AKU, KAMU DAN MASA DEPAN BUMI KITA

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 05 Juni 2018 09:35 WIB | Diupdate pada 05 Juni 2018 09:35 WIB


                                            

                                                           Oleh : Dwi Haryadi

                                                       Dosen Fakultas Hukum UBB

Keprihatinan Dunia

Persoalan krisis lingkungan hari ini, sebenarnya sudah menjadi keprihatinan dunia sejak 50 tahun yang lalu ketika Dewan Ekonomi dan Sosial PBB mengevaluasi hasil-hasil Dasawarsa Pembangunan Dunia ke-1 (1960-1970). Kemudian perwakilan Swedia pada 28 Mei 1968 juga menyampaikan usulan penyelenggaraan konferensi internasional mengenai lingkungan hidup manusia, dan usulan tersebut diterima PBB yang diselenggarakan di Stockholm pada 5-16 Juni 1972. Deklarasi Stockholm ini diabadikan menjadi hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap tahun tanggal 5 Juni.

Mengutip pernyataan U Thant, Sekjen PBB kala itu yang menerbitkan laporan berjudul “Man and His Environment: Problems of the Human Environment” bahwa “untuk pertama kali dalam sejarah umat manusia telah terjadi krisis dengan jangkauan seluruh dunia, termasuk negara maju maupun negara berkembang, mengenai hubungan antara manusia dan lingkungannya. Tanda-tanda ancaman telah dapat dilihat sejak waktu yang lama: ledakan penduduk, integrasi yang tidak memadai antara teknologi yang amat kuat dengan keperluan lingkungan, kerusakan lahan budidaya, pembangunan tidak berencana kawasan perkotaan, menghilangnya ruang terbuka, dan bahaya kepunahan kehidupan satwa dan tumbuhan yang terus bertambah. Tidak ada kesangsian apabila proses ini berlangsung terus maka kehidupan yang akan datang di bumi ini akan terancam”. Pernyataan 50 tahun silam begitu relevan dengan kondisi hari ini, polusi dimana-mana, eksploitasi SDA yang merusak lingkungan, hutan lindung yang tak terlindungi, sungai dan laut tercemar, satu pohon ditanam, tetapi ratusan pohon dibabat setiap harinya.

Babel Kritis

Bagaimana kualitas lingkungan Bumi Serumpun Sebalai? Secara kasat mata, setiap take off atau landing dari pesawat kita dapat melihat wajah muram dua pulau, Bangka dan Belitung. Lobang-lobang atau biasa disebut lubang camuy di Bangka dan kolong-kolong istilahnya di Belitung menganga mulai dari ukuran meja pimpong sampai dengan lapangan sepak bola. Ada yang merupakan gundukan tanah bekas galian dan ada yang berisi air seperti kolam berwarna, yang beberapa kini telah menjadi destinasi wisata baru.

Berdasarkan laporan review lahan kritis Provinsi Kepulauan Babel pada tahun 2013, kriteria agak kritis mencapai 987.739 Ha atau 3 (tiga) kali lipat dari tahun 2010. Kriteria kritis juga meningkat dari 88.386 Ha ditahun 2010 menjadi 155.389 Ha saat ini. Begitupula dengan kriteria sangat kritis dari 27.782 Ha, sekarang sudah mencapai 60.720 Ha. Peningkatan ini antara lain disebabkan oleh perubahan penutupan lahan, seperti pertambangan dan pembukaan lahan. Data terakhir dari rilis Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan tahun 2017 ada 275.500 hektare lahan kritis karena aktivitas penambangan bijih timah.

