder.

Pesisir dan laut yang merupakan objek wisata dan habitat bagi ikan adalah milik umum (common property), wilayah tersebut tidak mungkin dikavling seperti halnya daratan, sehingga siapapun dapat memanfaatkan sumber daya yang ada. Akan tetapi, perebutan lokasi di wilayah pesisir yang penggunaannya berbeda seperti adanya aktivitas wisata, penambangan dan aktivitas nelayan tentu saja harus ada penataan ruang yang jelas dan konsisten agar tidak merugikan pihak nelayan. Oleh karena itu, diperlukan pelaksanaan peraturan dan atau undang-undang yang tegas untuk mengatasinya.
Tindak lanjut Prodi Perikanan UBB setelah kegiatan wisata pendidikan ini akan mengadakan reefs-check. Kegiatan ini merupakan sarana utk mengetahui tingkat pertumbuhan dan kondisi terumbu karang agar dapat terpantau setiap tahun. Data seperti ini sangat penting bagi acuan program pembangunan di Bangka Belitung yang sampai saat ini belum ada kegiatan yang berkala. Penelitian seperti ini diharapkan dapat menguntungkan dunia pendidikan dan pemerintah daerah.

Selanjutnya, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak Dekan Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi, serta Dosen Prodi Perikanan FPPB UBB; Sekolah Menengah Atas atau Kejuruan (SMA/SMK) di Kabupaten Bangka yang telah berpartisipasi; serta terima kasih kepada TNI Angkatan Laut, Pemerintah Daerah dan Dinas terkait di Kabupaten Bangka Provinsi Bangka Belitung yang telah mendukung pelaksanaan acara ini. Kegiatan ini diharapkan dapat berkesinambungan dengan melibatkan lebih banyak lagi SMA/SMK yang ada di Bangka Belitung untuk mempopulerkan wisata pendidikan di pantai Bangka Belitung.


Program Study Perikanan
Universitas Bangka Belitung - Indonesia - 21 JUni 2008


Dikirim Oleh : Riwan Kusmiadi, STP

Photography UBB

Berita UBB

UBB Perspective