Raja Buah Kota Kapur Memang Mantap!

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 16 Juli 2018 09:42 WIB | Diupdate pada 16 Juli 2018 09:52 WIB


GURIH -- Mahasiswi KKN UBB di Kota Kapur  menyantap durian desa ini.  Soal rasa? Mengutip istilah netizen (warganet), rasa durian asal Kota Kapur  itu memang   ‘mantap jiwa’.   Saking melimpah, Durio zibethinus menjadi menu pendamping sarapan pagi, makan siang dan malam mahasiswa KKN UBB.

KOTA KAPUR, UBB --   Durian, dengan gelar yang ‘wah’-nya sebagai   king of fruits (Raja Buah) memang kontroversial. 

Tengok saja kulit  luarnya.  Sarat duri tajam;  setajam gergaji, memang.   Tapi  soal rasa, jangan tanya.

Daging buah dari Durio zibethinus   mempersembahkan  ‘mahkota’ terindahnya.    Yaitu sensasi rasa yang   beragam enak dan gurih;  tentu  bila  bertemu  dengan lidah.

Tak heran  apabila kalangan maniak durian tak merasa rugi kalau  merogoh ‘kocek’ dalam-dalam, hanya demi merasai sensasi ‘duren’.

Atau,  lebih fantastis lagi  mereka yang nekad ‘terbang’ jauh  ke luar daerah atau negara sekalipun.      Hanya sekadar untuk mengecapi daging  sang buah durian idola   yang digadang-gadang sangat lezat.

Sedikit contoh   durian yang menjanjikan sensasi adalah  Tai Babi (Jebus),  Tembaga (Penagan, Kota Kapur), Montong (Thailand), Musang King (Malaysia), Mau Shan Wang (Singapura),  dan Petruk (Jawa).   

Lepas dari semua kemewahan  alami itu, Kota Kapur --  satu desa di Kecamatan Mendo Barat, Bangka yang dikenal sebagai satu sentra durian  --   pada musim durian tahun ini   punya tradisi unik.

Apa itu? Nah, bila Anda datang bertamu ke rumah warga di sini, sang empunya rumah menyajikan Sang Raja Buah.

Tak tanggung-tanggung,  jumlah durian disajikan dapat satu  baskom plastik. Atau bila Anda  beruntung, dijamu ke dalam rumah, dan sudah tersedia onggokan durian.

Tinggal lagi mampu tidak memakan durian ini dalam jumlah banyak. Pasalnya  kemampuan kita makan duren itu terbatas.  Tiap orang berbeda-beda.

“Saking banyaknya,  sampai-sampai saya  tak kuat lagi makan durian,” ujar Ervan Regar, salah seorang mahasiswa UBB yang KKN di Kota Kapur, Minggu (15/07/2018) malam.

Pengalaman ini dialami mahasiswa KKN UBB Kota Kapur.  Sejak pertama tiba di Kota Kapur hari Kamis 12 Juli 2018 hingga saat ini, hampir ‘saban’  hari warga setempat menjamu  makan durian.

“Bahkan ketika kami silaturahmi dan memperkenalkan diri, di rumah warga lagi-lagi kami disugguhi durian,” ujar Leta, mahasiswa Jurusan Agribisnis.

Saking baiknya warga kepada mahasiswa KKN UBB, mereka kerap  menghantarkan durian yang baru jatuh dari pohon ke Posko KKN UBB.

Walhasil, menu tambahan bagi  mahasiswa KKN  baik untuk pagi, siang maupun  malam hari,  berganti durian plus. Selera makan nasi dan lauk-pauk pun berkurang.  Digantikan buah durian.

Musim durian tahun ini memang oke.  Ribuan pohon durian di  Kota Kapur semuanya berbuah.  Malah panen serentak.  Dan waktu berguguran dari dahan atau cabang durian pun serentak pula.

Saking banyak durian jatuh, tak semuanya dipungut atau dibawa pulang  oleh sang pemilik pohon durian. Maka tak heran apabila kita lihat banyak  buah durian dibiarkan begitu saja tergeletak  di bawah pohon.

Rendi, warga Kota Kapur, yang adalah juga salah seorang peserta KKN UBB di desanya, menceritakan pemilik pohon durian hanya mengambil buah durian yang  berkualitas bagus.

“Yang kurang bagus ya dibiarkan begitu saja.  Lagi pula tidak ada waktu lagi memungut durian.  Baru ambil satu,  puluhan durian lainnya jatuh. Bunyinya ‘gedebak-gedebuk’,” tukas Rendi.

Warga Kota Kapur memang pemurah.  Tak jarang mereka memberikan sebagian hasil panenan duriannya  kepada mahasiswa KKN UBB.   Sang Raja Buah itu sengaja mereka hantar ke Posko KKN UBB, baik yang ada di Jalan Laut (Posko mahasiswa) maupun di Jalan Prasasti (Posko mahasiswi).

“Warga Kota Kapur itu baik-baik, dan ramah.  Saking banyaknya durian di posko, menu makanan kami pagi, siang dan malam ‘plus’ durian.  Mantap!,” tukas Hasida, yang ‘diamini’ rekannya:  Hijrah Safitri, Minggu malam.

Kejutan kembali alami mahasiswa KKN.  Belum habis panen durian, kini mereka disuguhi buah duku yang  tak kalah banyaknya dibanding pohon durian.

Berbeda dengan durian yang kebanyakan pohonnya berada di kebun,  di Kota Kapur pohon duku sebagian besar tumbuh di depan dan di belakang rumah.   Sudah barang tentu memanennya jauh lebih mudah.

Tahun ini musim durian dan duku hampir bersamaan.  Buah duku sudah bergelantungan’ menjurai ke bawah.   Kalau dipetik rasanya agak masam.    Diperkirakan  dalam  spekan ini  semua pohon duku di Kota  Kapur  mulai  panen.

Bicara soal buah, kejutan demi kejutan dialami mahasiswa KKN UBB Kota Kapur.  Hari Minggu (15/07/2018) kemarin, salah satu contoh,  ketika  mengenalkan diri dari pintu ke pintu ke setiap rumah mahasiswa KKN selalu disuguhi buah duku.

Bahkan, tak jarang, mereka ‘disangu’ buah bernama Latin Lansium domesticum ini.  Sudah barangtentu mahasiswa tidak menolak rejeki ini.  Walhal,  di Posko KKN UBB ‘melambak’ (bertumpuk) buah yang dalam keluarga (famili) Meliaceae ini.

“Minggu siang  kemarin ketika kami  keliling kampung,  kebetulan  ada kenduri pernikahan, kami pun ditawari duku lagi,” ujar Ervan Regar.

Kini, sontak durian dan duku menjadi menu pendamping makan pagi, siang dan malam mahasiswa KKN UBB Kota Kapur.   “Tapi nasi dan lauk-pauk tetap harus ada Pak!,” tukas Leta seraya menawarkan durian yang bertumpuk di dapur Posko KKN.

Nah, kalau di dunia jurnalistik dikenal  teknik penulisan micro people, yang menitik beratkan 4 P (people, people, people and people).  Maka khusus   Kota Kapur,  bolehkah dikenalkan konsep 4 D.  Yaitu “durian, durian, durian, dan  durian”.  Atau “duku, duku, duku dan duku...”.  Siapa takut! (Eddy Jajang Jaya Atmaja, Ari Riski)


Topik

KKN_UBB