UBB Segera Buka Magister Ilmu Pertanian

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 16 Oktober 2019 08:28 WIB | Diupdate pada 16 Oktober 2019 08:28 WIB


BALUNIJUK (UBB) – Fakultas Partanian, Perikanan dan Biologi (FPPB) Universitas Bangka Belitung (UBB) persiapkan diri buka magister ilmu pertanian. Pendirian jenjang pendidikan S2 ilmu pertanian ditandai dengan Workshop Kurikulum Magister Ilmu Pertanian yang diselenggarakan di Ruang Rapat Rektorat Kampus Terpadu UBB, Selasa (15/10/2019) siang.

Workshop mengundang gusu besar dari Universitas Andalas (Unand) sebagai narasumber yaitu Prof. Dr. Ir. Irfan Suliansyah, MS yang juga merupakan Koordinator Program Studi S3 Ilmu Pertanian Fakultas Pertanian Unand. Selain dari akademisi workshop juga mengundang praktisi pertanian dari Provinsi Bangka Belitung yaitu Juadi, SP., MP yang menjabat Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kegiatan dibuka oleh Rektor UBB Dr. Ir. Muh. Yusuf, M.Si. Pembukaan workshop dihadiri oleh Wakil Rektor I bidang Akademik dan Kemahasiswaan Dr. Nizwan Zukhri, S.E., M.M, Rektor Pertama UBB Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Sc, Dekan FPPB Dr. Tri Lestari S.P.,M.Si, Dekan FE Dr. Reniati S.E.,M.Si, Kepala Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu UBB M. Jumnahdi, ST.MT.

Kegiatan workshop Kurikulum Magister Ilmu Pertanian diikuti oleh para stakeholder dan praktisi pertanian diantaranya kepala dinas Pertanian atau perwakilan seluruh Kabupaten/Kota di Pulau Bangka dan pelaku industri di Provinsi Bangka Belitung.

Rektor Muh Yusuf menyambut baik kegiatan workshop, dalam sambutan rektor menyampaikan bahwa pendirian Magister Ilmu Pertanian bukan hanya harapan UBB namun Pendirian S2 Pertanian juga menjadi hal yang diharapkan segera terwujud bagi Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

“Gubernur Bangka Belitung terus memonitor, mendorong dan siap mendukung pendirian S2 Pertanian di UBB. Gubernur juga berharap dengan bertambahnya SDM bidang pertanian, dapat menunjang program pemerintah provinsi yaitu program ketahanan pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” ujar Muh Yusuf.

“Sektor penyumbang inflasi di Bangka Belitung diantaranya adalah tidak tersedianya bahan pangan secara terus menerus, dalam musim-musim tertentu bahan pangan yang didatangkan dari luar daerah terhambat sehingga menimbulkan inflasi. Maka dari itu dengan pendirian S2 ini diharapkan bisa meningkatkan SDM dan jangka panjangnya dapat mengurangi ketergantungan bahan pangan dari luar daerah Bangka Belitung,” lanjut Muh Yusuf.

“UBB khususnya pertanian FPPB saat ini telah memiliki cukup tenaga pengajar S3 yang linear dengan ilmu pertanian untuk mengampu mata kuliah magister dan tahun depan akan ada beberapa dosen yang menyelesaikan tugas belajar pendidikan doktor, sehingga untuk SDM dan sarpras, UBB telah siap untuk mendirikan Program Magister,” jelas Muh Yusuf.

“Beberapa waktu lalu UBB telah mengirim beberapa orang dosen, diketuai oleh Ismed Inonu yang telah berpengalaman dibidang akademik, untuk studi banding ke beberapa universitas yang memiliki Magister Ilmu Pertanian,” tambah Muh Yusuf

Prof. Dr. Ir. Irfan Suliansyah, MS menyatakan, dalam penyusunan kurikulum yang harus diperhatikan adalah ciri khas, yang membuat orang tertarik untuk datang dan belajar di Bangka Belitung khususnya UBB.

“Apa yang menjadi ciri khas Bangka Belitung harus dimasukan kedalam kurikulum, menurut dekan FPPB UBB dalam diskusi sebelum kegiatan ini kata kuncinya lada dan lahan eks tambang timah, maka sebaiknya kedua hal ini dimasukan kedalam kurikulum untuk menambah nilai jual, sebagaimana yang diketahui masyarakat umum, Bangka Belitung terkenal sebagai penghasil lada dan penghasil timah” ujar Prof Irfan.

“Selain dua ciri khas, lada dan lahan eks tambang timah, perlu juga menyusun kurikulum yang sesuai dengan perkembangan saat ini yaitu Industri 4.0,” tambah Prof Irfan.

Juadi, SP., MP mengatakan Bangka Belitung memiliki kurang lebih 400 ratus ribu hektar lahan bekas tambang. “Sesuai dengan pemaparan kurikulum dari Prof Irfan, banyak sekali lahan eks tambang yang bisa menjadi potensi pertanian di Bangka Belitung.”

“Tata ruang Bangka Belitung peruntukan kawasan pertanian memiliki 900 ribu hektar, tetapi didominasi oleh perkebunan kelapa sawit seluas 357ribu hektar, yang mana ini telah melewati peruntukan kawasan perkebunan,” ujar Juadi.

Dengan workshop ini, diharapkan menghasilkan output berupa kurikulum dan naskah akademik guna memenuhi persyaratan pendirian Magister Ilmu Pertanian.(Ars/Humas)


Topik

Dr.Tri_Lestari,_S.P.,_M.Si FPPB_UBB
. ayar