Mahasiswa KKN UBB Olah Sampah Pasar Pangkalpinang Jadi Pupuk Organik Cair

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 13 Juli 2020 15:22 WIB | Diupdate pada 13 Juli 2020 15:22 WIB


KKN XV UBB --   Mahasiswa KKN Tematik UBB Angkatan XV berfoto bersama Lurah Batin Tikal Erni dan DPL KKN UBB Eddy Jajang, usai bersilaturahmi dengan lurah dan staf di Kantor Kelurahan Batin Tikal, Pangkalpinang, Senin (13/07/2020) pagi.

PANGKALPINANG, UBB --  15 mahasiswa Universitas Bangka Belitung (UBB) saat ini sedang memproses sampah Pasar Pagi Jalan A Yani Pangkalpinang menjadi pupuk organik cair (POC). 

POC  dari sampah organik pasar itu selanjutnya  akan dibagikan kepada warga setempat, untuk mendukung kesediaan pupuk bagi pelaku dan penghobi  pertanian di perkotaan (urban farming).

Hal tersebut dikemukakan Eriko, Ketua Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik UBB Angkatan XV, saat bersilaturahmi dengan Lurah  Batin Tikal, Erni Lindasari,   Senin (13/07/2020) pagi.

“Selain memberikan POC yang sudah jadi,  kami juga mensosialisasikan    proses  membuat  POC itu kepada komunitas pecinta tanaman di Batin Tikal,” ujar Eriko.

Eriko didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UBB Eddy Jajang J Atmaja, bersama 14 mahasiswa KKN UBB lainnya memaparkan  program kerja (proker) KKN di Kelurahan Batin Tikal.

KKN Tematik UBB berlangsung selama satu bulan lebih, terhitung sejak 15 Juli hingga 19 Agustus 2020.  Mengabil tema ‘Berkreasi dari Rumah untuk Pencegahan dan Edukasi Covid 19”, KKN menggarap empat bidang, yaitu pendidikan, kesehatan, lingkungan dan sosial kemasyarakatan.

“Meski begitu, pelaksanaan KKN tetap akan  menerapkan semua protokol pencegahan dan penanggulangan Covid-19, seperti tidak boleh kontak fisik, menjaga jarak, dan selalu mecuci tangan,” tukas Eddy Jajang.

Menjawab pertanyaan Lurah Erni, Eriko mengemukakan sepuluh proker KKN UBB di Batin Tikal lebih banyak dalam bentuk virtual.  Hal ini dilakukan karena memang petunjuk pelaksanaan KKN lebih mengutamakan melalui  media sosial dan internet.

Proker KKN UBB di Batin Tikal itu antara lain  membuat tempat cuci tangan, menyalurkan sembako,  membagikan handsanitizer, video edukasi pencegahan Covid 19, pupuk organik cair, membuat masker dari  bahan kain,  penyuluhan urban farming, membagikan sembako, dan membuat virtual tourism.

Lurah Erni menyambut baik kedatangan 15 mahasiswa dan DP KKN.  Ia pun  mengaku gembira karena  UBB telah memilih kelurahannya sebagai lokasi KKN.

“Kami dengan tangan terbuka menerima adik-adik KKN di sini.  Silakan berkreasi, saya siap dihubungi kapan pun.  Staf saya akan selalu mendukung program KKN ini,” ujar Erni.

 Pada kesempatan itu ia menjelaskan kondisi Kelurahan Batin Tikal.  Terletak di pusat kota, luas kelurahan ini 61,6 hektar.  Terdiri dari sembilan rukun tetangga (RT) dan tiga rukun warga (RW).

 jumlah penduduk Batin Tikal 3.095 orang,  sebagian besar berpendidikan tinggi.  Pekerjaan penduduk beragam, mulai dari sektor formal hingga pedagang (non formal).   Di Pulau Bangka, Batin Tikal dikenal sebagai pusat kuliner.

“Di sini (Batin Tikal-red) hampir di semua tempat umum sudah ada tempat mencuci tangan.  Ada yang dibuat warga, dan ada sumbangan perusahaan.  Nah, silakan buat tempat cuci tangan pada lokasi yang belum ada tempat cuci tangannya,” ujar Erni.

 Mengenai program KKN menyalurkan sembako, Erni minta mahasiswa KKN untuk memberikan langsung kepada warga yang membutuhkannya.  Pihak kelurahan akan membantu menyediakan data warga tersebut.

“Silakan adik-adik mengantar dan memberikan langsung.  Kenakan jaket almamater hingga warga tahu ini sembako dari KKN UBB,” timpal Erni.

Eriko menambahkan pembuatan POC dari limbah Pasar Pagi Pangkalpinang kini tengah berlangsung di Laboratorium Prodi Agribisnis, Kampus Terpadu UBB di Balun Ijuk.

POC -- Mahasiswa KKN UBB  mengolah sampah dari Pasar A Yani Pangkalpinang  menjadi pupuk organik cair (POC). Proses fermentasi POC berlangsung di Laboratorium Agribisnis, Kampus Terpadu UBB.

“Bahan POC kami ambil dari Pasar Pagi Jalan A Yani, Kelurahan Batin Tikal.  Sampah organik itu  antara lain kulit nenas, kulit pisang, sambut kelapa, potongan sayur-mayur, pembungkus jagung, dan lain-lain.  Proses fermentasinya selama tiga pekan,” kata Eriko.

Meski begitu Eriko yakin POC dapat dibagikan selama KKN berlangsung  kepada warga pecinta tanaman hias dan pertanian perkotaan.  

“Pasalnya, proses pembuatan POC telah kami lakukan jauh hari,” terang Eriko, mahasiswa Prodi Agribisnis.

Lurah Batin Tikal Erni menyambut gembira atas keinginan mahasiswa KKN UBB untuk mempraktikan cara membuatan POC kepada komunitas pecinta tanaman.

“Di sini (Kelurahan Batin Tikal-red) ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang tergabung dalam Kelompok Toga.  Ruangan pertemuan di kelurahan ini dapat menjadi tempat praktek membuat POC dari sampah organik itu,” tukas Erni, yang tercatat menjadi Lurah Batin Tikal sejak 31 Januari 2018 (Eddy Jajang J Atmaja/Humas)


Topik

KKN_UBB
. ayar