Sukarman dan Rachmat Abdul Gani dari Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian tahun 2017 dalam risetnya mencatat bahwa luas lahan bekas tambang di Babel seluas 124.838 hektare dan luas kolong 12.147 hektare. Data lain yang menunjukkan degradasi lingkungan hidup adalah indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) yang ditahun 2017 diangka 58,59, padahal 2015 silam sempat di indeks 60,56. Artinya terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup, bahkan indeksnya di bawah enam yang masuk kategori “kurang”. IKLH mengukur 3 unsur yang kemudian dikumulatifkan, yaitu indeks udara (30%), indeks air (30%) dan indeks tutupan hutan (40%). Pada unsur indeks tutupan hutan yang paling tinggi persentase penilaiannya, Babel justru dominan rendah diunsur ini, seperti tahun 2014 misalnya diangka 36,77. Bicara tutupan hutan, maka jelas tak lepas dari dampak pertambangan dan pembukaan lahan yang kontra lingkungan.

Bagaimana dengan Laut?

Pro kontra tambang laut sampai hari ini belum tuntas dan gejolak terus terjadi. Penolakan dari berbagai daerah dan kelompok masyarakat terus bermunculan, bahkan Belitung membuka wacana “memisahkan” diri dari Bangka apabila Gubernur tidak mengakomodir “zero tambang laut” di Belitung. Beberapa riset menunjukkan dampak negatif dari tambang laut. Seperti yang dilakukan oleh Eddy Nurcahya dan Founita Agustina (2015) dari UBB dan Ayu Adi Justicea dari Universitas Indonesia. Meskipun demikian, perusahaan tambang yang sudah memegang izin tambang laut, berbekal dokumen AMDAL, bahkan mengantongi CnC (Clear and Clean) juga punya argumentasi untuk tetap menambang dan katanya punya cara meminimalisir dampak tambang di laut. Tidak mudah untuk mempertemukan kepentingan tambang laut, nelayan dan pariwisata.

Terkait dengan nelayan, UNCLOS 1982 menegaskan bahwa nelayan dalam negara kepulauan memiliki hak perikanan tradisional. Artinya, kepentingan nelayan adalah high priority. Sementara pariwisata, geliatnya sudah terlihat di Belitung meskipun beberapa kritik muncul karena dinilai elitis dan belum sampai keakar rumput sehingga diragukan mampu menggantikan sektor tambang. Silahkan kawan-kawan pariwisata yang lebih kompeten untuk menjelaskan secara gamblang, untung ruginya, tidak elitis tapi memberdayakan semuanya, plus sisi keberlanjutan dan ramah lingkungannya dibandingkan tambang laut.

Antroposentrisme ke Ekosentrisme

Konsep pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang ditawarkan faktanya sampai hari ini gagal, dan Sony Keraf mengusulkan keberlanjutan ekologi. Titik awal kegagalan tersebut adalah paradigma Antroposentrisme yang memandang manusia sebagai pusat kehidupan, dan alam hanya sebagai alat pemenuhan kebutuhan manusia. Sudah saatnya bergeser pada Paradigma ekosentrisme melalui konsep Deep Ecology yang menekankan pada kepentingan dan kelestarian lingkungan alam. Pandangan didasarkan pada etika lingkungan yang kritikal dan mendudukkannya tidak saja sebagai objek moral, tetapi subjek moral, sehingga harus diperlakukan sederajat dengan manusia.

Pada akhirnya, keputusan yang arif dan bijak harus diambil. Bisa jadi tidak dapat merangkul semua kepentingan, atau mungkin juga bisa mengakomodir semuanya, tetapi tetap dengan berbagai resiko berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang diagung-agungkan, seharusnya kita selaraskan pula dengan pertumbuhan ekologis yang semakin berkualitas. Bukan sebaliknya. Apapun itu, bumi kini semakin tua dan menjadi satu-satunya tempat tinggal aku, kamu dan anak-anak cucu kita nanti. Planet lain yang digadang-gadang sebagai pengganti bumi ternyata juga belum siap dan tak seindah bumi yang kita miliki hari ini, meskipun sudah mulai rusak karena ulah kita sendiri. Bumi bukan hanya milik kita hari ini, tetapi juga generasi mendatang yang kualitas hidup lingkungannya kita tentukan hari ini. Akankah aku, dan kamu mewariskan masa depan bumi yang hijau, laut yang biru, udara yang segar, dan langit yang cerah, atau sebaliknya???


Topik

Dwi_Haryadi